
"Kamu jangan kuatir Mil, saya yang akan lapor ke Pangeran, kalau Jamilah sudah melakukan tugas dengan baik" ucap Timah.
Dengan langkah ragu dan wajah penuh ketakutan, Jamilah pergi meninggalkan Bunda Ratu di darmaga bersama Fhadlan.
"Aku merindukan mu Lan!" ucap Timah setelah duduk di sisi Fhadlan.
"Aku juga Bun" ucap Fhadlan.
Mereka saling tatap sangat lama seakan ingin menyelami isi hati masing masing. Fhadlan terpana saat Timah duduk hanya dalam jarak setengah meter di depannya, mereka saling pandang tak bergerak seperti arca, lama sekali mereka bertatapan dalam diam namun pandangan mata mereka seperti berbicara, masing seperti larut dengan kenengan tentang pertemuan mereka, dan manisnya pengalaman yang mereka alami bersama.
Timah memandang Fhadlan dengan perasaan campur aduk hampir tak percaya kalau Fhadlan yang berada di depannya, adalah pahlawan yang dia rindukan, pahlawan yang sudah tiga kali menyelamatkannya, Pahlawan hati Timah, yang karenanya dia ingin hidup lagi.
"Timah" guman Fhadlan.
"Fatimah" guman Fhadlan penuh makna. saat mata mereka bertemu rindunya terhadap Timah bangkit tak kuasa dia sembunyikan lagi.
Seumur umur Fhadlan hanya tertarik pada wanita dua kali, pertama pada Giza dan kedua pada Timah. Sama seperti Timah juga hanya dua kali tertarik pada pria yakni, sama Zuhrik dan kedua sama Fhadlan. Mereka seperti punya banyak kesamaan dalam percintaan, Timah melihat Zuhrik tidak ada apanya, setelah bertemu Fhadlan.
"Kak Fhadlan" senyum manis timah memgembang, ini untuk kedua kalinya dia tersenyum manis.
Saat Fatimah memandang mata Fhadlan, kegembiraan Timah tiba tiba bergejolak seolah baru saja menemukan barang sudah lama hilang. Pandangan mata yang selalu dia rindukan yang membangkitkan gairah hidupnya. Tiba tiba ada sebuah dorongan yang sangat kuat dalam diri Timah untuk dipeluk Fhadlan. Hampir saja kaki Timah melangkah menghambur kepelukan Fhadlan. Namun bayangan Pangeran Andrik yang sangat kejam menghentikan langkahnya.
"Kamu terlihat kurusan.. kak" komentar Timah.
"Kamu juga terlihat kurus Mah" balas Fhadlan, lalu diam memperhatikan Timah seperti tak percaya kalau Timah yang dia lihat tiga hari yang lewat, sekarang terlihat kurus dengan wajah memcerminkan penderitaan bathin yang sangat hebat.
"Wahai Timah, aku mencintai mu dengan sepenuh hatiku" rintih Fhadlan hampir tak berdaya menguasai perasaan rindunya pada Timah.
"Oh my god, kak Fhadlan... benarkah apa yang baru saja Timah dengar?" tanya Timah.
"Yes Timah... I love you forever" ucap Fhadlan.
"Kak.. Timah juga mencintai kak Fhadlan" balas Timah menatap Fhadlan
Ingin rasanya Fhadlan meminang Timah saat itu juga, tapi saat teringat akan kontrak Timah dengan Pangeran Andrik, membuat Fhadlan mengurungkan pinangannya.
__ADS_1
"Timah...." panggil Fhadlan.
"Ya kak" jawab Timah.
"Kita tak mungkin hidup bersama Mah, karena kita punya keadaan yang berbeda, kamu sudah punya pangeran Andrik, saya juga punya pekerjaan dalam waktu dekat di wilayah yang sangat jauh" ucap Fhadlan membatalkan niatnya meminang Timah.
"Kak Fhadlan, please jangan membenci Timah ya, jika kakak inginkan sesuatu dari Timah katakan saja pasti akan Timah berikan" Ucap Timah.
Timah berdiri di depan Fhadlan sambil melihat lihat tempat yang terasa nyaman untuk mereka berbincang bincang.
"Kak Fhadlan ... ikuti Timah kak" bisik Timah di samping Fhadlan.
Fhadlan kembali terpukau mendengar ucapan Timah, entah kenapa tiap Timah bicara hatinya menjadi nyaman, suaranya begitu merdu di telinga Fhadlan, hatinya menjerit Tapi lidahnya kelu. Fhadlan hanya diam membisu tak mampu berbuat apa apa.
"Kak Fhadlan ... ayo ikut Timah" ajak Timah lagi saat liat Fhadlan masih mematung.
Tubuh Fhadlan gemetaran saat Timah berbisik di telinganya, nafas Timah tersa begitu dekat di telinganya, aroma farpumnya yang lembut semerbak mewangi. Hampir saja dia jatuh terduduk, karena kakinya gemetear hebat menahan rasa rindu yang luar biasa.
Timah menggenggam jemari Fhadlan membawanya ketempat di mana Fhadlan membawanya saat menyelamatkannya di ujung dermaga. Mereka duduk di kursi yang sama menghadap ke laut, dimana dari tempat tersebut, mereka bisa melihat matahari saat mulai tenggelam.
Timah seperti melayang di angkasa hilang akal sehatnya, kekuatan itu telah menghilangkan kesenjangan antara dirinya dan Fhadlan, menghilangkan jarak dan waktu antara dia dan Fhadlan, kekuatan yang merobohkan tembok penghalang antara dirinya dengan Fhadlan. Itulah kekuatan cinta yang dia rasakan.
"Kak Fhadlan" panggil Timah, matanya sayu memandang Fhadlan, Tangannya mulai meremas jemari Fhadlan dengan lembut.
Fhadlan merasa kalau Timah engan untuk melepaskan genggamannya, Fhadlan pun balik menggenggam jemari Timah seperti tak ingin berpisah selamanya.
"Iya Mah" jawab Fhadlan singkat.
Kekuatan cinta membuat mereka punya keberanian, dimana selama ini dia tidak pernah berpikir untuk menyatakan cinta. Kekuatan cinta telah menghancurkan belenggu hati yang selama ini terkekang oleh perbedaan status.
"Kak Fhadlan mau kan jadi suami, Timah?" tanya Timah tak tahan memendam perasaannya.
"Mana mungkin, Mah" jawab Fhadlan.
"Status Timah adalah calon Permaisuri Pangeran Andrik, siapa yang berani berurusan dengan Pangeran Andrik, kecuali yang mau kepalanya terpisah dari badannya" ucap Fhadlan.
__ADS_1
"Tapi kak Fhadlan mau kan?" ulang Timah.
"Mau sih, tapi mustahil bisa di ujud kan" Fhadlan menarik napas dalam.
"Terima kasih kak Fhadlan, biar timah usahakan memutus kontrak dengan pangeran Andrik" jelas Timah.
"Jangan lakukan itu, Timah"
"Kak Fhadlan tidak ingin merebut milik orang" ucap Fhadlan.
Kembali mereka diam membisu seperti mencari solusi yang tak mungkin ada, Timah berpikiran sama dengan Fhadlan siapa yang berani berurusan dengan Pangeran Andrik, keselamatan Fhadlan lebih utama bagi Timah.
"Kak Fhadlan .... Bisa temani Timah ke pusat perbelanjaan?" pinta Timah.
Fhadlam mengangguk tanda setuju "Timah mau cari apa?" tanya Fhadlan.
"Kak Fhadlan kan mau pergi ke tempat kerja yang jauh, Timah ingin berikan hadiah buat kakak sebagai ucapan terima kasih buat kak Fhadlan, telah menyelamatkan Timah" jelas Timah.
"Tidak usah, kakak iklas menolong Timah" ucap Fhadlan nolak.
"Tapi Timah ingin memberi sesuatu yang bisa di ingat kak Fhadlan selamanya, Timah tak ingin kak Fhadlan melupakan Timah" jelas Timah
"Okay.. kalau begitu, ayo pergi" ucap Fhadlan.
Seperti serempak mereka berdiri segera meninggal kan dermaga, menuju pusat perbelanjaan tak jauh dari Villa Ratu.
"Cari makan dulu ya kak, Timah lapar" Kehadiran Fhadlan sudah menimbulkan selera makan Timah.
"ayo... kak Fhadlan juga lapar" ucap Fhadlan setuju.
Timah membawa Fhadlan ke sebuah restoran di pusat perbelanjaan, setelah menikmati beberapa kuliner dan minuman, Timah mengajak Fhadlan membeli berapa potong kemeja, baju kaos, celana dan sepatu merek terkenal, juga ikat pinggang.
"Kak Fhadlan, coba pillihkan mana cincin yang kakak suka" pinta Timah saat mampir di toko perhiasan.
"Untuk siapa, mah?" tanya Fhadlan mencari model yang paling dia sukai.
__ADS_1