HUTAN LARANGAN

HUTAN LARANGAN
Gue ikut


__ADS_3

Pagi ini aku, Aulya, dan mbak Dita berkeliling desa. Kapan lagi aku bisa menikmati udara segar tanpa tercemar asap asap kotor.


Di sepanjang perjalanan kami berpapasan dengan penduduk desa yang tentunya sangat ramah, tak jarang mereka menyapa atau hanya sekedar melempar senyum.


Setelah puas berkeliling kami bertiga memutuskan untuk kembali ke villa. Di tengah perjalanan pulang, aku melihat beberapa orang warga berkerumun di sebuah rumah bercat biru langit.


Karena penasaran, kami bertiga menghampiri kerumunan itu.


"Permisi, ada apa ya pak rame rame begini ?" tanyaku pada salah seorang pria paru baya yang barusan keluar dari rumah itu.


"Eh, itu dek, anaknya bu Kasmin kesurupan, bapak permisi dulu mau nyari ki Dorso" jawabnya.


Berselang beberapa menit, pria paruhbaya itu datang membelah kerumunan, di belakangnya ada seorang pria berpakaian serba hitam dan penutup kepala, tak lupa jenggot panjang yang sudah mulai memutih. Sekilas dia menatapku.


Degg..


Pria berpakaian hitam itu, aku pernah melihatnya. Dia orang yang memanahku waktu di hutan, dan dia juga orang yang membakar rumah di mimpiku itu.


Aku tersadar saat seorang menepuk pundakku sedikit keras.


"Ada apa, dek. Kok melamun" ucap mbak Dita.


"Ehh nggak papa mbak. Ayo kerumah itu mbak, aku penasaran" jawabku sembari menarik lengan mbak Dita dan Aulya.


Sampai di dalam rumah, aku melihat pria tua itu sedang meraba raba kepala seorang gadis. Sementara gadis itu terus berteriak histeris.


Setelah itu si gadis langsung terkulai lemah tak sadarkan diri. Ki Dorso menggerakkan tangannya dengan cepat seperti menghalau sesuatu, setelah itu sebuah bayangan hitam melesat keluar dari jendela ruangan ini.


Melihat gadis itu pingsan, dua orang pria mengangkatnya ke sofa panjang di ruangan ini.


"Bagaimana anak saya, Ki. Sebenarnya apa yang membuat Melati begini ?" tanya seorang wanita yang sepertinya ibu dari gadis itu.


"Cuman kerasukan biasa saja" jawab Ki Dorso sambil memegangi janggut panjangnya.


"Matur nuwun, Ki" ucap ibu itu.


Ki Dorso hanya menganggukkan kepala, dan berlalu keluar dari rumah itu. Para warga yang tadi berkerumun sudah membubarkan diri.


Aku mendekati gadis yang berbaring di sofa itu, untung saja ku selalu membawa minyak kayu putih. Segera ku oleskan minyak itu ke hidung dan leher si gadis.


Tak lama kemudian, gadis itu tersadar dari pingsannya. Ibu gadis itu langsung memberikansegelas air putih kepada gadis itu.


"Melati kenapa, buk?" tanya hadis bernama Melati itu bingung.


"Kamu tadi kesurupan lagi. Berapa kali ibu bilang nduk, jangan main di dekat sungai hutan itu. Kamu ini kok bandel banget" ucap ibu itu menceramahi anaknya.


"Bu, kami permisi ya" ucap mbak Dita.


"Iya, terimakasih sudah membantu anak saya sadar"


"Bukan apa apa, buk. Kami permisi, Assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam"


Setelah itu kami meneruskan perjalanan kembali ke vila. Sesampainya di sana, aku melihat Gio dan teman teman lelakinya berkumpul di ruang tamu. Aku melengos begitu saja melewati mereka.


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 11.00. Aku berjalan ke arah dapur, berniat membuat makan siang. Setelah 30 menit berkutat dengan alat dapur, akhirnya acara masak memasak ini selesai juga.


Ayam goreng, lele goreng, tempe orek, tumis kangkung, sambel terasi, telur balado dan juga sebakul nasi hangat sudah ku tata di meja makan. Tinggal memanggil orang orang itu untuk makan.

__ADS_1


"Makan" ucapku pada semua orang yang duduk di ruang tamu itu dengan masih memasang tampang kesal.


Lalu aku berjalan ke arah kamar mbak Dita, ternyata para ciwi ciwi sedang nonton drakor permirsahh.


Setelah semua berkumpul di meja makan, mereka mulai memakan makanan yang kumasak dengan hening.


Selesai dengan makan siang, semuanya berkumpul di ruang tengah.


"Gue ikut" celetukku.


"Cel, ini acara khusus cowok" ucap kak Arya.


"Tap...."


Belum selesai aku berbicara, Gio menarik lenganku dan menyeretku ke belakang.


"Dibilang nggak ya nggak" ucap Gio dengan nada tinggi.


"Emang kenapa sih nggak boleh" sungutku.


"Ini bukan acara camping biasa, lo tau kami mau camping dimana ? hutan larangan yang di ujung desa"


"Kalok lo ikut, bisa bahaya" sambungnya.


"Bahaya kenapa, kan ada kalian yang jagain gue"


"Gue nggak mau lo terlibat dalam kasus ini"


"Gue nggak ngerti"


"Lo tau, Agil. Itu temen kita waktu kecil, masak lo nggak inget sih"


"Gue inget, trus apa masalahnya ?" tanyaku masih tidak mengerti dengan kasus yang di bicarakan Gio.


"Agil itu polisi, dia lagi nanganin kasus tentang orang hilang yang meresahkan warga sini. Setiap malam malam tertentu satu gadis yang berusia sekitar 17 tahun menghilang secara misterius. Kami semua membantu Agil untuk memecahkan kasus itu" jelas Gio panjang lebar.


"Trus apa hibungannya sama camping ?" tanyaku masih bingung.


"Mmenurut Agil kelompok penjahat itu bersarang di dalam hutan di ujung desa. Warga di sini nggak berani ke hutan itu karena di bilang hutan larangan"


"Oh begitu. Gue tetap ikut"


"Nggak, Cel"


"Gue mau ikut !" ucapku berteriak.


"Nggak"


"Gio, ikut" ucapku dengan raut wajah memelas. Karna ku tau Gio akan menolak permintaanku, aku segera mengambil nafas panjang.


"Huaaa..... gue pokoknya mau ikut. Huuu...."


"Ada apa ini ? Loh, Cellia kenapa nangis" tanya perempuan berhijab biru yang berjalan ke arahku, perempuan itu adalah mbak Dita.


"Biarin ajalah, Dita. Bocah keras kepala ini mau ikut kami camping katanya"


"Syirik aja lo" ucapku sesenggukkan di pelukan mbak Dita.


"Kenapa kok nggak di bolehin ikut ?" tanya mbak Dita.

__ADS_1


"Ini acara khusus cowok, nanti Cellia cewek sendirian dong" jawab Gio.


"Kan bisa ajak mbak Dita, mbak Sasya, mbak Via, Aulya, Mita sama Putri" ucapku tak terima.


"Nanti bahaya kalau rame rame"


"Ya udah ajak mbak Dita sama Aulya aja"


Karena tak memiliki alasan lagi, Gio akhirnya diam. Dia sepertinya pasrah saja, toh kalau berdebat denganku Gio tak akan pernah menang.


****


Karena sudah mendapat izin, aku segera mengemasi barang bawaanku. Aku hanya membawa tas ransel yang berisi senter, camilan, selimut, dua lembar baju tidur, ponsel, dan bantal doraemon kecil.


Semua orang sudah berkumpul di ruang tamu. Aku tak henti hentinya menatap Agil yang merupakan teman masa kecilku itu. Dulu Agil itu kucel, item, bawel, nakal, suka main di selokan bareng aku, sekarang kok jadi tampan kayak oppa korea, jadi polisi lagi.


"Mingkem, Cel" ucap Riki sambil membekap mulutku, ku pukul pukul tangan Riki sampai dia melepaskan bekapannya.


"Lo beneran Agil ?" tanyaku meneliti wajah pria tampan di hadapanku ini.


"Iya"


Buset singkat amat jawabannya, dulu aja cerewetnya minta ampun.


Aku mengarahkan ponsel di samping wajahnya, mencari letak kemiripan Agil dengan poto bocah laki laki di ponselku.


"Wah, sekarang kok lo jadi tampan ya. Dulu kan item, dekil, sering main di selokan sama gue"


"Coba liat potonya, Cel" ucap Riki yang langsung merebut ponselku.


"Ahahahahaha...." tawa Riki menggelegar di ruangan ini. Orang yang pada kepo langsung mendekati Riki.


"Ahahahahahaaa...." kali ini semua orang tertawa.


"Ada apa ?" tanya Agil.


"Foto lu lucu.. hahaha.." ucap Gio.


Agil mengambil ponselku dan melihat gambar yang terpampang di ponsel itu. Dalam foto itu terdapat 2 orang bocah laki laki yang mengapit seorang gadis kecil di tengahnya. Anak laki laki yang berbaju oren merangkul gadis kecil yang di tengah, sedang anak lelaki yang berbaju biru terlihat cemberut dan melipat kedua tangannya didada.


Anak laki laki berbaju oren itu adalah Gio, sedangkan yang berbaju biru itu Agil, dan yang di tengah tengahnya Cellia. Setelah melihat foto itu, Agil menyerahkan ponsel kepadaku.


"Ekhmm, jadi nggak ini campingnya" ucap Agil.


"Jadi lah. Semua sudah siapkan ?" tanya Gio.


"Iya" saut kami semua.


"Sya, kalau mau tidur tutup semua jendela. Jangan suruh masuk orang yang nggak di kenal, jangan kelayapan, kalok mau kemana ajak Putri atau yang lain. Pokoknya baik baik di villa...."


"Ya elah bang Devin kayak mau pergi perang aja, panjang banget wasiatnya" celetukku memotong drama perpisahan antara mbak Sasya dan bang Devin yang bucin akut itu.


"Sirik aja, dasar jomblo" rutuk bang Devin.


Setelah itu kami semua pergi berjalan menuju tempat camping. Di vila hanya ada mbak Sasya, mbak Via, Putri dan Mita.


--------------


Maapkeun kalok nih cerita nggak nyambung 😅

__ADS_1


__ADS_2