
Ditempat yang berbeda nampak Sudrajat Adijaya duduk dikursi kebesarannya, nampak sekali bahwa ada kesedihan terpancar diwajahnya.
Diapun mengingat tentang pertemuan pertama kali dengan Sri lestari istrinya.
#####
" Maaf pak ada yang bisa saya bantu,.. " Tanya seorang pelayan restoran pada salah satu pengunjung.
Awalnya Sudrajat Adijaya diam dan datar datar saja. bahkan terkesan dingin dan arogan.
" Apa menu istimewa direstoran ini" Tanya Sudrajat Adijaya dengan tegas dan angkuh
Nampak aura dingin dan datar terpancar wajahnya,tatapan yang tegas dan rahang yang kokoh.
" Maaf tuan!! anda bisa melihatnya dari daftar menu,. apa perlu saya membacakannya??" ucap seorang pramusaji didepannya.
" Apa maksudmu aku tidak bisa membaca tulisan yang ada di menu ??" dengan tatapan tajam seolah-olah hendak menerkam dengan tatapan membunuh Sudrajat Adijaya menatap kearah pramusaji didepannya.
Saat bersitatap dengan pramusaji itu Sudrajat seolah-olah terhipnotis oleh wajah teduhnya,sikap ramahnya,wajah ayunya,dan senyum manisnya.
Tak lepas Sudrajat memandang seolah-olah tak puas diapun menelisik dari atas sampai ujung kaki gadis itu, kembali Sudrajat menatap wajahnya bola matanya yang mungil dan bulat bulu matanya yang lentik dan lebat,alis yang tertata rapi tanpa dicukur sungguh pemandangan yang sempurna dimatanya.
" Maaf Tuan.. silahkan anda pilih menunya dan saya akan segera menyajikannya untuk anda" ucapan gadis pramusaji itu membuyarkan lamunannya.
" Oh... oke kamu siapkan saja yang paling istimewa direstoran ini untuk dua orang dan sajikan dengan cepat" ucap Sudrajat kemudian.
" Baik mohon ditunggu dan maaf atas ketidak nyamanannya." ucap gadis pramusaji itu sambil menunduk kemudian segera berlalu.
" Gito... kamu segera selidiki tentang latar belakang gadis itu satu jam dari sekarang harus ada laporan yang lengkap" perintah Sudrajat pada asistennya.
" Baik pak... segera" ucap Gito sambil berlalu.
Tak lama kemudian nampak hidangan yang diinginkannya datang dan gadis pramusaji yang ada didepannya berbeda dari gadis yang sebelumnya.
Sudrajat pun nampak marah dengan rahang yang mengeras diapun segera angkat kaki dari tempat duduknya.
" Maaf Tuan anda mau pergi kemana,dan bagaimana dengan pesanan anda Tuan" ucap pramusaji itu agak sedikit ketus.
Tampak sekali kekecewaan dan amarah yang tertahan, Sudrajat memang mudah tersulut emosi dan marah tak jarang anak buahnya jadi bukan bulanan kemarahannya.
" Dimana gadis pramusaji yang sebelumnya melayaniku disini??" ucap Sudrajat datar dan dingin dengan aura mengintimidasi yang kuat.
__ADS_1
Gadis pramusaji yang ada didepannya itu pun tersentak kaget, nampak sekali gurat ketakutan disana.
Dan dengan menundukkan kepalanya gadis itu tak berani sedikit pun untuk mengarahkan kepalanya kearah yang lain meskipun itu sekedar menoleh kekanan ataupun kekiri.
" Cepat katakan..!! aku tidak mau dilayani dengan pelayan yang lain kecuali gadis yang sebelumnya melayaniku disini" dengan suara naik satu oktaf dan penuh penekanan Sudrajat menatap penuh amarah pada gadis itu.
" Di dia sedang melayani tamu yang lain Tuan dan kebetulan tadi pas pesanan anda sudah selesai dia sedang melayani Tamu yang batu datang jadi pesanan anda saya yang handle" ucap gadis itu gugup.
" Aku tidak mau tahu suruh gadis itu kemari dan melayani ku dan... buang semua makanan ini aku tidak mau memakannya dan buatkan yang baru lalu suruh gadis itu yang mengantarkan pesanan ku sendiri disini" titah Sudrajat pada gadis itu bak seorang raja memerintahkan kepada dayangnya.
Sebelum menjawab gadis itu ketakutan pas bersitatap dengan Sudrajat,matanya seolah-olah hendak membunuhnya.
" Sekarang...!!" kini suara Sudrajat naik beberapa oktaf.
" Baik..." dengan setengah berlari gadis itu pun segera meninggalkan Sudrajat dengan membawa pesanan yang sebelumnya dibawa untuk tamunya tadi.
Dengan wajah kesal gadis itu pun menuju kearah dapur tempat para koki memasak. Dan diapun menyerahkan nampan yang berisi pesanan pelanggan menyebalkan itu menurutnya.
" Kamu kenapa manyun gitu heumm..." tanya Sri Lestari gadis yang sebelumnya melayani Sudrajat pada Amanda gadis yang baru saja kena semprot Tamunya tadi.
" Isshhh... baru kali ini gue nemuin tamu yang begitu menyebalkan" gerutu Amanda kesal.
" Kamu kenapa sih kesel begitu,, jangan suka marah marah entar cepat tua loh..." tanya Sri pada Amanda,bukan mendapatkan jawabannya tapi malah dicuekin.
" Maaf cheff... makanan ini disuruh buang sama tamu resek tadi dan disuruh membuatkan yang baru daaann.... harus Sri Lestari yang disuruh mengantarkan pesanannya dimejanya titik tidak ada koma atau spasi" ketus Amanda kepada koki sambil melirik kearah Sri.
Sang koki pun hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
Ini bukan kali pertama dia melayani tamu yang reseknya super bagi koki itu,malah diapun sering Nemu pelayan yang lebih menjengkelkan dari tamu tersebut.
" Oke segera dibuatkan kamu jangan manyun saja kalau sudah selesai disini kamu segera layani tamu yang lain biar atasan tidak marah lagi sama kamu" ucap koki itu memperingatkan.
" Astaghfirullah... tamu yang ada dikursi nomor sepuluh itu Manda...?" kini Sri yang agak jengkel sudah.
Pasalnya sejak dia melayani tamu yang ada dimeja nomor sepuluh tadi diapun sedikit ilfil.
" Iyah... dan tahu tidak tafinya gue tuh kagum melihat wajahnya, udah tajir tampan tapi.. pas gue samperin begitu melihat gue kok kayak melihat musuh bebuyutan saja, kan gue jadi bete." ucap Amanda bercerita.
Hhmmm... Sri hanya manggut-manggut tanda mengerti tapi diapun tak habis fikir bagaimana mungkin tamu itu hanya menginginkan dirinya saja yang melayani.
Tak ambil pusing diapun segera melanjutkan pekerjaannya yaitu membantu koki disana untuk menyiapkan pesanan tamu yang lain.
__ADS_1
" Oke Manda ini kamu antarkan kearah meja nomor tujuh." Sri menyerahkan nampan pesanan untuk disajikan pada pelanggan yang lain sambil tersenyum.
" Udaahh... jangan manyun sebagai permohonan maaf ku besok kan libur aku traktir kamu makan siang oke.." bujuk Sri dengan iming-iming makan siang gratis.
Seketika wajah Amanda pun sumringah diapun tersenyum lebar dan dengan gesit dia meraih nampan yang berisi pesanan pelanggan.
" Siipp... gitu donk,. lain kali kalau ada pelanggan resek jangan suruh gue yang gantiin Lo" ucap Manda sambil berlalu.
Tampak Sri pun hanya bisa geleng-geleng kepala dan tersenyum simpul, dijakarta ini dia merantau seorang diri hanya Amanda sahabat satu satunya yang sama-sama perantauan.
" Eh... pak!! tong jangan buang makanan itu boleh saya akan membungkusnya biar nanti saya hangatkan untuk makan malam nanti" pinta Sri pada koki itu.
" Oke nanti aku kasih lebih untuk temanmu juga" ucap koki itu sambil tersenyum.
Sang koki tahu kesulitan yang dihadapi para pelayan yang ada di restoran tempatnya bekerja,meskipun dia jarang membaur dengan para pelayan tapi dia tahu sebagian cerita cerita miris dari kehidupan para pelayan yang bekerja disitu.Karena kebanyakan para pelayan disini perantauan.
Diam diam diapun mencuri dengar pas para pelayan sedang istirahat mereka saling bertukar pikiran saling menceritakan keluh kesah masalah pribadinya. Semua itu tak lepas dari pendengaran sang koki.
Tapi hanya gadis ini yang agak sedikit tertutup yang dia maksud adalah Sri diapun tak banyak bercerita meskipun pada sahabatnya sendiri. Sang koki tahu jika gadis itu punya banyak beban,tapi gadis itu menutupi rasa lelahnya keluh kesahnya dengan senyuman dan dengan mendengarkan keluh kesah sahabatnya.
Tak ayal sikap dan sifat Sri membuat sang koki mengaguminya.meskipun dia sudah berumur tapi sang koki pun mengagumi sosok Sri Lestari.
Bukan tertarik sebagai seorang pria terhadap seorang wanita melainkan sebagi seorang Ayah terhadap seorang putri dia melihat sosok Sri seperti sosok putrinya yang telah tiada.
"Sudah aku bungkuskan dan aku sudah menaruhnya disana kamu cepat taruh ditasmu agar tidak ada temanmu yang iri" tiba tiba koki itupun berbicara pada Sri.
Tampak sekali Sri kaget karena sedari tadi Sri menyiapkan menu pencuci mulut untuk pesanan untuk tamunya tadi.
" Astaghfirullah... bapak ngagetin saja. Terimakasih pak" ucap Sri tersenyum sambil menganggukkan kepalanya hormat.
Dan koki itupun tersenyum melihat tingkah Sri ' Dia memang berbeda dari gadis yang lain sangat menghormati yang lebih tua ' batin koki itu.
" Sudah... ini segera kamu antarkan kemeja nomor sepuluh agar tamunya tidak marah lagi kasian makanannya mubadzir jika tidak dimakan nangis ntar..." ucap koki itu menyerahkan nampan berisi pesanan pelanggan dan memperingatkan Sri .
Sri pun mengangguk dan tersenyum segera diapun berlwlu menuju meja nomor sepuluh.
Dengan tenang diapun menghampiri meja nomor sepuluh dan dengan hati yang tak bisa dia ungkapkan ada rasa takut dan rasa terintimidasi juga ada rasa kesal disana.
" Bissmillahirrahmaanirrahiim..." ucap Sri lirih dengan sambil mendekat kearah meja tamu itu.
## Next....##
__ADS_1