
"Tadi mas Herman mau ke desa tempat ibu dan ayah di sekap dek" ucap Sabrina saat di rasa Herman sudah pergi meninggalkan pekarangan rumah.
"Ha? serius kak?"
"iya dek"
"Jadi ,kita bisa langsung segera pergi ya kak"
"iya benar dek dan katakan pada bibik untuk besok tidak usah masuk kerja dek. kasian jika bibik masuk ,dia akan kena amukan mas Herman" ucap Sabrina
"iya kak, nanti aku akan beritahu bibi"
"Mas, kita bisa berangkat ke Jakarta kapan?" tanya Fichia dengan menatap Edgar dari samping
"Nanti jam 9 kita berangkat dan jika bibik mau ikut kita ajak sekalian aja nggak papa sayang"
"Satpam disini sementara diliburkan dulu, Nanti jika keadaan sudah membaik baru kita panggil lagi kalau masih mau kerja disini" lanjut Edgar.
"Kenapa harus menunggu jam 9 mas? bukan nya lebih cepat lebih baik?"
"Biarkan kondisi sedikit kondusif dulu sayang, kita tidak tau kemana Herman pergi. siapa tau dia sedang menunggu di depan gapura sana atau nggak malah dia masih di sekitaran sini"
"Biarkan anak buah ku mengikuti mobil nya dulu, setelah mendapatkan kabar kita baru berangkat"
"Siap mas, terimakasih sudah membantu ku sejauh ini"
"Ini belum jauh, ini masih dua langkah dari beberapa langkah yang akan aku lalui kedepan nya bersama mu" gombal Edgar,
Sabrina yang mendengar itu lantas tersenyum.
.
.
"Bikk" teriak fichia
"Bibik dimana?"
__ADS_1
"Disini neng, sebentar" bibik berlari tergopoh-gopoh menghampiri Fichia yang berada di pintu belakang rumah
"Bik bisa ikut Fichia sebentar?"
"Iya non, bisa"
Bibik ikut Fichia ke dalam kamar yang semalam di pakai nya untuk tidur.
"Ada apa neng? kenapa bibik di panggil kesini?" ucap bibik bingung dengan menengok ke kanan dan ke kiri.
"Begini bik, apa bibik sudah tau semua perlakuan kak Herman ke keluarga Fichia?"
"I-iya non"
"bibik jangan takut, Fichia tidak ingin menghakimi bibik atau berbuat lebih"
"Fichia hanya ingin mengajak bibik ke kota, kita sementara pindah kesana dulu sampai kondisi disini benar-benar kondusif"
"Apa tidak papa neng? kapan kita berangkat neng?"
"Hari ini bik, kita berangkat jam 9 atau nunggu kabar dari mas Edgar dulu"
"tidak papa bik, nanti kita belikan baju di sana. bibik ikut kita ya"
"iya neng, siap bibik mah. disini bibik juga tidak ada siapa-siapa"
"terimakasih bik, bibik jangan pergi jauh dari jangkauan Fichia ya. supaya kalau kita berangkat bibik mudah di cari"
"Bibik biarkan di kamar ini aja sayang" ucap Edgar tiba-tiba
"Herman mengirim orang untuk mengintai rumah ini, aku takut nya kalau bibik akan di culik" lanjut Herman
"eh jangan atuh, bibik mah udah tua. diculik sudah tidak laku di jual" ucap bibik asal
"Hisshh, enggak bik" kekeh Fichia
"bibik disini aja, duduk santai sambil nunggu kabar"
__ADS_1
"siap neng"
Sabrina hanya diam melihat semua orang kelihatan bingung, bukan nya dia tidak ingin memberikan masukan. tapi, dia sendiri juga bingung harus bersikap seperti apa.
"Aku dulu yang akan keluar dari rumah, kemudian di susul bibik dan kak Sabrina di Belakang. setelah itu aku harap kalian merunduk sampai kita di kawal anak buah ku" ucap Edgar memasang strategi.
"Setelah itu baru Fichia" lanjut nya
"Orang-orang Herman ada dimana?" tanya Sabrina
"Dia ada depan dan belakang. tenang saja, anak buah ku sudah menuju ke kawasan ini dan Sam akan membawa heli untuk ke tempat yang sudah aku tentukan"
"Mas, sekali lagi terimakasih" ucap Fichia dengan mata berkaca-kaca
"Iya sayang, terimakasih mu aku terima. menangis nya di tunda dulu oke"
Fichia mengangguk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Haii.. jangan lupa kunjungi cerita author lain nya ya..
• RAHIM SEWAAN TUAN MUDA (end)
• IDOL TERKENAL ITU PACARKU (on going)
• IBU SAMBUNG PUTRI CEO (on going)
Berikan juga dukungan kalian, berupa.
Like..
Comment...
Vote...
Follow...
__ADS_1
dan tambahkan ke daftar favorit bacaan kalian.
terimakasih ❤️