Ibuku Bukan Ibu Kandungku

Ibuku Bukan Ibu Kandungku
Kemarahan Devandra


__ADS_3

Pov Author


Hari sudah semakin malam Aditama masih gelisah Dia terus Mondar mandir seperti setrikaan hatinya gundah dirundung rasa pilu panik dan cemas luar biasa, bagaimanapun Dewi hanyalah seorang gadis bagaimana Dia bisa bertahan hidup di jalanan? Itulah yang ada dipikiran Aditama saat ini.


Waktu menunjukkan pukul Setengah Dua belas malam terdengar suara deru mobil didepan rumahnya. Seketika Aditama bangkit dipikirannya mungkin Dewi bersama Devandra, tapi faktanya itu cuma angannya saja.


" Baru pulang nak..." tanya Aditama pada Devandra


" Iya Yah... Kok tumben jam segini belum tidur Yah??" Devan balik tanya pada ayahnya sambil melihat jam tangannya.


" Ayah cemas Nak ... Sampai saat ini Dewi masih belum pulang, Ayah khawatir padanya takut Kenapa-kenapa" ucap Ayahnya penuh dengan nada kekhawatiran


" Apa Yah... Dewi belum pulang ?? kenapa tadi gak telfon Devan Yah... " tanya Devan dengan suara naik satu oktaf


" Ayah gak mau ngerepoti Kamu Nak karena Kamu tadi sibuk dengan para klien kan" jawab Ayahnya sedikit menyesal.


Iyah Dia menyesal kenapa tadi tidak menghubungi Devan dan minta bantuannya.


Bodoh bodoh bodoh dipukulnya kepalanya sambil menunduk,.


" Apa Teman teman nya sudah dihubungi Yah..??" tanya Devan sambil mengeluarkan gawainya hendak menghubungi seseorang tapi entah siapa.


" Sudah bahkan ada yang bilang tadi Dewi tidak masuk kuliah"


" Devan mungkinkah Dewi sudah tahu akan dirinya yang sebenarnya??" Ayahnya balik tanya


" Jangan jangan kalian berdebat lagi !?" tanya sambil menatap tajam Ayahnya intens


" Ibumu memang terlalu dalam memperlakukan Dewi seenaknya"


" Mungkin Dewi dengar tadi pengakuan ibumu tentang Dewi ,.. Kami tadi ribut kecil karena Aku protes dengan sikap Ibumu terhadap dewi.


Gimana gak protes Ibumu terlalu Semena mena terhadap Dewi. Devan !! carilah Adikmu Nak Ayah khawatir padanya, meskipun Dia bukan adik kandung mu tapi dia adalah bagian dari keluarga ini." sambung Ayahnya


Tangan Devan mengepal kuat ada rasa amarah khawatir dan Rindu. Yah dia rindu pada Dewi adik kecilnya itu bagaimana pun juga rasa tak bisa dibohongi Dia jatuh cinta pada Adiknya itu.


Meskipun dia tau siapa Dewi sejak dulu tadinya Dia hanya menganggap Dewi adik kandung tapi semenjak Dewi tumbuh jadi remaja yang cantik Ntah sejak kapan rasa itu tumbuh karena rasa itu muncul begitu saja datang dengan sendirinya tanpa diundang.


Kemana dia harus mencari Dewi, Dia berputar otak saat itu juga Dia ingat Dewi punya seorang sahabat Niken namanya Dia tahu dan ingat. Bergegas Dia beranjak berlalu hendak kerumah Niken siapa tahu Dia ada disana.


" Ayah tunggu dirumah biar Dewi Aku yang cari.. tidurlah Yah, Ayah butuh istirahat" pamit Devan pada Ayahnya


Sementara itu dikamar utama Ibunya Devan Senyum senyum sendiri.


Dia kelihatan bahagia setelah berhasil membuat Dewi keluar dari rumah itu.


Disaat handel pintu bergerak tanda Suaminya masuk Diapun berpura-pura tertidur lelap.

__ADS_1


"Aku tahu kamu Pura pura tidur " ucap Aditama dalam hati. Peduli apa dengan ku kalau terjadi sesuatu pada Putriku Aku tak akan Segan-segan dengan mu.


Aditama berusaha memejamkan matanya, semakin Dia memejamkan mata semakin melanglang buana pikirannya, sementara itu Istrinya yang tadi hanya berpura-pura tertidur kini jadi Benar benar tertidur.


Aditama menuju balkon kamarnya Dia begitu tersiksa akan rasa khawatir pada Putri kecilnya, sambil menghembuskan nafas secara kasar Dia kembali teringat Masa-masa dimana Dia masih kuliah dulu.


Sri yang begitu mempesona, yang selalu jadi incaran para bujang kampusnya saat itu, Sri gadis yang periang mandiri dan smart.


Yah sifat Dewi sama persis dengan sang Ibunya.


Disaat Aditama masih dalam lamunannya sementara itu Devan dengan kencang melajukan mobilnya kerumah Niken dia masih ingat rumahnya karena Dewi pernah sekali minta diantar Devan kerumah itu.


Setelah sampai bergegas Dia turun dan disaat sampai didepan pintu dengan segera memencet bel pintu rumah itu setelah sebelumnya agak ragu. Tapi Dia nekat juga.


Ting tong Ting tong ting tong


Devan memencet bel dengan tergesa-gesa, selang beberapa menit kemudian.


cklek...


" Yah... Cari siapa yah... " tanya wanita paruh baya itu yang tak lain adalah pembantu dirumah itu.


" Maaf mbok Niken nya ada??" tanya Devan dengan terburu-buru. Sambil matanya mencari cari dan menelisik kearah dalam rumah itu.


" Anda siapa yah ? kalau boleh Saya tahu... " tanya Si mbok itu


" Sa saya Devan temannya teman Niken, ma maksud Saya temannya Niken mbok" jawab Devan tergagap saking paniknya


Tak lama kemudian muncullah Niken


" Niken yah ini Aku Devan kakaknya Dewi Kamu ingat kan kita pernah bertemu sekali, Niken Kamu tahu tidak dimana Dewi berada soalnya dari tadi pagi Dewi masih belum pulang!?" tanya Devan pada Niken


" Lah kok cari Dewi emangnya Dewi kemana Kak " balik tanya Niken pada Devan sambil Pura pura tak tahu dan cemas, padahal Dia tahu dimana Dewi.


" Jadi kamu gak tahu dimana Dewi ??" tanya Devan cemas.


" Enggak Kak... Bahkan tadi pas ngampus Saya gak lihat Dewi tadinya kupikir Dewi ke perpus karena biasanya Dia suka ke perpus, sedangkan tadi Saya ijin ke kampus buat cuti jadi Saya Buru buru" jawab Niken asal.


" Ya Allah Dewi kemana Kamu" Devan menyugar rambutnya kasar kemudian Dia tarik rambutnya kebelakang.


" Hhhmm Ken Kamu tahu gak kira kira Dewi ada dimana ?" tanya Devan kemudian


" Ntahlah Kak karena Akhir akhir ini Dewi agak tertutup jadi Saya gak berani tanya kalau gak Dewi sendiri yang cerita" jawab Niken sekenanya


" Haaaahhh.... kemana kamu Dew....??" tanya Devan pada dirinya sendiri dengan bersuara keras.


" Kak emang ada masalah apa sih sama Dewi Kak? gak biasanya Dewi seperti ini" tanya Niken masih pura pura

__ADS_1


" Maaf Ken Aku gak bisa cerita ini masalah internal keluarga Saya, udah dulu yah Saya mau cari Dewi siapa tahu nanti ketemu dijalan" ucap Devan pada Niken sambil berlalu


" Kak tungguuu.... " seketika Devan balik badan cepat


" Yah... " sambil berkerut pelipisnya


" Hhhmmm udah telfon Dewinya belum Kak?" tanya Niken padanya


" Kalau bisa sudah dari tadi Aku hubungi Ken kayaknya telfonnya sengaja dimatikan agar Aku gak bisa melacaknya" jawab Devan


" Ooohhh... Oke Kak Saya bantu siapa tahu Saya bisa menghubungi atau Dia yang menghubungi Saya" kata Niken meyakinkan


" Gitu yah... Kalau gitu ambillah kartu namaku kalau tahu info tentang Dewi segera hubungi Aku" ucap Devan tegas dan cemas


" I i iya Kak... " jawab Niken agak ragu.


Sebenarnya Dia kasian juga melihat Devan yang sekarang seperti itu, dia merasa jika Devan benar benar mengkhawatirkan soal Dewi, tapi Dia sendiri juga tak mau menghianati kepercayaan yang diberikan Dewi untuknya.


Setelah kepergian Devan Diapun berusaha menghubungi Dewi tapi yang ada malah HP Dewi tak bisa dihubungi.


Ah .. Dia tahu pasti Dewi sengaja mematikan HP-nya agar tak ada satu orang pun yang menghubungi nya.


Sementara itu Devan keliling kota sembari sekali kali berhenti siapa tahu Dewi ada disekitar itu, tapi hasilnya nol besar.


Devan mengepalkan kedua tangannya kuat sambil berteriak...


Aaaarrrggghhh.... Dewi dimana kamu baby??


Dengan gemuruh didada Dia mencoba tenang lalu Dia menghubungi seseorang diseberang sana.


" Kamu cari Gadis yang ada difoto sebentar Aku kirimkan fotonya Aku mau secepatnya Kamu menemukan Gadis itu mengerti...!!


" Oke jangan mengecewakan Ku"


Dengan gontai Devan kembali kerumah, dan ternyata Ayahnya masih belum tidur juga.


" Ayah kenapa Ayah belum tidur...?? tanya Devan pada Ayahnya cemas, Dia tahu Ayahnya pasti sangat mencemaskan Dewi hingga tak peduli dengan riwayat penyakitnya.


" Bagaimana Ayah bisa tidur sedangkan Dewi belum ditemukan, Ayah merindukan Adekmu Nak, dimana Dia sudah makan apa belum lalu Dia tidur dimana." kata Ayahnya seperti sang induk yang kehilangan buah hatinya.


" Tenang lah yah Aku sudah menyuruh seseorang mencari dimana keberadaan Dewi " jawab Devan menenangkan Ayahnya


" Tidurlah Yah ... Aku juga akan beristirahat sebentar besok aku akan kembali mencarinya" ucap Devan kemudian


Tak lama kemudian Ayahnya terlihat memasuki kamarnya,


sementara dia sendiri masuk keruangan pribadinya, dengan segera ia luapkan emosinya dengan memukul mukul samsak yang biasa Dia gunakan untuk olahraga.

__ADS_1


Dia punya ruangan khusus buat nge-Gym setelah capek tanpa berganti baju rumahan tanpa mandi Dia akhirnya tertidur disofa.


* NEXT...*


__ADS_2