IDAMAN HATI

IDAMAN HATI
Eksekusi


__ADS_3

"Saat ini Arbi dan bangsawan pulau teratai utara di tawan dan di jadikan budak tambang kaisar pulau teratai" kembali Jamilah meyakinkan Mona.


Adi adalah paman Arbi Sekaligus Martua Arbi dan sekaligus penguasa pulau teratai utara, Dalam Perang perebutan Kekuasaan, lelaki yang berjulukan “singa Utara” itu berhasil menghabisi banyak Prajurit Bintang Teratai penguasa saat ini. Pertempuran yang di pimpin Adi singa Utara selalu memberikan kemenangan gemilang sekaligus kekalahan yang memalukan bagi penguasa pulau Teratai. kematian Adi tentu sangat menyakitkan dan menjadi dendam kesumat keluarga nya.


"Baik... kalau begitu kita akan ke tambang ya mil"


"Benar Bunda" jawab Jamilah.


Kebencian dan dendam Mona sangat besar terhadap Timah terutama semenjak keberadaan Timah di pulau Teratai. Wanita ini pun secara sembunyi sembunyi akan mengadakan semacam sayembara. Yakni, siapapun yang berhasil membunuh Timah itu akan diberi harta dalam jumlah besar.


Saat Jamilah mengajukan seorang bangsawan pulau teratai utara yang tertawan dan di jadikan budak tambang, Mona langsung terima ini adalah suatu yang tepat dan tidak begitu berresiko, Maka diaturlah sebuah pertemuan dengan Arbi di sebuah desa terpencil di perbatasan pulau utara.


Hampir tengah malam waktu yang di sepakati untuk pertemuan dengan Arbi, dari sore Mona beserta beberapa pengawalnya menunggu di sebuah rumah penduduk desa yang tetetak di pinggir desa tak jauh dari pertambangan di mana tempat Arbi di pekerjakan.


"Ampun.. Bunda Mona mereka datang" ucap pengawal.


Kelihatan di luar seorang pria dalam keadaan terbelenggu di kawal keamanan bersenjata lengkap memasuki pekarangan rumah.


"Bawa target masuk, yang lain tunggu di luar" perintah Mona.


"Siap bunda Mona" pengawal segera laksanakan tugas, dengan langkah terburu buru lalu kembali membawa Arbi untuk menghadap Mona.


"Pegawai... Lepaskan belenggunya"


"Tapi bunda Bunda Mona"


"Tidak usah kuatir, lakukan saja tugas kamu" ucap Mona menepis ke kuatiran pengawalnya.


"Kamu juga tunggu di luar" ucap Mona pada pengawal yang masih berdiri di situ.


"Bunda Mona perlu apa menemui saya" ucap Arbi dingin.


Arbi yang ditawan dan di jadikan budak, selalu mencari-cari kesempatan bebas untuk melampiaskan dendamnya. masih kurang percaya jika Mona akan membantunya. Sebaliknya dengan mona juga memperhatikan Arbi, untuk meyakinkan kalau Arbi bisa di andalkan. Gayung bersambut saat mereka punya tujuan dan kepentingan bersama, saat mereka bertemu pertama kali mereka sudah saling percaya.


"Wahai budakku, maukah engkau bebas dari perbudakan'' Mona menggenggam Jemari Arbi dengan lembut.

__ADS_1


"Tentu saja, tapi bagaimana caranya?" tanya Arbi.


“Bila engkau berhasil membunuh Fatimah Ibrahimova, maka engkau kubebaskan dari perbudakan." kata Mona


“Siapa yang menjamin kebebasanku bila aku berhasil?” tanya Arbi.


“Tentu saja saya sendiri calon Permaisuri Bintang Teratai, yang akan melakukannya!”


"Apa jaminannya", tanya Arbi Lagi.


"Bunda mona Jaminannya, sayang" Mona berdiri mendekat hingga bagian tubuhnya bisa mersentuhan dengan Arbi.


"Wahai Arbi, sembuhkanlah sakit hati bunda Mona. Tuntutkan bela pada kaisar atas kematia paman kamu dengan membunuh Timah kekasihnya"


"Selain saya di bebaskan apa yang akan bunda Mona berikan jika Arbi berhasil menjalankan misi?"


Sambil memegang anting-anting, permata yang mahal, serta kalung emas yang melilit lehernya dengan jari-jari yang penuh dengan kebencian, dan dengan pandangan yang tajam, Mona berbisik kepada Arbi.


“Jika kamu dapat membunuh Timah, semua ini menjadi milikmu.” ‎


"Kamu juga akan memiliki tubuh bunda Mona untuk beberapa hari" bisik Mona


"Bawalah Timah ke hutan yang paling sepi, ke tempat terpencil, dan bunuhnya dia sampai mati"


"Kapan saya harus melakukan nya?" tanya Arbi tidak sabar.


"ya sekarang sayang" ucap Mona.


"Okey Arbi setuju"


"ini Bunda Mona akan bayar uang muka sebesar dua juta dolar" Mona menyerahkan amplop coklat berisi dua juta dolar.


"Sebagai bukti bahwa dia sudah mati, bawakan jantung dan hatinya kembali pada Bunda Mona, saat itu sisa pembayaran beserta bonusnya akan kamu terima”


"Okay, Arbi pastikan besok sore Bunda Mona akan menerima jantung dan hati Timah di sini"

__ADS_1


Setelah terjadi kesepakatan pengawal Mona di perintah untuk memenuhi semua kebutuhan Arbi selama menjalankan misi. Arbi juga minta kendraan terbaik sesuai kondisi jalan di perdalaman dalam melaksanakan titah tersebut.


"Jamilah bawa Timah keluar" pinta Mona pada Jamilah.


"Iya bunda.. kami datang menghadap" Jamilah membawa timah kehadapan Mona.


"Saya datang menghadap Bunda Mona" ucap Timah terlihat sangat takut berhadapan dengan Mona. Timah yang kehilangan ingatan masa lalunya seperti linglung harus bagaimana.


"Timah kenalkan ini kakak sepupu Timah di kampung ingin ketemu Timah" ucap bunda Mona.


"Kenalkan kakak Arbi, sepupu Timah datang kesini berencana untuk mengajak Timah ke desa untuk melihat orang tua Timah yang sakit keras". Arbi mengulurkan tangan.


"Apa, orang tua Timah Sakit" hanya sekejap bayangan ibu Timah terlintas di benaknya, tapi itu sudah cukup membangkitkan rasa rindu Timah yang haus kasih sayang.


"Kita tidak punya waktu banyak, kondisi orang tua Timah sudah sangat parah"


"Ayo segera pergi kak" ucap Timah menyandang tas pakaian yang di siapkan Jamilah.


****


Sebelum fajar menyinsing Arbi memarkirkan mobilnya di tengah hutan tempat di mana tidak memungkinkan lagi melanjutkan perjalanan dengan kendaraan roda empat.


"Ayo turun kita sudah sampai" ucap Arbi pada Timah,


"Kakak sepupu, kamu mau bawa Timah ke mana, di sini tidak ada tempat tinggal, ibu Timah di mana?" tanya Timah.


"Ibu kamu di hutan sana, ayo jalan"


Timah merasa ada yang tidak baik dengan kelakuan Arbi, mukanya kadang terlihat sangat tegang, membuat takut dan curiga Timah, namun tetap saja dia berjalan di belakang Arbi yang berusaha menguak ranting pepohonan yang masih basah, suasana masih gelap kalau pun matahari sudah terbit, cahayanya tidak akan sampai kedasar hutan.


"Kenapa berhenti kakak sepupu" tanya Timah saat melihat Arbi berhenti di tangannya sudah tergenggam pistol yang di acungkan ke kepala Timah.


"Maaf Timah, kakak harus membunuh kamu" ucap Arbi.


"Kenapa kakak ingin membunuh Timah" Timah mulai gemetar ketakutan melihat keseriusan ancaman Arbi.

__ADS_1


"Ini perintah Bunda mona, berbaliklah jangan menatap kakak, kakak tidak tega melihat muka kamu" pinta Arbi.


"Hu hu hu, sudah Timah duga bunda Mona akan sejahat ini" Timah menangis pilu, ketika diminta Arbi berbalik memunggunginya.


__ADS_2