
Tapi kini Rubby sedang berada di rumah Ayah Bakti, istrinya itu pasti aman. Lagipula Bara sedang dalam pengejaran polisi, lelaki itu tidak akan berani menampakan dirinya.
Beberapa menit kemudian, Arya sudah selesai dengan acara mengganti bannya.
"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga." Ucap Arya lega. Arya merapikan kembali peralatannya baru saja hendak berbalik, tiba-tiba saja...
BUGH!
Seseorang memukul belakang kepala Arya begitu keras, hingga membuatnya terjatuh tak sadarkan diri.
Kedua sudut bibir itu terangkat, sorot mata penuh amarah menatap Arya yang tergeletak di tanah.
_
_
_
Sepasang netra itu mengerjap, Arya merasakan sakit di kepalanya. Hendak menyentuh, ia mencoba menggerakan tubuhnya, tapi kenapa terasa begitu sulit? Sepertinya tangan dan kakinya terikat.
"Di mana ini? Kenapa tangan dan kakiku terikat?" Netra Arya mencoba melihat keadaan sekelilingnya. Dirinya tengah tebaring di atas lantai yang begitu kotor dan berdebu. Tempat yang sangat asing baginya. Terdengar derap suara langkah kaki datang mendekat.
"Arya Firaz, akhirnya kau bangun juga."
Sebuah suara membuat Arya mengadahkan wajahnya, suara itu tidak asing baginya.
"Bara?" Sepasang netra itu membulat melihat siapa yang berdiri di hadapannya.
"Hai teman lamaku!" Sapa Bara dengan senyum seringainya, di tangannya ada sebuah balok kayu berukuran cukup besar.
"Lepaskan aku! Apa maumu?! Kenapa kau mengikatku seperti ini?!" Seru Arya.
"Melepaskanmu? Jangan harap!" Bentak Bara. Ia menatap tajam pada teman lamanya itu.
"Kau tahu, gara-gara dirimu dan mantan kekasihmu itu kini polisi mengejarku!" Serunya.
"Itu kesalahmu! Kau sudah meleceh-kan istriku! Dan kau seharusnya tidak menuruti apa kata Mega!" Arya membentak balik, dengan susah payah Arya beranjak duduk.
"Dan itu semua berasal dari kesalahanmu karena sudah menikahi gadis yang seharusnya menjadi milikku!" Bentak Bara tak mau kalah. Keduanya saling menatap tajam.
"Dengar Arya, mungkin aku bisa terima jika Rubby menikah dengan orang yang tidak ku kenal, tapi ternyata sahabatku sendiri yang sudah merebutnya dariku." Lanjut Bara dengan nada dingin.
"Rubby tidak pernah menjadi milikmu, bagaimana bisa kau mengatakan kalau aku merebutnya darimu?" Timpal Arya tak kalah dinginnya.
__ADS_1
"Diam kau!"
BUGH!
Bara mengayunkan balok kayu itu tepat di lengan Arya hingga membuat pria itu jatuh tersungkur.
"Dasar pengecut kau! Lepaskan aku!" Seru Arya dengan menahan menahan rasa sakit di lengannya.
"Ya, aku memang pengecut. Dan aku akan menghabisimu hari ini."
Bara sudah gelap mata, di fikirannya hanya ada bagaimana caranya membalas sakit hati dirinya. Di tambah dengan perlakuan Mega kemarin, membuat emosinya meluap dan Arya lah yang menjadi sasarannya. Sedangkan Mega? Entah wanita itu kabur ke mana.
Padahal seharusnya Arya yang merasa lebih sakit hati karena Bara sudah meleceh-kan istrinya.
Tanpa ampun Bara memukuli Arya dengan balok kayu tersebut. Arya tidak dapat melawannya karena tangan dan kakinya terikat. Terlihat darah segar mengalir dari mulutnya. Begitu juga dengan anggota tubuh yang lainnya.
Senyum miring nampak di bibir Bara setelah melihat Arya tak berdaya.
"Bagaimana Arya? Apa rasanya sakit?" Tanyanya. Arya tak menjawab, rasanya tubuhnya seakan remuk karena pukulan Bara, tapi ia masih tersadar.
"Begitupun denganku, kau sudah menyakiti hatiku. Teman macam apa kau, tega sekali menikahi wanita yang kucintai." Ucap Bara dengan sinisnya.
"Aku menikah dengan Rubby jauh sebelum aku tahu kalau kau menyukainya." Ucap Arya di antara ringisannya.
Bara mendekat ke arah Arya yang sudah tergeletak. Ia menarik paksa rambut Arya, memaksa Arya mengadahkan wajahnya dan menatapnya.
"Aku heran kenapa Rubby mau menikah denganmu? Sedangkan aku jauh lebih baik darimu dalam memperlakukannya. Apa mungkin karena wajahmu? Bagaimana jika ku lakukan sesuatu dengan wajahmu? Atau matamu? Apa Rubby masih mau menjadi istrimu?" Kata Bara sambil mendekatkan botol kaca itu ke wajah Arya.
"Mau apa kau?" Suara Arya sudah tersengal-sengal. Ia melirik ke arah botol kaca itu. Senyum iblis itu muncul di wajah Bara. Ia kemudian menghempaskan kembali tubuh Arya. Arya meringis saat tubuhnya membentur lantai yang keras.
"Lihat, Arya." Bara mengangkat botol itu tinggi-tinggi. Hingga kemudian...
PRANG!!!
Botol itu pecah tak berbentuk, serpihan kacanya berserakan di lantai. Dan Arya tak sadarkan diri sesaat setelah botol itu menghantam wajahnya dengan sangat keras.
Nafas Bara terdengar memburu, namun tak lama pria itu tersadar dan terhenyak melihat Arya yang tergeletak di lantai dengan wajah dan tubuh penuh luka.
"Apa yang sudah ku lakukan? Kenapa aku menyakiti sahabatku sendiri?" Bara melangkah mundur sambil menggeleng pelan, wajahnya berubah memucat. Menatap tangannya sendiri yang gemetar hebat.
_
_
__ADS_1
_
Andika sudah dalam perjalanan pulang, sepeda motornya melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang sudah mulai gelap. Namun sesuatu menarik perhatiannya dan membuatnya menghentikan laju motornya. Sebuah mobil hitam yang sangat di kenalnya terparkir di pinggir jalan.
"Bukannya itu mobil Kak Arya? Kenapa ada di sini?" Gumamnya heran. Andika melepas helmnya, dan melangkah mendekat ke arah mobil tersebut.
Andika mengerutkan keningnya, merasa heran. Mobil Arya nampak begitu gelap, seperti tidak ada orang di dalamnya. Dan juga beberapa peralatan nampak berserakan di atas tanah.
"Ke mana Kak Arya? Kenapa mobilnya di tinggal?" Andika mengedarkan pandangannya, tapi tidak ada tanda-tanda Arya ada di sana.
Suara dering ponsel mengalihkan perhatiannya, Andika mencoba mencari ke asal suara. Ternyata ponsel Arya yang berada di dashboard tengah berdering. Dibukanya pintu mobil itu, tidak terkunci ternyata.
Kenapa kakaknya itu cereoboh sekali meninggalkan mobilnya dalam keadaan tidak terkunci seperti ini?
Andika mengambil ponsel tersebut, ada nama Mama Dewi terpampang di layar ponsel. Andika segera mengangkat panggilan itu.
"Astaga, Arya! Kau ke mana saja? Kenapa baru mengangkat telepon Mama." Cecar Mama Dewi beruntun begitu panggilannya tersambung. Daritadi Mama Dewi coba menghubungi Arya, namun tidak diangkat. Andika menautkan kedua alisnya, bukannya kakaknya itu sudah pulang daritadi? Kenapa Mama Dewi malah mencarinya? Apa mereka belum bertemu? Dan kenapa juga mobil Kakaknya ada di sini?
"Ma, ini Andika..." Jawab Andika.
"Andika? Di mana kakakmu? Apa kau sedang bersamanya?" Tanya Mama Dewi di balik ponsel.
"Andika tidak tahu, Ma..." Jawab Andika ragu.
"Tidak tahu? Lalu kenapa ponsel Arya ada padamu?" Tanya Mama Dewi bingung.
"Dika..." Ucapan Andika terhenti, prasangka buruk seketika terlintas di kepalanya.
"Dika, ada apa?"
"Ma, sebentar ya. Dika cari Kak Arya dulu." Andika langsung menutup panggilannya, jangan sampai Mama Dewi bertanya lebih jauh.
"Pasti terjadi sesuatu pada Kak Arya. Tidak mungkin Kak Arya meninggalkan mobilnya begitu saja di pinggir jalan seperti ini." Rasa khawatir langsung menyelimuti hati Andika. Matanya berkeliling, mencoba mencari Arya.
_
_
_
Hai readers, aku mau tanya...
Ini sosok Arya mau dibuat meninggal ga? Biar Rubby nikah lagi sama pria yang benar-benar cinta sama Rubby. Kasian Rubby dari awal nikah sedih terus...
__ADS_1