IDAMAN HATI

IDAMAN HATI
Power of love


__ADS_3

Napas Timah tinggal satu satu, rasa panas di dadanya seperti bara api yang menghanguskan jantungnya, hawa dingin yang membekukan mulai nenjalar dari ujung kakinya, sedikit demi sedikit naik ke betis hingga pinggang.


Timah benar benar tak bisa lagi bergerak, bahkan untuk bernapas Timah sudah tak punya tenaga. Pandang matanya mulai gelap dan kesadaran Timah pun hilang kembali.


***


"Bagaimana keadaan Timah dok?" tanya Fhadlan dan Eveline saat seorang berpakayan dokter nongol di ruang keluarga.


"Dimana patien yang sedang kritis?" seorang dokter masuk dengan langkah tergesa bertanya pada Fhadlan.


"Sudah di bawa ke klinik kesehatan" jawab Fhadlan heran, kenapa dokter malah bertanya keadaan patien.


"Apa.... " tanya Dokter lebih heran.


Fhadlan menceritakan apa yang terjadi, kalau ada dokter mengaku sebagai dokter pengganti, yang bertugas hari ini menggantikan dokter yang sedang cuti.


"Hmmmm... saya akan cek di klinik kesehatan" ucap dokter berbalik tanpa menunggu jawaban tuan rumah.


Tanpa komando Fhadlan mengikuti dokter yang berjalan tergesa gesa menuju ke klinik di mana dokter bertugas. Klinik kesehatan merupakan sebuah bangunan yang menanggani keluhan kesehatan di Fhadlan Island. Sebuah bangunan yang cukup besar dengan tempat parkir yang cukup luas, agak terpencil dan terpisah dengan area bangunan lain.


Di ruang klinik kesehatan Dua orang yang tadi ikut membawa tandu untuk Timah, sedang sibuk membuat dokumen kronologi kematian Timah. melihat dokter dan Fhadlan memasuki ruangan, mereka tergesa gesa memberi hormat.


"Selamat pagi ... mister!" ucap mereka serempak.


"Ini dokumen kematian patien atas nama Fatimah Ibrahimova" salah satu mereka menyerah kan sebuah dokumen untuk di periksa dan di tanda tangani.


Dokter memeriksa dokumen tertulis penyebab kematian adalah "Faktor kelelahan dan kehilangan cairan tubuh"


"Innalillahi wainnailaihi rojiun" ucap dokter.


"Siapa yang periksa?" tanya dokter.


Sebagaimana cerita Fhadlan, petugas klinik menceritakan kalau ada dokter mengaku sebagai dokter yang di tugaskan, menanggani patien atas nama Fatimah Ibrahimova. dokter cukup bingung tidak bertanya lagi. dokter pikir ini mungkin karena keadaan darurat, sangat wajar kalau ada yang di tugaskan untuk menangani pasien lebih cepat.


Tidak dengan Fhadlan yang melihat ini sebagai suatu yang sangat janggal.


"Boleh saya lihat di mana mayat pasien?" tanya Fhadlan.


"Silahkan, ayo kalian antar tuan ini melihat pasien untuk terakhir kali sebelum di masukkan ke kantong mayat" perintah dokter.


"Mari tuan" salah satu dari petugas klinik yang berjaga berdiri, memberi istrahat supaya Fhadlan mengikutinya.

__ADS_1


Fhadlan berjalan melewati lorong lorong yang berliku liku dan gelap, hingga mereka sampai di sebuah bangunan terpencil bertuliskan "kamar mayat".


"Yang ini tuan" ucap petugas klinik menujuk mayat seseorang yang terbujur kaku di pojok ruangan.


"Fatimah.. hu hu hu" Fhadlan tidak bisa lagi menahan tangisnya saat pandangan matanya tertuju pada, sosok Timah yang terbaring kaku di selimuti kain putih dari kepala hingga kaki.


"Sabar tuan, ini musibah.." petugas mencoba menyabarkan Fhadlan, lalu pergi meninggalkan Fhadlan sendiri.


Fhadlan duduk di tepi dipan di mana mayat Timah terbujur kaku, digenggamnya jemari Timah yang sudah terlipat di depan dadanya. Jemari yang sudah kaku dan beku kedinginan.


"Timah hidup lah untuk Fhadlan" bisik Fhadlan.


Seperti ada kekuatan gaib mensugesti timah membangunkan kesadarannya. dia dengar gema suara yang bergema di lubuk hatinya.


"Hiduplah untuk Fhadlan"


"Hiduplah untuk Fhadlan"


"Hiduplah untuk Fhadlan"


"Hiduplah untuk Fhadlan"


"Hiduplah untuk Fhadlan"


Sebuah genggaman lembut yang penuh cinta, genggaman yang membuat kesadaran timah ingin balas menggenggamnya.


Sebuah hawa hangat dan nyaman terasa mulai menjalar dari jarinya menjalar ke jantung dan paru parunya hingga keseluruhan tubuh Timah. Hawa panas yang mengalir mengusir kebekuan tubuh Timah.


Pelan tapi pasti jantung Timah berdetak lemah, paru parunya mulai menghela napas dengan lembut, ujung jari Timah mulai bergerak.


"Sudah cukup tuan" tiba tiba dokter dan petugas klinik masuk membawa kantong mayat.


"Dia masih hidup dokter" balas Fhadlan menciumi pipi Timah yang sudah terasa hangat.


"Doa Fhadlan terkabul" ucap Fhadlan seperti tidak peduli dengan dokter dan petugas klinik.


"Terimakasih Tuhan, engkau telah mengabulkan doa Fhadlan" ucap Fhadlan terus menciumi pipi Timah.


"Subhanallah.. dia kembali hidup" ucap dokter.


"Allahu akbar... Kekuatan cinta tuan sudah memperpajang umurnya" ucap dokter juga heran.

__ADS_1


"Pindahkan keruang perawatan" ucap dokter.


"Biar saya yang bawa" ucap Fhadlan saat petugas kesehatan mencoba mengangkat tubuh Timah.


Seakan tak sudi Timah di sentuh petugas kesehatan, Fhadlan memangul tubuh Timah yang sudah terasa lemas, berjalan di belakang dokter menuju ruang perawatan.


***


Fhadlan memeriksa isi koper Timah mengambil sesuatu yang di minta Timah, berupa pakaian ganti, gaun, pakaian dalam dan beberapa barang lainnya.


"Kalung periuk Api, Reflesia Wangi" guman Fhadlan sendirian saat membuka sebuah kotak perhiasan.


Kotak di mana tersimpan bunga reflesia wangi dan seuntai kalung, di dalamnya ada juga photo seorang pria gagah mengenakan pakaian pendekar silat di zamannya. di kiri dan kanan pria tersebut ada dua orang mengenakan kostum sardadu inggris dengan latar belakang rumah tua di pedalaman Sumatra.


Tampak sang pria sedang terbelenggu dengan seluruh tubuhnya terlilit tambang, di lehernya melingkar sebuah kalung yang persis sama dengan yang biasa di pakai Timah.


Fhadal kembali merapikan isi koper Timah, menutupnya dan menyimpan ke tempat di mana letak semula.


"Ayo Evelin kita ke klinik" ucap Fhadlan pada Evalin yang menunggu di ruang keluarga.


Tanpa komentar Eveline berdiri mengikuti Fhadlan menuju klinik di mana Timah dirawat.


"Fhadlan... Bagaimana keadaan Timah, apa dia sudah baikan?" tanya Eveline mencemaskan Timah.


"Dia sudah baik, nanti kamu juga akan melihatnya" jawab Fhadlan saat memasuki ruang di mana Timah di rawat.


"Va.. you came here" sapa Timah lemah.


"yes bunda, are you fine?" tanya Eveline senang melihat Timah sudah sadarkan diri.


"I am fine" jawab Timah.


"It is Ok" Ucap Eveline, Setelah memeriksa keadaan Timah meraba dahi Timah memastikan suhu tubuh Timah sudah normal, memeriksa pergelangan Timah memastikan denyut nadinya juga normal.


"Fhadlan keluar dulu deh, Eveline mau ganti baju Timah" pinta Evelin.


Setelah Fhadlan meninggalkan ruangan, satu persatu pakaian timah yang sudah pada robek robek di buka Eveline, untuk diganti pakaian baru.


Evaline meneteskan air mata saat mencoba membersihkan tubuh Timah.


"Siapa yang lakukan ini bunda?" tanya Evaline melihat tubuh Timah bentol bentol biru bekas cubitan. Bentol hampir di semua tempat dari lengan, bahu, punggung, pinggang, perut hingga ke paha.

__ADS_1


"ahhh.. Itu bekas cubitan pangeran, Va" Timah meringis kesakitan saat kapas basah, menyapu bagiaan bekas cubitan Pangeran yang tidak saja meninggalkan warna merah tapi juga meninggalkan lecet lecet yang menggores kulit Timah.


__ADS_2