
Sementara ditempat lain didalam sebuah restoran nampak Dewi, Nico, dan Niken sedang berbincang-bincang, Saat ini Nico sangat prihatin dengan Dewi, ternyata rahasia yang selama ini tersimpan terkuak berkat kegigihannya dalam mencari tahu siapa Dewi sebenarnya.
Ada gelenyar aneh saat Nico melihat Dewi yang begitu rapuh, baginya Dewi sudah berhasil menembus jantung hatinya.
sejak pertama kali melihat dia pun sudah menyukai nya meskipun tanpa sadar.
" Ehhmm... Dew!! " panggil Nico
"Iya nic.... ada apa? kamu lihat aku masih baik baik aja kok" sahut Dewi
" Kita ini sudah sahabatan udah berapa lama sih Dew... gue tahu siapa elu kalau mau nangis nangis aja nih bahu gue masih lebar dan siap buat nampung tuh uneg-uneg." timpal Niken sambil menepuk bahu kanannya.
" Hhhhhhhh... atau kamu mau bahuku Dewi? nie liat bahuku juga gak kalah lebarnya." sahut Nico menepuk kedua bahunya sambil menaik turunkan alisnya menggoda.
" isshh... kalian ini pandai banget ngegoda jahil lagi." sahut Dewi sambil mengerucutkan bibirnya manyun
' aduh... imut banget sih kamu Dewi..' batin Nico gemas sendiri melihat Dewi.
' Andai kamu milikku dew...tak akan kubiarkan kamu semenderita begini' kambali Nico bergelut dengan batinnya.
" Hhmm.. Dewi kamu mau bicara sama kakak dan papamu heum..." ucap Nico lembut
Seketika itu juga Dewi menoleh kearah Nico seketika itu juga matanya berbinar dan menganggukkan kepalanya tanda setuju.
" Tapi kamu pake nomor ku saja." ucap Nico kemudian.
" Kenapa begitu?" tanya Dewi sambil mengerutkan keningnya
" jangan salah paham dulu dew... takutnya ponsel kamu disadap oleh pihak orang orang yang jadi musuh ayah kandungmu bagaimana pun sekarang teknologi canggih dew. jika mereka sudah tahu keberadaan mu bahkan lewat cctv ditempat ini pun bisa mencari tahu dengan siapa kamu telfonan.melalui hacker handal,kalau lewat ponselku insya Allah aman. Trust me!!" ucap Nico meyakinkan.
Dewi pun mengangguk tanda setuju dengan Nico. Nico benar dengan apa yang dikatakannya, diapun menghela napas panjang kemudian menerima ponsel dari Nico,
" Kamu bicara disini saja gak apa-apa. aku akan mengawasi kamu lewat ini" ucap Nico sambil menunjukkan keberadaan laptop nya.
Sementara itu Niken hanya jadi penonton dan pendengar setia mereka berdua, 'ternyata Nico orang yang baik' batin Niken
' Tapi kayak nya Nico suka deh sama dewi' kembali batin Niken bermonolog
' tunggu dulu,,, sejak kapan Nico bawa laptop perasaan dari tadi dia gak bawa apa apa deh... kok Nico jadi misterius gitu sih atau jangan-jangan' Kembali batin Nike. pun berkecamuk dengan pikirannya sendiri.
Ctakk...
Niko menyentil dahi Niken dengan jarinya.
__ADS_1
" jangan berfikiran aneh-aneh dengan ku,. aku orang baik bahkan lebih baik dari kamu " kata Nico sambil memutar bola matanya malas.
" Ihh... GR siapa juga yang berfikiran aneh-aneh yang ada tuh elu yang aneh" ucap Niken sambil mencebik
" aku tahu kamu pasti bertanya tanya dari mana laptop yang aku bawa ini" sahut Nico tanpa menoleh kearah Niken sambil fokus kearah layar laptop dan dengan lincahnya jemari Nico menari nari diatas keyboard.
Niken pun membelalakkan matanya sambil berpura-pura tidak mengerti dengan apa yang Nico tuduhkan yaitu berfikiran aneh-aneh tentang dia.
"Huuhh... sok tahu banget" cetus Niken kesal
' Kok bisa tahu sih apakah dia punya Indra keenam yah' batin Niken pun bermonolog.
Sementara itu tanpa mempedulikan Nico dan Niken yang sedang berdebat kecil Dewi pun fokus telfonan dengan kakaknya siapa lagi kalau bukan Devan.
Ada debar halus yang menjalar didadanya. Bagaimapun juga Devan adalah sosok yang sempurna Dimata Dewi dan Devan juga adalah cinta pertamanya. Tapi tidak tahu apakah akan jadi cinta terakhir dia juga nantinya.
Dengan sedikit gemetar jari Dewi dengan lincah memainkan ponsel yang dipinjamkan Nico padanya, Dewi segera mengetik nomor kakaknya dan nampak suara dering telfon diseberang sana.
Dan tak lama kemudian telepon pun diangkat siapa lagi kalau bukan Devan, suara yang selama ini ia rindukan.
" Assalamualaikum... kak" ucap salam Dewi dengan suara gemetar.
" Waalaikumsalam... siapa..?? " tanya Devan dari seberang sana. tapi sepertinya dia merasa familiar dengan suara ini.
" Dewi... dek..!!" Dewi pun terhenyak tatkala mendengar suara khawatir diseberang sana.
'Aku Merindukanmu kak' Batin Dewi.
" Dew .. kamu tidak apa-apa kan dek kenapa kamu menangis heum... katakan pada kakak kamu baik baik saja kan.. dan sekarang kamu ada dimana sayang katakan pada kakak jangan bikin kakak khawatir,aku mengunjungi rumahmu dan menaruh beberapa anak buahku menjagamu didepan rumahmu kenapa kamu malah kabur heum..." kata kata Devan berhasil membuat jantung Dewi berpacu dengan cepat.
' Segitu khawatirnya dirimu padaku kak,,, sementara aku malah menjauh darimu' Kembali batin Dewi mencelos, tapi tak lama kemudian terbit sedikit senyum di bibirnya
" Kakak ini kenapa cerewet sekali bagaimana aku bisa menjawab pertanyaan kakak sebanyak itu kalau kakak tidak memberiku waktu untuk menjawabnya" ucap Dewi sedikit manja diapun gemas melihat kecerewetannya. kakak yang selama ini tidak pernah dia anggap hanya sebatas kakak tapi Dewi menganggap sebagai seorang pria idamannya.
" Tidak tahukah kamu Dewi aku sangat mengkhawatirkan kamu..." ucap Devan diseberang sana, kembali senyuman lebar terbit dibibir tipis milik Dewi.
" Kakak aku ingin berbicara pada ayah kak bisakah kita ketemu?" pinta Dewi kemudian
" kamu tidak ingin berbicara dulu dengan ayah sekarang heum.." tanya Devan lembut setidaknya itu yang Dewi dengar ditelinga ya,sehingga mampu membuat jantungnya berdetak sangat cepat.
" iya kak aku sangat merindukan ayah" jawab Dewi
" Hanya Ayah bagaimana denganku apakah kamu tidak merindukan ku heum.." kembali suara tanya Devan melembut hingga berhasil membuat Dewi agak sedikit canggung seketika wajahnya merona memerah dan itu tak lepas dari pengamatan Nico.
__ADS_1
' Tampaknya hubungan Dewi dengan kakaknya lebih dari sekedar seorang kakak beradik' batin Nico bermonolog.
' Tapi kenapa aku jadi gak terima yah kenapa aku jadi pingin marah, ah .. nyesel aku kenapa tadi aku menawarkan dia agar menelepon keluarganya' batin Nico geram dan menyesal sendiri.
" Dewi sayang nak..." panggil ayahnya dari seberang sana
" Ayah... Dewi rindu ayah... " jawab Dewi sambil terisak.
" Dewi ingin bertemu dengan ayah " pinta Dewi
" Iya sayang ayah juga sangat merindukanmu mari kita segera bertemu tunjukkan dimana lokasimu nak ayah akan segera menyusul" jawab Aditama
" Maaf ayah aku pergi tidak pamit hik hiks... Dewi hanya ingin tahu siapa ibu kandung Dewi ayah..." lirih Dewi berkata disela sela isakan kecilnya.
" Iya sayang kamu share lock yah ayah akan kesana dengan kakakmu" jawab sang ayah.
Setelah panggilan berakhir Dewi pun segera mengirimkan lokasi dimana dia saat ini.
" Eumm Nico... makasih yah" ucap Dewi pada Nico
Dengan wajah biasa dan datar Nico pun menjawab
" iya.." hanya itu yang keluar dari mulut Nico, padahal hatinya gemas dan kebat kebit pasalnya Nico masih ingin meyakinkan perasaannya pada Dewi.
" Nic... aku kekamar kecil dulu yah" ucap Dewi sambil berdiri.
" Biar gue temani kebetulan gue juga kebelet nih..." Sahut Niken.
Tanpa menjawab Nico pun mengangguk, tampak wajahnya sangat gelisah dan frustasi. Baru kali ini dia merasa bahwa dia tertarik dengan seorang wanita.
" Aaarrrgggghhh....!!!"
Nico pun mengeram pasrah sambil mengusap kasar wajahnya Nico pun memerintahkan beberapa anak buahnya mengawasi Dewi dari jauh.
" Tuhan ... kenapa sesakit ini mencintai seseorang padahal belum tentu dia juga mencintai ku dan punya rasa yang sama padaku" ucap Nico lirih pada diri sendiri.
Drrrrttt Drrrrttt Drrrrttt
Nampak telepon genggamnya bergetar pertanda ada telepon masuk.
" Bagaimana...?? Bagus lanjutkan" setelah telepon dimatikan tampak senyum smirk dibibir Nico.
## Nah loh kira kira Nico dapat telepon dari siapa yah##
__ADS_1