
Sementara saat ini mobil yang yang ditumpangi Devan dan Adinata sudah sampai di pelataran rumah yang beberapa waktu lalu dihuni Dewi dan Niken beberapa waktu lalu.
Segera Adinata turun dari mobilnya dan disusul Devan, kemudian Devan pun mendekati beberapa anak buahnya.
" Bagaimana apakah selama kalian berjaga disini aman?? " tanya Devan kepada salah satu anak buahnya Roni namanya.
" Siap aman boz" sahut Roni sambil menganggukkan kepalanya sambil diacungi satu jempol.
" Bagus,. aku mau melihat dulu kedalam .." kata Devan sambil berlalu bersama Adinata.
" Siap boz..." sahut Roni
" Kamu masih ahrus berjaga-jaga disini" perintah Devan kepada anak buahnya.
Tanpa menunggu jawaban dari anak buahnya Devan pun berlalu dengan cepat dari sana, diapun sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan Dewi.
Tok Tok Tok
" Assalamualaikum..." ucap salam Devan dengan agak sedikit dikeraskan suaranya agar yang didalam ruamh mendengar suaranya.
Sampai ucapan salam yang ketiga kalinya tidak ada jawaban dari dalam Devan pun sudah tidak sabar lagi dia ingin segera bertemu dengan Dewi,.
" Ayah apakah Dewi tahu kalau kita kesini kenapa tidak ada Jawaban dari dalam ataukah Dewi kabur karena tidak ingin bertemu dengan kita??" kata Devan merasa frustasi karena tidak kunjung mendapat jawaban dari yang empunya rumah.
" Tidak mungkin Dewi tahu nak apa mungkin dia keluar membeli sesuatu mungkin nak" jawab Aditama menenangkan putranya.
" Tapi Ayah... Aaarrrgggghhh Dewi kemana kamu dek kakak sangat rindu padamu " gumam Devan lirih sambil setengah teriak.
" Ayah aku sangat khawatir..." Devan pun mengepalkan kedua tangannya ingin sekali dia mendobrak pintu rumah itu tapi dia urungkan karena tidak ingin membuat keributan.
Akhirnya dia mengambil benda pipih disaku celananya dan menghubungi anak buahnya.
" Roni kemari dan bawa beberapa kunci cadangan rumah ini, ini perintah aku tidak mau ada kesalahan sedikit pun" perintah Devan sambil menekan suaranya.
" Kamu tenang nak aku yakin adek.u pasti baik baik saja." kata Aditama menenangkan Devan yang tengah dirundung kegalauan.
Tanpa menjawab apa yang ayahnya katakan Devan hanya memandang kosong kedepan.
Reflek diapun mengeram dan memukul tembok kosong yang ada di depannya.
Bugh Bugh Bugh Bugh
Aaarrrgggghhh
Setengah berteriak Devan memukul tembok beberapa kali tanpa ia sadari kedua kepalan tangannya pun berdarah, Tapi seakan tak peduli dengan luka ditangannya Devan pun mengeraskan rahangnya.
" Aku frustasi ayah aku ingin segera bertemu dengan Dewi. bagaimana keadaannya dan.." belum selesai Devan mengucapkan uneg-unegnya Roni pun tiba.
__ADS_1
" maaf pak kuncinya tadi ketinggalan didalam mobil Serpo dia pergi membeli sesuatu tadi" sambil menunduk takut Roni hanya bisa pasrah apa yang akan dilakukan bosnya nanti jika marah.
Roni tahu bagaimana bosnya jika marah disaat dia bilang bunuh maka hal itu akan terjadi tanpa pikir panjang, bisa dikatakan dibalik sikap dingin dan datar wajah Devan ada sifat sedikit sadis.
" Apa yang kau tunggu cepat lakukan dan jangan banyak omong" perintah Devan tak sabar.
Sementara itu Aditama kaget melihat putranya yang sedemikian posesif nya terhadap Dewi dan dia tidak menyangka bahwa putranya begitu sangat mencintai putrinya yaitu anak angkatnya.
Dan baru kali ini Aditama melihat kemarahan Devan setelah pemukulan terhadap adeknya kali ini lebih parah.
Ceklek
Akhirnya pintu rumah itu pun terbuka, Tapi pemandangan didalam rumah itu tampak sepi jelas sekali kalau rumah ini baru saja ditinggalkan.
Devan bisa menyimpulkan hal itu karena melihat cemilan yang ada dimeja ruang makan dan minuman hangat yang masih mengepul dimeja makan.
" Dewi.... " lirih Devan memanggil Dewi meskipun dia tahu bahwa Dewi sudah pergi, Devan ingin menyangkal bahwa Dewi pergi dari rumah itu.
Tapi kenyataannya adalah Dewi memang sudah tidak ada lagi ditempat itu dia pun masuk kedalam kamarnya dan memeriksa lemari pakaian dan beberapa tempat lainnya.
Dan keyakinannya makin bertambah karena ada beberapa ruang lemarinya kosong tidak ada pakaiannya. Meskipun Dewi tidak membawa banyak barang tapi Devan tahu kalau Dewi sudah pergi dari situ.
" Roni.... " panggil Devan kepada Roni dengan menaikkan suaranya beberapa oktaf hingga menimbulkan suara berat bariton yang tegas dan penuh amarah.
" Selama kau mengawasi rumah ini bagaimana mungkin kamu tidak tahu kalau adekku pergi hah..." sambil mengepalkan kedua tangannya dia ingin sekali memukul anak buahnya itu tapi dia tahan sedari tadi karena ada ayahnya disini.
" Ma maaf bos saya lalai karena tidak mengawasi bagian belakang rumah ini tadi saya melihat ada tangga kecil dipagar saya yakin non Dewi pergi melalui pagar belakang rumah" tutur Roni menjelaskan.
Bugh
Satu pukulan mengenai wajah Roni
Bugh
Dua pukulan mengenai sebelah wajahnya, dan Roni hanya bisa diam tanpa membalasnya. Dia tidak ingin bos nya semakin marah
" Kalian tidak becus... cepat cari dimana keberadaan Dewi sekarang juga juga dalam waktu dua jam kalian tidak menemukannya maka kalian tamat.!! Perintah Devan mengultimatum Roni dan anak buahnya.
" Siap bos.." setelah mengangguk dan mengiyakan perintah bosnya segera Roni beranjak dari situ dan melakukan apa yang diperintahkan bosnya.
Aditama yang terkejut akan sisi lain dari putranya masih tercengang dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Dan setelah dia sadar dari keterkejutan nya segera diapun menghampiri putranya. Diapun sangat prihatin dengan keadaannya.
" sebegitu cintanya kamu pada Dewi nak bahkan melebihi rasa sayang ku terhadap putriku ini" batin Aditama
" Nak.." Aditama pun mendekati putranya sambil menepuk bahunya.
__ADS_1
" Aku yakin Dewi pasti baik baik saja,ayah yakin dia tidak sendirian pasti dia dibantu orang lain yang handal hingga bisa membuat Dewi bisa dengan gesit melarikan dirinya" tutur ayahnya menenangkan hati Devan.
" Gadis nakal kau sangat cerdik awas kamu kalau kutemukan akan aku hukum kamu dek..." lirih Devan menggerutu dalam Isak tangisnya yang terdengar samar.
" Ayah... aku merasa gagal sebagai seorang kakak, aku merasa ..." belum juga menyelesaikan kalimatnya bunyi handphone nya berbunyi.
" Waalaikumsalam... siapa..?? " tanya Devan dari seberang sana. tapi sepertinya dia merasa familiar dengan suara ini.
" Kak... kakak... a aku Dewi hiks hiks hiks!!" jawab suara diseberang sana dan ia yakin bahwa itu suara Dewi.
" Dewi... dek..!!" betapa terkejutnya Devan ternyata benar bahwa suara yang diseberang sana adalah suara merdu milik Dewi.
Aditama pun tak kalah terkejutnya akhirnya secercah harapan pun muncul dihatinya.
" Dew .. kamu tidak apa-apa kan dek kenapa kamu menangis heum... katakan pada kakak kamu baik baik saja kan.. dan sekarang kamu ada dimana sayang katakan pada kakak jangan bikin kakak khawatir,aku mengunjungi rumahmu dan menaruh beberapa anak buahku menjagamu didepan rumahmu kenapa kamu malah kabur heum..." begitu khawatir nya Devan hingga tanpa sadar dia cerewet sekali saat ini.
" Kakak ini kenapa cerewet sekali bagaimana aku bisa menjawab pertanyaan kakak sebanyak itu kalau kakak tidak memberiku waktu untuk menjawabnya" cicit Dewi diseberang sana dan berhasil membuat Devan gemas sendiri.
" Tidak tahukah kamu Dewi aku sangat mengkhawatirkan kamu..." ucap Devan kemudian
" Kakak aku ingin berbicara pada ayah kak bisakah kita ketemu?" pinta Dewi diseberang sana.
" kamu tidak ingin berbicara dulu dengan ayah sekarang heum.." tanya Devan lembut
" iya kak aku sangat merindukan ayah" jawab Dewi
" Hanya Ayah bagaimana denganku apakah kamu tidak merindukan ku heum.." kembali suara tanya Devan melembut hingga berhasil membuat Dewi agak sedikit canggung disana.
" Berikan padaku nak handphone nya" pinta ayahnya pada Devan, dan Devan pun memberikan nya
" Dewi sayang nak..." panggil ayahnya
" Ayah... Dewi rindu ayah... " jawab Dewi sambil terisak.
" Dewi ingin bertemu dengan ayah " pinta Dewi
" Iya sayang ayah juga sangat merindukanmu mari kita segera bertemu tunjukkan dimana lokasimu nak ayah akan segera menyusul" jawab Aditama
" Maaf ayah aku pergi tidak pamit hik hiks... Dewi hanya ingin tahu siapa ibu kandung Dewi ayah..." lirih Dewi berkata disela sela isakan kecilnya.
" Iya sayang kamu share lock yah ayah akan kesana dengan kakakmu" jawab sang ayah.
Dan tak lama kemudian telepon pun dimatikan, nampak Devan pun meraih handphone nya dari ayahnya dan segera memanggil anak buahnya agar segera datang untuk menemuinya
" Roni... kamu kembali kesini dengan cepat dan panggil beberapa anak buahmu segera" perintah Devan
Dan panggilan pun ditutup sepihak oleh Devan.
__ADS_1
# Akhirnya Devan pun bernafas lega guyss. yuk ikuti kelanjutannya##