
Pagi ini Devan begitu bersemangat dan dalam mood yang baik, pasalnya hari ini dia akan menemui adiknya, Bukan hanya sekedar seorang adik melainkan pemilik hatinya. Dia begitu berharap hari ini akan menemukan Dewi sang pemilik hatinya.
" Ayah... Apakah Ayah sudah siap??" tanya Devan pada ayahnya.
" Iya Nak.. Ayah sudah sangat tidak sabar ingin segera bertemu dengan Putri kesayangan Ayah" jawab ayahnya.
Sambil tersenyum mereka pun segera berangkat pagi itu juga tanpa sarapan dahulu.
Pada saat akan keluar dari ruangan tempat mereka berbincang sejenak dan hendak menuju pintu keluar tiba tiba Safitri pun menyusul.
" Loh Ayah Devan kok gak sarapan dulu, Ibu sudah masakin masakan favorit kalian berdua loh.." kata Safitri memelas.
" Maaf Bu... Kami berangkat agak pagian takut gak keburu waktu." jawab Devan ramah.
Sementara ayahnya tak menggubris sama sekali.
" Oh... Gitu yah apa tidak sebaiknya... Eh tunggu dulu biar aku buatkan kotak bekal deh buat kalian tunggu yah lima menit aja" ucap Safitri sambil berlalu pergi kedalam.
Nampak Devan pun mengernyitkan dahinya sambil mengendikkan bahunya,tanda bahwa Dia pasrah saja.
Tak berapa lama kemudian tampak Safitri pun keluar dengan membawa paper bag yang didalamnya berisikan kotak bekal.
" Makasih Bu... Kami berangkat dulu" kata Devan berpamitan dan tak lupa mencium takzim tangan ibunya
Sementara Andika trus berlalu tanpa pamit disaat Safitri hendak mencium tangan Suaminya.
" Ayah segitu marahnya dirimu padaku,. Aku ingin menebus semuanya yah... Maafkan Ibu" Rutuknya dalam hati.
Sementara didalam mobil nampak Devan dan Andika hanya diam dan larut dalam pikiran masing-masing, lalu Devan pun menyetel musik di tape recorder yang ada di mobilnya disaat Dia tengah asyik mendengarkan musik sambil nyetir tiba tiba gawainya pun berbunyi nyaring.
" Ya ... Apa kamu sudah menemukan tempat tinggalnya..." sambil mengecilkan volumenya Devan antusias mendengarkan informasi dari anak buahnya.
" Bagus kalian akan dapat bonus jika itu benar-benar Adikku." jawab Devan kemudian menutup sepihak panggilan telepon dari salah satu anak buahnya.
" Ayah... Salah satu anak buahku sudah dapat alamatnya dan Aku rasa Dewi benar benar ada dirumah kecil itu." kata Devan meyakinkan sang ayah
" Alhamdulillah Nak... Syukurlah Ayah sangat senang dan sudah tak sabar ingin memeluk Putri kecilku" kata Andika kemudian.
" Aku juga tak sabar Yah... " kata Devan menimpali.
Hhhhhhhhhhhh
__ADS_1
Sambil membuang nafas kasar Devan pun tersenyum tak sabar ingin segera memeluk Dewi sang pemilik hatinya.
Mobilpun melaju dengan kecepatan sedang. Yah.. kali ini Devan tak mau ngebut meskipun sangat ingin segera sampai kesana ditempat dimana Dewi berada.
Sementara itu dirumah kecil milik Neneknya Niken Dewi pun bercengkerama dengan Niken, tapi tak lama kemudian panggilan telepon masuk dari Nico.
" Assalamualaikum Nic... Ada apa??" sahut Dewi pada Nico diseberang sana
" Apa... Pindah,. Eehhmm emangnya kenapa Aku harus pindah Nic baru aja seminggu Aku disini dan Aku ngerasa nyaman juga" sahut Dewi lagi.
" Ap apa... Masak sih bentar aku lihat dulu" jawab Dewi gugup.
" Dew... Ada apa hah... Emang Kamu mau liat apa an??" tanya Niken penasaran.
" Allahu Akbar... Ken!! " panggil Dewi
" Apa sih Dew...??" sahut Niken semakin penasaran ada apa dengan sahabat nya ini setelah dapat telepon dari Nico dasar Nico awas kalau ketemu.' batin Niken
" Cepat kemari ... " panggil Dewi tak sabar.
Akhirnya Niken pun menurut dan melihat yang ditunjuk Dewi. Dan disaat matanya fokus dan yang membuat tercengang adalah banyak laki laki berpakaian hitam dan berbadan tegap banyak seperti sedang mengawasi atau menjaga Niken pun tak tahu.
" Dewi... Apa yang harus kita lakukan..?" kata Niken kemudian sambil tegang dan berusaha menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskan perlahan begitu dilakukan Niken berulang kali agar rasa paniknya hilang, tapi alhasil nol Niken pun masih panik.
" Aaarrrgggghhh... Kok bisa jadi gini sih...??" gerutu Niken
Sementara Dewi sangat tenang sambil berfikir.
Drrrrttt Drrrrttt Drrrrtt
" Assalamualaikum Nico... Apa ?? Oke kamu tunggu dibelakang pagar rumah yah kita segera berkemas" kata Dewi pada Nico diseberang sana.
" Ken... Cepat berkemas dan tidak usah membawa barang banyak secukupnya saja agar kita bisa bergerak dengan leluasa, dan ingat yang penting-penting aja oke" pinta Dewi pada Niken
Tanpa banyak bicara Niken pun menurut apa yang Dewi katakan dan tak lama kemudian mereka pun siap.
" Oh yah Ken.... Matikan semua lampu dan copot kabel yang menancap agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan." perintah Dewi kemudian
Seperti yang tadi Niken pun tak banyak bicara lalu melakukan apa yang diperintahkan Dewi untuk nya.
Kemudian mereka pun berlalu pergi lewat pintu belakang rumah kecil itu dan untungnya pagar itu tidak terlalu tinggi jadi mereka berdua pun dengan cepat dan tangkas bisa melewati pagar itu.
__ADS_1
Dan nampak Nico pun sudah siap dan dengan sigap dan cepat dia pun berlari menggandeng dua perempuan itu menuju ke mobil Nico.
"Hhhhuuuffffttt.... Astaga gue gak nyangka bisa setegang ini. sampai hampir saja aku terkencing di celana." cicit Niken.
Sementara Dewi dan Nico hanya diam sambil berkelana kedalam pikiran masing-masing.
Tak bisa dipungkiri bahwa Dewi pun merasa tegang dan tertekan. Dia sebenarnya sangat frustasi dengan keadaannya.
Sementara Nico diam diam Dia menghubungi anak buahnya dan tak lama kemudian Dia pun tersenyum smirk.
" Dewi kamu benar-benar tidak tahu siapa dirimu??" tanya Nico pelan datar dan tanpa tekanan.
Dewi pun menggeleng dengan mimik wajah sendu. Diapun bingung dan tak tahu harus bagaimana.
" Aku tahu siapa dirimu Dewi..." kata Nico memecah kesunyian sekejap.
Dan Dewi pun mendongakkan kepalanya Dia ingin meyakinkan dirinya bahwa Nico tidak bercanda dengan apa yang dikatakan nya tadi.
" Aku serius Dewi Aku tahu siapa dirimu..." kembali Nico meyakinkan.
" Diam diam Aku menyelidiki tentang identitas mu, Aku tahu kamu bukan anak kandung dari Andika Kusuma tedja dan Safitri Budi Utomo melainkan Kamu adalah anak dari Sudrajat Adijaya dan Sri Lestari, karena Ayahmu yaitu Sudrajat Adijaya menikah dengan orang biasa aja dan bukan dari golongan berdarah biru Kakekmu yaitu Tuan Sudibyo Adijaya hendak melenyapkan mu dari perut Ibumu, padahal waktu itu Kamu yang ada didalam perut sudah berumur enam bulan dan sangat sulit untuk melakukan aborsi, dan ternyata memang uang adalah segalanya ada salah satu dokter yang mau melakukan itu, lagi lagi Ibumu sangat beruntung ada seorang perawat yang membantu Ibumu kabur dari klinik persalinan. Dan pada saat Ibumu berhasil kabur tiba-tiba Dia pingsan ditengah jalan dan ditemukan oleh sahabat nya sendiri yaitu orang yang sudah kamu anggap Ayahmu yang sekarang" panjang lebar Nico menjelaskan tentang identitas dirinya.
Dan tanpa disadari Dewi pun mengepalkan kedua tangannya sambil menitikkan air matanya. Dia masih tidak menyangka bahwa dirinya adalah cucu dari seorang konglomerat nomor dua di Indonesia.
Dengan penuh emosi Dia pun akhirnya bisa menahan amarahnya yang meluap-luap
yang siap hendak dikeluarkan tapi lagi-lagi Dewi bisa menguasai keadaan dirinya.
Bagaimana pun Amarah tak pantas hinggap di dirinya. seketika itu Diapun bertanya pada Nico tentang keberadaan Ibunya.
" Maaf lagi Kamu juga harus bisa menerima kenyataan bahwa Ibumu sudah meninggal sehabis melahirkan Kamu"jawab Nico hati hati
Dewi tergugu menangis pelan Dia ingin sekali bertemu dengan Ibuunya. Sementara itu Niken yang sedari tadi bengong tentang yang baru saja Dia dengar tentang Kenyataan siapa Dewi sebenarnya Niken pun menenangkan sahabat nya.
" Sabar Dewi... Mungkin Tuhan masih menyembunyikan Kamu yang sekarang supaya Kamu kelak bisa berbahagia tanpa adanya tekanan." kata Niken menyemangati.
" Dan satu lagi yang berjaga atau yang mengawasi kalian itu bisa jadi orang suruhan Ayahmu atau Kakakmu bisa juga orang suruhan yang ditugaskan untuk melenyapkan mu." kata Devan memperingati
Dewi hanya diam seribu bahasa yang dipikirkannya saat ini adalah bagaimana Dia bisa bertemu dengan Ayahnya Andika dia pun ingin menanyakan perihal tentang Ibunya.
#akhirnya setelah sekian lama cuti aku bisa update lagi...##
__ADS_1