Ia Menbangunkanku Dari Kekelaman

Ia Menbangunkanku Dari Kekelaman
Cerobohnya Tuan muda


__ADS_3

Bangun dari pagi berikutnya, Alex masih juga memikirkan pesan yang belum dibalas Muslimah.


"Muslimah."


Setiap wajah gadis itu terbayang, ia selalu berderai air mata tanpa penyebab, entah karena keanggunannya dan ketangguhannya yang melihat hidupnya sangat sederhana.


Alex tak bisa berbicara di kala itu, ia menunggu pesan hingga Muslimah membalasnya, dan tak disadari ia tertidur dalam keadaan mengingat gadis itu.


Tiba-tiba satpam menelpon Alex, ia mengabari ada seorang Gadia di depan.


Cepat-cepat Alex pergi dan melihat, ternyata Muslimah, hatinya bergembira bukan kepayang, Bibi yang melihat itu merasa ikut serta bahagia.


"Tuan siapa itu?"


"Calon saya Bi."


"Tak ku sangka saja Nak! yasudah Bibi buatkan minuman dulu."


"Iya Bi."


Alex menemui Muslimah dan mempersilahkannya untuk duduk.


"Muslimah! Aku menunggu pesanmu terkirim tak kupercaya kau datang dihadapanku lagi."


"Iya Tuan! Aku hanya ingin mengembalikan barangmu yang jatuh! kenapa Tuan sangat ceroboh? meninggalkan Atm di dalam tas bajuku kemarin itu?"


Bibi datang menyambung pembicaraan sambil menyodorkan minuman.


"Dia mulai kewalahan Nak! ia sudah mulai membutuhkan pendamping hidup, dan mulai lelah sendiri."


"Oh iya Bi? apa Tuan ingin kucarikan pendamping hidup?" lanjut Muslimah

__ADS_1


"Kamu tahu kriteria yang seperti kusukai?"


"Tentu! yang baik bagimu?"


"Nah siapa itu?" lanjut Alex mulai bercanda


"Itulah kamu Nak!" lanjut Bibi


"Aku?"


"Ya Muslimah, Aku mencintaimu dan Ana uhibbuki fillah Apakah kamu mau menerimanya?"


"Baju ku banyak tertambal bahkan hijabku sangat lusuh lihatlah pangkatmu!"


"Kamu selalu merendahkan diri, Apa Aku harus bersujud kepadamu karena kamu tinggi derajat ketenangan dan kewibawaan dan kecantikan dan hatimu dan.."


"Dan apa lagi?"


Muslimah tersenyum malu, ia harus memikirkannya dulu, karena ini bukanlah hal yang mudah seperti di depan mata, ia juga berdiskusi bersama Bibi tentang kehidupannya yang jauh beda dengan alex, Bibi malah terharu dan menangis mendengarnya bahkan Bibi menginginkan Muslimah bersamanya selalu.


Bibi pun memberi waktu untuknya berpikir, agar tak memberatkan Muslimah, Alex terseny melihat kelakuan akrab mereka dan ikut serta bahagia.


"Bi! Tuan! Saya permisi! waktu mulai petang dan banyak hal yang harus saya kerjakan."


"Baiklah Nak! Alex tolong antar Muslimah!"


"Tidak Bi! dia bukan mahramku dan aku ridak mau, cukup temaniku hingga ke gerbang saja, rasa hormatku kepada kebaikan kalian sangatlah besar."


"Tapi Muslimah? Aku ingin berbicara banyak denganmu."


"Tapi tidak sekarang! dengarlah Aku."

__ADS_1


"Yasudah."


Alex mengantarkan Muslimah hingga kegerbang, ia sudah mengajak paksa muslimah untuk menaikinya ke gerbang, karena luasnya Rumah alex membuat gerbang dan taman dan menuju Rumah sangatlah jauh, tapi Muslimah tak mau dan terpaksa Alex harus berjalan seperti marathon yang sangat jauh.


"Sudah sampai Nona."


"Ok Makasih Tuan!"


"Dengan senang hati."


Alex menatap Muslimah dari kejauhan, ia mulai menaiki Angkut dan pergi menghilang dari pandangan.


"Kenapa Kamu sangat indah Muslimah? harta bukan segalanya bagiku Muslimah, walaupun kadang Aku tertipu olrh Dunia."


Alex menelpon satpam untuk kembali ke Rumahnya.


Tiba disana ia menceritakan tentang mulai kegelisahannya tentang apa yang disembunyikan sejak ini.


Bibi memakluminya dan menasehati Alex tentang bisnis pemuasnya itu.


Ia mulai menyesal tentang kejadian lampau, ia melahap lapar semua wanita segar dan mulai menyadarinya.


"Tapi Bi? bagaimana Aku akan bilang pada ketua pemuas itu? apa kata mereka nanti kalau club ini di bubarkan."


"Apa Muslimah tau tentang ini?"


"Belum Bi? apa nanti jika ia mengetahuinya ia akan pergi? karena ia Wanita suci dan jauh beda denganku!"


"Bibi melihat aura muslimah saja udah menyakinkan, pilihan kamu terbaik, nanti kita bicarakan baik-baik."


"Iya Bi!"

__ADS_1


Alex memeluk Bibi bak seorang Ibu.


__ADS_2