
Sesaat kemudian terlihat Gio dan yang lainnya datang.
>>>>>
"Kalian nggak papa kan, nggak ada yang luka kan, tadi itu siapa" tanya Devin beruntun.
"Elah vin, nanya satu satu ngapa" jawab Tio.
"Jadi gimana, ketangkep nggak ?"
"Nggak, dia larinya gesit banget. Trus kita kehilangan jejaknya" Jelas Arya.
Seketika ruangan kembali hening. Rintik rintik gerimis masih terdengar di luar.
"Tapi yang anehnya, dia larinya ke arah bebatuan yang gede gede itu. Kalian ingat nggak ? trus pas kita cari dia udah nggak ada" Ucap Riki memecah keheningan.
"Ngumpet mungkin, kayak di sinetron yang sering gue tonton" celetuk Cellia.
"Emang sinetron apaan ?" tanya Riki
"Sinetron azab"
"Ya ilah. Ngemeng ngemeng sekarang udah jam berapa ya"
"Jam setengah dua"
"Kok lampunya belum nyala juga. Gi, lo lupa bayar listrik kali"
"Nggak mungkin lah, kecuali listriknya di matiin sama pak Parto" jawab Gio
Semua orang yang berada diruangan itu terdiam. Sibuk dengan fikiran masing masing.
"Jangan jangan...." ucap mereka berbarengan. Seketika dari arah dapur terdengar bunyi benda jatuh. Bersamaan dengan hidupnya lampu.
Gubrak
"Jeng jeng jeng" latah Cellia.
Takkk.
"Buset. Ini bukan konsernya Syahrini" ucap Riki setelah menjitak kepala Cellia.
"Aish sakit tauk. Akhirnya hidup lampu"
"Cel, bangunin noh temen temen lo. Suruh pindah ke kamar aja"
Cellia segera membangunkan teman temannya untuk pindah ke kamar masing masing. Dengan mata yang masih setengah tertutup Mita, Sasya, Via, dan Putri berjalan kearah kamar.
Aulya yang memang dasarnya kalau tidur suka ngebo, akhirnya di gendong Arya kekamarnya.
"Kunci pintunya dek. Kalok ada apa apa panggil aja" pesan Arya kepada Cellia sebelum meninggalkan kamar.
"Oke kak"
__ADS_1
Cellia mengunci pintu kamarnya, dan berjalan ke arah ranjang. Dia membaringkan tubuhnya di samping Aulya, dan mulai terlelap.
*****
Pukul 4.30 Cellia terbangun untuk menunaikan solat subuh. Dia berjalan ke arah kamar mandi, dan segera mengambil air wudhu.
Setelah siap dengan mukenahnya, Cellia berjalan ke arah kasur. Berniat membangunkan Aulya.
"Ya, bangun. Udah subuh, sono ambil wudhu"
Awalnya Cellia menggoyangkan badan Aulya, tapi itu tak membuat tidurnya terusik. Dengan mengambil ancang ancang Cellia memukul pantat Aulya dengan keras.
Plakkk
"Adohhh. Apaan sih Cel, masih malem juga udah nyari gara gara" ucap Aulya dengan setengah sadar.
"Malem malem, udah subuh ini. Cepet ambil wudhu sono"
Cellia menarik lengan Aulya, membuat Aulya terduduk di ranjang. Karena tidak ingin di ceramahi pagi pagi, Dengan langkah gontai Aulya pergi ke kamar mandi.
Seusai menunaikan solat subuh, Cellia dan Aulya membereskan perlengkapan solat mereka.
"Ya, lo nyium bau bau menyan gitu nggak ?" tanya Cellia.
"Ih iya, kek bau sesajen gitu" jawab Aulya sambil mengendus endus.
"Ya, dibawah kolong itu apaan dah" bisik Cellia, sembari menarik ujung baju Aulya.
Aulya menoleh ke arah yang di tunjuk Cellia. Ternyata di bawah ranjang mereka ada sebuah sesajen dengan kemenyan yang di bakar.
"Kak, kak Arya" Teriaknya.
Arya yang merasa terpanggil, berjalan turun dari tangga.
"Ada apa" tanya Arya yang masih menggunakan sarung.
"Kak, ayo kekamar gue. Ada sesajen"
Mendengar itu Arya langsung berlari ke arah kamar diikuti Cellia. Sesampai di sana mereka melihat tubuh Aulya yang terbaring di lantai.Cellia berlari mendekati Aulya yang terbaring.
"Kak, bawak yaya ketempat tidur" ucap Cellia panik.
Arya yang tak kalah panik langsung menggendong Aulya dan membaringkannya di tempat tidur. Cellia membaluri minyak kayu putih di sekitar kening dan leher Aulya.
"Dek, dimana sesajennya ?" tanya Arya.
"Tadi di bawah tempat tidur. Coba cek, kak."
"Nggak ada apa apa di sini"
Perlahan Aulya mengerjapkan matanya. Meneliti setiap sudut ruangan.
"Ya, maafin gue ya. Tadi gue ninggalin lo sendirian, jadinya lo pingsan" ucap Cellia menunduk.
__ADS_1
"No problem"
"Elah lu sok sokan ngomong bahasa inggris segala"
"Kok bisa sih lu tiduran di lantai" sambung Cellia.
"Tadi kan gue ngejagain tuh sajen. Tiba tiba ada orang masuk dari jendela, dia bawa tu sajen. Pas gue mau ngejar, ntah kenapa badan gue rasanya nggak bisa di gerakan. Kayak ada tangan yang nahan, trus gue pingsan, nggak inget apa apa lagi" jelas Aulya.
"Kak, ciri ciri orang yang lo kejar kemaren gimana" tanya Cellia pada Arya.
"Dari gesturnya sih cowok. Tinggi, badannya agak tegap, trus bajunya hitam. Mulutnya ditutup pakek selendang hitam gitu" terang Arya.
"Sama, orang yang kesini tadi ciri cirinya kayak gitu juga" celetuk Aulya.
"Coba ntar kita tanyain sama yang lain, mereka ada nemu sajen juga nggak" usul Aulya.
"Kak, jagain yaya. Gue mau bangunin temen temen yang lain, sekalian buat sarapan. Awas kalok kalian macam macam, gue kawinin langsung" ucap Cellia sebelum meninggalkan ruangan itu.
Cellia berjalan ke luar kamar, dan menuju dapur. Ia mulai bertempur dengan alat alat masak.
Sesudah membuat sarapan, Cellia pergi ke arah kamar teman temannya. Mengetuk satu persatu pintu kamar, hingga semuanya berkumpul di meja makan.
Mereka semua mulai menyantap nasi goreng dengan telur mata sapi yang telah di buat Cellia.
"Bunda, dedek Depin mau telur lagi" ucap Devin dengan suara yang dibuat buat seperti anak kecil.
Tuk.
Cellia memukulkan sendoknya ke kening Devin yang duduk tepat di sampingnya.
"Bunda bunda, perasaan gue kagak pernah ngelahirin lu"
"Auh, sakit tauk" ringis Devin.
"Bikinin gue ceplok telor lagi. Cepet" sambungnya.
Dengan kesal Cellia bangkit dari tempat duduknya dan membuatkan pesanan Devin. Dari tempatnya memasak Cellia dapat mendengar obrolan teman temannya, karna dapur dan meja makan hanya di batasi dengan meja panjang.
Setelah memasak telur ceplok, Cellia menghampiri temannya di meja makan. Dan memberikan telur yang ia masak kepada Devin.
"Beneran Cel, ada sajen di bawah kasur lo" tanya Riki.
"Iya, trus si yaya pingsan" jawab Cellia yang sedang mengunyah nasi gorengnya.
"Habisin dulu yang di mulut, baru jawab. Ntar keselek syukur" omel Arya.
"Iya. Uhukk.. uhukk. Aer oy, uhukk"
Baru beberapa detik yang lalu Arya menasihatinya. Benar saja, Cellia batuk batuk. Dengan wajah yang mulai memerah dia meminta air. Tapi yang namanya temen laknat, mau sesusah apapun kita pasti diketawain dulu baru ditolongin.
Sebuah tangan menyodorkan segelas air putih di hadapannya, Cellia langsung meneguk air itu sampai tandas. Ia merasakan ada tangan. yang mengelus punggungnya.
Saat menoleh Cellia mendapati wajah datar seseorang yang begitu dekat dengannya.
__ADS_1
<<<<<<<<