
Fichia masuk ke kamar nya dengan diikuti Edgar di belakang nya.
"Mas, mau mandi? biar aku siapkan?"
"Emmmm. mandiin boleh?" goda edgar
"aku timpuk pake tas ku mau?" sungut Fichia dengan melotot
"bercanda sayang" ucap Edgar dengan mencium pipi Fichia
"Mas mau mandi, tapi tadi lupa nggak bawa baju ganti sayang" keluh Edgar dengan merebahkan tubuh nya di soffa yang ada di kamar nya.
"Mau aku pinjamkan baju kak Herman?"
"tidak, mending nggak pake baju daripada pinjam baju kakak ipar mu itu"
"mas mandi dulu sayang, jangan rindu kan aku. kalau kamu rindu, bisa ketuk pintu itu kemudian mandikan aku"
"mass"
"apa cantik? mau ikut?" goda edgar lagi
"sudah sana"
Edgar masuk ke kamar mandi dan segera menyelesaikan mandi nya.
Berbeda dengan Fichia, kini Fichia menuruni anak tangga menuju dapur. guna ingin membuatkan Edgar teh hangat.
tapi, alangkah terkejut nya saat diri nya sampai di dapur. dia melihat kakak nya, Sabrina yang tengah merangkak mengelilingi pekarangan halaman belakang yang bisa dilihat dari dapur.
"Astaga kak Sabrina, kenapa Kakak merangkak mengelilingi halaman belakang?" Fichia berlari menuju keberadaan Sabrina yang dipenuhi oleh keringat yang bercucuran di dahi dan muka yang kian memucat.
"Kak Herman, ada apa ini? kenapa kak Sabrina begini?"
"kakak mu tadi kerasukan dan tiba-tiba berkeliling seperti itu Fichia, tadi sudah kakak bujuk untuk masuk .tapi, dia tidak mau. daripada mahkluk itu melukai Kakak mu mending kita diamkan saja sampai mahkluk itu keluar dengan sendirinya" jawab Herman enteng dengan menyilangkan tangan ke depan dada nya.
"Astaga"
"kak Sabrina, ayo ikut Fichia ya"
'jangan dek,biarkan kakak begini' bisik Sabrina dengan sangat lirih
"Tidak papa, ayok. ada Fichia disini" Fichia memaksa menarik tangan Sabrina ,tetapi lagi-lagi Sabrina menolak.
"Kak Herman bisa tolong bantu aku untuk membopong kak Sabrina?" ucap Fichia
"Baiklah, ayo"
Herman melangkahkan kaki dimana Fichia dan Sabrina berada. dia kemudian membopong sabrina dan membawa nya masuk ke dalam rumah kembali.
"Kak, biarkan aku tidur dengan kak Sabrina ya. kasian kak Herman jika tiba-tiba nanti kak Sabrina kerasukan tengah malam dan menganggu waktu istirahat kakak" ucap Fichia seakan-akan dia sangat peduli dengan kakak ipar nya ini
"oke"
Ceklek..
"Darimana sayang?"
"Eoh, ada apa ini?" tanya Edgar kembali
__ADS_1
"Kak Sabrina kerasukan mas"
"ha? kerasukan apa? apa perlu memanggil pak ustadz?"
"kerasukan siluman kodok kalik mas, aku juga tidak tau" ucap Fichia asal
"Aku serius sayang"
" ya serius"
"Aku titip Sabrina ya Fichia, kalau ada apa-apa panggil aku aja"
"siap kak, terimakasih"
"hmmm"
Fichia segera menutup pintu dan mengunci pintu dari dalam kamar nya.
Edgar segera mengambil kaos yang tadi ia kenakan, karna ternyata kamar ini tidak hanya ada dirinya dan Fichia saja. melainkan ada calon kakak ipar nya.
"Kakak" tangis Fichia pecah saat memeluk kakaknya.
"syuttt, jangan menangis dek"
"Kenapa begini kak? ada apa sebenarnya yang terjadi selama ini? kenapa kak Herman begitu jahat? huaaa"
"Syuutttt"
"Sayang, jangan menangis dulu. bersihkan tubuh kakak mu dan buatkan makan atau minum dulu, baru kalian bercerita"
"Iya mas, aku buatkan minum dan makanan dulu ya kak"
"iya kak"
"mas, mau nemenin aku buat....."
"iya ayok"
"kemana?" tanya Fichia dengan menatap mata Edgar
"ke dapur kan?"
"aku belum selesai bicara ,tapi mas sudah tau. Hmm mas ternyata pintar juga"
" yang ngasih ide kan aku sayangggg" Edgar gemas sendiri mendengar penuturan Fichia
"oh iya" kekeh Fichia.
Fichia dan Edgar keluar dari kamar ,tidak lupa mengunci pintu nya dan memasukkan kunci tersebut ke dalam kantong celana nya
Edgar senantiasa senang menemani Fichia yang sedang berkutat di dapur.
"mas mau makan apa? biar aku masakin sekalian?"
"tidak usah sayang, mas boleh minta buah nggak? mau makan buah aja kalau boleh"
"oke , aku potongin"
Fichia membuatkan bubur ayam 2 porsi untuk diri nya dan Sabrina. tidak lupa dia juga membuatkan teh hangat dan membawa se botol minum air putih untuk berjaga-jaga di kamar nanti.
__ADS_1
Bibik tidak menginap disini, entah dari kapan bibik bekerja pulang-pergi seperti ini. padahal, selama Fichia tinggal disini dulu, bibik selalu menginap dirumah ini dan membantu untuk menjaga rumah ini.
****
"Kak ini Fichia sudah buatkan bubur ayam, dan ini teh hangat kakak minum dulu ya"
"terimakasih dek"
"iya sama-sama. mau mandi dulu?"
Sabrina hanya mengangguk..
Setelah Sabrina selesai mandi, dirinya duduk di kasur yang semula ia tempati.
"eoh, kakak udah selesai. ayok kita makan sama-sama"
"apa kakak mau aku suapin?"
"tidak usah dek, kakak makan sendiri saja" Sabrina tersenyum
"Oke baiklah kakaku yang cantik"
Mereka menghabiskan makan dengan diam dan Edgar tidak ikut nimbrung makan bersama kakak beradik itu, dia lebih baik berkutat dengan handphone nya dan membaca informasi dari Sam tentang Herman.
"Ini diminum dulu"
"Sekarang kakak bisa cerita sama Fichia?"
"Iya, kakak akan menceritakan semua dek. tapi, kakak minta kamu jangan marah sama kakak dan tolong maafin semua kesalahan yang pernah kakak perbuat ya dek" ucap Sabrina dengan menatap mata adik nya dengan diiringi sentuhan halus di punggung tangan nya.
"Iya kak, ceritakan semua nya. supaya aku juga tau permasalahan sesungguhnya seperti apa"
"Jadi begini dek......."
Engg..ingg..Enggg🤣💅
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Haii.. jangan lupa kunjungi cerita author lain nya ya..
• RAHIM SEWAAN TUAN MUDA (end)
• IDOL TERKENAL ITU PACARKU (on going)
• IBU SAMBUNG PUTRI CEO (on going)
Berikan juga dukungan kalian, berupa.
Like..
Comment...
Vote...
Follow...
dan tambahkan ke daftar favorit bacaan kalian.
terimakasih ❤️
__ADS_1