
💝 Selamat Membaca 💝
Sesaat setelah Stevan pulang Viola pamit pada ayahnya sehabis membersihkan dapur.
"Ayah Ola berangkat dulu ya" pamit Ola pada ayahnya.
"Apa kamu tidak capek nak?kalau capek istirahat saja bisa jualan besok" kata ayah Bima khawatir.
"Ola tidak capek kok yah Ola kan anak kuat hehe" jawab Viola meyakinkan ayahnya kalau dia baik-baik saja.
"Baiklah hati-hati ya"
"Iya ayah"
Setelah berjualan selama 3 jam roti Viola tinggal 5 biji,dia berikan pada anak jalanan. Lalu Viola pun kembali ke rumahnya.
"Ayaah Ola pulang" teriak Viola mencari ayahnya ke kamar,tidak ada.
"Ayah dimana?" teriak Viola lagi
"Apa lagi mandi ya?" gumam Viola.
Dia pun pergi ke kamar mandi dan ternyata benar,ayahnya sedang mandi,pantas saja tidak dengar teriakan Viola,karena kamar mandinya ada di paling belakang.
"Aku masak dulu deh, supaya ayah bisa langsung makan,lagian kalau mandi dulu nanti sama saja,bau lagi" kata Viola dengan diri sendiri.
"Ayah ayo makan dulu" Viola membawakan makanan untuk ayahnya ke kamar.
"Ayah nanti akan ambil sendiri Ola ayah sudah sehat" kata ayah Bima sambil mempraktekkan seperti orang senam.
"Tapi ayaah ayah kan belum sembuh betul biar Viola suapi ayah makannya" pinta Viola tapi diberi gelengan kepala oleh ayahnya.
"Kamu mandi saja,ayah akan makan sendiri,sana" usir ayah halus. Viola hanya mendengus,tapi mendengus bercanda.
Setelah mandi Viola langsung makan dan sekarang Viola dan ayahnya sedang menonton televisi bersama. Tiba-tiba Viola berbicara...
"Ayah uangnya sudah cukup untuk ayah periksa,besok kita periksa ya ke rumah sakit" Viola senang karena Tuhan memberinya rejeki lebih jadi ayahnya bisa cepat di periksa.
"Tapi nanti kalau modalnya kurang bagaimana nak?" tanya ayah Bima tidak enak.
"Ayah tenang saja,lihat ini" Viola menunjukkan uang ratusan ribu dan juga ada puluhan.
"Banyak sekali nak uangnya" ayah Bima kaget melihat uang yang di pegang putrinya sangat banyak menurutnya.
"Ini yang 700ribu hasil jual kue yah,yang 2jt ini sama sih,cuma ini di kasih tuan Stevan,tuan Stevan kemarin beli roti Ola 30 yah,sama yang dulu tuan belum membayar jadi di bayar tadi" Viola menjelaskan agar ayahnya tidak salah paham.
"Tapi itu kebanyakan nak,kenapa tidak di kembalikan pada tuan Stevan?" tanya ayah Bima takut jika putrinya berbohong,takut jika itu adalah uang hasil meminjam,tidak tidak mungkin putriku berbohong dia anak yang jujur,batin ayah Bima meyakinkan diri.
"Aku sudah mengembalikan yah tapi tuan bilang ini untuk aku dan ayah tuan Stevan membantu kita yah" jawab Viola jujur.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu" ayah Bima pun setuju untuk periksa esok hari.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya Viola berangkat jam ½6 pagi supaya tidak telat menyiapkan keperluan tuannya.
Sampai di apartemen Viola langsung masuk karena Stevan tidak menjawab panggilan Viola.
Walaupun masih agak canggung saat ke dapur karena tuannya belum bangun,tapi Viola tetap menjalankan tugasnya.
"Aku masak apa ya hari ini? buat menu sendiri atau aku bangunkan tuan ya?" tanya Viola pada dirinya sendiri kebingungan.
Akhirnya dia membangunkan tuannya karena masih bingung dari tadi.
"Tuan ingin sarapan apa?" tanya Viola lembut karena tuannya baru bangun saat tadi dia mengetuk pintu.
Ketampanannya tetap pari purna walaupun baru bangun tidur kagum Viola dalam hatinya.
"Aku memang tampan,kenapa? kau baru sadar?" tanya Stevan mengagetkan Viola.
"Hah eee tidak tuan,maaf" Viola merutuki dirinya sendiri kenapa malah memandangi tuannya seperti itu,dia jadi kepikiran apakah tuannya sudah punya kekasih?kalau punya kenapa dia tidak pernah kesini?. Viola menggelengkan kepalanya mengusir pikiran kepo di otaknya.
"Dengarkan aku,aku akan memakan apapun sarapannya,aku suka semua makanan,jadi masaklah apa pun,tidak perlu bertanya setiap hari padaku" kata Stevan menjelaskan. Dia memang menyukai makanan apapun kecuali,roti. Tapi itu dulu sekarang tidak,walaupun hanya roti buatan Viola yang dia suka.
"Baik tuan saya permisi" kata Viola akan berbalik badan tapi Stevan memanggilnya.
Viola mengangguk mengerti,dia menyiapkan air hangat untuk tuannya dan menyalakan lilin aromaterapi.
Saat Stevan mandi Viola pergi ke wali in closet milik Stevan,Viola menganga kagum melihat kemewahan di dalamnya,dia tidak tau saja ini baru apartemen,belum yang ada di mansionnya.
"Aku ambil warna apa ya?" Viola berpikir sejenak lalu mengambil setelan jas abu-abu di padukan dengan jam tangan mewah hitam.
Viola langsung pergi memasak ke dapur setelah menyiapkan kebutuhan tuannya itu.
Kali ini Viola memasak ayam goreng yang sudah di ungkep,ada waktu untung saja bosnya kalau mandi lama,pikir Viola.
Setelah menggoreng ayam,Viola membuat sambal resep dari almarhum ibunya,ayah Viola juga sangat suka,karena tuannya menyuruh membuat apapun yang Viola bisa jadi ya seperti itu masakannya.
Setelah tertata Viola lanjut mengiris timun untuk di santap bersama ayam dan sambal,menurutnya ini kombinasi yang sempurna,entah jika tuannya yang memakan,semoga saja suka.
Tak lupa juga Viola selalu menyiapkan aneka buah,dari pisang,apel,anggur dan terkadang yang lainnya.
Stevan datang dengan stelan jasnya yang rapi di tambah ketampanannya yang wow itu membuat Viola terkagum tapi dia bisa menyadarkan pikirannya saat ini.
"Silahkan tuan" Viola mempersilahkan tuannya makan setelah dia menata rapi di piring.
"Ini akan membuat aku berantakan Vio,karena ada sambalnya" kata Stevan jujur dan Viola langsung takut terkena marah.
"Mm-maaf tuan akan saya siapkan roti" jawab Viola gugup akan segera berlari mengambil roti tapi di cegat Stevan.
__ADS_1
"Bukan itu maksudku"
Viola mengernyit heran.
"Suapi aku" kata Stevan enteng membuat Viola terkejut.
"Hah tapi tuan.."
"Tidak ada bantahan" kata Stevan cepat memotong kata-kata Viola.
Viola pun mengangguk dan bersiap menyuapi Stevan,dia memotong ayam dengan susah payah menggunakan garpu dan sendok,Stevan melihatnya dengan heran.
"Vio apa yang kau lakukan?"
"Tentu saja memotong ayam tuan memang apa lagi" jawab Viola sambil terus berusaha memotong ayam yang di goreng itu,memang dalamnya masih juicy tapi ayam yang di goreng akan lebih sulit dipotong dibanding ayam yang di tumis.
"Ya ampuun,suapi aku dengan tanganmu" kata Stevan cepat membuat mata Viola terbelalak.
"Aku bisa telat ke kantor kalau kau lama Vio" Stevan menggunakan nada tingginya supaya Viola menurut dan ya memang langsung menurut.
Viola memotong ayam menggunakan tangannya memberinya sambal lalu di tumpuk di nasinya,dengan ragu-ragu tangannya menuju mulut Stevan dan aemmm.
Hah jantung kau kenapa? kenapa berdetak cepat begini apa jangan-jangan aku ada penyakit juga? ah ya ampun jangan sampai
Hati Viola berkecamuk tak menentu.
Apalagi saat ada sisa sambal di jarinya Stevan malah menjilatinya,tidak ada rasa jijik sama sekali,untuk apa jijik itu kan bekas mulutnya sendiri.
Ya Tuhan toloooong rasanya aku ingin pingsan sekarang Viola memohon tolong di dalam hatinya,walau dia terkadang tersenyum,entah senyum apa yang di tampilkannya,karena bersamaan dengan rasa malu dan jantung yang tidak bersahabat.
Stevan dengan lahapnya memakan sarapan sampai habis,dia memperhatikan tangan Viola yang dari suapan pertama sudah gemetar. Dia tersenyum kecil.
"Hmm aku sangat kenyang,masakanmu sangat enak" Senyum Stevan mengembang sempurna.
"Terimakasih tuan" jawab Viola menunduk masih menstabilkan degup jantungnya.
"Apa lagi di suapi kamu,rasa enaknya jadi berkali-kali lipat,hahaha" kata Stevan tertawa senang.
"I-iya tuan syukurlah kalau tuan suka"
"Yasudah sebelum kau bereskan kau sarapan dulu,setelah itu lakukan pekerjaanmu,jangan lupa kunci lagi pintu apartemennya,aku berangkat dulu,bye Vio" kata Stevan sambil genit mengedipkan satu matanya pada Viola dan berlalu.
Setelah mendengar pintu terkunci tanda Stevan sudah pergi Viola lemas,lunglai,mleyot melihat kedipan maut tuannya.
Readers tercintaa❤️ Maaf jika masih banyak kesalahan dalam menulis🙏
Mohon support-nya yaa❤️
Jika ada informasi yang salah dalam cerita mohon dimaklumi🙏Karena ini hanya Karangan/Fiktif belaka yang ada didalam otak imajinasi author🤗
__ADS_1