
Fichia dan Edgar berjalan kaki dari rumah nya menuju ke rumah pak Budi ketua RT di desa mereka.
Sepanjang perjalanan ,Fichia hanya diam tanpa mengatakan apapun kepada Edgar.
tok..tok..tok
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
"eh neng Fichia, mari masuk neng" ucap Bu Siti ,istri pak budi.
"Ada keperluan apa neng?"
"Begini buk, saya ingin bertemu dengan pak Budi. apa beliau ada dirumah?"
"Oh bapak, bapak lagi ke ladang neng. coba ibu telfon kan ya, siapa tau bisa pulang"
"iya buk, terimakasih banyak"
"iya sama-sama sebentar neng"
Bu Siti berjalan menuju ke dapur dengan membawa handphone yang sedang berusaha menghubungi pak Budi.
"Sayang" ucap Edgar
"Hmm? ya mas?"
"Jangan panik, semua akan baik-baik saja"
"Iya mas,semoga"
"apa kamu memerlukan bantuan ku?"
"Setelah aku bisa membawa ibu dan ayah keluar dari tempat terpencil itu, bisa tidak mas bantu aku untuk menyembunyikan keluarga ku untuk sementara waktu" ucap Fichia dengan menatap mata Edgar
"pasti bisa sayang, apapun bantuan yang kamu perlukan. katakan ke mas, nanti mas bantu"
"Terimakasih mas"
"sama-sama sayang"
.
.
.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
"Oh Fichia, sebentar ya. bapak mau membersihkan diri dulu, habis dari ladang ini tadi"
"iya pak, silahkan"
__ADS_1
Tidak menunggu waktu yang lama, pak Budi dan Bu Siti kembali ke ruang tamu
"Ada apa keperluan apa fichia?"
"Begini pak, kak Sabrina sudah menceritakan semua yang terjadi di rumah saya dan saya mendapat kabar jika ayah dan ibu saya saat ini berada di tempat terpencil. apa bapak bisa membantu saya untuk ke tempat itu pak?"
"Emmm, saya bisa membantu Fichia kesana. tapi, saya tidak mau jika akan menyebabkan masalah yang berkepanjangan, karna Herman sebenarnya juga menekan bapak"
"Astaga, maaf kan saya pak. saya tidak mengetahui tentang permasalahan ini"
"iya tidak papa, kapan bisa bapak antar kamu ke sana?"
"Saya sekarang bisa pak"
"Jika kita berangkat kesana sekarang, kita akan sampai disana malam hari. mengingat jalan yang susah untuk dilalui dan minim penerangan"
"Maaf sebelum pak, jika saya menyela. apa di dekat sana ada tempat luas , seperti lapangan atau ladang kosong yang tidak terlalu berimbun?" Sela Edgar tiba-tiba
"Iya nak, ada. karna penghuni disana hanya ada ayah dan ibu fichia saja. di sana sangat jauh dari jangkauan penduduk"
"Astaghfirullah ayah ibu" tangis Fichia kembali terdengar.
"Bagaimana jika kita kesana menggunakan helikopter pak? saya akan menghubungi asisten saya untuk menuju kemari dan kita tunggu di salah satu lapangan yang ada disini?" ucap Edgar dengan mengelus punggung Fichia untuk menenangkan wanita itu.
"Boleh nak, kita tunggu di lapangan dekat sekolahan depan sana"
"oke baik pak, saya hubungi asisten saya dulu" Edgar segera mengambil handphone yang ada di saku nya dan segera menghubungi Samuel.
.
.
tidak lupa, Edgar juga membawa mobil yang ia kendarai tadi untuk ia titipkan di salah satu rumah warga yang sangat Fichia kenal, supaya jika Herman pulang. dia tidak menaruh curiga terhadap Edgar maupun Fichia.
"Itu dia Sam sudah datang"
Memang kedatangan Samuel beserta helikopter yang ia kendarai sedikit mencuri perhatian warga, tetapi itu semua tidak membuat Edgar maupun Fichia gentar untuk segera menyelamatkan orang tua nya.
.
.
"Sam kita menuju titik ini" ucap Edgar yang berada di samping kemudi dan menunjukkan titik yang akan dipakai untuk lepas landas helikopter.
"Siap tuan"
Tidak memakan waktu lama untuk perjalanan ke daerah tersebut. Hanya dalam kurun waktu 20 menit, mereka sampai di salah satu ladang yang letak nya tidak jauh dari rumah gubuk tempat Bu ayu dan pak dikta tinggal.
"itu rumah orangtua mu Fichia" ucap pak Budi
Fichia yang mendengar itu lantas segera lari dan mengetuk pintu seseru mungkin.
"Assalamualaikum ibu ayah, ini Fichia"
"Waalaikumsalam nak" ucap Bu ayu dari samping belakang rumah
__ADS_1
"ibu" tangis Fichia pecah saat memeluk sang ibu.
"Maafkan ibu nak"
"Kenapa ibu tidak bercerita ke Fichia saat bertemu di rumah mas Edgar,ha? kenapa ibu tidak menceritakan semua nya? kenapa ibu membuat Fichia menjadi anak yang tidak berguna"
"syuttt, tidak sayang. ibu tidak papa"
"ayah mana Bu?"
"ayah sedang di ladang, ayo ibu antar"
Fichia melihat ayah nya yang sedang mencangkul tanah yang entah milik siapa dan tidak jauh dari tempat ayah nya berdiri ,Fichia melihat singkong dan daun singkong yang ada disana.
"ayahhh"
"Fichia"
Fichia lari memeluk ayah nya dan menangis di pelukan ayah nya lagi dan lagi.
Setelah acara tangis dan peluk memeluk telah usai, kini Fichia sedang menunggu ayah dan ibu nya yang sedang bersiap untuk pulang kerumah anak nya.
"Tenanglah sayang, percaya padaku jika semua akan kembali pada tempat nya. Hmm?"
"terimakasih mas"
"sama-sama, ini tidak sebanding dengan perjuangan mu merawat Ameera dan aku"
.
.
"ibu sudah selesai?"
"sudah nak"
"Sebentar, kita harus tutup semua pintu dan kalian tunggu disana. aku akan menghilangkan jejak kaki yang ada di tanah ini dulu" ucap Edgar dengan berusaha untuk membuat jejak kaki yang di tanah hilang, karna ada jejak sepatu-sepatu dari rombongan edgar.
.
.
"Kita mau kemana nak? jika kita kembali kerumah, ibu yakin Herman akan mengirim ibu ketempat ini kembali"
"ibu tenang saja, kita akan kerumah Edgar dulu. sementara ibu dan ayah tinggal disana, saya dan Fichia akan menyelesaikan masalah yang ada di desa dan membantu kak Sabrina supaya bisa bertemu dan membawa Ken" ucap Edgar menjawab pertanyaan Bu ayu
"terimakasih nak, terimakasih sudah membantu kami. ibu tidak bisa membalas apa-apa nak"
"sama-sama Bu, ibu tidak perlu membalas dengan apapun, saya hanya minta doa nya .supaya saya bisa segera menikahi wanita yang saya cintai dan yang ingin saya jaga" ucap Edgar dengan senyuman khas nya
"aamiin, semoga wanita itu menerima nak Edgar"
Fichia yang merasa Edgar sedang menyindir dirinya hanya diam saja dengan melirik sang empu, meskipun perasaan nya dibuat tak berdaya akan tindakan Edgar yang spontan ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Selamat pagi, selamat menjalankan aktivitas..
Semoga semua nya dalam keadaan baik-baik saja dan jangan lupa tinggalkan jejak untuk author yaa.. terimakasih ❤️