
Mengingat kemasa masa itu Sudrajat pun tersenyum tapi hatinya menangis kini dirinya sudah tidak bisa bertemu dengan istrinya.Diapun menangis tergugu...
Baru saja dia mendapat laporan tentang penyelidikan dimana istrinya berada dan betapa terkejutnya dia bahwa Sri Lestari sudah meninggal dunia pasca melahirkan putrinya.
Menyesal sudah pasti dia sangat menyesal kenapa dia baru tahu sekarang, Menyesal mengapa dia tidak berada disamping istrinya disaat saat masa sulit yang telah dialami istrinya.
Andai saja waktu itu dia tidak egois dan mau memenuhi permintaan istrinya pasti dia tidak akan berpisah dengannya.
Masih dalam tangisan yang pilu kedua tangannya pun memeluk foto pernikahan mereka lalu melepaskan pelukannya dan nampak sekali dalam foto itu bahwa istrinya begitu cantik bahkan sangat cantik tanpa terasa jemarinya membingkai wajah sang istri.
Dia bahkan seperti orang gila manangis lu tersenyum dan kemudian menangis lagi. Ah... Andai waktu bisa diputar kembali dia pasti akan menjaganya dengan sepenuh hati.
Setelah puas memandang wajah istrinya dan juga merasa lelah telah menangis sepanjang hari dia pun meletakkan foto pernikahannya kembali ke tempatnya.
Tak lama kemudian diapun menarik nafas kasar lalu kedua tangannya meraih benda pipih yang sedari tadi teronggok disudut meja kerjanya.
Diapun segera mengaktifkan kembali layar HP tersebut, dan nampaklah beberapa pesan masuk digawainya.
Tampaknya diapun enggan untuk membalas beberapa pemberitahuan pesan masuk digawainya.
Lalu tak lama kemudian dia memencet tombol
" Gito kamu segera kerumahku dan langsung menuju ruang kerjaku,. ingat...!! Pastikan tidak ada yang tahu bahwa kamu datang menemui ku disini." perintahnya pada Asistennya.
Hhhhhhhhhh
Dengan menyandarkan kepalanya pikirannya melayang jauh nampak sekali banyak yang dipikirkan olehnya.
" Apapun yang terjadi putriku harus dalam perlindungan ku" lirih Sudrajat bergumam pada diri sendiri.
Tak lama kemudian dia mendengar deru mobil dari luar dia yakin itu pasti asistennya.
Tok Tok Tok
" Masuk...!!" perintahnya.
" Maaf Boz membuat anda menunggu" ucap Gito perlahan.
__ADS_1
" Katakan Bagaimana keadaan putriku sekarang..." tanpa basa basi Sudrajat pun langsung menanyakan hasil pengintainya.
" Sejauh ini aman bos putri anda dalam perlindungan Tuan muda Nicolas Manafe, dan nampak sekali jika Tuan muda Nicolas Manafe sangat menyukai putri anda." jawab sang asisten Secara langsung.
" Katakan padaku selama putriku berada dalam perlindungan Tuan muda Nicolas apakah ada kesulitan atau kendala yang serius??" kembali pertanyaan yang diucapkan Sudrajat membuat Gito sulit sekali bernafas.
" Tidak bos Tuan muda Nicolas sangat handal dan tidak bisa dianggap enteng pasalnya diapun sudah tahu jika gadis yang dia lindungi itu adalah putri anda" dengan cepat Gito menjawabnya.
Hhhhhhhh
" Tetap pantau dan bantu Tuan muda itu dengan anak buahmu pastikan jika Dion tidak mempunyai cela untuk mencelakai putriku" perintah Sudrajat selanjutnya.
" Kalau sudah selesai kamu boleh pergi" ucap Sudrajat dingin
" Baik Boz... tapi... tunggu dulu Bos... ada satu lagi " ucap Gito serius. Tampak jika Sudrajat pun mengerutkan keningnya.
" Katakan dengan cepat" perintah Sudrajat
Dengan sedikit ragu dan takut diapun mengusap keringat dingin yang muncul dikeningnya dengan sapu tangan dia pun melanjutkan kata-katanya.
" Nona muda sudah bertemu kembali dengan ayah angkatnya dan putra pertama Aditama" dengan sedikit gemetar kedua tangan Gito memegang map yang ada ditangannya.
" Hanya itu Bos ... apakah ada yang bisa saya lakukan setelah ini Bos..." dengan mengambil nafas berat dan kemudian menghembuskan nafasnya perlahan Gito pun sedikit melirik kearah Bosnya.
Setelah sekian menit dalam keheningan nampak Gito pun sudah sangat kepanasan berada dalam ruangan itu padahal ruangan itu ber AC tapi bagi Gito hawa suhu didalamnya Sangat panas tak ayal lagi keringat sebesar biji jagung pun keluar dari keningnya kembali diapun mengeluarkan sapu tangannya kemudian mengusapnya dengan perlahan.
" Tetap pantau saja dan laporkan jika ada masalah sekecil apapun itu" perintah Sudrajat kemudian segera menyuruh Gito segera berlalu dari tempat itu.
" Baik Bos kalau begitu saya permisi" pamit Gito dan Sudrajat hanya memberikan kode melalui tangannya sebagai tanda bahwa dia mengiyakan.
Segera Gito pun berlalu dari tempat itu, disaat diapun sudah diluar ruangan kerja Bosnya dia dengan segera menghirup udara segar, diapun seperti kembali mendapatkan oksigen lagi.
Kemudian Gito pun berlalu dari situ, Setelah asistennya keluar Ruangan Sudrajat pun segera beranjak dari tempat duduknya dan diapun berjalan menuju rak buku kemudian diapun memutar sebuah buku mengarah kekanan.
Dan tak lama kemudian ada suara pelan tampak Rak buku yang besar itu pun perlahan bergeser kearah kiri dan terpampang lah sebuah pintu lain dibalik Rak buku itu, sepertinya itu adalah sebuah ruangan rahasia dan selama ini Sudrajat betah tinggal diruang kerjanya memang dia punya ruangan rahasia lain yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali sang istri yang kini sudah pergi.
Setelah pintu terbuka Perlahan rak buku pun kembali bergeser kembali seperti semula.
__ADS_1
Entah apa yang dilakukan Sudrajat didalam sana hingga dia betah berlama-lama didalam ruangan itu.
##
Sementara itu ditempat lain nampak sekali Dewi duduk disamping ayahnya diapun bercerita mulai dari dia pergi dari rumah hingga sampai dia ada disini saat ini.
" Maafkan ayah nak... ayah tidak bisa membelamu dan hanya bisa menasehati tanpa membelamu" ucap Aditama pelan dengan penuh rasa sesal yang menghimpit dadanya.
" Kamu pasti sangat menderita nak selama kamu berada diluar rumah" kembali ayahnya mengungkapkan isi hatinya.
" Ah Ayah Dewi tidak sendiri ada Niken dan Nico disisi Dewi mereka adalah teman sekaligus sahabat sejatiku Ayah, dan ayah jangan mengkhawatirkan Dewi." ucap Dewi meyakinkan ayahnya.
Sementara Devan berbicara pada Nico tentang semuanya dan ada yang ingin ditanyakan Devan pada Nico.
" Apa kamu tahu siapa orang orang yang mengawasi kita diluar sana" tanya Devan tanpa mengalihkan pandangannya pada Dewi yang sedang berbicara pada ayahnya.
Gadis itu benar-benar telah mengalihkan perhatiannya bagaimana pun Devan sangat mencintai nya dan tidak ingin kehilangannya untuk yang kedua kalinya.
" Iya... saya tahu siapa mereka" jawab Nico santai.
Seketika Devan pun menoleh kearah Nico dengan rasa penasaran Devan pun kembali bertanya tapi dia urungkan, pikiran nya begitu dipenuhi dengan berbagai macam pertanyaan tapi Devan enggan mempertanyakan.
Tapi tak urung jua dia pun bertanya meskipun ada sedikit keraguan dihatinya, yah dia ragu apakah Nico mau menjawab pertanyaannya bukannya dia cemburu atau apa diapun tahu jika Nico sebenarnya juga sangat menyukai Dewi.
Dan bukan tidak mungkin Nico tidak mencintai Dewi pasti Nico punya perasaan yang lebih daripada sekedar menyukai.
" Kalau begitu bolehkah saya tahu Tuan muda nico??" kembali Devan bertanya tapi agak sedikit ditekan dengan memanggil Tuan pada Nicolas.
" Why Not..." Nico pun kemudian memposisikan duduknya senyaman mungkin dan dia berusaha menahan rasa gejolak yang membuncah. ada rasa sedih ,rasa sakit , dan juga rasa kecewa disana.
Sebisa mungkin Nico bersikap sewajarnya dan biasa saja agar Devan tidak mencurigainya Bahwa diapun jatuh cinta pada gadis itu. Nico pun ternyata sudah menyadari bahwa dia pun juga jatuh cinta pada Dewi. walaupun dia tahu bahwa Dewi tak mempunyai rasa yang sama terhadapnya.
" Kau lihat orang gila yang duduk ditrotoar itu dia adalah orang orangnya Dion paman dari Dewi yaitu adik tirinya Tuan Sudrajat Adijaya, sedangkan penjual kerak diujung sana adalah orang orangnya Tuan Sudrajat Adijaya ada beberapa yang menyamar jadi pelayan disini itu adalah anak buahnya Ayah kandungnya Dewi. sedangkan yang ada di halte dan diwarung pinggir jalan juga penjual koran itu adalah orang orangnya Dion" Nicopun menjelaskan siapa saja yang mengawasi Dewi, Nampak Devan pun sedikit terlonjak kaget karena Nico bisa tahu secara detail tentang pergerakan orang orang yang mengancam keberadaan Dewi. siapa kawan dan siapa lawan ternyata Nico bisa secerdik ini.
Batin Devan pun berkecamuk meskipun dia punya banyak pengawal pribadi meskipun tak kalah dari Nico Devan pun diam diam mengagumi sosok Nicolas.
Ternyata ada sedikit rasa cemburu dihatinya.
__ADS_1
## Next lagi nanti yah ##