
"Bi! gimana?"
"Apa kamu tahu Nak? Alex itu."
"Kenapa Alex itu?"
"Ia adalah Pria yang terkenal dengan kewibawaannya dan kekejamannya, tapi ia bisa luluh hanya karena melihatmu seperti Bunga yang selalu bermekaran."
"Maksudnya Bi! Kenapa ia menangis dan meraung seperti itu?"
"Malam ini melayani dirinya terakhir kali, pelacur baru saja pulang untuk ke terakhir kali?"
Muslimah terkejut dan tak menyangkanya, air matanya menetes mendengar semua curahan dari Bibi, ia mulai menangis disaat mendengar kalimat Alex dan kekelamannya, berawal ia mengenal dunia malam pribadi bahkan kebebasan Ayah Ibunya dalam kesenangan duniawi.
Bibi mulai menangis melihat air mata Gadis itu jatuh di helaian kerudungnya, Muslimah memeluk Bibi.
"Aku yakin seperti Tuan Alex katakan! kamu tak menyangkanya dan kamu terlalu suci untukknya."
"Bolehkah Aku menemuinya Bi?"
"Jangan Muslimah ia sedang tak berdaya menangis dan mengenang masa-masa yang sudah terlewatkan."
"Kumohon Bi!"
"Tapi Muslimah.."
"Kumohon Bi, cepat telpon Tuan dan kabari Aku akan pergi ke kamarnya dan Bibi harus menemaniku."
Bibi segera menelpon Alex yang masih berbekas air mata, Alex terkejut dan tak memberinya izin.
__ADS_1
Bibi berusaha menjelaskan yang terbaik, tetapi ia tak mendengarkannya.
Dengan geram Muslimah pergi menuju ke atas dan meninggalkan Bibi sendirian, Bibi bersorak dan menyusul Muslimah.
"Nak! tolong dengarkan ia."
"Tidak Bi! Aku wanita keterlaluan."
Tiba di ruang atas, Muslimah tak mengetahui kamar Alex, ia memohon Bibi untuk menunjukkannya dan menangis mengintari Bibi untuk membuatnya iba.
Bibi mulai luluh dengan sikap Muslimah dan ia mengetahui sikap baik Muslimah yang terlalu cerdik.
"Ikuti Aku Nak!"
"Baik Bi."
"Tuan!"
"Siapa itu?"
"Aku Muslimah!"
"Kenapa Kamu mengetahui kamarku?"
"Itu tidak penting! tolong pakai baju menutup aurat Aku akan masuk ke dalam secepatnya."
"Berani-beraninya kau menyusup."
"Tolong!!!"
__ADS_1
"Siapa kamu memaksaku?"
"Aku tahu engkau hanya membuat amarah agar Aku tak memasuki zona bebanmu, tolong dengarkan Aku."
Alex terdiam sangat lama, ia tak menghiraukan Muslimah yang berada di balik dinding kamar luarnya itu.
"Tolong Tuan! dengarkan Aku, Aku tau engkau tak menginginkan masalahmu terserpih di bagian hidupku? tapi! dengarkanlah Tuan! Aku berpikir! Akulah yang lebih kurang darimu, Aku tak berharta dan derajat kita sangat jauh beda! tapi? apa kata orang jika Aku menjadi seorang istri dari seorang CEO? masalah hidupmu! bagiku hanya secuil kacang yang akan di cerna, bukankah semakin banyak masalah semakin kuat dan romantisnya sebuah cinta? jika memang Anda tak ingin menemuiku, Aku permisi, terima kasih."
"Muslimah..."
Muslimah pergi dengan air mata yang penuh pada semua sisi kerudungnya itu, ia pergi dan tak menghiraukan aba-aba panggilan Bibi, sekejap mata ia pun menghilang dari ruangan itu dengan penuh air mata.
Alex masih di kamarnya, ia tak sadar diri duduk dan merenung disana sambil mengingat kata-kata yang di ucapkan muslimah.
Membuat perhatian Bibi yang melihat Alex dari luar kamarnya.
"Alex! "
"Bibi!"
"Jangan menangis lagi! Kamu lupa kamu itu Lelaki yang kejam? dimana letak kejammu sekarang?"
"Apa tadi hanya mimpi?"
"Tidurlah malam sudah sangat gelap untukmu."
"Iya Bi! dan tolong tinggalkan Aku sendiri Bi."
"Baiklah."
__ADS_1