I Love You Bosku

I Love You Bosku
Bagian 6


__ADS_3

💝 Selamat Membaca 💝


Viola lari ke dapur untuk mengatur nafasnya.


"Apa-apaan tuan Stevan itu dasar tuan gila mesum ada-ada saja candaannya,bikin orang syok huh" kata umpatan yang Viola tentu tujukan pada Stevan.


Sudah hampir siang, Viola hanya memainkan hpnya di meja makan, karena tak tau harus kemana,ke sofa pun segan tapi kalau di meja makan masih dekat dapur jadi ia tak terlalu segan.


Stevan pun dari tadi tidak keluar dari kamarnya membuat Viola menjadi tenang, walaupun dia tau itu hanya bercanda tapi tetap saja takut,dia dan Stevan kan sama-sama sudah dewasa, Viola juga mengerti hal seperti itu hanya kadang otaknya sedikit ngelag.


"Hahh terpaksa deh ke kamar tuan Stevan,aku harus pamit,masa mau pulang nggak pamit ke bos kan nggak sopan" gumam Viola.


"Tuan saya pamit pulang dulu" kata Viola di depan kamar Stevan tanpa mengetuk dan membuka pintunya.


Ceklek


Pintu terbuka menampakkan Stevan yang sudah berganti baju,dari baju santai menjadi baju untuk pergi keluar.


"Iya,ayo" ajak Stevan sambil melangkah.


Viola terbengong apa maksudnya ayo?


"Ayo kemana tuan?" tanya Viola tak mengerti.


"Aku antar kamu pulang" jawab Stevan sudah sampai pintu depan, Viola mengekori.


"Tidak usah tuan saya akan pulang naik ojek" tolaknya halus. Ya,pastinya tidak enak masa bos mengantar pulang asistennya.(nyebutnya asisten ya pokoknya,walaupun asisten rumah tangga hehe).


Mata tajam Stevan menatap tajam mata Viola membuat Viola hanya berani patuh.


Saat di perjalanan mereka hanya saling diam,larut dengan pikiran masing-masing.


Viola nampak canggung tapi tidak dengan Stevan,baginya..biasa saja.


Akhirnya Viola berkata "Tuan sebenarnya tidak perlu mengantar saya,nanti merepotkan" Viola berkata dengan lembut dan sopan, takut bosnya marah.


"Tidak merepotkan,setelah mengantarmu juga aku akan ke rumahku" jawab Stevan dengan mata fokus pada jalanan.


"Baiklah tuan terimakasih" Viola yang tersenyum tapi Stevan tak menoleh langsung memonyongkan bibirnya.


"Apa setelah sampai kau akan membuat roti?" tanya Stevan mau tau.


"Iya tuan,memangnya kenapa?" jawab Viola santai tapi dengan kebingungannya.


"Tak apa aku hanya bertanya"


Viola hanya ber-ohh saja.

__ADS_1


Sampai di depan rumah Viola yang sangat sederhana,Stevan meneliti rumah tersebut lalu menatap Viola yang juga menatapnya.


"Maaf tuan rumah saya sangat kecil" kata Viola sambil menggambarkan dengan jari jempol dan telunjuk yang di tekuk hampir menyatu.


Memang sangat kecil,tapi tidak bagi Viola karena dia hanya tinggal dengan ayahnya,juga karena rumah itu sangat nyaman menurutnya.


"Tidak" jawab Stevan singkat sambil menyunggingkan senyum.


Viola langsung terpana, lagi-lagi dengan senyuman itu,dia melamun tanpa dia sadari tatapan bosnya sudah berubah setajam elang.


"Ehmm ehm" Stevan berdehem menyadarkan Viola dari lamunannya.


Ternyata ayah Viola sudah di depan pintu,dia ingin melihat apakah Viola sudah pulang karena jam sudah siang,tapi dia melihat putrinya hanya menatap pria tampan berjarak 2 meter darinya,pria tampan itu pun menatap Viola,tapi dengan tatapan tajam sedangkan Viola menatapnya dengan tatapan melamun.


Ayah Viola hanya geleng-geleng kepala melihat putrinya. Dia tau sepertinya Viola sedang jatuh cinta.


"Ola" panggil ayah Bima membuat Viola terkejut dan langsung menoleh kearahnya.


"Eh ayah,ngapain ayah di situ ayah harus istirahat" jawab Viola meninggalkan Stevan di dekat mobilnya, sepertinya dia lupa masih ada Stevan di sana.


"Ayah tak apa,Ola kamu ini bagaimana masa ada tamu tidak di suruh masuk?" tanya ayah secepat kilat supaya Viola sadar dia meninggalkan seseorang.


"Ya ampun tuan, kenapa diam saja saya lupa" kata Viola cengengesan tanpa rasa bersalah.


"Ayo nak masuk" ajak ayah Bima pada Stevan di ekori Viola dari belakang.


"Apakah kamu bosnya Ola?" tanya ayah to the point penasaran.


"Iya pak, perkenalkan saya Stevan" jawab Stevan sambil mengulurkan tangannya.


Di sambut lembut ayah Bima.


"Terimakasih ya tuan sudah mengantar Ola pulang" kata ayah Bima sopan, walaupun sebenarnya di benaknya kini sedang bertanya-tanya,apakah ada bos yang mengantar asisten nya pulang di hari pertama bekerja?.


"Tidak perlu memanggil seperti itu pak,panggil nama saja,tidak apa saya sekalian akan keluar" jawab Stevan tersenyum tulus.


Ayah Viola sangat lembut,Viola juga sama,semoga aku mudah untuk mendapatkan restu darinya harap Stevan tulus dari hatinya.


"Apa tidak apa-apa saya memanggil dengan nama?" tanya ayah Bima memastikan. Dia sadar hanya dari keluarga sederhana,berpikir untuk memanggil pengusaha nomor 1 dengan nama?apakah pantas?.


"Tentu saja tidak apa-apa pak,saya malah sungkan jika anda memanggil saya dengan sebutan seperti tadi" jawab Stevan masih setia dengan senyumnya.


"Iya,kamu juga tidak perlu se-formal itu,bicara seperti biasa saja" juga di balas senyum oleh ayah Bima.


Baru beberapa menit mengobrol ayah Bima dan Stevan sudah terlihat akrab,seperti bukan pertemuan pertama mereka.


Ayah Bima menceritakan dia dulu bertemu dengan ibu Viola sampai pekerjaannya di kantor. Ya,ayah Viola dulu bekerja menjadi karyawan di salah satu kantor,sebelum dirinya tau bahwa dirinya menderita sakit jantung,juga sebelum ibu Viola meninggal.

__ADS_1


Obrolan mereka memang nyambung karena hanya membahas mengenai pekerjaan kantor. Walaupun ayah Bima dulu hanya sebagai karyawan tetapi dia dulu adalah kebanggaan bosnya karena kinerja yang baik dan pintar tentunya.


Viola termangu menatap dua orang tak jauh dari dirinya berdiri.


Kenapa rasanya bahagia sekali ya melihat ayah dan tuan Stevan mengobrol begitu akrab batin Viola, hatinya menghangat melihat dua orang berbeda generasi itu terus mengobrol dan berhenti saat Viola menghampiri.


"Silahkan di minum tuan,maaf hanya ada ini" kata Viola sambil menaruh dua teh dan kue lapis di depan ayahnya dan tuannya.


Stevan hanya tersenyum lalu meminum teh itu juga mencicipi kue lapis. Dan dia suka dengan kue nya tidak terlalu manis tidak seperti dugaanya,manis yang masih bisa dinikmati.


"Hmm ini sangat enak,apa kamu yang membuatnya?" tanya Stevan mengarah pada Viola.


"Iya tuan hanya coba-coba syukurlah kalau enak" Viola menjawab sambil tersenyum,di belakang tadi dia terus mencicipi kue lapis buatannya,takut tuannya tidak suka.


Stevan hanya manggut-manggut dan terus melanjutkan kegiatannya memakan kue lapis.


Ayah Viola tersenyum melihat pemandangan di depannya,meskipun dia sadar jangan terlalu berharap. Nanti ayah Bima juga akan menasehati Viola,jangan terlalu di bawa perasaan. Walaupun ayah Bima tau biasanya orang kaya hanya memandang sebelah mata orang miskin,masih ada orang yang tetap peduli, seperti Stevan contohnya. Tapi mungkin keramahannya hanya kepedulian,tidak lebih.


"Ola apa kamu tidak jadi membuat roti?" tanya ayah Viola sambil memakan juga kue lapis buatan putrinya.


"Ini Viola mau membuatnya yah" jawab Viola sambil berdiri tapi tidak langsung ke belakang.


"Tuan,apakah tidak apa-apa saya tinggal membuat adonan roti?" tanya Viola karena tidak enak tamunya malah ditinggal.


"Aku mau melihat pembuatan roti" jawabnya santai tapi membuat bingung ayah Bima dan Viola.


"Jangan tuan nanti tuan malah kotor" sergah Viola karena yaa membuat roti tentu saja dengan tepung-tepungan dan pasti akan membuat kotor bajunya.


"Iya nak Stevan jangan ikut Viola nanti kotor terkena tepung" cegah ayah Bima,dia juga pasti tidak akan membuat tamunya pulang dengan keadaan kotor.


"Aku ada baju ganti di mobil pak tidak masalah hanya tepung bisa di cuci nanti" kata Stevan kekeh dengan senyum.


"Baiklah tuan tapi tuan hanya melihat dari jauh ya" jawab Viola mewanti-wanti karena dia tau bosnya ini jail.


"Baiklaah" Stevan tersenyum lebar,ya selain dia akan melihat proses pembuatan roti dia juga akan sedikit menjaili Viola jika... tidak ada ayahnya🤭.


"Ya sudah ayah akan kembali ke kamar dulu,mari nak Stevan"


"Iya pak,silahkan" jawab Stevan senang karena ayah Viola akan istirahat di kamarnya.


"Kenapa tuan senyum-senyum begitu?" tanya Viola bingung sekaligus curiga.


"Mmm tak apa Vio" jawabnya dengan tenang tapi mengandung kejailan.


Readers tercintaa❤️ Maaf jika masih banyak kesalahan dalam menulis🙏


Mohon support-nya yaa❤️

__ADS_1


Jika ada informasi yang salah dalam cerita mohon dimaklumi🙏 Karena ini hanya Karangan/Fiktif belaka yang ada didalam otak imajinasi author🤗


__ADS_2