IDAMAN HATI

IDAMAN HATI
Pengorbanan Gadis Bercadar


__ADS_3

"Aiiih.. keparat....." keluh si wanita bercadar, merasa betapa tenaga raksasa membetot kalung sehingga seakan-akan seluruh tubuhnya ikut terbetot, namun dia segera mengerahkan tenaga dalam mempertahankan diri.


"Ha ha ha, ..." jendral Perdinan tertawa senang, saat melihat wanita bercadar mulai terdesak.


"Hmmmmmm" Jendral Cahyono dan Panglima Perdinan diam seperti terpaku menonton pertunjukkan itu dengan penuh perhatian. Jendral cahyono memandang dengan wajah berseri, dengan tenang mengusap dahinya lalu tersenyum-senyum seperti menyaksikan permainan dua orang anak nakal.


"Hiaaaat...." Josef kemudian menggerakkan sedikit pundak kanannya dan ternyata gerakan itu membuat tenaganya bertambah hebat. sang wanita bertopeng penasaran dan tetap mempertahankan kalung dengan sekuat tenaga.


Brettttt...!"


Kain sutera merah kesumba pembungkus bandul kalung hancur lebur tergencet getaran dua tenaga sakti dan sekarang si wanita sudah hampir tidak kuat bertahan lagi, mukanya agak pucat dan napasnya terengah-engah.


"Jangan merusak ajimat, atau nyawa kalian jadi taruhannya" ancam Jendral Cahyono.


Mendengar seruan Jendral Cahyono secara spontanitas Josef mengurangi tenaga betotannya.


"Saudari, kami perintahkan kepadamu agar supaya menyerahkan kalung ajimat kepada Kepada Josef, dan kami akan melepas kan mu" perintah jendral Cahyono panik melihat pembungkus bandul sudah koyak


Dengan segala kerendahan dan kesenangan hati, Jendral yang mulia saya pikir sudah terlambat isi ajimat sudah lebur jadi debu!, ini .... Josef terimalah ...." kata wanita bercadar menambah tenaga dalamnya, kalau tadi dia bertahan menggemgam kalung di tangannya sekarang justru sebaliknya dengan tenaga dalam penuh kalung ajimat di lemparkan pada Josef.


Dia tersenyum dan mengedipkan mata mengejek Josef yang menerima kalung itu. Senyum dan kedipan matanya itu seakan-akan mengatakan bahwa betapa pun juga, Josef itu tak berhasil merampas kalung darinya.


Bahkan si wanita merasa sudah mendapat kemenangan dengan memanfaatkan perintah Jendral Cahyono, dan saat yang dia rasa sangat tepat waktu Josef mengurangi tenaganya si wanita bercadar melepaskan seluruh tenaganya menghantam Josef. Akan tetapi yang diejek tetap tenang dan malah tertawa terbahak bahak.


"Kha.. kha kha... Trik mu terlalu mudah di duga nona" ucap Josef menerima kalung dengan enteng seoerti tak terpengaruh aedikitpun oleh hantaman tenaga dalam yang amat dahsyat.


Josef berjalan santai lalu mempersembahkan kalung tersebut kepada Jendral cahyono.


Mereka bertiga, Jendral Cahyono, Jendral Perdinan dan Josef sendiri memeriksa keadaan kalung. Hal ini juga tak luput dari pengamatan Fhadlan yang masih berdiri tak jauh di belakang Jendral Cahyono.


"Jrndral Perdinan mari kita periksa" ucap Jendral Cahyono memeriksa dan membuka pembungkus bandul kalung, ketiganya menjadi kagum sebab mengenal bandul kalung itu benar-benar merupakan peninggalan Zaman Kediri.

__ADS_1


Bandul yang tadinya terbungkus sutra merah sekarang hanya terlihat terbungkus rapi dengan lempengan timah hitam. Dengan hati hati mereka membuka lempengan timah luarnya.


"Seeet....." terdengar sesuatu robek.


"Ahhhh...." saat menyadari kalau timah luarnya telah robek.


"Palsu" guman Fhadlan yang ikut menyaksikan adegan tersebut.


Fhadlan tau kalau yang asli bukan terbungkus dari lembaran timah hitam. tapi dari kotak yang terbuat dari timah hitam dan kertas yang di pakai bukan dari daun lontar tapi dari sutra yang halus.


Benar kata wanita bertopeng kalau bandul kalung tidak akan bisa di Selamatkan, lembaran timah luarnya masih cukup kuat, tetapi Daun lontar yang di dalamnya sudah terlalu lapuk untuk di otak atik.


"Hati hati Jendral, saya dengar kalung itu bukan ajimat tapi sebuah petunjuk penting tentang perbendaharaan raja Nusantara dan juga petunjuk keberadaan pusaka pedang. Pemegang pedang inilah yang akan berkuasa di akhir zaman" ucap Jendral Perdinan.


"Oooo begitu..... saya pikir tadinya berisi taktik-taktik ilmu perang yang amat penting, atau sebagai ajimat yang memberi efek kekebalan pada senjata tajam" Jendral Perdinan mengingatkan.


"Jendral Perdinan Segera periksa di Labor" Jendral Cahyono merasa tidak bisa untuk membukanya lalu memberikannya pada Jendral Perdinan untuk membukanya.


"Siap ..." Jendral Perdinan menerima lalu menyerahkannya kepada Josef untuk disimpan.


Pengawal lihai yang ini menyimpan menyimpan bandul kalung yang sangat penting itu ke dalam saku bajunya sebelah dalam.


"Sebentar Josef ... " teriak Jendral Perdinan kemudian berdiri di tempatnya sambil mengutuk.


"Celaka, kertas lontarnya berisi bubuk racun jamur merah yang sangat ganas" sambil memperhatikan tangannya yang panas, dan mulai merah secara pelan menjalar dari ujang jarinya.


"Terlambat .. Up up" Jendral Perdinan mengeluarkan tiga butir pil anti racun dari kantongnya lalu di telan satu dan yang lain di serahkan pada jendral cahyono dan Josef.


"Tembak..." kedengeran komando dari medan tempur yang semakin mendekati markas Imperum Balqis Kingdom.


"Buuuuum, bummm, bummm"

__ADS_1


"Treet tet tet tet tet tet"


"Ahhhhhh.. Ahhhh... Ahhhh"


Tembakakan di balas tembakan semakin ramai, Di kejauhan terdengar jerit-jerit tangis kematian dan dentuman meriam serta rentetan senjata berat, di luar terlihat bala tentara yang lari lintang pukang tak sedikit yang terjungkal roboh karena terjangan peluru tajam, semua berusaha mencari tempat berlindung.


Akan tetapi di dalam gedung masih terlihat lima orang yang seperti tidak terpengaruh dengan situasi, salah satunya Fhadlan dan gadis bercadar yang tidak luput dari perhatian Fhadlan.


Gadis bercadar, Jendral cahyono, dan panglima pengamanan luar istana beserta pembantu sekaligus muridnya, terlihat cemas dengan kondisi mereka yang sedang keracunan.


"Crasss... "


"Ahhhhh....." wanita bercadar menjerit kesakitan lalu jatuh terduduk di tengah ruangan.


"Seeet....." Gadis bercadar dengan cepat menarik kembali pedangnya setelah memutuskan memotong tangan kirinya sebatas pergelangan tangan, kemudian menggunakan tangan tangan kanannya merobek pakaian tertera Balqis Kingdom yang tergeketak di depannya.


"Breet....." Gadis bercadar mencoba membalut tangannya yang terputus oleh pedang nya sendiri, darah mengucur deras bagaikan air mancur, mulutnya terakatup rapat dengan gigi terlihat menekan gigitan pada bibirnya menahan sakit yang luar biasa.


"Srrrraaaps......" Dia memnghujamkan pedangnya kelantai sehingga tubuhnya sudah mencelat berdiri di atas lantai yang penuh darah.


"Hyiaaaaat.........." tepat seperti dugaannya, sebelas orang pengawal luar istana yang berhasil mengelak dari serampangan pedangnya sekarang masuk dan maju menusuk atau membacok pinggangnya.


"Hiaaaaat......" Ia berseru keras, tubuhnya kembali meloncat makin tinggi.


buuuuum, bummm, bummm"


"Treet tet tet tet tet tet"


"Ahhhhhh.. Ahhhh... Ahhhh"


Di kejauhan erdengar jerit-jerit tangis kematian dan dentuman meriam serta rentetan senjata berat, di luar terlihat bala tentara yang lari lintang pukang tak sedikit yang terjungkal roboh karena terjangan peluru tajam, semua berusaha mencari tempat berlindung.

__ADS_1


Akan tetapi di dalam gedung masih terlihat lima orang yang seperti tidak terpengaruh dengan situasi, salah satunya Fhadlan dan gadis bercadar yang tidak luput dari perhatian Fhadlan.


__ADS_2