
Untuk menuju hutan itu, mereka melewati rumah pak Parto, penjaga villa. Terlihat pak Parto sedang membersihkan rumput liar di depan rumahnya.
"Mau kemana ini rame rame ?" tanya pak Parto.
"Mau camping, pak. Masak udah hampir seminggu di desa cuman di vila aja" jawab Gio.
"Oalah, mau camping di mana"
"Di hutan ujung desa"
Mendengar jawaban Gio seketika raut wajah pak Parto berubah, sperti sedang menghawatirkan sesuatu.
"Itu kan hutannya sangat berbahaya, den. Nanti kalau aden aden semua kenapa napa gimana"
"Nggak papa, pak. Kan ada Agil" jawab Gio.
Saat mereka hendak pergi seorang gadis yang kemarin datang bersama Agil berlari keluar rumah dengan menggendong tas ransel.
"Sekar, kamu mau kemana nduk" ucap pak Parto menarik tangan gadis itu.
"Sekar mau ikut sama mereka"
"Nggak boleh" potong pak Parto cepat.
"Yah. Kan mas Agil juga ada. Ayah jangan khawatir, Sekar pasti baik baik saja" ucap gadis bernama Sekar itu dengan nada setengah memohon.
"Yowis, hati-hati. Den, titip anak bapak ya"
"Iya pak" jawab Gio. Setelah itu mereka mulai berjalan kembali menuju tempat tujuan.
*****
Setelah berjalan selama 2 jam, rombongan Cellia pun sampai di depan hutan. Dengan diawali basmalah, mereka melangkahkan kaki menyusuri hutan itu.
"Aduh, capek. Ini tempat kita mau diriin tenda masih jauh nggak, ya?" tanya Cellia yang berjongkok karna lelah terlalu lama berjalan.
"Sebentar lagi nyampe" jawab Agil yang ikut berjongkok di depan Cellia.
"Kenapa, lo capek juga"
"Nggak. Naik, biar kita cepet nyampe"
"Wah, ternyata lo cowok yang peka juga ya" Cellia segera naik ke punggung Agil, dia melingkarkan tangan dan kakinya ketubuh Agil.
"Bang Devin, aku mau di gendong juga" celetuk Riki dengan nada manja.
"Idih, gue nggak suka yang batangan" jawab Devin bergidik ngeri melihat tingkah Riki. Seketika semua orang tertawa melihat wajah jijik Devin. Sementara mereka tertawa, tanpa mereka sadari ada satu orang yang terbakar amarah melihat kedekatan Agil dan Cellia.
Setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan mencari tempat yang pas untuk mendirikan tenda. Setelah kembali berjalan selama kurang lebih 1 jam, mereka menemukan tempat untuk mendirikan tenda.
5 Buah tenda sudah berdiri kokoh, Agil berjalan ke salah satu tenda dan membaringkan Cellia yang tertidur di punggunya ke dalam tenda itu. Setelah menyelimuti Cellia, Agil keluar dari tenda dan bergabung dengan teman yang lainnya.
"Yang cewek tolong gelar tikar, Riki, Gio ikut saya nyari ranting buat api unggun. Sebentar lagi udah masuk waktu magrib" ucap Agil.
Aulya, Dita, dan Sekar menggelar tikar. Sedangkan ketiga orang pria tadi mencari ranting ranting di sekitar tenda.
"Dita, tolong bangunin Cellia" ucap Gioyang sudah kembali dengan beberapa ranting kayu dipikul di pundaknya.
Dita masuk kedalam tenda Cellia dan menggoyangkan badan gadis yang sedang terlelap itu.
"Dek, bangun, udah magrib"
"Hoaammm, iya" ucap Cellia dengn suara khas orang bangun tidur.
"Yuk wudhu dulu" ajak Dita menarik lengan Cellia ke luar tenda. Mereka berjalan menuju sungai yang tak jauh dari tenda.
Semua orang berdiri mengahadap kiblat kala Devin mengumandangkan ikomah. Setelah itu Agil berdiri di shaf paling depan dan memimpin shalat magrib kali ini. Suaranya yang merdu kala mebacakan ayat ayat suci membuat Cellia bagai tersihir oleh alunan merdu itu.
"Assalamu'alaikum warohmatullah"
"Assalamu'alaikum warohmatullah"
Seusai shalat mereka melanjutkannya dengan berdzikir. Tak lupa berdo'a meminta perlindungan kepada Allah dari segala makhluk yang terlihat maupun yang kasat mata.
Setelah menunaikan kewajiban sebagai umat muslim, mereka semua berkumpul mengelilingi api unggun. Karena perjalanan yang cukup jauh mereka memilih beristirahat di tenda masing masing.
Sedangkan yang lainnya tertidur lelap, Agil dan Gio masih asik bercerita di depan api unggun dengan segelas kopi.
"Gue masih nggak nyangka kalok Agil yang bandelnya minta ampun sekarang udah jadi polisi" Ucap Gio terkekeh geli mengingat betapa badungnya Agil sewaktu kecil.
"Ahahaha, pasti lo sekarang lagi bayangin gue waktu main di selokan bareng Cellia kan. Trus emak gue dateng sambil megang rotan"
"Ihh kok lo tau ?"
"Ahahaha....." tawa mereka berdua.
Cellia yang mendengar suara tawa dua manusia tersebut terbangun dari tidurnya. Dia mengendap endap berjalan menuju tempat Agil dan Gio duduk, dan berniat untuk mengagetkan mereka.
Tak lupa Cellia membawa selimut doraemonnya dan menutup kepanya menggunakan itu.
__ADS_1
"Hihihihi....." Dengan suara ala ala mbak kunti Cellia berdiri di belakang Gio dan Agil.
"Gil, itu suara **** mana" ucap Gio ketakutan, meski dia tau kalau Cellia berada di belakangnya begitupun Agil.
"Mungkin peliharaannya pak Tora lepas satu" balas Agil menanggapi sahabatnya itu.
"Bukan ****, tapi mbak kunti" ucap Cellia kesal laluenerobos duduk di tengah tengah Agil dan Gio.
"Lah si bodoh, dimana mana mbak kun kun itu pakek daster putih. Mana ada pakek piyama sama selimut doraemon" ucap Gio.
"Kan bosen pakek daster putih mulu"
"Iya iya lo menang. Kenape lu belum tidur maemunah"
"Gara gara suara lo pada yang berisik banget" sungut Cellia.
"Ya udin, balik tidur aja lagi"
"Udah nggak bisa, gue pengen di nyanyiin sama mashh Agil" Ucap Cellia melingkarkan tangannya ke lengan Agil.
"Idih, dasar jomblo. Ada cowok bening dikit aja langsung di templokin" Ucap Gio beranjak meninggalkan dua orang yang dulu sering main di selokan itu.
"Mau di nyanyiin lagu apa ?" tanya Agil.
"Seterah"
"Ya udah lingsir wengi aja ya"
Cellia mendongakkan kepalanya mendengar judul lagu yang akan di bawakan Agil itu.
"Jangan lah, yang bener aja malam malam di hutan, dinyanyiin lagu lingsir wengi. Ini acara camping atau uji nyali"
"Jadi mau request lagu apa ini ?"
"Hemm, melukis senja nya Budi Doremi, bisa ?"
Agil menganggukkan kepalanya, lalu meraih gitar yang berada di sampingnya.
...••• { мelυĸιѕ ѕenjα - вυdι doreмι } •••...
...Aku mengerti perjalanan hidup yang kini kau lalui....
...Aku berharap, meski berat kau tak merasa sendiri....
...Kau telah berjuang, menaukan hari harimu yang tak mudah....
...Membasuh lelahmu......
...Izinkan ku lukis senja...
...Mengukir namamu disana...
...Mendengar kamu bercerita...
...Menangis tertawa...
...Biarku lukis malam...
...Bawa kamu bintang bintang...
...Tuk temanimu yang terluka...
...Hingga kau bahagia...
...Aku disini walau letih, coba lagi jangan berhenti....
...Kuberharap meski berat kau tak merasa sendiri....
...Kau telah berjuang, menaklukan hari harimu yang tak indah....
...Biarku menemanimu...
...Membasuh lelahmu........
...Izinkan ku lukis senja...
...Mengukir namamu di sana...
...Mendengar kamu bercerita...
...Menangis tertawa...
...Biar ku lukis malam...
...Bawa kamu bintang bintang...
...Tuk temanimu yang terluka...
...Hingga kau bahagia...
__ADS_1
...............
Suara merdu Agil membuat Cellia menikmati setiap kata yang keluar dari bibir pria itu, hingga membuatnya terlelap.
Melihat Cellia yang sudah kembali ke alam mimpi, Agil membaringkan tubuh Cellia di atas tikar ini dan menjadikan lengannya sebagai bantal gadis itu. Tak lupa Agil menutupi tubuh Cellia menggunakan selimut doraemon tadi, dan ia ikut merebahkan diri di samping Cellia.
****
Pagi harinya Gio dan yang lain melihat kedua orang utan itu masih tertidur. Dan semuanya mengerubungi Cellia dan Agil.
"Di cariin dalam tenda nggak ada, rupanya tidur di sini dia"
"Nggak di gigitin nyamuk apa tidur di situ"
"Nyenyak banget tidurnya, jadi pen nimpuk"
"Bangun oy, udah subuh ini"
Mendengar suara krusak krusuk, Cellia membuka matanya. Semua orang mengerubunginya yang masih tertidur di tempat semalam.
"Berisik banget" ucap Cellia parau.
Riki melemparkan kain sarungnya kewajah Cellia " Bangun neng, orang udah pada siap mau solat, lo masih aja ngebo"
Cellia mengabaikan ucapan Riki, dia memilih menenggelamkan wajahnya di guling sebelahnya.
"Gulingnya wangi eyy" gumam Cellia.
"Solat subuh, dek" Dita menarik tangan Cellia sehingga sang empu tangan terduduk.
"Ayok mbak temenin wudhu" ucap Dita mengajak Cellia ke arah sungai dekat tenda. Setelah semuanya siap, mereka mulai menunaikan kewajiban sebagai umat muslim.
Selepas shalat subuh, mereka hanya duduk berkumpul untuk menyaksikan matahari terbit. Walaupun tak begitu jelas karena tertutupi pepohonan. Hari semakin siang, dari pada bosan menunggu Gio dan Agil yang katanya mau mengaktifkan drone tapi malah ngobrol ngolor ngidul. Cellia berniat untuk menangkap ikan di sungai.
"Ya, kita nangkap ikan yok" ajak Cellia menarik lengan Aulya. Mereka berdua berjalan ke sungai untuk menangkap ikan yang berenang renang di sungai itu.
Cellia membagi wilayah untuk menangkap ikannya. Aulya mendapat wilayah paling depan, sedangkan wilayah Cellia berada sepuluh langkah di belakang Aulya.
Akhirnya ada juga ikan yang berenang di sekitar wilayah Cellia, dia berusaha untuk menangkap ikan yang bandelnya minta ampun.
Yang lain hanya memerhatikan wajah Cellia yang cemberut karna ikan yang berhasil ia tangkap meloncat kembali ke air.
"Mbak Dita, Sekar, ayo sini ikutan !" Seru Cellia.
Dita yang sedang menyiapkan bumbu untuk membuat ikan bakar itu menolak dengan menggelengkan kepala. Sedangkan Sekar berjalan menghampiri Cellia dan Aulya.
"Yuhuuu dapet juga nih ikan songong" seru Cellia berlari ke tempat Dita sambil membawa ikan tangkapannya yang cukup besar.
"Masukin sini ikannya" ucap Agil membawa ember berisi air. Segera Cellia memasukkan ikannya.
Ikan itu menyibakkan ekornya, membuat air menyiprat kewajah Cellia yang sedang mengamati ikan itu.
"Ihhh basah tau ikan. Masih untung gue selamatin lo, kalok enggakkan udah tenggelam" rutuk Cellia.
"Hahaha mana ada ikan tenggelam. Sini" Agil mengelap wajah Cellia dengan lengan baju panjangnya.
Dari kejauhan seorang gadis merasa kesal dengan perlakuan Agil ke Cellia.
Setelah merasa wajahnya kering, Cellia kembali menghampiri Aulya dan Sekar di sungai.
"Sekar, itu ikannya gede" ucap Cellia yang berada dekat dengan gadis itu.
"Iya, tangkap sama sama ya" ucap Sekar sambil tersenyum.
Cellia dan Sekar mbungkuk untuk menangkap ikan itu. Dalam sekali tangkap, ikan itu sudah berada di genggaman mereka. Cellia dan Sekar hendak mengangkatnya, namun Cellia malah terpeleset dan jatuh ke tengah sungai.
"Sekar... tolong.." teriak Cellia yang tak bisa berenang itu. Apalagi tengah tengah sungai ini sangat dalam dan arusnya cukup deras. Terbukti dengan tubuh Cellia yang tenggelep dan perlahan terbawa arus.
Sementara itu Sekar hanya tersenyum sinis melihat Cellia yang mulai terbawa arus.
"Tolong.... Kak.. tolong" teriak Cellia, dengan sekuat tenaga dia berpegangan dengan salah satu batu besar.
Aulya membalikkan badannya, dia terkejut melihat sang sahabat hampir terseret arus jika saja Cellia tak berpegangan pada sebuah batu besar.
"Kak.... tolong.... kak Gio..."
Aulya menyadari tangannya tak sampai untuk meraih Cellia, dia berteriak meminta pertolongan. Sedangkan Sekar segera memasang wajah panik kala Gio dan yang lainnya menuju ke sini.
Orang orang yang mendengar teriakan Aulya menghampiri sungai itu. Mereka melihat Cellia di tengah tengah sungai sedang berpegangan dengan batu besar.
"Cellia" pekik Gio mengulurkan tangannya dan berpegangan pada Arya, mereka saling berpegangan untuk menolong Cellia.
"Cel, pegang tangan saya" ucap Agil yang kini berada paling depan. Satu tangannya berpegangan pada Gio, sedangkan yang satunya mencoba meraih tangan Cellia.
"Tolong.... gue... nggak sanggup lagi" ucap Cellia dengan suara yang mulai melemah. Pegangan tangannya di batu mulai merenggang, dan tubuh mungil Cellia hanyut terseret arus.
"Cellia !" teriak semua orang yang melihat badan gadis itu hanyut.
Agil berlari di pinggir pinggir sungai berusaha meraih Cellia. Namun itu sia sia, tubuh gadis cantik itu kini sudah hilang di telan arus.
__ADS_1