IDAMAN HATI

IDAMAN HATI
Khayalan Timah


__ADS_3

Dipangkuan Fhadlan benar benar Timah merasa nyaman, terasa kasih sayang Fhadlan yang sangat mendalam dalam sentuhan tangannya yang hangat dan lembut, ibarat sosok malaikat tanpa sayap yang bersedia memberikan seluruh kasihnya untuk Timah.


"Jangan terlalu cepat Lan" ucap Timah ingin lebih lama di pangkuan Fhadlan. Timah merasa tidak ada beludru yang selembut pangkuan Fhadlan, tidak ada mawar yang secantik senyumnya, tidak ada jalan setapak yang berbunga-bunga seperti yang tercetak di langkah kakinya.


"Maaf Bunda Ratu, jika tindakan Fhadlan terlalu menyakitkan" Fhadlan mengendorkan pangkuannya.


"Bukan itu masalahnya Lan, tapi tubuh ini yang sedang kesakitan" kilah Timah.


Memang tidak selayaknya Timah menyalahkan pangkuan Fhadlan, wanita manapun yang mengalami keadaan seperti Timah pasti akan setuju klo di pangkuan Fhadlan itu adalah tempat terindah yg paling nyaman?..


"Kamu sudah beristri Lan?" tanya Timah saat Fhadlan memperlambat jalannya.


"Belum Bun, Zaman sekarang untuk meminang wanita, tidak lagi cukup dengan mengandalkan lagu ya Asmara, tapi juga harus bisa melantunkan lagu ya Dana" jawab Fhadlan.


"Maksud kamu bagaimana Lan?" tanya Timah tak mengerti.


"Artinya untuk bisa berkeluarga Pria harus punya 6 digit angka nol di belakang koma, dalam bentuk dolar USA tersimpan di rekeningnya" jelas Fhadlan.


Memang tak bisa di pungkiri itu penomena yang terjadi saat ini, Timah mengerti itu, di Eropah gejala ini juga yang memicu pasangan muda untuk hidup bersama tanpa nikah.


"Kamu cari orang rusia aja Lan, di Rusia pernikahan tidak butuh biaya mahal, sekarang pemerintah punya kebijakan membantu biaya pernikahan, khusus nya pernikahan pria yang mau berpoligami" saran Timah.


"Fhadlan orang kampung di pedalaman Sumatra, kami punya pepatah, setinggi tingginya bagau terbang akan kembali ke kubangan"


"Artinya sejauh jauhnya pria kampung merantau akan menikah dengan gadis kampung juga" ucap Fhadlan.


"Itu bukan aturan kan Lan?" tanya Timah seakan tidak setuju dengan pepatah yang Fhadlan sebutkan.

__ADS_1


"Bukan Bun, tapi ini nyaris seperti Rumus yang tidak meleset, sugesti dari kecil mereka hidup sederhana di kampung, hidup hanya dengan tanam kangkung, tanam terong, ngidup ayam atau pelihara ikan, maka saat mereka dewasa mereka juga merindukan kehidupan sebagaimana masa kecilnya" jelas Fhadlan.


Timah memahami penjelasan Fhadlan dia lebih suka membahas pelajaran tentang strata sosial, sugesti semasa kecil memang sangat menentukan masa depan. Anak yang di sugesti dengan tani semasa kecil, maka setelah dewasa akan berusaha jadi petani. Anak yang di sugesti sebagai pedagang semasa kecil akan berusaha menjadi pedagang saat dewasa. Anak seorang bisnisman akan berusaha jadi bisnisman juga.


"Kamu keliru Lan, justru sugesti diri kamu yang harus berubah, kalau kebahagiaan bangau bukan di kubangan. Kamu harus mengubah image yang telah tersugesti di benak kamu kalau kebahagiaan hidup bukan menikahi gadis kampung, tapi Kebahagian hidup kamu adalah menikahi gadis Moskow" bantah Timah masih belum setuju dengan rumus Fhadlan.


"Terap saja susah Bun, bagaimana mungkin bahagia menikahi gadis Moskow, sedangkan gadis Moskow punya image bahagia itu saat menjadi permaisuri seorang Pangeran tampan. atau permaisuri CEO mapan" bantah Fhadlan.


Timah memberikan senyum manisnya pada Fhadlan, saat tangan Fhadlan terasa membelainya lembut, wanita memang sensitif dengan bahasa cinta melalui sentuhan lembut. Seumur umur baru ini Timah memberikan senyum manisnya untuk pria.


Fhadlan tertegun sesaat memandang timah yang sedang tersenyum, senyum yang hanya mekar sesaat tapi di rasakan Fhadlan seakan menatapnya satu abad. secara reflek fhadlan pun mengecup kening Timah dengan lembut.


Sekalipun mereka tidak bicarakan tentang rasa cinta mereka, namun bahasa tubuh mereka menunjukkan kalau mereka saling jatuh cinta.


'Alangkah baiknya aku hidup seperti orang biasa di kampung bersama Fhadlan' pikir Timah, membenarkan konsep bahagia yang paparkan Fhadlan.


Terbayang betapa indah nya hidup bersama Fhadlan, punya tanah di pinggir kota, dengan rumah kecil seukuran 45 m persegi di tambah garasi, di kelilingi kebun campur sari ada pohon duku, ada pohon rambutan, ada pohon mangga dan ada pohon durian.


Di belakang rumah ada lokasi ngidup ayam, ada lokasi buat kolam yang di isi ikan mas dan ikan Nila, di pinggir kolam masih cukup luas untuk di tanami kangkung dan terong.


Terbayang oleh Timah tiap hari memberi makan ayam kampung, saat sore hari mereka mancing ikan di kolam, panen kangkung, panen terong untuk di jadikan lauk besok harinya.


Terbayang benak Timah kalau tiap hari dia panen telur ayam kampung. Malam nya mereka jual telur ayam kedepot jamu atau bandrek terdekat. Terbayang di benak Timah menerima uang tiga ratus ribu rupiah hasil jual tiga karpet telur ayam kampung, untuk biaya hidup sehari hari.


Namun saat Pangeran di sebut bayangan nya kembali pada Pangeran Andrik, pikiran Timah jadi blenk, perutnya mulai merasa pedih seakan terserang penyakit mag yang sangat akut.


Sangat jauh bedanya saat di pangkuan Fhadlan dibanding saat Timah berada di sisi pangeran Andrik. Apa bahagianya jadi permaisuri kalau tiap hari yang di terima perlakuan dingin dan cubitan dari Pangeran.

__ADS_1


Apa bahagianya jadi Permaisuri saat semua kegiatan selalu diprotokol, mulai dari bangun pagi hingga malam hari sudah ada jadwal, hidup seperti konseption sebagaimana matahari harus terbit di pagi hari dan harus terbenam di sore hari.


Kesedihan Timah makin memuncak saat dia ingat perubahan Pangeran Andik akhir akhir ini, Pangeran yang tadi lembut sekarang kasar entah sudah berapa banyak cubitan dan cengkraman Pangeran mendarat di tubuhnya.


Muka Timah pucat, perutnya melilit, sakit di sekujur tubuhnya kembali terasa seakan cengkraman dan cubitan tangan pangeran belum lepas dari tubuhnya. Sekujur tubuh Timah lemas tergeletak pingsan di pangkuan Fhadlan.


Timah hanya ingat langkah terakhir Fhadlan saat meninggalkan dermaga, Timah hanya ingat terakhir suara Fhadlan memanggil namanya sambil mengguncang tubuhnya dengan lembut.


"Timah.... Timah.... Timah..." jerit Fhadlan panik.


"Timah jangan tinggalkan Fhadlan, berjajilah kamu akan hidup untuk Fhadlan" bisik Fhadlan lembut.


Fhadlan makin panik saat merasakan tubuh timah makin dingin, denyut nadinya makin lemah. Setengah berlari Fhadlan menuju villa Ratu, sabil berteriak minta pertolongan.


"Please oven the door" teriak Fhadlan di luar villa Ratu.


Namum karena telah larutnya malam semua penghuni rumah sudah pada tertidur pulas.


"Any body else" teriak Fhadlan masih berteriak panik.


"Siapa di luar" tanya seseorang.


"Saya Fhadlan... Tolong buka pintunya.. Tolong.. Permaisuri tergeletak pingsan di dermaga" Fhadlan teriak panik.


Penghuni villa ratu berhamburan keluar saat mereka degar Permaisuri Pingsan.


"ohh my god, What happen?" tanya Evelin ikut panik

__ADS_1


__ADS_2