
"Jangan lewat situ Lan, biasanya di sisi sisi Taman ada parit parit perlindungan, kita bisa lewat menyusuri paret untuk mmrndekati permukiman" kata paman salim yang memahami keadaan pulau.
"Tiuuuu.... tiuuuuu" tambakan makin gencar Fhadlan dan Salim merasa ada peluru lewat sangat dekat kepalanya, salim pun jatuh ke depan ke dalam parit.
"Paman Salim..." ucap Fhadlan melompat ke parit, lalu mengguncang tubuh salim.
Fhadlan agak merasa lega saat Bunyi letupan dan desingan peluru mendadak berhenti setelah mereka jatuh ke dalam parit.
"Paman .... " Fhadlan masih mengguncang tubuh salim.
"Ya Fhadlan.... Aku hanya berpura-pura ditembak," katanya paman salim bangkit.
"Ahk paman bikin panik Fhadlan aja" ucap Fhadlan.
"Prak...prak...prak..prak.." Beberapa saat kemudian terdengar suara derap langkah beberapa orang makin mendekat.
"Sssssssttt" fhadlan meletakkan jari telunjak di bibir meminta paman Salim diam.
"Beberapa orang sedang berjalan kearah kita Lan" ucap paman salim Cemas.
"Tahan napas" bisik Fhadlan, lalu berbaring melintang di atas tubuh Salim, dengan lengan salim yang tertembak melingkar di dada Fhadlan. Fhadlan menggunakan teknik pernapasan suci sehingga terlihat tidak bernafas lagi.
"Mereka telah tertembak dan sudah tak bernapas" ucap orang yang melihat ke dalam paret.
"Biarkan mayatnya membusuk," kata militan lain.
"Salim sang Pembelot" ucap orang pertama.
"Biarkan dia membusuk dimakan 4njing." ucap teman mreka yang lain meninggalkan Fhadlan dan Salim yang tumpang tindih di parit.
Pada saat itu Salim meraba nadi Fhadlan yang diam seperti mati.
"Kamu masih hidup kan Fhadlan?" tanyanya sangat cemas.
"Masih paman' ucap Fhadlan bangkit.
Mereka menunggu sekitar 5 menit, sampai tak ada suara suara dari atas paret. hingga yang ada hanya keheningan.
__ADS_1
"Sekitar setatus meter jauhnya menelusuri paret kita akan masuk ke selokan pembuangan limbah, kita lebih aman lewat pinggir selokan" ucap Salim.
Dengan merangkak mereka akhirnya berhasil sampai ke tepi selokan pembuangan limbah, di mana rumput rumput liar memberinya beberapa penutup. Pinggiran selokan terasa sangat aman kembali mereka kembali mengendap endap berjalan setengah merangkak menuju permukiman.
Fhadlan dan salim memperhatikan keadaan tidak seperti yang mereka duga di mana mana terlihat orang berpakaian militer sedang patroli, salah satu lewat sangat dekat dengan Fhadlan di dadanya terlihat jelas lambang teratai berdaun tiga disulam benang emas di dadanya. Fhadlan mengurungkan niatnya untuk naik kembali ke paret di mana pak salim bersrmbunyi.
"Angkat tangan, jangan bergerak dan Jawab dengan jujur" ucap Fhadlan menodongkan pistol ke arah Salim.
"Ampun Fhadlan ... " Salim gemetaran saat pistol di tangan Fhadlan nempel di keningnya.
"Paman salim pasti mengenal mereka kan?" tanya Fhadlan.
"Benar Fhadlan...tapi paman bukan bagian dari mereka" salim masih terlihat gemetar.
"Ceritakan tentang mereka" pistol Fhadlan masih nempel di kening salim.
"Baik tapi turunkan dulu pistolmu dari kening paman" pinta Salim.
Fhadlan menurunkan pistolnya tapi masih dalam posisi siap tembak, memberi isarat supaya salim bercerita.
"Hmmm ... itu makna bunga teratai bersulam emas di dada kiri meteka ya?" tanya Fhadlan.
"ya tapi benang sulaman menjadi pembeda jabatan mereka, benang emas itu artinya perwira tinggi, perak perwira menengah sedangkan yang bersulam benang putih hanyalah prajurit biasa" jelas Salim.
"Yang datang kesini pemimpinnya Jendral Gibran seorang mantan Resimen Hamdani, saat ini di pulau teratai sedang terjadi pesta demokrasi pemilihan Kaisar, salah satu calon kuat saat ini adalah Jendral Gibran, dia datang ke sini minta dukungan dana dari Hamdani group"
"Paman mu Hamdani menolak, tapi dia memaksa dengan nendudki pulau" jelas Salim.
"Hmmmm Gibran" guman Fhadlan mengingat teman seperjuangannya selama di Resimen Hamdani.
Penjagaan makin ketat setelah mereka di ketauan memasuki pulau, suatu hal yang di luar perhitungan mereka. sniper mereka berjaga sepanjang waktu, hampir tiap menit patroli bolak balik memastikan tidak ada yang patut di curigai.
"Gedung yang mana tempat gibran berada?" tanya Fhadlan.
belum sempat pak salim menjawab pertanyaan Fhadlan, kembali terdengar langkah seseorang yang patroli mengitari paret.
"Suuuuut" terdengar seperti suara marcon terbang, saat sebuah granat tangan di lontarkan pada mereka.
__ADS_1
Reflek Fhadlan melemparkan kerikil dan tepat mengenai benda tersebut.
"Tak .. bummmmm" granat tangan tersebut melenceng kemudian meledak tak jauh dari mereka.
Pasir berhamburan debu dan kerikil berterbangan membuat jarak pandang menjadi terbatas.
"ck ck ck... Luar biasa anak muda kamu benar benar pahlawan, kamu memang pantas menjadi seorang panglima perang, kenyataan yang paman lihat hari ini, ternyata lebih dari Apa yang paman dengar selama in,i bahkan kenyataan yang paman lihat lebih dari Cerita yang melegendaris" ucap Salim menepuk bahu Fhadlan.
Namun, proses penyelamatan tidak pernah semudah perencanaan. Komplotan Bintang Teratai mengetahui rencana operasi penyelamatan tawanan, sudah tentu mereka akan mempersiapkan strategi untuk menghambat Fhadlan membebaskan Hamdani.
Mengetahui persembunyian Fhadlan tiga orang berlari mendekat dengan senapan mesin mulai memuntahkan peluru.
"Treet Treet Treet" Fhadlan berhasil keluar dari paret dan membalas tembakan mereka.
"Ahhhhh ahhhh ahhhh" tiga anggota Bintang Teratai.
"Kerahkan semua milisi cadangan, target sudah di temukan" ucap komandan mereka.
"Pasukan penyelamat akan tiba sekitar lima menit perjalanan untuk bisa sampai di lokasi kita terperangkap, Apa yang harus kita lakukan, mereka sangat kuat... Lan"." ucap Salim
"Tar tar tar tar" kembali rentetan tembakan makin gencar ke arah mereka.
Pasukan Bintang Teratai kembali mengepung, jarak antara mereka makin dekat, salim makin cemas "Tidak ada jalan untuk yang melarikan diri, kita harus bertahan dengan sisa amunisi dan kekuatan yang ada"
"Tar tar tar tar" kembali Fhadlan balas nenembak.
"Ahhh ... ahhh ... ahhhh" tiga orang pemberontak yang berusaha mendekat roboh hanya berjarak sepuluh meter dari mereka.
Hingga lima belas menit berlalu aminisi mereka makin menipis, seranngan kelompok bintang teratai makin gencar bantuan mereka terus berdatangan. Fhadlan mencoba memperhatikan posisi komandan mereka.
"Bertahan di sini paman Salim" ucap Fhadlan kembali melompat keluar paret, sebelum musuh menyadari pisisi fhadlan, senjata di tangan Fhadlan sudah memuntahkan peluru menembaki anggota Bintang Teratai terdekat.
Jerit kesakitan dan suara gedebuk mereka yang terterjang peluru terdengar gaduh, membuat panik anggota yang lain. Fhadlan melesat kearah Komandan yang selalu memberi komando dari balik tembok bangunan di sebelah kanan posisi mereka.
'Tak sakah ini pasti pimpinan mereka" pikir Fhadlan memperhatikan Seorang dengan sulaman bunga teratai emas di dadanya.
"Duuuuus.... suiiiiiit" sebuah gerakan hebat Fhadlan melesat kearah komandan, dengan jurus saipi angin secepat kilat Fhadlan bergerak menyambar tubuh sang Komandan lalu kembali melesat ke parit perlindungan di mana paman salim berada.
__ADS_1