IDAMAN HATI

IDAMAN HATI
Berebut Kalung Pusaka


__ADS_3

Pertempuran hebat terjadi dengan dahsyatnya saat lima pengawal pengamanan luar istana serempak maju mengeroyok wanita bertopeng yang sedang mengamuk membantai anggota Imperium Balqis.


"Cuihhhh " seorang pengawal pengamanan luar istana, meludah ke lantai. Lima pengawal penjaga istana sangat marah saat mengetahui ada penyusup yang masuk, itu artinya merekalah yang di salahkan telah lalai dengan tugasnya.


"Suiiiiiit....!" salah satu mereka bersuit nyaring, spontan kelima mereka mengurung wanita bertopeng yang bergerak bagai bayangan di tengah ruangan.


"Ser.. serrr... serrr" pedangnya menyambar nyambar dengan cepat.


"Aihhh ...." tiga orang pengawal hampir saja tersambar pedang.


"Serrrrrr....." kali ini pedang mengarah ke leher sang jendral.


"Pedang yang ganas" jendral pengamanan luar istana nelompat mundur saat merasakan angin pedang menerpanya sangat dahsyat.


"Ck ck ck.... " Fhadlan yang masih berdiri tidak jauh dari sang jendral ikut kagum saat merasakan betapa kerasnya angin sabetan pedang wanita becadar itu.


"Pok pok pok" terdengar tepukan tangan. Tak lama kemudian masuklah dalam ruangan itu seorang laki-laki berpakaian pembesar tinggi Imperium Balqis, diikuti oleh seorang lelaki kurus berpakaian sederhana berusia kurang lebih empat puluh tahun yang kelihatannya seperti orang berilmu tinggi.


"Ilmu pedang yang sangat mengagumkan" pembesar tinggi kurus memuji jurus pedang wanita bercadar.


Sesaat wanita bercadar melirik ke arah dua orang pembesar itu, diam-diam dia terkejut melihat sinar mata kedua orang pembesar itu yang demikian terang dan tajam bagaikan mata harimau di tempat gelap.


"Tuan tuan juga mau nonton rupanya" Jendral pengamanan luar istana menyambut dua orang pembesar yang baru saja masuk.


Sangat jelas bahwa jendral ini amat menghormati pembesar yang bertubuh tinggi, yang usianya sudah lebih tua dari dirinya. Sedangkan pembesar kedua yang pendek tubuhnya dan memakai topi bundar (peci) dan berpakaian serba putih pula, membungkuk-bungkuk dengan sikap tenang kepada Jendral pengamanan luar istana.

__ADS_1


"Tentu saja ini tontonan menarik yang mungkin hanya ada seribu tahun sekali" ujar pembesar tinggi kurus.


Mereka berdua lalu duduk menyembah, memberi penghormatan pada sang jendral di balas sang Jendral dengan penghormatan pula. Dua orang pembesar itu lalu berdiri sebelah kiri jendral, sedangkan laki-laki kurus yang berpakaian sederhana berdiri di belakang Sang Jendral, sikapnya acuh tak acuh.


"Kebetulan sekali engkau datang, Panglima Perdinan. Lihatlah wanita muda bertopeng itu. Bagaimana pendapat Panglima Perdinan?" tanya sang Jendral.


"Hemmm, mengingatkan hamba akan kayu yang tumbuh di gurun, kecil pohonnya tapi sangat kuat kayunya, saya yakin dialah yang telah membunuh kaisar Linggo Bramantio ponaan Jendral Cahyono" ucap pembesar yang di panggil Perdinan.


"Ha-ha-ha-ha, wawasanmu terlampau mendalam, Panglima. Kalau tidak ingat dia telah mrmbunuh ponaan ku, maka aku lebih suka dia dijadikan pengawal pribadi Kaisar" Jendral Cahyono terlihat agak jengkel.


"Mana mungkin Jendral... dia adalah musuh yang sangat berbahaya yang telah membunuh Kaisar Linggo, memang ilmunya sangat tinggi pantas saja kaisar tewas tanpa sempat berteriak" Perdinan mengingatkan Jendral Cahyono.


"Justru itulah, kita harus berusaha menundukkannya, Tahukah engkau, wahai Panglima yang bijaksana, bahwa selain dia datang untuk mencuri ajimat Kaisar, dia juga wanita lihai yang ingin melenyapkan Imperium Balqis?"


Panglima Perdinan menarik nafas dalam "Aku sudah dengar kalau dia sudah berkali kali menyusup ke markas berkali kali pula bentrok dengan Kaisar Linggo dan nyaris merampas kalung Kaisar untungnya selalu di gagalkan Beni dan guru silat Kaisar"


"Ah, benarkah? Jendral, kalau begitu biar aku suruh pembantu ku, untuk ikut mengambilkan Ajimat itu dari tangannya?"


"Ha-ha-ha, ini pengawal mu si Josef yang dahulu berjuluk Setan seribu tenaga kuda kan, Bagus...cobalah!"


"Jadi benar wanita ini sudah berhasil merampas kalung Kaisar" guman jendral Perdinan saat melihat sebuah kalung dengan rantai emas berbandul kotak segi empat sebesar korek api dan di balut kain merah kusumba.


Jendral Perdinan menoleh ke arah pengawalnya dan mengangguk memberi komando supaya pengawalnya ikut maju menggempur wanita bercadar.


"Baik Panglima" Dengan sikap hormat Josef memberi penghormatan kepada kedua orang Jendral, kemudian maju menghampiri Si wanita bertopeng dengan langkah santai.

__ADS_1


Si wanita tertegun sejenak menghetikan serangannya namun dengan sikap tetap siaga, dia maklum bahwa dia akan menghadapi lawan yang jauh lebih lihai dari kelima pengawal yang sedang mengurungnya, dan dia bingung harus bersikap bagaimana menghadapi lima pengawal saja sudah cukup merepotkan sekarang di tambah pengawal panglima yang sangat lihai.


"Mmmmm majulah" ucap wanita bercadar nantang.


Mengingat dia sudah kepalang tanggung memperlihatkan kelihaiannya, kalau sekarang ia menyerah begitu saja, bukankah hal ini amat mengecewakan sebagai seorang gagah.


"Kltek kltek kltek kltek" suara berkerotokan di barengi tenaga dahsyat dari Josef.


Ketika si wanita bercadar kebingungan si Josef pengawal panglima itu mengulur tangan, Si Wanita terkejut bukan main karena mendengar kembali suara berkerotokan yang keluar dari lengan kurus itu dan angin pukulan yang menyambar ke arah lengannya bukan main kuatnya.


"Ahhhhh" wanita bercadar mengeluh mukanya pucat pasi saat menyadari betapa kuatnya angin pukulan yang di timbukkan gerakan lengan yang terkesan lambat. Wanita bercadar tadi mendengar Jendral Cahyono menyebut si Josef ini sebagai Setan Seribu tenaga kuda, maka dia dapat menduga bahwa si josef yang terlihat santai ini tentu memiliki tenaga dahsyat.


"kletok kletok kletok" bunyi kletokan semakin nyaring saat josef maju beberapa langkah.


"Pria ini tak mungkin di lawan dengan adu kekuatan" pikir wanita bercadar sadar kalau dia kalah tenaga dalam.


Dia sendiri mengandalkan kelihaiannya pada ilmu-ilmu silatnya yang tinggi, terutama ilmu pedangnya dan ilmu saipi angin sedangkan dalam hal tenaga dalam dia belum terlalu mempercayai dirinya sendiri. Akan tetapi karena kini dia diuji dalam tenaga, tentu saja dia tak bisa berbuat lain kecuali mengerahkan tenaga dalam memegang kalung terbungkus sutera merah dengan erat-erat.


"Mundur kalian" ucap Josef, kelima pengawal spontan mundur berapa langkah memberi ruang pada Josef untuk menghadapi wanita bertopeng.


"tap... " cepat luar biasa tangan Josef sudah menggem rantai kalung di mana bandulnya masih di tangan kiri wanita bercadar.


"Hebat" puji Josef, diam-diam merasa kagum menyaksikan betapa wanita itu tidak melepaskan kalung sesudah disambar hawa dari tangannya, akan tetapi di wajahnya yang santai tidak terpengaruh tenaga dalamnya.


"Zzzakk..."

__ADS_1


Lelaki kurus ini melanjutkan gerakan tangannya dan memegang sebagian bandul kalung yang terbungkus sutera merah kesumba, lantas mengerahkan tenaga membetot. Ia hanya mengerahkan sebagian tenaganya, karena mengira bahwa betapa pun kuatnya, wanita ini tidak akan mampu bertahan. Akan tetapi dugaannya meleset karena kalung itu tidak juga terlepas dari tangan si wanita bercadar.


__ADS_2