
Setelah berbincang-bincang di halaman depan, kini mereka bertiga segera untuk masuk ke dalam rumah dan memberikan hak tubuh nya untuk mendapatkan nutrisi.
"Sini Ameera sama papa dulu ya, biarkan mama Fichia menyiapkan makanan untuk papa"
"Ekhhm. Malu mas, ada kak Sabrina" lirih Fichia dengan memberikan Ameera di pangkuan Edgar.
"Tidak papa, iya kan kak?"
"iya ,tidak papa dek. jangan malu begitu" kekeh Sabrina
Meskipun fichia tidak menanggapi ucapan kakak atau kekasih nya, namun muka Fichia tidak bisa berbohong. Muka nya sangat bersemu merah, bak kepiting rebus.
"Ini mas, sini biar Ameera aku gendong"
"tidak usah, biar disini saja dia anteng. kamu makan saja yang nyaman ya sayang ku" goda edgar
"Iya terimakasih kekasih ku tersayang" Balas Fichia.
uhukk..uhukk.
"ini mas, diminum dulu. kenapa hanya mendengar seperti itu kamu jadi tersedak" heran Fichia
"Tidak papa, ya sudah aku mau makan. selamat makan sayang , selamat makan kak"
"iya"
***
__ADS_1
Kedua orang tua Fichia yang saat ini berada di rumah mama Ajeng pun sangat bahagia.
Banyak hal yang mereka ceritakan, awal nya pak dikta tidak bisa turut bergabung dengan pembahasan para wanita ini. tapi ternyata setelah sesekali berceloteh, mereka bisa sangat nyambung saat ngobrol.
"Eh Bu ayu, nanti kalau Edgar sama Fichia menikah. kalian mau menikah kan secara besar-besaran atau sederhana?"
"Kalau saya terserah anak-anak bu Ajeng, sebagai orangtua kita hanya bisa mendukung apa yang ingin mereka lakukan. asalkan itu baik"
"iya benar, kalau gitu permasalahan itu kita serahkan saja sama mereka. jika mereka meminta bantuan, baru kita turun tangan untuk menyelesaikan misi nya"
",Haha iya benar"
"Bu Ajeng"
"iya Bu ayu"
"iya Bu ayu, saya sudah tau. lantas, kenapa ibu berbicara seperti itu?"
"Tidak Bu, saya takut nya jika anda dan nak Edgar belum mengetahui hal tersebut,"
"loh, bagaimana ibu bisa mengatakan hal itu. Fichia kan memberikan asi nya untuk Ameera cucu saya, jadi ya pasti Fichia pernah menikah bukan?"
"Fichia memberikan asi nya untuk Ameera Bu? ibu tidak bercanda bukan?"
"tidak Bu ayu, awal nya memang Fichia bekerja sebagai ibu susu untuk cucu saya. karna menantu saya meninggal saat melahirkan nya"
"Astaghfirullah" ucap pak dikta
__ADS_1
"Memang nya Fichia tidak bercerita hal ini kepada kalian?"
"tidak Bu" lirih Bu ayu
"eoh, maaf kan saya Bu. saya tidak tau mengenai hal ini. tapi, ibu jangan khawatir. saya akan tetap menyayangi Fichia seperti anak saya sendiri dan saya minta, ibu dan pak dikta juga menerima Edgar sebagai menantu kalian dan terima Ameera dengan baik di tengah-tengah keluarga kalian"
"iya Bu Ajeng, pasti nya kita akan menerima nak Edgar dan Ameera, cucu kita" ucap pak dikta
"Bu Ajeng, apa Bu Ajeng akan menyalahkan Fichia atas kejadian yang pernah menimpa nya ketika tidak bisa menyelamatkan bayi yang ia kandung?" tanya Bu ayu
"loh, kenapa saya harus menyalahkan Fichia. bukan nya, kematian seseorang sudah ada yang mengatur nya. bahkan saya juga pernah kehilangan anak kedua saya saat masih dalam kandungan Bu, padahal saya sudah menjaga dan rutin cek-up ke bidan. tapi, memang Tuhan berkehendak lain. anak kedua saya tidak mau saya besarkan"
"Saya turut berdukacita Bu dan terimakasih sudah menerima Fichia dengan baik"
"pastinya Bu ayu, Fichia anak yang hangat"
***
Disisi lain saat di tengah-tengah sarapan di kediaman Edgar.
Sabrina mengatakan jika Amran siap akan bertemu kapan pun dan dimana pun.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara up nya 600 kata dulu yaaa..
besok author kasih 1000 kata/hari.. hehe
__ADS_1
Jangan lupa berikan dukungan untuk author. terimakasih ❤️