
*Mengeluh hanya akan membuat hidup kita semakin tertekan.
Sedangkan bersyukur akan senantiasa membawa kita akan jalan kemudahan.*
Pagi itu kala Dewi selesai memasak dan bersih bersih rumah segera dia bangunkan temannya Niken, habis sholat subuh tadi ia kembali tidur.
" Ken... bangun Ken !! sudah siang nih udah jam tujuh Kamu gak kuliah ?? katanya hari ini Kamu pulang dan kuliah,.!?" di goyang-goyangkan tubuh Niken dengan perlahan sambil sesekali mencubit hidung Bangir Niken.
" Hhemm... Bentar masih ada waktu,.. " jawab Niken sambil menggeliat dan meregangkan otot.
Sementara Dewi menyibakkan tirai dikamar itu hingga sinar matahari masuk melalui jendela kamar itu. Dan tampaklah wajah Niken yang terkena sinar matahari langsung karena Dewi sengaja agar Niken lekas bangun.
" Iisshhh... Dewi apa an sih... Ganggu orang lagi mimpi aja" dengan malas Niken bangun sambil mencebik jengkel kepada Dewi dan kemudian menuju kamar mandi.
Dewi hanya tersenyum geli melihat sahabatnya itu, "Keen... Ken ... Dari dulu kamu emang gak pernah berubah,. Dasar pemalas..!!" Gumam Dewi dalam hati
Setelah selesai menjalankan ritual mandinya Niken cepat cepat berganti baju karena baru ia sadari bahwa jam udah menunjukkan pukul tujuh pagi... Dengan menepuk jidatnya Dia merutuk dalam hati... 'Bodoh bodoh bodoh' begitulah rutukan Niken seharusnya Dia dari tadi udah bangun pas Dewi membangunkannya tadi.
" Hehmm..." Hidung Niken mengendus saat Dia keluar dari kamar. Membuat cacing cacing yang ada dalam perutnya bergoyang ria, Niken merasakan rasa lapar.
" Waahh... Enak nih,. Makasih ya Dew udah jadi Ibu yang baik buatku" jahil Niken
Ctakk...
"Enak saja panggil Ibu emang kapan Aku kawin Ama Bokap Lu... Hem..." ketus Dewi sambil menyentil kepala Niken gemas.
" Eit dah.. Lu kayak Emak tiri aja Dew... ?! Sakit tahu gak maen jitak aja ntar kepalaku penyok sebelah gimana.. ?? tanggung jawab loh...!!" cebik Niken manyun
" Udah makan Sono ntar keburu dingin katanya mu kuliah... !? buruan gih biar gak telat.." Ucap Dewi mengingatkan
" He ehm... ' sambil mengunyah Dewi pun mengacungkan jempol tangannya, sedangkan Niken cuma bisa tersenyum.
Setelah sarapan dan pamitan Niken pun berangkat dengan Terburu-buru takut telat kuliah pasalnya sekarang waktunya Dosen killer menurutnya.
__ADS_1
Setelah selesai berjibaku dengan dapur sekarang waktunya Dewi berselancar di sosmed dengan laptopnya bukan dengan handphonenya takutnya kakaknya Devan mengetahui kalau dia sudah aktif dan melacaknya.
Tanpa sengaja Dia melihat akun kakaknya tak ada postingan terbaru cuma postingan lama dan kayaknya kakaknya jarang update.
Disaat Dia tengah asyik berselancar ria tiba tiba ada pesan di inbox.
" Pagi... Akhirnya Kamu online juga,, sudah lama Aku menunggumu, pulanglah Dek Kakak merindukanmu.." pesan dari seseorang, dan tidak salah lagi itu pesan dari kakaknya Devan.
" Ka kakak... !! " Gumam Dewi dalam hati sambil membekap mulutnya dengan kedua tangannya.
" Balas dek... Tidakkah Kamu merindukan ayahmu.?" satu pesan lagi dari Devan
" Aku juga merindukanmu Dewi... Sangat merindukanmu..." kembali Devan mengirim pesan dengan diakhiri emot sedih dan menangis.
Dewi masih melotot tak percaya bagaimana mungkin Kakaknya tahu.. " Astagaaa... " Dia lupa bahwa laptop yang Dia pake adalah hadiah dari Kakaknya Devan. Jelas sekali ini pasti sudah ada GPS nya, lekas Dia keluar dari akunnya lalu dia matikan dengan segera syukurlah tak sampai sepuluh menit jadi kakaknya tidak bisa tahu dimana Dia berada sekarang.
Jantungnya berpacu dengan cepat segera ia tepis bayangan buruk yang melintas dipikirannya,
***
Sedangkan ditempat lain Devan tampak sangat emosi rahangnya mengeras ' Hampir saja aku berhasil melacaknya,. Shiitt" Devan memukul mejanya dengan keras emosinya meluap. Baru saja Dia senang karena orang yang dirindukan akan Dia dapatkan lagi tapi tidak ada beberapa menit sudah menguap entah kemana...
" Ternyata Dia benar-benar tahu siapa aku, Dia benar benar mengenalku Dewi kau memang cerdas" Gumam Devan pelan.
Tok Tok Tok
Terdengar ketukan pintu ruang kerjanya, " Masuk..." perintah Devan
Tampaklah perempuan cantik dan seksi yang berpenampilan menantang yang memakai baju kurang bahan. Gadis itu tersenyum manja sambil tak lepas menatap wajah Devan yang tampan.
" Pak... Ehhmm tolong diperiksa dulu dan ditanda tangani" kata Lusi sekretaris baru yang menggantikan sekretaris yang lama untuk sementara karena permintaan cuti.
Sambil bertingkah agak ganjen Gadis itu mencuri curi pandang, entah dapat keberanian darimana Gadis itu pun tiba-tiba mendekatkan dirinya disamping Devan.
__ADS_1
Sementara itu Devan masih dengan wajah datar dan angkuh tak menggubris gadis itu,,
"Kamu kenapa mendekat kemari ? dan apa yang kamu cari??" Tanya Devan penuh selidik.
" Ehhmm.. Anu Ehmm..." sambil mendekat Dia tampakkan kedua belahan dadanya pada Devan agar lelaki itu tergoda padanya.
" Shitt... Kalau Kau tidak bisa bersikap selayaknya pada atasan segera keruang HRD Aku jijik melihat perempuan murahan yang hanya memamerkan tubuh murahannya." sambil mendorong tubuh gadis itu Devan berucap dengan intonasi naik satu oktaf.
" Siapa yang menyuruhmu merayuku..??" dengan maju satu langkah Devan memegang kedua dagu gadis itu sambil meremasnya dengan keras.
" Aku sama sekali tidak tertarik dengan tubuh kotormu itu Enyah dari hadapan ku..." tekan Devan sambil menatap tajam kearah gadis itu. Setelah dia melepaskan cengkraman tangannya di dagu Gadis itu Dia pun menelfon pihak HRD untuk segera mengurus pemecatan Gadis itu.
Dengan wajah pucat dan ketakutan gadis itupun terisak dan menangis lirih Diapun keluar dengan setengah berlari, sambil menunduk Dia berjalan cepat dan segera mengemasi barang-barangnya.
Malu itu yang Gadis itu rasakan. perkiraannya salah dia pikir Bos barunya sama dengan bos bos yang lain yang takluk akan rayuannya, ternyata bosnya yang sekarang terlalu angkuh buat ditaklukkan.
"Aaarrrggg... Br*ngs*k....!! siapa yang telah memasukkan Gadis murahan itu kesini" gumamnya
Moodnya yang sedari tadi sudah gak begitu baik sekarang makin tidak baik baik saja. Dengan segera Dia pun keluar kantor entah kemana Dia akan menuju.
***
Sementara itu didalam ruangan mewah dan dikursi kebesarannya tampak seorang pria sedang melakukan via call dengan seseorang suruhannya.
" Bagaimana... sudah kau temukan dimana putriku berada ?? Apaa... bagaimana mungkin kalian bisa kehilangan jejaknya...?? Dasar bodoh... cepat temukan lagi Aku tidak mau tahu cepat temukan putriku sebelum Dion menemukan putriku...!!" Dengan kecewa Dia putuskan hubungan via call tersebut hampir saja Dia membanting Hpnya.
Yah... dia adalah ayah kandung Dewi seorang konglomerat nomor dua di Indonesia ini siapa lagi kalau bukan Sudrajat Adijaya, setelah kepergian istrinya yang lari dari klinik malam itu, Dia berusaha mencari tahu dimana Istrinya berada, setelah sekian tahun Dia kehilangan jejak Istrinya, tak lama kemudian dua tahun yang lalu Sudrajat menemukan keberadaan putrinya yang sudah diangkat menjadi Putri kedua keluarga Aditama, tapi sayangnya Dia tidak tahu keberadaan Istrinya.
Mungkin Sudrajat Adijaya berfikir bahwa untuk menghilangkan jejaknya dan menutup jati diri Istrinya menghindar dan menitipkan anak kandungnya kepada sahabatnya, yang Dia tahu ternyata putrinya tidak diperlakukan selayaknya seorang putri melainkan seorang pembantu.
Dia tak berdaya bisa saja waktu dia tahu putrinya diperlakukan tidak adil seperti itu membawa lari dan mengakui putrinya, Dia takut Istrinya tahu dan akan semakin menghilangkan jejaknya.
Diapun mengerang frustasi Putri yang sudah lama dirindukan tak pernah tahu bahwa Dialah sang Ayah yang sebenarnya...
__ADS_1