IDAMAN HATI

IDAMAN HATI
Terbongkarnya Kelicikan Mona


__ADS_3

Kembali Timah merasa terusik dengan laporan Mona, karena nama nama yang di sebutkan merupakan orang orang yang ada hubungannya dengan Timah di masa lalu.


*Jangan jangan ini akal akalan Mona untuk menjatuhkan Timah* pikir Timah.


"Baik, saya akan kirim orang untuk menyelidiki diama Aleksei dan Panlanov tinggal serta apa yang mereka lakukan" ucap Pangeran Andrik mulai tertarik dengan laporan intelnya.


"Sebaiknya kita umpan mereka dengan wanita cantik, yang kenal dengan mereka" saran Mona.


Serrtt ....


Kembali darah Timah berdeser saat apa yang di ucapkan Mona, seolah di tunjukan padanya, tapi belum sempat dia melakukan sesuatu Pangeran Andrik sudah bicara.


"Itu urusan saya, bukan urusan kamu Mona" ucap Pangeran seraya menyesap kopi yang di buatkan Timah.


"Puhhhhhhhh" Pangeran menyemburkan kembali kopi yang baru saja di sesapnya ke muka Timah.


Mata Pangeran memerah, melotot kearah Timah, Gigi gerahamnya berkeletukan karena marah, sebuah cubitan keras dengan mengerahkan segenap tenaga mendarat di lengan Timah.


"Aduhhhh sakit Pangeran" jerit Timah Kesakitan.


"Kau pikir aku sapi yang suka minum air garam, heh" bentak Pangeran sambil berdiri.


Kali ini Pangeran Andrik benar benar marah, semua orang ketakutan melihat tampang murkanya, Timah melirik Mona yang tersenyum penuh arti.


"Coba kamu minum" bentak Pangeran Andrik menyodrkan cangkir berisi kopi yang di buatkan Timah.


Berrrrrr.... semangat Timah langsung kabur meninggalkan jiwanya, ingin rasanya dia mengecil seperti tungau supaya tak terlihat oleh Pangeran.


"Huuuuakkkk... Asiiiin" guman Timah terduduk lungglai.


"Bik Ijah" panggil Timah Lemas.


"Iya Bbb bbb Bunda Ratu" jawab Bik Ijah juga takut melihat tampang Pangeran yang berdiri penuh kemurkaan.


"Ambilkan gula, sekalian toples nya ya, Bik" Titah Timah tertunduk lesu.


"Baik Bun" Bik Ijah tergopoh gopoh meninggal kan beranda belakang.


"I am Sorry Pangeran, atas kecerobohan Timah" ucap Timah masih lesu wajahnya yang tadi berseri berubah masam seolah umurnya lebih tua 20 tahun dari umur sebenarnya.

__ADS_1


"Ini Bun gulanya" Bik ijah memberikan toples bertuliskan Gula pada Timah.


"Itu garam apa gula coba kamu cicip" bentak Timah setelah bisa mengontrol perasaan nya.


"Huuuak.. garam..." guman Bik Ijah.


"Bruuuuk.." Bik Ijah pingsan tak sanggup membayangkan kemarahan Pangeran Andrik dan Ratu Timah.


"Mulai hari ini batalkan jadwal minum Gahwa di villa Ratu" ucap pangeran masih dengan nada tinggi.


"Brrrakkk......." pangeran menggebrak meja, menjatuhkan semua barang yang ada di atas meja lalu berlalu meninggalkan villa Ratu.


"Criiiing....cring " sebuah toples yang sama bertuliskan Gula, terlontar dari tas mona yang ikut terjatuh.


"Praaak.... " Timah tak bisa lagi nahan emosinya, sebuah tamparan keras mendarat di pipi Mona.


Pangeran berhenti di depan pintu saat mendengar tamparan Timah yang sangat keras memekakkan telinga.


"Ternyata kamu ya dalang semua ini, kamu sengaja nukar toples gula, menggantinya dengan toples yang di isi garam supaya Pangeran membenci Timah" bentak Timah.


"Pangeran.. tolong saya Pangeran, lihatlah Bunda Ratu memfitnah saya atas kelalayannya" Mona merangkul kaki Pangeran.


"It is Apologis.... " teriak Timah naik Pitam.


"Tolong pangeran ini pasti ada yang sengaja memindahkan toples gula ke tas Mona untuk memfitnah Mona" rengek Mona masih memeluk kaki pangeran.


"Diam kamu pel4cur murahan" bentak pangeran mendorong mona dengan keras hingga terbanting.


"Huuuh huuu huuu... dengarkan Mona pangeran" tangis Mona mencoba berdiri.


"Pangeran.... Mona hanya mel4cur untuk Pangeran, sedangkan Bunda Ratu mel4cur di depan umum untuk pria asing pula" kilah Mona.


"Keparat kamu Mona, dasar syetan" teriakTimah seperti kesetanan.


"Mona kamu harus mempertanggung jawabkan ucapan kamu" Muka Pangeran makin merah antara marah dan malu, lalu pergi meninggal kan villa Ratu.


Timah melompat kearah Mona, kembali mengayunkan tangannya.


"Prrak.. " tamparan Mona terhenti saat bertemu tangkisan Mona.

__ADS_1


"Ha ha ha Timah kau pikir semudah itu menyakitiku"


"Dengar ya, aku akan pastikan Pangeran menjadi milikku" tawa Mona meledak saat pangeran sudah meninggalkan villa Ratu.


***


"Bunda Ratu istirahatlah" pinta Evelne merasa iba.


"Tidak Va, aku belum ngantuk, tolong biarkan Timah sendiri" ucap Timah.


"Keparat.. Mona sangat licik, dia pasti sudah menghasut pangeran untk memusuhi bunda ratu" Ucap Eveline pandang matanya penuh kemarahan.


"Bunda Ratu bisa tidur di kamar Evelin, jika itu bisa menghilang kan duka" ucap Eveline segera menuju kamar nya.


"Tidak Va"


Timah duduk sendri di teras belakang dimana tempat, favorit Pangeran minum Gahwa bersamanya. Lima hari sudah pangeran tidak lagi minum Gahwa brsama nya. Indahnya kenangan bersama pangeran kini tinggal kenangan seakan tak akan terulang lagi.


"Pangeran aku ingin kau disini" keluh timah saat matanya tertuju pada kursi di mana Pangeran biasa duduk, di ciumnya berkali kali, seakan akan bau yang melekat pada kursi terasa seperti bau tubuh Pangeran.


Dari teras belakang Timah juga bisa menikmati pemandangan kerlap-kerlip lampu di Pusat kota Dubai yang di pisahkan oleh lautan, namun semua itu tidak Mampu menghilangkan rasa rindunya pada Pangeran.


Lantunan lagu padang pasir terdengar sayup di telinga Timah, dari lagu ya asmara, ya habibi, ya dana tidak lagi menyentuh kalbunya, hingga lagu ya ummi yang agak akrab di telinga Timah, lagu yang di nyayikan oleh Khadijah Magomedova Artis cesnia yang populer di youtube.


Lagu yang menghanyutkan perasaan Timah, rindunya pada Pangeran berganti menjadi rindu pada Ibunya, dia ingin di peluk ibunya saat saat seperti ini.


"Pangeran....." guman Timah lemah seiring berakhirnya lagu ya ummi.


Timah tidak peduli lagi dengan segala pemandangan, matanya mulai terasa berbinar binar perasaannya mulai berubah, gejolak rindu di jiwanya mulai tergugah. Timah ingin bertemu pangeran, Timah ingin Pangeran ada di sampingnya.


Timah mencoba berbaring pada kursi dimana pangeran duduk saat minum Gahwa bersamanya, namun kembali rindunya menggelora, Timah ingin Pangeran calon suaminya ada di sisinya, membelainya dengan lembut.


"Auuuh Pangeran" Timah megeluh saat rindunya tidak tertahankan lagi. Rindu yang menghipnotis Timah untuk berada di sisi Pangeran, rindu yang mengundang dirinya untuk mendekat ke villa Pangeran Andrik sekalipun hanya melihat villa nya sudah cukuplah untuk mengobati rindunya.


Tak sadar Timah melangkah meninggalkan teras belakang, menuju di mana villa Pangeran Andrik berada, dari kejauhan masih terlihat kalau di villa Andrik lampu lampu masih menyala.


Timah ragu sejenak merasa sudah cukup, rindunya sudah terobati, ingin dia kembali ke villa Ratu namun ada kekuatan aneh menggerakkan kakinya untuk terus melangkah, kekuatan yang mengatakan kalau dia harus ketemu Pangeran Andrik malam ini juga.


"Tunggu" dua orang penjaga mencegah Timah masuk.

__ADS_1


"Jangan halangi, aku mau masuk" bentak Timah.


"Maaf Permaisuri... Pangeran Andrik sedang tidak mau di ganggu" ucap salah satu penjaga ngotot menahan Timah.


__ADS_2