Ikhlasku Berbagi Cintamu

Ikhlasku Berbagi Cintamu
Bab 10


__ADS_3

"Andai saja aku bisa hamil dan melahirkan, aku pasti tidak akan kesepian seperti ini..." Syifa memejamkan matanya, setitik air matanya jatuh menetes. Ia ingin sekali merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ibu, menjadi wanita seutuhnya. Walaupun Sean tak pernah menuntut apapun darinya, tapi tetap saja ia merasa jadi istri yang kurang sempurna untuk suaminya.


"Astagfirullah... Apa yang ku pikirkan? Semua adalah takdir dari Allah, dan aku tidak boleh terus menerus mengeluh. Masih banyak orang yang hidupnya di bawahku, tapi mereka selalu bersyukur dan tak pernah mengeluh..." Syifa memejamkan matanya, mencoba menenangkan diri.


Syifa sebenarnya ingin meminta izin Sean untuk mengadopsi anak di panti asuhan. Tapi sebelum idenya itu terucap, musibah datang. Bunda Yasmin lebih dulu pergi hingga membuat Syifa mengurungkan niatnya. Apalagi mereka berdua terlarut dalam kesedihan hingga berbulan-bulan lamanya.


Syifa mengusap air matanya, lebih baik ia pergi ke dapur saja. Mungkin ada yang bisa ia kerjakan di sana, dari pada sendirian di kamar dan terlarut dalam kesedihan tentang dirinya yang merasa belum menjadi wanita seutuhnya karena tidak bisa hamil dan juga melahirkan seorang anak.


*********


Seorang wanita paruh baya nampak menangis tertahan, dadanya terasa sesak melihat sosok yang tak berdaya tengah berbaring di sampingnya.


"Diana... Maafkan Mami.... Mami mohon beri Mami kesempatan untuk memperbaiki semuanya..." Suara Ny. Viona terdengar lirih, meratapi nasib anak semata wayangnya.


"Mi, bagaimana Diana?" Tanya Tuan Frans begitu masuk ke ruang rawat Diana. Ny. Viona hanya menggeleng.


"Pi, kita harus terus membujuk Diana supaya mau operasi. Mami tidak ingin kehilangan putri Mami." Ny. Viona kembali terisak.


"Bukankan kita selalu membujuknya? Tapi Diana selalu menolak untuk operasi. Papi tidak tahu lagi harus berbuat apa." Tuan Frans terlihat frustrasi.


"Kita harus cari seseorang yang bernama Sean, Pi. Papi sendiri kan tahu, kalau hanya nama itu yang selalu di sebut Diana."


Empat bulan yang lalu Diana di vonis menderita kanker hati stadium akhir, itu terjadi karena kehidupannya di masa lalu yang selalu mengkonsumsi minuman beralkohol.


Memang beberapa bulan terakhir Diana sering merasakan sakit di dadanya dan juga muntah darah, tapi ia tak pernah mempedulikannya. Sampai pada satu hari, Diana merasakan sakit yang amat sangat hingga akhirnya tak sadarkan diri.


Kebetulan saat itu Diana sedang berada di rumah, para pelayan yang melihat majikannya pingsan segera membawanya ke rumah sakit.


Dokter memvonisnya menderita kanker hati, tapi sekali lagi Diana tak peduli. Mau sakit apapun dirinya, hidupnya juga tak berarti.


Satu-satunya cara agar dirinya selamat yaitu harus melakukan transplantasi hati. Tapi Diana selalu menolak, untuk apa dirinya di operasi dan sembuh? Sementara tidak ada seorang pun yang peduli padanya.


**********


"Sean...." Suara itu terdengar sangat lirih.


"Diana, kamu sudah bangun?" Tanya Ny. Viona yang masih setia duduk di sampingnya.


"Sean di mana?" Tanya Diana tanpa melihat Maminya.


"Sebenarnya Sean itu siapa, Diana?"

__ADS_1


Selama di rumah sakit hanya nama Sean yang selalu di ucapkan oleh Diana, tapi Ny. Viona dan suaminya tak pernah tahu siapa Sean.


"Sean..." Ucapan Diana terhenti, ia melirik Ny. Viona dengan sinis walaupun dengan pandangan lemah.


"Memangnya apa yang Mami ketahui tentang aku?" Tanya Diana kembali menatap ke depan.


"Selama ini aku hidup sendiri, Mami dan Papi tak pernah sedikit pun peduli terhadapku. Kalian mengirimku ke luar negeri, tanpa pernah bertanya sekali pun padaku apa yang aku inginkan..." Sesak rasanya, mengingat kehidupan dulu di negara asing dan hanya sendiri. Diana mengusap air matanya yang mengalir.


"Diana... Mami..."


"Keluarlah Mam, Diana ingin sendiri..." Gadis itu membalikkan badannya, membelakangi Maminya.


"Maafkan Mami, Di..." Hanya itu yang bisa di katakan Ny. Viona.


***********


Hari ini hari libur, Sean dan Syifa masih bergelung di bawah selimut. Setelah sholat subuh tadi, Sean menarik istrinya kembali ke tempat tidur.


"Apa Mas ada rencana hari ini?" Tanya Syifa.


"Sepertinya tidak. Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu seharian di tempat tidur." Sean menghujani wajah polos Syifa dengan kecupannya. Membuat wanita itu tertawa menahan geli.


"Aku tidak dapat menghentikannya." Ucap Sean dengan seringainya, bahkan lelaki itu sudah berada di atas tubuh Syifa.


Setelah melakukan kewajiban suami istri, kini Sean dan Syifa sedang menonton bersama di ruang keluarga. Mereka selalu menghabiskan waktu berdua ketika hari libur.


"Permisi, Tuan Nyonya. Di depan ada tamu, ingin bertemu dengan Tuan." Ucap salah satu pelayan di sana membuat Sean dan Syifa menoleh.


"Siapa Bi?" Tanya Sean.


"Namanya Tuan Frans Darmawan dan istrinya, Nyonya Viona." Jawab pelayanan itu.


"Tuan Frans Darmawan?" Ulang Sean yang merasa asing dengan nama itu.


"Iya Tuan."


"Kenapa Mas?" Tanya Syifa.


"Tidak apa-apa. Bi, tolong minta pada Tuan Frans untuk menunggu sebentar."


"Baik Tuan, saya permisi." Pelayanan itu undur diri.

__ADS_1


"Ayo." Sean bangkit dari duduknya.


"Ayo kemana?" Tanya Syifa.


"Kita ke depan, temui Tuan Frans." Ajak Sean.


"Tapi Tuan Frans mencari Mas, bukan aku."


"Kita temui bersama. Aku merasa tak punya kenalan yang bernama Frans."


"Mas tidak mengenalnya?" Syifa bangkit dari duduknya. Sedangkan Sean hanya menggeleng.


Kedua pasangan suami istri itu tiba di ruang tamu, di sana tampak seorang pria paruh baya dengan seorang wanita yang usia hampir sama.


"Selamat siang." Sapa Sean.


"Selamat siang, apa anda Tuan Sean?" Tanya Tuan Frans.


"Iya saya Sean. Panggil Sean saja. Silahkan duduk."


"Terima kasih." Tuan Frans dan istrinya kembali duduk. Sementara Sean dan Syifa duduk bersebrangan dengan mereka.


"Maaf kalau kedatangan kami mengganggu. Perkenalkan saya Frans dan ini istri saya, Viona." Ucap Tuan Frans memperkenalkan diri.


"Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu?" Sean bertanya. Sementara Tuan Frans dan istrinya terlihat ragu, Ny. Viona melirik ke arah Syifa yang membalasnya dengan senyum.


"Maaf kalau boleh tau, Nona ini apanya Tuan Sean?" Tanya Ny. Viona.


"Oh, ini istri saya. Asyifa." Jawab Sean. Syifa mengangguk. Terlihat raut kekecewaan di wajah wanita paruh baya itu.


"Sebenarnya ada apa ya? Apa ada yang bisa saya bantu?"


"Begini Sean, kami adalah orang tua Diana. Kamu kenal Diana kan?" Tuan Frans membuka suara.


"Diana?" Sean dan Syifa saling menatap.


"Iya, kami orang tua Diana."


"Maaf sebelumnya, kami ingin bertanya, apa kamu dan Diana pernah memiliki hubungan? Maksudnya berpacaran? Maaf sekali lagi, saya mohon jangan tersinggung." Ucap Tuan Frans merasa tak enak.


"Saya memang mengenal Diana, tapi hubungan kami hanya sebatas teman saja. Saya juga sudah tak pernah bertemu lagi dengan Diana." Jelas Sean dengan sopan.

__ADS_1


__ADS_2