Ikhlasku Berbagi Cintamu

Ikhlasku Berbagi Cintamu
Menanti Kasihmu (Rayyan & Nadine)


__ADS_3

Rayyan Firdaus adalah seorang pengusaha muda yang sukses. Usianya kini menginjak 27 tahun. Ia ingin sekali segera menikah dan mempunyai keluarga. Karena selama ini ia hanya hidup sendiri.


Rayyan adalah anak dari istri kedua Sean Firdaus, Diana Darmawan. Sebelumnya Sean sudah menikah dengan Asyifa, namun Syifa memaksa Sean menikah lagi demi menyelamatkan Diana yang saat itu menderita penyakit kanker hati. Dan hanya Sean yang menjadi penyemangat hidupnya.


Namun sayang, Mama Diana, ibu kandungnya meninggal ketika melahirkannya. Karena saat hamil Rayyan, penyakit kanker hati yang dulu di derita Mama Diana kembali kambuh dan Mama Diana lebih memilih mempertahankan kandungannya daripada harus menjalani kemoterapi.


Beruntung Rayyan masih memilki Bunda Syifa dan Ayah Sean yang sangat menyayanginya. Bunda Syifa merawatnya dengan penuh kasih sayang, memperlakukannya bagai anak kandungnya sendiri.


Rayyan tumbuh menjadi anak pintar dan juga rupawan. Dia selalu menjadi juara kelas di sekolahnya.


Saat usia tiga belas tahun, Rayyan dan kedua orang tuanya mengalami kecelakaan pesawat saat akan kembali dari liburannya. Kecelakaan itu merenggut nyawa Ayah Sean dan Bunda Syifa.


Dan bagai sebuah keajaiban, Rayyan selamat dari kecelakaan itu, walaupun sempat koma selama beberapa hari karena lukanya yang cukup parah.


Rayyan benar-benar terpuruk karena kematian kedua orang tuanya. Terlebih  lagi, akibat kecelakaan itu Rayyan menderita pneumothoraks traumatik, dan membuatnya harus menggunakan alat bantu untuk bernafas selama beberapa hari.


Beruntung masih ada Kakek Frans dan Nenek Viona yang merawatnya. Sejak Ayah dan Bundanya meninggal, Rayyan tinggal di rumah keluarga Darmawan.


Sayangnya, dua tahun kemudian Rayyan harus merasakan kembali sakitnya kehilangan, Kakek Frans harus pergi selama-lamanya karena penyakit yang di deritanya, dan di susul Nenek Viona enam bulan kemudian.


Dan sejak saat itu, Bi Ami dan Bi Ina lah yang merawatnya. Mereka adalah pelayan setia keluarga Darmawan.


Di usianya yang masih lima belas tahun, Rayyan sudah belajar untuk mengelola perusahan. Apalagi ada dua perusahaan yang akan menjadi tanggung jawabnya. Masa remaja Rayyan di habiskan untuk belajar dan bekerja, hingga di usianya yang kini menginjak dua puluh tujuh tahun Rayyan ingin segera menikah dan memiliki keluarga.


* * * * * * * *


Siang itu di sebuah masjid Perusahaan Firdaus Grup. Rayyan yang hendak keluar setelah melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim secara tak sengaja menemukan sebuah dompet yang terjatuh dengan posisi terbuka.


"Dompet siapa ini?" Tanyanya pada dirinya sendiri, karena di masjid itu sudah tidak ada orang. Rayyan mengambil dompet tersebut, di lihatnya foto yang terlihat jelas di sana. Nampak foto seorang gadis, berwajah oval dan tersenyum cerah.


DEG


Rayyan terpaku, detak jantungnya seakan terhenti melihat foto gadis tersebut.


"Astagfirullah... Apa yang sudah aku lakukan?" Dengan cepat ia menutup kembali dompet tersebut, jangan sampai pikirannya kemana-mana hanya karena sebuah foto.


"Lebih baik aku serahkan saja dompet ini ke pos satpam."

__ADS_1


Baru saja Rayyan menginjakkan kakinya keluar halaman masjid, ada seseorang yang menghampirinya.


"Maaf, Pak Rayyan. Itu dompet milik saya." Ujar lelaki paruh baya tersebut.


"Oh dompet ini milik Pak Zain?" Tanya Rayyan.


"Iya Pak, tadi sepertinya terjatuh saat saya akan masukkan ke dalam saku celana saya." Jelas Pak Zain.


"Ya sudah, ini saya serahkan kembali. Tadi saya menemukannya di dalam masjid. Tadinya mau saya serahkan ke pos satpam." Jawab Rayyan sambil menyerahkan dompet itu pada Pak Zain.


"Terima kasih Pak Rayyan." Pak Zain mengangguk, menerima dompet itu.


"Jangan panggil Bapak, kita sedang di luar kantor. Lagipula saya masih muda..." Canda Rayyan di iringi tawa renyahnya.


"Tapi Pak Rayyan rekan bisnis saya, dan jabatan Pak Rayyan jauh lebih tinggi di banding saya. Tak sopan rasanya." Ujar Pak Zain lagi merasa tak enak.


"Panggil Rayyan saja, Pak. Kita sedang di luar kantor." Pinta Rayyan sedikit memaksa.


"Baiklah kalau begitu, saya panggil Rayyan saja ketika di luar." Pak Zain akhirnya mengalah.


"Ternyata benar ya kata karyawan di sini. Kalau Bos mereka orang yang sangat ramah dan juga rendah hati." Terang Pak Zain.


"Pak Zain terlalu memuji, saya sama saja dengan orang-orang di sini." Ucap Rayyan merendah.


"Oh ya, Pak. Boleh saya tanya sesuatu?" Sambung Rayyan.


"Tentang apa ya? Apa tentang kerja sama kita?"


"Bukan, Pak. Bagaimana kalau kita bicara sambil makan siang?" Tawarnya.


Pak Zain terlihat berfikir sejenak.


"Boleh saja." Jawabnya kemudian.


************


"Ada apa, Rayyan? Apa ada masalah?" Keduanya kini tengah duduk di sebuah kedai makanan di pinggir jalan, makan siang pun sudah selesai. Dan Pak Zain benar-benar kagum dengan Rayyan yang sudah terbiasa makan makanan pinggir jalan di banding restoran mewah.

__ADS_1


"Ehm. Maaf sebelum, Pak. Tadi saya tidak sengaja melihat dompet Pak Zain yang jatuh terbuka. Di dalamnya ada sebuah foto. Foto siapa itu, Pak?" Tanya Rayyan dengan sopan.


"Foto? Oh foto ini maksudnya?" Pak Zain membuka kembali dompetnya, memperlihatkan foto yang di maksud Rayyan.


"I... Iya, Pak." Mendadak Rayyan menjadi gugup melihat foto gadis itu kembali.


"Oh, ini foto anak saya. Namanya Nadine." Jawab Pak Zain.


"Kenapa memangnya? Rayyan kenal?" Lanjut Pak Zain.


"Tidak, Pak. Saya baru melihatnya. Kalau boleh tahu, berapa usianya?" Tanya Rayyan.


"19 tahun, masih kuliah semester dua." Jawa Pak Zain, Rayyan sedikit terkejut mendengarnya.


"19 tahun? Apa sudah memiliki kekasih?" Tanya Rayyan.


"Kekasih? Tidak. Saya tidak pernah mengizinkan anak saya untuk pacaran. Kalau memang ada lelaki yang cocok, lebih baik langsung melamar saja." Jelas Pak Zain. Dan bagai mendapat angin segar Rayyan mendengarnya.


"Apa boleh saya melamarnya?" Tanya Rayyan hati-hati.


Kali ini giliran Pak Zain yang terkejut.


"Rayyan mau melamar anak saya?" Tanya Pak Zain seakan tak percaya.


"Iya, Pak. Kalau Pak Zain mengizinkan, saya mau melamar anak Bapak." Jawab Rayyan dengan yakin.


"Sebentar Ray, kamu kan belum mengenal anak saya. Kenapa tiba-tiba mau melamar?" Tanya Pak Zain heran.


"Saya memang belum mengenal anak bapak, tapi entahlah tiba-tiba saja ada suatu keyakinan dalam diri saya kalau Nadine adalah jodoh saya.


Begitu melihat fotonya, saya merasakan sesuatu yang aneh dalam diri saya. Entah Pak Zain mau percaya atau tidak, sepertinya saya sudah jatuh cinta hanya karena melihat fotonya." Jawab Rayyan jujur sejujurnya.


"Maka dari itu, saya meminta izin Pak Zain untuk melamar Nadine." Rayyan menatap dalam Pak Zain. Tidak ada kebohongan yang terlihat di matanya. Pak Zain terlihat berfikir sejenak.


"Baiklah, kalau memang kenyataannya seperti itu, saya mengizinkan Rayyan untuk melamar anak saya." Jawab Pak Zain.


 

__ADS_1


__ADS_2