
Setelah menunggu Paspor muslimah selesai, semua persiapan pun ikut selesai.
Hari sudah menjelang sore yang indah, mereka pulang dari perjalanannya, dan mampir membeli apa yang mereka butuhlan nanti di perjalanan.
"Muslimah! pergilah belanja kebutuhan dengan Bibi, Aku akan menunggumu disini, belikan Aku satu minuman, ini ATMnya."
"Iya Mas!"
Alex memerintah Bibi dan Muslimah berbelanja, sambil menunggu mereka, ia mengerjakan tugas kantornya agar tak menganggu liburannya nanti.
Setengah jam berlalu, Muslimah dan Bibu kembali membawa plastik berisikan semua perlengkapan.
Alex heran melihatnya.
"Ada apa Mas?"
"Itu sangat sedikit, hanya 3 plastik besar? Aku tau kebutuhan wanita itu sangat banyak Sayang! pergilah ambil juga beberapa peralatan untuk bodyguard, telpon mereka, dan kebutuhan kamu minimal 2 kantong belanjaan lagi."
"Itu sangat berlebihan Tuan?"
"Tak untuk Tuan keras kepala ini Nak! padahal sudha Bibi bilang, Muslimah ga percaya, yok Nak balek lagi." ujar Bibi
"Tapi belanjaan tadi hampir mencapai 10 juta Tuan?"
"Pergilah Muslimah belanja lagi, Aku akan menghemat jika waktunya menghemat, dengarkanlah Aku ya Princessku, kebutuhan keluarga itu utama."
"Kamu sangat baik, baiklah."
"Pergilah Adik kecil kakak." Alex mengusap kepala Muslimah dan mengecupnya.
Muslimah berlambai-lambai Alex walau jaraknya hanya di depan mata, ia kadang tak bisa terlepas dari genggamannya.
Tiba di dalam ruang belanja lagi, Muslimah bingung mau mengambil apa untuk dirinya.
"Aku ambil make up? ga terbiasa pakai yang berlebihan? beli baju Anak! dimana Anaknya? beli minuman sudah!."
Tak diketahui Muslimah, Alec berada di belakang dan memegang kepalanya.
"Kenapa Mbak tak membuatnya saja?"
__ADS_1
"Kamu siapa pegang-pegang kepala Saya?"
Muslimah membalikkan badannya dan terkejut melihat Alex, ia tersipu malu dan memeluknya walau hanya sekedar.
"Apa Aku boleh membelajakan sedikit untuk Anak jalanan Tuan?"
"Kenapa tidak? belilah."
"Benarkah?"
"Sangat benar."
"Alhamdulillah."
Muslimah memilih semua makanan dan sedikit kebutuhan untuk dibagikan disaat ia menuju pulang, ia mrngambil mulai dari popok bayi hingga makanan dan minuman per pack.
Muslimah merasa sudah cukup, ia meminta izin kepada Alex untuk menbayar.
"Apa Kamu tidak mengambil make up?"
"Aku tak bisa memakainya, cukup sedikit pelembab dan lipstik itu sudah."
"Udah ada."
"Belilah satu set saja?"
"Bagaimana Aku akan memakainya?"
"Nanti Aku sewakan Kamu tukan make up."
"Itu sangat rumit."
Muslimah pergi menuju kasir, Alex menariknya,tak disadarkan, membuat Muslimah jatuh ke lantai karena bajunya itu.
dubrakkkkk
"Ya Allah."
"Bu bangun! ada apa? maaf atas layanan buruk kami." ujar kasir.
__ADS_1
"Salah saya sendiri Mbak, gapapa."
Alex pura-pura tak bersalah.
"Maaf mbak Istri saya ceroboh, belanjaannya dibayar oleh Bibi saya ya, saya duluan, Istri minta makan." ujar Alex sedikit menahan tawa.
"Istrinya cantik sekali Tuan, dan Tuan ga kalah tampan dan berotot sangat serasi."
"Terima kasih mbak, ini keberentungan Saya menemukannya."
Alex mengendong Muslimah hingga keluar, semua yang sedang belanja melongo melihat kelakuan mereka.
"Kamu mabuk ya? lepasinnnnn."
"Sudah ni, Aku lepasin."
"Kenapa kau taril Bajuku?"
"Aku menyukai motif tali dibelakang."
"Ahhh ga tau, Aku cemberut, Aku mask mobil aja."
Muslimah masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang.
Bibi pun menyusul dengan belanjaan berat yang dibantu karyawan tersebut, melihat Muslimah duduk di belakang Bibi heran, Alex mengkode Bibi untuk membiarkannya.
"Jalan ya Bi! agar ga kemaleman kali."
"Iya Nak!"
di tengaj perjalanan.
"Bi ini tolong bagikan kepada yang membutuhkan jika lewat."
"Iya Nak!"
Alex menatap Muslimah yang cemberut.
"Muslimah lihatlah bayi itu sangat cantik."
__ADS_1
Muslimah menahan penglihatannya walau tadi hampir keceplosan, Bibi ikut menahan tertawa di kala itu.