
Kebahagiaan bukanlah materi, istilah ini sedang berlaku pada Timah yang hatinya sangat terluka, walaupun tinggal di Villa Ratu secara kasat mata kehidupan Timah tak ubahnya seorang Ratu dari kerajaan dalam cerita dongeng.
Bagaimana tidak villa yang megah tak ubahnya bak istana pantai yang megah. Setiap kamar yang masing-masing memiliki balkon sendiri, dengan aksesoris berupa ukiran kayu paling halus. Semuanya terkesan mewah mulai dari arsitektur, kenderaan hingga lokasi yang benar-benar istimewa dengan pekarangan dan tempat parkir yang luas, disediakan pemandangan pantai terbaik di Dubai.
Komunitas penghuni dengan dengan pelayan dan dayang dayang istana, siap mengurus semua keperluan Timah setiap saat, punya ajudan pribadi, punya pengawal pribadi, punya penjaga keamanan dengan satpam siaga selama 24 jam.
Tiga hari sudah Timah berkurung diri di kamar, tak ingin di temui siapapun selain dayang dayang dan pelayan Istana. Diperiksanya kembali catatan bantuan Pangeran Andrik untuk keluarganya, dalam angka yang sangat besar sudah tentu tak akan sanggup dia lunasi sekalipun mereka sekeluarga bekerja seumur hidup.
Sekalipun ini tidak tersebut hutang tetapi dalam perjanjian tetaplah semua sudah melekat dalam kontraknya sebagai permaisuri. ada yang aneh di mana villa Ratu yang sekarang resmi menjadi milik Timah tidak tersebut sebagai aset yang berasal dari Andrik group, tapi merupakan hadiah dari seorang bangsawan arab untuk Fatimah alias putri Dubai.
'Alhamdulillah..." Timah merasa lega saat melihat kalau notaris pemindahan hak milik tertanggal sebelum ada kontrak dirinya dengan pihak Andrik Group.
Seperti orang terlilit hutang Timah merasa lega, siapapun yang memberinya hadiah apa motif dan maksudnya, tidak begitu penting, keluarnya villa ratu dari daftar hutangnya sudah sangat melegakan.
"Setidaknya villa ini sudah bisa di gadaikan untuk mengganti bantuan Andrik group" guman Timah.
Semakin dia berpikir untuk mengembalikan bantuan Andrik group, makin membuat batin Timah tersiksa, tentu sangat mustahil mengembalikan bantuan mereka sepuluh kali lipat. Terbayang di mata Timah segala bentuk kesultan di masa depan, bahkan mungkin tekanan tekanan dari Andrik group terhadap keluarganya sebagai sesuatu yang tak tertanggungkan.
"Ampun Bunda Ratu, ini waktunya bunda mandi dan membersihkan badan" ucap Jamilah hormat, lalu berusaha untuk mengangkat tubuh Timah yang terbaring lemah.
Jamilah adalah seorang dayang dayang yang ditugaskan Pangeran Andrik untuk mengurus keperluan Timah sehari hari.
"Biar saya lakukan sendiri" ucap Timah.
"Ampun Bunda Ratu, tapi bunda masih belum sehat" ucap Jamilah.
"Tidak usah, cukup bantu bunda ke kamar mandi" ucap Timah saat merasa tubuhnya sudah tidak kuat berjalan.
Dengan di papah Jamilah menuju kamar mandi, Timah mulai membersihkan tubuhnya dilihat nya bayangannya di cermin sudah sangat kurus, di banding tiga hari yang lalu rambutnya sudah tak terurus hampir menyerupai tampilan orang tidak waras, sangat lama Timah terpaku memandang bayangannya di cermin hingga suara Jamilah yang mengguatirkannya menyadarkan lamunan Timah.
"Ampun Bunda Ratu, izinkan saya membantu" ucap Jamilah cemas setelah sekalian lama Timah tak luar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Gak usah Mil, ini juga sudah mau selesai" ucap Timah sambil gosok gigi.
Benar saja tak lama kemudian Timah muncul dari kamar mandi dengan bertopang pada kunsen pintu agar tubuhnya kuat berdiri.
"Ampun Bunda Ratu, biar saya papah" ucap Jamilah tergopoh gopoh menyambut tubuh Timah yang sempoyongan.
Walaupun merasa risih, tapi kondisi tubuh dan susasana hati Timah yang sedang galau, dia membiarkan Jamilah melakukan tugasnya ganti baju, nyisir rambut bahkan merias wajahnya.
"Kamu bisa di andalkan .. Mil" ucap Timah sangat puas melihat hasil kerja Jamilah di cermin.
****
"Ampun bunda' Bunda Ratu" ucap Eveline menghormat.
"No... no...no... Persetan dengan aturan Andrik group itu tidak berlaku buat kamu Va, Timah tak mau makan jika kamu memperlakukan Timah seperti itu lagi, Va" protes Timah dengan sikap hormat Eveline yang berlebihan.
"Okay Bun... maaf Eveline cuma sangat kuatir dengan kondisi Timah" ucap Eveline.
"Baik, lantas apa baiknya menurut Eva?" tanya Timah minta nasehat.
"Sudah tidak yakin Va, ibarat gelas yang jatuh pecah berderai tak mungkin utuh kembali" ucap Timah.
"Kamu harus bisa Bun, kelihatannya Pangeran sudah punya niat baik untuk berbaikan dengan Bunda Ratu" ucap Evelin.
"Tidak sekarang Va, sudah sangat susah mempercayai janji pembohong, perlu waktu lama dan pertimbangan yang sulit untuk bisa menerima Pangeran seperti sedia kala" ucap Timah.
"Waktu akan tetap berlalu tanpa perlu mempertimbangkan situasi yang dapat berubah ubah tiap waktu, oleh karena itu jangan siasiakan hidup Bunds, supaya tidak menyesal di masa depan" Evelin yang sangat prihatin dengan kondisi Timah coba memberi semangat saat acara minum Gahwa di sore hari.
Dari arah dermaga yang tidak begitu jauh dari villa Ratu terdengar sayup siulan seseorang melantunkan sebuah pantun melayu.
"Kucing lah kurus mandi di papan, mandi di papan"
__ADS_1
"Mandi ba timbo si batang padi"
"Badan ku kurus bukan lah dak makan, bukan dak makan"
"Mikirin hati si jantung hati"
"Okay Va, diskusinya nanti kita lanjutkan"
Seperti mendapat tenaga tambahan Timah, yang tadi sempoyongan berdiri menuju ke meja rias.
"Mil... tolong rias bunda secantik mungkin" pinta Timah pada Jamilah, dia ingin tampil lebih cantik.
"Ampun bunda ratu, siap di laksanakan" ucap Jamilah patuh.
Jamilah menghampiri meja rias dan mulai mendandani Timah, dari sisir rambut, alis hingga pewarna bibir pun di pasang. Mata Timah tak lepas dari bayangannya di cermin, memperhatikan hasil kerja Jamilah dia benar benar puas.
"Mil... Antar bunda ke dermaga" pinta Timah.
"Ampun bunda, bunda belum begitu sehat, apa kata Pangeran jika terjadi apa apa dengan Bunda Ratu" ucap Jamilah.
"Kamu jangan kuatir, lakukan saja tugas mu" titah Timah.
Timah mulai melangkah meninggalkan meja rias menuju dermaga, tubuhnya yang tinggi semampai kini terlihat langsing, dengan gaun yang longgar, sudah seperti layang layang siap di terbangkan angin kapan saja. Tidak mengurangi kecantikan nya tapi bahkan akan membuat iba setiap orang yang memandangnya.
Tanpa menunggu kesediaan Jamilah, dengan lemah gemulai Timah terus melangkah, Seolah seperti sudah mengalami sakit berbulan bulan, wajah nya yang pucat makin pucat sudah seperti mayat.
Timah tak tau untuk siapa dia berdandan, dia ingin terlihat cantik dari biasanya, dia hanya ingin menghibur diri di dermaga. siulan yang sayup terdengar seperti nyanyian jiwanya yang gundah gelana. Dia ingin mendekat sumber suara, dia ingin dengar dan melihat siapa yang sedang bersiul.
"Lan kamukah di sana?" tanya Timah saat melihat pria duduk di ujung dermaga yang hanya terlihat punghunngnya, sedangkan mukamya menghadap ke laut.
"Iya...Bunda sudah sehat?" tanyanya tanpa menoleh.
__ADS_1
"Mil tinggalkan bunda sendiri" ucap Timah pada Jamilah yang setia mengikutinya.
"Ampun Bunda Ratu, Jamilah takut apa kata Pangeran Andrik nanti kalau Jamilah tinggalkan Bunda Ratu bersama pria asing" ucap Jamilah, terlihat rasa takut yang luar biasa dari mimik wajah nya.