
Sementara itu dikediaman Aditama, Leonard dan Alexa sedang bercengkrama, jarang sekali mereka bersenda gurau dan tertawa lepas,. Biasanya juga mereka sibuk dengan urusan mereka sendiri, entah mengapa kali ini berbeda.
Dari kejauhan nampak Sang Ayah sedang duduk termenung di gazebo samping rumahnya, dia masih kepikiran dengan Dewi putrinya, meskipun Dia bukan anak kandungnya entah mengapa ikatan bathinnya begitu kuat.
Aditama merindu akan anak gadisnya, biasanya sang putri selalu membuat Dia tertawa, bercerita tentang teman teman nya bercerita tentang dosennya bercerita tentang kucing kecil liar yang ditolongnya, Sang Ayah benar benar merindukan anak gadisnya.
Betapa malang nasibmu Nak' batinnya. Biasanya disaat dirinya duduk di gazebo ini Dewi selalu membawa baki berisi kopi, teh, susu, dan gorengan.
Hhhhhhhhh.... Hhuuufffttt....
Aditama menarik nafas dalam-dalam lalu dibuang kasar seolah-olah dengan begitu hilang sudah beban pikirannya.
" Ayah... Sedang apa disini heum..." tiba tiba sebuah suara mengagetkan dirinya. Sontak Diapun menoleh dan nampaklah Safitri Istrinya, berdiri sambil membawa baki berisi teh manis dan gorengan yang Dia buat sendiri tadi, pada saat Safitri hendak ke dapur Dia melihat suaminya sedang duduk termenung sambil melamun seorang diri.
" Yah... Teh nya diminum yukk !? " pinta Safitri
Tapi yang dipanggil seolah enggan untuk menjawabnya, jangankan menjawab menoleh saja tidak, Aditama masih sakit hati pada Istrinya karena sikapnya selama ini pada Dewi.
" Yah... Ibu minta maaf ya Yah... Ibu tahu Ibu salah,, Aku menyesal Yah berikan Aku kes..." belum selesai Safitri menyelesaikan kalimatnya.
" Terlambat,,, Aku rasa Kamu puas sekarang, Kau tidak tahu bagaimana sakitnya Dia saat kau marahi, bagaimana ringkihnya Dia saat kau caci, Fit... Aku kecewa padamu begitu dangkalnya pikiran mu akan adanya Dewi, Bagaimana mungkin Kamu mengira Aku ada hubungan dengan Sri? padahal Kamu tahu kami cuma bersahabat sedari dulu.
Kecemburuan mu tak beralasan, begitu tidak percayanya dirimu padaku,. Aku suamimu kau tahu sendiri aku tipe laki-laki yang seperti apa Fit.... ??" tersengal-sengal Aditama mengungkapkan isi hatinya selama ini.
" Kau tahu disaat kau mencaci maki dirinya Dia menangis dipojokan secara diam diam, sedangkan kau begitu angkuh dan acuh tak acuh membenarkan sikapmu... Aku kecewa Fit... Aku kecewa... bahkan kini Aku tak tahu bagaimana keadaan Dewi sekarang, huhuhu... Bagaimana keadaan mu Nak... Pulang lah Ayah merindukan mu Sayang.. huhuhu" Aditama menangis tergugu sambil memukul-mukul dadanya.
" Mas... Aku benar-benar minta maaf Aku akan.."
" Akan apa hah...!! menebus kesalahanmu, kesalahan yang mana menurutmu yang patut untuk dimaafkan, Ibu macam apa kau ini,.. bagaimana jika posisi Alexa ditukar dengan posisi Dewi apakah kau sanggup melihatnya hah..." tekan Aditama Dia menaikkan dua oktaf suaranya.
Sedangkan Istri nya menangis tersedu-sedu. Sebegitu bencinya suaminya padanya bahkan panggilan Ibu atau Dek sudah tidak ada dalam panggilan suaminya lagi, Dia menyesal Dia benar-benar sangat menyesal.
" Ayah... Apa yang Ayah lakukan pada Ibu hah..!! Leonard tiba tiba muncul sambil menatap tajam kearah sang Ayah.
__ADS_1
" memang kesalahan apa yang Ibu perbuat hingga membuat ayah memarahi Ibu seperti orang gila..!!" kata Leonard dengan lantang
" Tau apa Kamu hah... tahu apa?? Kamu tahu apa yang dilakukan Ibumu huh..." sentak ayahnya
" Oowh... aku tahu pasti ini tentang Dewi kan perempuan pembawa sial itu..." nada mengejek dan menghina membuat darah Aditama mendidih.
" Tutup mulutmu anak kurang ajar...!!" tekan Aditama, sambil mencengkeram kerah baju Leonard
" Jadi ini beneran tentang si Dewi pembawa sial dan Aku rasa kepergiannya kali ini juga jual diri"
Plakk
Plakk
" Sekali lagi kau menghina Dewi kakakmu ku buat mulutmu robek sampai kebelakang kepalamu biar otakmu warass" tiba tiba Devan muncul dan menampar dengan keras saking kerasnya sampai sampai kedengaran sampai ke dapur.
" Jaga batasanmu,. Dan hormati Ayah kalau kau tidak tahu apapun lebih baik kau diam " tekan Devan
Bught
" Kalau kau masih melihat dengan mata nyalang ku buat kau buta sekarang juga,. " Bugh... bugh... Devan meninjunya seakan akan Leonard adalah samsak yang biasanya buat pelampiasan disaat Dia marah.
" Cukupp..." Safitri berlari menahan Devan agar tidak liar dan Safitri pun tak lepas dari amarah Devan. " Dia adikmu Nak cukup... Ibu yang salah."
Devan menahan nafas yang tersengal wajahnya memerah menahan marah, matanya merah menyala menandakan bahwa dirinya masih dalam keadaan marah. Devan pun melonggarkan dasinya.
Tadi Dia pulang dari kantor sebelum waktunya dikarenakan ada berkas yang tertinggal di ruang kerjanya, pada saat Dia sampai dan hendak memasuki rumah dia mendengar Leonard bertengkar dengan Ayahnya dan menghina Dewi dengan begitu rupa,. Begitu hinanya Dewi didepan adik adiknya. Dengan amarah yang sudah di ubun ubun Dia pun menghampiri Leonard dan langsung menghajarnya.
" Cukup Nak... Sudah cukup biarkan Adikmu berpikir ulang setelah kau beri pelajaran tadi" kata Aditama, ditepuk bahu Devan sambil mengajaknya untuk beranjak dari situ.
" Cuiihh... akan kubalas Kau Kak.." gumam Leonard.
" Seharusnya kau tak melakukan itu nak, memang Ibu yang salah karena itulah pantas Ayahmu memarahi Ibumu ini" ucap Ibunya.
__ADS_1
Leonard pun diam dan membenarkan posisi duduknya agar tidak terlalu sakit karena pukulan kakaknya tadi.
" Siall... " rutuk Leonard
Sedangkan Alexa dia hanya jadi penonton Dia begidik ngeri melihat kemarahan kakaknya.
lagian apa hebatnya Dewi hingga mendapatkan pembelaan yang begitu sempurna dari Kakak dan Ayahnya.
'Huft... Bikin kesel aja tuh anak' batin Alexa. Lalu Diapun beranjak dan hendak ke kamarnya.
" Woii... Diem aja ... Pura pura cuek lagi bantuin dong..." pinta Leonard pada Alexa kakaknya.
Dengan malas Alexa kembali kearah Leonard untuk membantu sang adik.
" lagian kenapa coba Lu ikut campur" ketus Alexa
" Eh Elu yah masak diem aja liat Ibu kita kena marah Ayah.. Lu kan anak cewek seharusnya Elu peka donk,.. selama ini kan Elu yang paling disayang nyokap bukan Gue" kata Leonard kesal.
" Mau dibantuin gak... Ngomel Mulu" sambil memutar bola mata malas Leonard mencebik
" Iyaahh..." dengan meletakkan sebelah tangannya ke bahu Alexa sambil terpincang-pincang mereka memasuki kamar Leonard.
" Udah kan ... Gue ke kamar dulu nanti biar pembantu yang bantu bersihkan lukamu." kata Alexa sambil berlalu keluar
Tak lama kemudian pintu kamar kembali terbuka dan tampaklah Safitri sambil membawa ember kecil dengan berisi air hangat dan handuk.
" Lain kali jangan menyela jika tidak tahu duduk persoalannya" kata Safitri
Leonard diam saja percuma juga Dia membela diri toh kalaupun Dia ngomong jelas selalu salah Dimata Ibunya.
" Sudah nih... Tidur yah Nak... Jangan lupa minum obat" kembali sang ibu mengingat kan.
Tak lama kemudian Leo pun tertidur mungkin kelelahan akibat pukulan beruntun dan telak dari kakaknya.
__ADS_1
* Disaat hidup kita hina Dimata orang lain biarlah, masih ada Tuhan yang selalu menganggap kamu istimewa* 😀😀