
Sepertinya akan hujan.
Alex menurunkan Muslimah dari mobil dan mengangkatnya ke kamar.
"Ia sangat terlelap."
Alex membaringkan Muslinah, Ia juga tak kalah kelelahan malam ini, hingga tak tersadarkan, ia pun turut tertidur hingga matahari terbit.
"Dimana Aku?"
"Sudah bangun? maaf Aku tak menggantikan bajumu, Aku juga terlelap."
"Pagi yang indah, tidak masalah Tuan."
"ngomong-ngomong kita akan pergi kemana hari ini?"
"Entahlah Aku masih kelelahan, dan ingin kembali tidur."
"Eitsss tidur pagi tidak bagus bangunlah, Aku akan memandikan kalau tidak."
"Baiklah Aku akan bangun, Kamu sangat tampan, kenapa tak pakai baju? aaaaaa."
Muslimah terkejut dan melempar bantal.
"Aku pikir Kamu masih tidur, maafkan Aku, akan Kupakai segera."
"Salahku juga, maaf."
"Apa Kamu ingin berenang?"
"Sangat ingin, tapi... Aku kelelahan."
"Bangunpah dulu, makan dan mandi, Kamu akan segar."
"Baiklah."
menunggu Muslimah berbenah diri sambio menikmati secangkir kopi dengan suasana laut pagi yang tenang.
beberap saat kemudian, Muslimah menghampiri Alex yang sedang menikmati indahnya alam.
__ADS_1
Ia terkejut, hampir saja kopi itu terbang.
"Kamu mengejutkanku."
"Aku mau?"
"Bekas bibirku?"
"Kenapa tidak, sini Aku mau."
"Ahhh usil kamu."
Duduk sambil bercerita pagi itu, di depan Aula kecil hotel dengan angin sepoi-sepoi ditambah candaan yang sangat sweet.
Tapi tiba-tiba Red pemandu Alex dulu melihat Alex dari kejauhan, ia mendekat dan menuju ke aula itu.
Muslimah terkejut melihat itu ibunya, tapi Red pura-pura tak mengenalinya.
"Hai Alex! Kamu sudah punya istri ya!"
"Iya Red, perkenalkan Muslimah."
"Wahhh sepertinya seleramu sudah beda, Aku izin pamit ya, langgananku sudah menunggu, dan Kamu tahu? dia membayarku 3M."
"Yasudah saya pergi dulu."
"Tunggu! hotel mana?"
"Di samping hotel mu."
"Yasudah pergilah ke kamar terbaikmu."
Ia melirik Alex dengan panas, ditambah dengan bikini yang ia pakaikan saat itu, sangat transparan, hanya sebongkah baty menutupi kedua mahkotanya itu.
Muslima menatap lama iabyang sedang berjalan, ia mulai menangis.
"Jangan menangis, Aku tau dibalik dari semua ini, itu ibumu kan? lupakan saja ia, ia tak mengenalmu lagi."
"Tapi ia sangat berubah Tuan!"
__ADS_1
"Jangan nangis, Aku kupeluk dan tak kulepaskanmu untuk seorang lelakipun, habiskan kopiku dulu, nanti kita makan siang di tempat enak dan sedikit mewah ya."
"Baik."
Alex sedikit menceritakan tempat-tempat yang sering jadi sasaran di wilayah ini untuk mereka yang melayani orang atau bekerja sebagai seorang perempuan malam, tak disangka Muslimah ada yang meninggal disaat mereka melayaninya, karena keganasan yang tiada tara, demi uang semua diberikan.
Muslimah semakin menangis.
"Apa mereka tak merasa malu."
"Entahlah yang penting kita baik-baik saja Muslimah, jangan dipikirkannya, nanti kamu sakit."
"Kapan kita pulang?"
"Dua hari lagi?"
"Aku merasa berdosa tak menbuat hal wajar dengamu dan itu sudah lama."
"Apakah itu? berhubungan?"
"Iya."
Alex memeluk Muslimah dan air matanya jatuh di kerudung Muslimah.
"Aku Alex menikah dengan Muslimah, bukan untuk memuasi nafsuku? Aku ingin membangun sebuah keharmonisan dan menjauhkan hal buruk, Aku mendapat ilmu banyak bersamanya, sampai kapanpun, Aku tak terlalu menginginkan itu, cukup melihat senyuman gadis ini Aku merasa bahagia, jangan membuatmu depresi Muslimah."
"Tapi..."
"Sudahhh, jangan bicara, Aku takkan melepaskan pelukan ini."
"Yasudah! Aku sangat betah disini! tunggu!"
"Kenapa?"
"kau tak menkancing bajumu? lupa? dan apa yang berbentuk kotak-kotak di tubuhmu itu?"
Alex menggeleng-gepeng kepalanya.
"Itu otot Dada Muslimah, Aku sering berolahraga."
__ADS_1
"Ooo, imut sekali."
"Ah Kamu, ada-ada aja."