
Pagi ini Fichia bangun terlebih dulu, dia menuruni anak tangga dan menuju dapur yang sudah mengeluarkan bau sedap khas makanan.
"Selamat pagi bik"
"Pagi neng. loh, neng Fichia menginap disini?"
"iya bik, semalem Fichia datang lagi. daripada langsung pulang ke Jakarta mending menginap disini"
"Oh iya betul itu, daripada capek dijalan neng"
"Hari ini masak apa bik?"
"mau masak sambel cumi pedas neng, apa neng Fichia mau bibik masakin?"
"Emmmm. boleh masakin telur dadar yang biasa bibik buatkan buat aku?"
"Boleh atuh neng geulis, nanti bibik buatkan spesial buat neng Fichia"
"Ahahaha terimakasih bibik ku sayang"
"Sama-sama neng"
"Fichia ke kamar lagi ya bik"
"Iya neng, segera turun ya neng. untuk sarapan"
"Iya bik"
Fichia melangkah kan kaki menuju kamar nya kembali dan mendapati Herman yang sedang membangun kan Sabrina,Kakak nya.
"Ada apa kak Herman? kak Sabrina seperti nya sedang tidak enak badan. semalem dia tidak bisa tidur" ucap Fichia dengan mendekati Herman dan Sabrina
Edgar saat ini sudah bangun dan sedang duduk di balkon, dia tidak ingin terlalu ikut campur lebih dalam urusan keluarga Fichia jika permasalahan sepele semacam pagi ini.
Edgar tipe laki-laki yang akan mengamati dan mencerna setiap permasalahan yang datang, kemudian dia akan mengambil langkah untuk permasalahan nya itu. intinya dia tidak akan mengambil langkah yang salah, atau terlalu gegabah.
"Dia istriku Fichia, dia harus melayani ku. bukan malah enak-enak tidur begini" ucap Herman sedikit lantang.
"Tapi kak Sabrina sedang sakit kak, bisa kah kak Herman menyiapkan keperluan untuk pagi ini saja?"
"Tidak mau"
__ADS_1
"Kasian kak Sabrina kak, semalem kan kata kakak dia kerasukan. mungkin ini efek kerasukan itu kak"
"Kalau begitu kamu saja yang melayani ku pagi ini, gimana? hmmm?" ucap Herman dengan menatap Fichia dengan tatapan menjijikkan.
"Jangan bermimpi kamu herman! Istri mu sakit dan kamu sebagai suami harus mengerti kondisi nya saat ini, bukan malah melakukan seenak nya seperti itu" teriak Edgar dan berjalan menuju tempat Fichia berdiri
"Siapa kamu? siapa kamu dengan lantang nya teriak di rumah ku? kamu hanya orang asing yang terlalu ikut campur urusan ku"
"Fichia, kalau kamu tidak mau kakak mu melayani ku pagi ini. sekarang kamu yang harus melayani ku sampai kakak mu pulih" lanjut Herman dengan tangan nya yang akan bersiap menarik tangan Fichia
"Bedebah!!" teriak Edgar dengan melayangkan tinjuan nya ke muka dan tubuh Herman.
Sabrina melihat itu semua, tetapi kondisi nya benar-benar sedang tidak baik-baik saja. bahkan kaki nya untuk berjalan pun terasa sangat lemas.
Sabrina pun juga tau, jika dirinya pagi ini ikut dengan Herman. Dia akan berakhir di siksa untuk ke sekian kali nya.
"Mass, sudah. kasian kak Herman" teriak fichia menarik Edgar
"tolong jangan bertindak gegabah mas" bisik Fichia
"Aku tau kalau aku hanya orang asing yang terlalu mengurusi urusan mu. tapi, aku bukan orang asing dari fichia, adik ipar mu. jadi, apapun yang terjadi dengan Fichia. aku yang akan selalu menjadi penjaga nya"
"Asalkan kamu tau Herman! Sejati nya laki-laki di takdirkan untuk menjaga wanita, bukan untuk menyiksa!!" lanjut Edgar dengan memeluk tubuh Fichia.
Setelah mendapatkan beberapa pukulan dari Edgar, Herman lantas keluar dari kamar tersebut dengan langkah yang sedikit membungkuk.
Herman tidak bisa melawan Edgar, karna pukulan yang Herman rasakan benar-benar tidak seperti pukulan biasa. jika saja dia melawan, apa yang akan terjadi dengan tubuh nya.
"tenangkan kakak mu, kita akan berangkat setelah Herman pergi"
"terimakasih mas"
"iya sayang"
.
.
"kak, kita akan ke Jakarta setelah kak Herman pergi nanti ya" ucap Fichia dengan lembut
"Iya dek, tapi janji ya Ken harus ikut kita ke Jakarta"
__ADS_1
"Iya kak, mas Edgar sudah mengurus itu semua"
"iya dek, terimakasih"
***
Setelah Fichia selesai memandikan kakak nya dan dia juga telah selesai membersihkan diri. mereka lantas berjalan Menuju meja makan.
Di meja tersebut sudah ada Herman yang tengah menyantap makanan sendiri.
"pagi kak" sapa Fichia dengan sopan
Tidak ada respon apapun yang keluar dari mulut Herman, bahkan dia juga tidak menatap Fichia maupun Sabrina, istrinya.
Fichia mengabaikan hal itu, dia segera mengambil kan makanan untuk kakak nya dan Edgar.
Mereka semua makan dalam diam, tidak ada seorang pun yang berniat membuka obrolan pagi itu.
"Bina, aku hari ini mau ke desa ***** . kamu mau ikut tidak?" ucap Herman ketika menyelesaikan makan nya.
"Tidak mas, aku sedang tidak enak badan" ucap Sabrina dengan lirih
"yakin tidak ikut?"
"iya mas, sampaikan salam sayang ku untuk orang yang disana"
"oke baiklah, aku akan kesana pagi ini dan mungkin pulang ku larut malam" ucap Herman dengan yakin
"Iya mas, hati-hati dan tolong bawakan beberapa kebutuhan mereka ya"
"kalau itu mau kamu, ya kamu harus ikut"
"Ya sudah jika tidak mau mas"
"Fichia, tolong hari ini kamu pergi dari rumah saya. karna saya tidak ingin waktu saya dengan istri saya terganggu"
"Iya kak, terimakasih sudah menyambut ku dengan baik. maaf jika aku sudah merepotkan"
"hmmm, bagus lah kalau sadar" Ucap Herman dengan mengayunkan kaki keluar rumah
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Double up 🔥
Jangan lupa berikan dukungan yaa..