IDAMAN HATI

IDAMAN HATI
Tersesat di Tengah Hutan


__ADS_3

"hu hu hu .. Jangan bunuh Timah kakak" Timah menangis makin jadi membuat Arbi merasa iba memandangnya.


"Baiklah kakak tidak membunuh kamu, tapi kamu harus tinggal di hutan ini jangan sampai di temukan Mona"


"Ya kak Timah berjanji untuk melarikan diri ke dalam hutan dan tidak pernah kembali"


"Ayo pergilah, sebelum kakak berubah pikiran" Ardi memberi isyarat dengan pistol di tangannya supaya Timah pergi menjauh.


Walau penuh kebimbangan antara membunuh atau membiarkan Timah pergi, rasa kasihan Ardi lebih kuat Hingga mengizinkan Timah untuk pergi, dengan pistol di tangan siap tembak pandangan Ardi tak lepas dari bidikan hingga Timah lenyap di kedalaman hutan.


"oh tidak aku harus membawa jantung dan hati Timah" Arbi terduduk lesu namun ketika ingat janji janji Mona jiwanya kembali bergolak nafsu membunuhnya kembali menguasainya.


Ardi berjalan tergegas gegas menyusul kepergian Timah hingga jauh ke tengah hutan namun Timah tak terlihat hilang bagai di telan bumi, hingga pada suatu saat dia melihat sebuah pondok kecil di buat secara darurat tak jauh di depannya.


"Hmmm timah pasti ada di sini" guman Ardi langsung mendatangi pondok.


Dengan pistol di tangan Ardi mencoba mengintip dari sela sela dinding pondok yang terbuat dari daun dan pohon kecombrang yang sudah mulai mengering.


"Tolong... aku haus" sura sangat lemah dari dalam pondok.


Arbi memberanikan diri masuk ke pondok di mana ada seorang wanita muda suku Rimba yang sedang terbaring tak berdaya.


"Minum ... haus" ucapnya lemah napasnya sudah sangat deras di kerongkonganny.


Mengertilah Arbi kalau gadis yang ada di pondok sedang sakit keras, menurut pengetahuan Arbi kalau suku rimba akan meninggalkan keluarganya yang sudah sekarat di pondok daun comrang, mereka yang Masih sehat akan pindah ke tempat yang baru karena lokasi keluarga yang sakit di anggap tanah celaka atau tanah pandemi yang tidak boleh di dekati hingga waktu yang lama.


"Ghaooough..." gadis di depan Arbi menghembuskan napas terakhirnya. Melihat ini timbullah ide di benak Arbi untuk mengambil jantung dan hatinya untuk di persembahkan pada Mona.


****


"Kita mendarat di sana" tunjuk Albert menunjuk sebuah pulau, saat melihat kepulawan teratai sudah terlihat jelas dari helikopter.

__ADS_1


Sebuah pulau yang mirip daun teratai dengan tiga sisi yang menonjol di utara, barat dan timur, di kelilingi pulau pulau kecil ini lah alasan dari kelompok bersenjata yang berhasil menguasai pulau dengan nama Bintang Teratai.


"Panglima .. Kita hanya bisa mendarat di pantai utara pulau" Albert terbang makin rendah saat melihat pantai berpasir yang cukup luas untuk pendaratan.


"Kenapa di pantai? Apa tidak bisa lebih ke tengah pulau?". Tanya Fhadlan tidak puas.


"Pertahan udara pulau sangat kuat panglima, hanya seperempat wilayah utara pulau yang masih mereka belum kuasai" jawab Albert yang sangat mengetahui kondisi pulau.


"Kalau begitu biar saya sendiri yang masuk kalian boleh kembali"


"Fhadlan .. Biarkan kami ikut" paman Salim dan beberapa anggota resimen Hamdani ikut turun.


"Tidak paman, kalian kembali saja suatu saat saya akan menghubungi kalian" tanpa menunggu pendapat Salim dan lainnya. Fhadlan melesat bagai anak panah, dengan jurus Saifi angin hanya dalam sekian detik Fhadlan sudah lenyap di tengah hutan, tanpa memberi kesempatan anggota resimen Hamdani mengikutinya.


Seperti bayangan saja Fhadlan berkelebat di antara pepohonan meninggalkan teman-temannya di pantai berpasir. Hingga sore hari Fhadlan makin masuk ke tengah hutan lebat yang tak terjamah manusia. Hutan yang gelap tak tertembus cahaya, makin lama makin gelap dengan jarak pandang sangat terbatas.


Ketika malam tiba, Fhadlan menyadari dirinya sendirian di hutan pandangan matanya pun tak mampu lagi menembus kegelapan malam. Hari sudah sangat gelap, tidak mungkin melanjutkan perjalanan. Dia tersesat dan tak bisa menemukan jalan keluar dari hutan.


Fhadlan mulai membuat hamparan rumput dan dedaunan, kering untuk tempat berbaring, tetapi sebelum dia sempat memejamkan mata, dia melihat ke suatu arah, Ia melihat ada sedikit cahaya, seperti cahaya lampu di sela sela dedaunan. Ia segera bangkit lalu berjalan pergi mendekat ke tempat itu. Ia menemukan bahwa cahaya itu berasal dari sebuah gubuk darurat terbuat dari daun kecomrang.


"Adakah orang di dalam.. aku sedang tersesat bolehkah saya masuk?" Fhadlan berteriak minta dibukakan pintu, Seorang lelaki kekar, dengan pakaian apa adanya, membuka pintu.


"Kamu tidak bisa masuk ke sini," kata pria itu.


"Kenapa ki sanak" tanya Fhadlan.


"Istriku sakit parah. Aku takut dia akan meninggal malam ini. Lihatlah, ada pondok kosong di sana. Tidurlah di sana. Besok akan aku bawakan makan dan minum untukmu."


"Baik ki sanak terima kasih pertolongan nya" Fhadlan menuju pondok yang di maksud.


"Wanita malang..." Fhadlan meloncat kembali keluar pondok" saat melihat tubuh srorang wanita berlumuran darah tergeketak tak bernyawa dengan isi dada sudah kosong.

__ADS_1


Fhadlan akhirnya tidur di bawah pohon besar tak jauh dari pondok pertama. Fhadlan terbangun ketika pagi datang. Dia pergi ke gubuk orang suku rinba. Di dalam pondok dia menemukan pria kekar itu sedang menangisi istrinya yang telah meninggal.Di sisinya ada seorang bayi kecil yang lahir di malam hari itu.


"Bayi kamu selamat, ki sanak" ucap Fhadlan.


"Iya tapi istriku meninggal" tangisnya sedih.


"Ki sanak ayo kita bawa ke puskesmas biar di rawat bidan"


"Tidak kami harus merelakan kuarga kami yang sakit di tanah pandemi" ucapnya.


Pria kekar menggendong anaknya yang baru saja lahir, menonggalkan Istrinya telah meninggal.


"Kita harus mengubur istrimu ki sanak" ucap Fhadlan.


"Kita harus membawa bayi kecil itu ke rumah sakit, bersama kita pergi biarkan bidan yang akan mengurus bayi mu. Dia akan hidup bersama Anda.”


Pria itu berhenti memandang Fhadlan, akhirnya tahu kalau pria yang tersesat dan menginap di situ adalah orang asing berasal dari kota.


" Wahai orang asing" katanya.


"Lakukan sesuai keinginan Anda, Aku sendiri tidak bisa menjaga putraku, karena ibunya sudah meninggal."


'Siapa nama ki sanak" tanya Fhadlan..


"Alfi" jawab alfi singkat.


"Alfi, berikan bayi itu pada ku lalu tunjukkan di mana rumah sakit terdekat"


Setelah mengubur mayat dua wanita suku rimba, mereka berjalan menyusuri hutan hingga sampai di sebuah desa yang sangat ramai, di mana Warga desa Kerajaan Tetatai Utara sedang berbahagia. Di mana kaisar yang memiliki Permaisuri yang konon kabarnya sangat cantik jelita, Akan di bebaskan penguasa pulau teratai.


Kaisar memiliki permaisuri bernama andelia karena wajah permaisuri itu secantik bunga andelion. tidak saja cantik permaisuri juga sangat cerdas.

__ADS_1


__ADS_2