Ia Menbangunkanku Dari Kekelaman

Ia Menbangunkanku Dari Kekelaman
Pameran, dan Anak kecil itu.


__ADS_3

Selang beberapa saat setelah mereka berbincang, Bibi dan rekan lain datang.


Hufff untung saja mereka tak melihat air matanya Muslimah.


"Kemana kita akan berangkat lagi Tuan? hari mulai gelap pasti wisata juga sudah mulai tutup." ujar Bibi yang ngos-ngosan.


"Menuju ke hotel saja, untuk hari ini kita istirahat dulu, dan lanjut esoknya lagi, Kita masih mempunyai 2 hari lagi untuk berwisata, Pak langsung saja pulang, dan beri aba-aba kepada yang dibelakang."


"Baik Tuan!" ujar Bapak yang sedang menyetir.


Tiba di hotel, Alex membaringkan tubuhnya.


"Hari ini sangat menyenangkan, Aku sangat lelah, bagaimana Kamu muslimah?"


"Aku juga sangat lelah."


Muslimah ikut merebahkan tubuhnya di samping Alex.


"Kamu cantik, apa Aku boleh memelukmu?"


Muslimah mendekati Alex dan duluan ia menyergap tubuh pria kekar itu.


"Lihatlah ke jendela itu, burung-burung berterbangan sangat akur, apa Kita bisa seperti itu?"


"Apa Kamu tidak tahu? mereka aku di alam bebas dan tanpa Kita ketahui bagaimana Mereka di dalam sarangnya, mungkin Mereka terus akur karena tekad sama-sama ingin menjaga, walau kadang ancaman, rintangan bahkan pertengkaran datang setiap hari, Mereka sangat kuat."


"Benarkah? Kamu sangat pandai, padahal baru saja Aku ingin memulai dan merayumu."


Muslimah mengelitik Alex hingga ia tertawa lepas dan ia pun langsung mengingatkannya.


"Pergilah shalat dulu, waktunya sudah tiba."


"Baik Nyonya."


Menunggy Alex shalat hingga akhirnya selesai, Muslimah menyodorkan tangannya.


"Untuk apa?"


"menyalami Suamiku."


"Aku seorang pendosa."


"Aku hanya ingin berbakti kepada suamiku, bukan menanyakan pendosa."


"Yasudah cium dulu sini."


Menyodorkan tangannya dan pipinya juga.


"Malam ini kita pergi kemana? Apa kamu ingin pergi ke pasar malam?"


"Pasar malam? apa disana ada gulali? es krim atau bahkan minuman segar?"


"Tentu!"


"Aku mau."

__ADS_1


"Janji jangan cerewet?"


"Siap! Laksanakan Tuan."


"Tunggu Aku shalat Isya dan Kita berangkat."


"Apa kita tak mengajak Bibi?"


"Tidak, hanya untuk berdua saja."


"Oh okela."


Muslimah dan Alex berbicara, ia belum.juga melipat sajadahnya, Muslimah bersandar di bahu Alex, sambil bercerita apa yang ia alami kemarin, apa yang membuat ia lemah, apa yang membuat ia menangis.


Alex mendengarnya dengan penuh kasih sayang, ia membelainya dan sekali-kali memberikannya nasehat.


Tak kalah juga dengan cerita-cerita unik dan broken homenya Muslimah dulu, hingga waktu shalat tiba.


Alex bangun dan mengambil wudhu daj langsung melaksanakan kewajiban.


Selama ia mengenal Muslimah, hidupnya berubah drastis, shalatnya tak pernah tertinggal, ia berusaha mencuri waktu dimana saja.


"Aku sudah siap, gantilah Baju."


"Oke."


Melihat dari cermin saja, Alex sudah terpesona kepada Muslimah, apalagi jika ia memakai hijab panjangnya itu, pasti Alex tak bisa berkata-kata.


"Aku akan menunggumu di mobil."


"Baiklah."


"Sudah sampai turunlah."


"Wahhh ini sangat lengkap, ini pameran megah."


"Tentu, Aku pernah kesini dulu dengan Bibi."


"Benarkah? berarti Aku tau tempat paling menyenangkan."


"Turunlah dulu."


"Baik Tuan."


Muslimah dan Alex mulai berjalan-jalan melihat suasana malam yang indah, tak lupa juga ditemani es krim lembut khas daerah setempat.


Alex melihat Muslimah melirik pernak-pernik indah itu.


Ia langsung menyergap tangan Muslimah dan melihatnya dengan pandangan dekat.


"Pilihlah, ini sangat cantik."


"Benarkah? Aku bisa memilikinya?"


"Kenapa tidak?"

__ADS_1


Tak kalah juga, Alex ikut memutar kesana kemari untuk membeli pernak pernik khusus Muslimah.


"Apa kamu menyukai tas batu dari serpihan batu laut ini?"


"Ini sangat cantik, tapi mahal pasti, Pak ini berapa?" Suaranya agak sedikit keras.


"Hanya 10 juta Bu, diskon jadi 9 deh, itu tempah." ujar pemiliknya.


"Ambillah ini sangat cantik, Kamu harus memilikinya."


"Benarkah?"


"Tentu."


Tiba-tiba Muslimah melihat, Anak kecil pemungut botol kaleng yang sedang mencari kaleng-kaleng dan botol plastik, sekali-kali ia melihat pernak-pernik indah itu.


Muslimah merasa Iba, ia memanggil alex dan meminta izin untuk membelinya juga.


Alex memberikannya izini, bahkan tak diminta juga, ia melihat naluri keibuan dari Muslimah.


Muslimah menghampiru Anak itu, ia bebas memilih apa yang ia suka, bahkan dengan harga mahal, Muslimah senang melihat raut wajah Anak itu, ia senang seperti mendapatkan keinginan terbesarnya terwujud.


"Aku pamit kak ya! terima kasih semua barang ini, Aku akan membagikan kepada Adik kecilku!"


"Kamu ada Adik kecil?"


"Iya Kak."


"Tuan! Aku ingin buah-buahanku diberikan untuk adiknya sedikit?"


"Kenapa tidak! tapi sepertinya sudah habis Muslimah, Aku kemarin membagikannya kepada Anak pesisir."


"Yasudah berikan dia uang saja."


"Tapi tidak baik Anak kecil pegang uang."


Alex pergi dan membelikanya banyak makanan untuk dia, dan kembali menghampiri Muslimah.


"Ini untukmu Dek! pulanglah malam sudah sangat larut, dan ini sedikit uang untukmu."


"Terima kasih Kak ya, jumpanorang baik, semoga Kakak dan Kakak ini juga selalu sehat dan jadi Suami dan Istri."


"Aaamin, hati-hati Adik kecil." ujar Muslimah sambil melambai-lambai.


"Tuan!"


"hmmm."


"Sepertinya sudah larut, kita terlalu lalai berada disini, Kita pulang saja ya, Aku lelah tiba-tiba."


"Baiklah."


Diperjalan pulang, Muslimah dan berbicara sepatah katapun, hingga Alex mengambil alih pembicaraan pertamanya.


"Muslimah, Apa Kamu tau? Aku sangat mencintaimu."

__ADS_1


Tak ada jawaban dan hanya menbisu, rupanya Musliamh sudah duluan tertidur lelap di mobil, terlihat wajahnya sangat lelah, Alex membiarkannya dan tak ingin menganggu Muslimah.


__ADS_2