
"Aku mencintaimu, Sean..." Sean hanya mengangguk saat mendengarnya.
Sementara Syifa hanya memperhatikan mereka berdua dari balik pintu ruangan yang terbuka sebagian. Setitik air matanya menetes. Mencoba menguatkan hatinya atas pilihan yang telah di ambilnya.
"Syifa..." Suara seorang wanita membuatnya menoleh.
"Terima kasih..." Ny. Viona memeluk Syifa.
"Pengorbananmu begitu besar. Ini pasti berat buatmu..."
Syifa menggeleng, mencoba menahan tangisnya.
"Tidak Nyonya... Aku... Aku ikhlas jika harus berbagi Mas Sean dengan Mba Diana. Lagi pula Mba Diana yang lebih dulu mengenal dan mencintai Mas Sean di banding aku..."
Nyatanya Syifa tak mampu menahan laju air matanya, ia terisak di pelukan Ny. Viona.
"Panggil aku Mami saja, seperti Diana memanggilku. Bukankah kamu anakku juga?"
Syifa melepaskan pelukannya, wajahnya terangkat menatap Ny. Viona.
"Bolehkah?"
"Tentu, Syifa." Ny. Viona mengangguk. Tuan Frans yang berdiri di samping dua wanita itu juga ikut mengangguk.
"Kamu juga bisa memanggilku Papi." Sambung Tuan Frans. Mata Syifa berbinar mendengarnya.
"Aku sudah kehilangan ayahku. Dan juga ibu dua kali dan kini Allah mengirimkan Mami dan Papi padaku..." Ucap Syifa suaranya terdengar bergetar. Ny. Viona mengusap lembut rambut Syifa yang tertutup hijab.
"Kamu gadis yang baik, tak heran jika Sean begitu mencintaimu."
Sean keluar dari ruangan itu, ia mengerutkan keningnya melihat Syifa dan kedua orang tua Diana dengan mata yang memerah seperti habis menangis.
"Syifa, ada apa?" Tanya Sean yang sedikit khawatir, ia memegang pipi Syifa mengangkat wajahnya.
"Tidak ada apa-apa, Mas." Syifa tersenyum menenangkan.
"Tapi kalian seperti habis menangis?" Tanya Sean lagi.
"Tidak ada apa-apa, Sean. Kami hanya terharu dengan apa yang sudah kalian lakukan untuk Diana. Sekali lagi, kami ucapkan terima kasih." Ujar Tuan Frans menjelaskan.
Dua belas jam berlalu, operasi telah berjalan lancar. Kondisi Diana juga sudah stabil. Kini tinggal menunggu Diana sadar dan menjalani masa penyembuhannya.
Beberapa hari berlalu, kondisi Diana semakin membaik.
"Makan yang banyak ya, sayang. Supaya kamu cepat sembuh." Ujar Ny. Viona sambil menyuapkan makanan ke mulut anak tunggalnya.
"Iya, Mam. Apa Sean akan kemari?" Tanya Diana di sela makannya. Selama dalam perawatan Sean tak jarang mengunjunginya walau hanya sebentar saja.
__ADS_1
"Sepertinya tidak, tadi Sean menghubungi Mami dia bilang hari ini sibuk karena banyak kerjaan." Terang Ny. Viona.
"Oh..." Diana hanya menganggukkan kepalanya, terlihat sedikit raut kekecewaan di wajahnya.
"Diana, boleh Mami tanya sesuatu?"
"Mami mau tanya apa?"
"Apa kamu yakin dengan keputusanmu untuk menikah dengan Sean?" Tanya Ny. Viona ragu.
"Tentu, Mam. Itu impianku sejak dulu, bahkan dulu aku sudah berencana untuk melamarnya."
"Dulu kamu mau melamar Sean?" Ny. Viona terlihat terkejut.
"Iya Mam, kenapa memangnya?" Diana balik bertanya.
"Tidak apa-apa sayang. Ayo lanjutkan lagi makannya." Ny. Viona kembali menyuapi Diana.
*****
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Kini kondisi Diana sudah benar-benar pulih.
Persiapan pernikahan Sean dan Diana pun sudah rampung seratus persen.
Syifa menatap keluar jendela, menikmati dinginnya angin malam. Besok hari pernikahan Sean dan Diana, Syifa harus berusaha menguatkan hatinya dan terlihat baik-baik saja.
Sepasang lengan melingkar di pinggang rampingnya. Menyadarkan kepala di bahunya.
"Tidak, aku sudah terbiasa. Dan setelah ini, mungkin malam-malamku akan lebih dingin karena Mas tidak akan ada setiap saat untukku..."
"Apa kamu menyesali keputusan mu?"
"Aku tidak pernah menyesal.... Aku akan menyesal kalau aku tak bisa menolong Mba Diana..."
"Apa kamu tak akan sakit hati melihat suamimu bersanding dengan wanita lain?"
"Aku ikhlas.... Mungkin ini takdir cinta kita. Walaupun aku tak bisa membohongi diriku sendiri... Rasa sakit tentu ada... Tapi aku mencoba untuk melepaskan itu semua."
"Kenapa kamu begitu baik...? Hingga membuatku begitu mencintaimu, dan menuruti keinginanmu."
"Bukankah memang sudah kewajiban kita sebagai manusia untuk berbuat baik kepada siapapun?"
Sean membalikkan tubuh Syifa hingga keduanya berhadapan. Lelaki itu meraih dagu sang istri dan memberi kecupan singkat di bibirnya.
Mendekatkan wajah hingga kedua kening itu beradu,
"Tidak ada penyesalan? Kamu masih bisa memintaku untuk membatalkan acara besok." Ucap Sean yang berupa bisikan. Syifa menggeleng pelan.
__ADS_1
"Tidak ada penyesalan..." Jawab Syifa.
"Kalau begitu, aku ingin menikmati malam ini denganmu..." Tangan Sean bergerak melepas hijab Syifa. Syifa hanya diam dan membiarkan Sean melakukan apa yang ingin ia lakukan.
**********
Diana mengenakan kebaya putih, dengan rambut sanggul croissant chignon membuatnya nampak begitu cantik. Tubuhnya sudah kembali berisi, karena Ny. Viona mengatur pola makannya dengan sangat baik. Ini pertama kalinya Diana merasa sangat di perhatikan oleh orang tuanya. Dan itu membuatnya bahagia.
"Mba Diana cantik sekali." Puji Syifa yang tak dapat menyembunyikan kekagumannya.
"Terima kasih..." Diana tersenyum simpul, ia menarik Syifa ke dalam pelukannya.
"Terima kasih karena kamu rela berbagi Sean denganku... Sekarang aku tahu kenapa Sean begitu mencintaimu..."
Diana melepaskan pelukannya, menatap dalam mata Syifa.
"Kamu wanita yang baik, dan juga tulus. Tapi maaf, kalau aku malah menyakitimu. Aku mencintai Sean sejak lama, hanya dia alasanku untuk bertahan hidup..."
"Tidak apa-apa Mba, semuanya sudah takdir. Mba Diana tak perlu minta maaf..."
Acara pernikahan diadakan di rumah Sean dengan sederhana sesuai dengan permintaan Sean. Karena ketika ia menikah dengan Syifa pun hanya di laksanakan di rumah sakit, jadi tidak mungkin pernikahan kedua Sean dan Diana mengadakan pesta besar-besaran. Apa kata orang nanti.
"Saya terima nikah dan kawinnya Diana binti Frans Darmawan dengan mas kawin tersebut di bayar tunai."
"SAH....."
Syifa memejamkan matanya, mulai hari ini ia harus berbagi cinta suaminya dengan wanita lain.
"Ikhlasku berbagi cintamu, Mas..." Ucap Syifa dalam hati. Ny. Viona mengusap pelan bahunya, ia tahu Syifa sedang berusaha menegarkan hatinya.
Diana berjalan diiringi Ny.Viona dan juga Syifa, senyum tak pernah luntur dari wajahnya. Impiannya sejak dulu akhirnya terwujud.
Dengan senyum tipis Sean menatap Diana, wanita yang kini jadi istrinya. Diana meraih tangan Sean dan menciumnya. Sean mendaratkan kecupan singkat di keningnya.
"Sean, Papi dan Mami titip Diana. Sekarang Diana adalah tanggung jawabmu."
"Insya Allah, saya akan menjaga Diana." Jawab Sean.
"Dan jika suatu saat kamu bosan pada Diana, tolong kembalikan Diana secara baik-baik. Kami tak akan memarahimu apalagi membencimu."
"Papi tenang saja, aku tidak akan pernah bosan dengan istriku."
*********
Syifa menatap pantulan dirinya di cermin, mencoba tersenyum walau hatinya terluka. Klek, pintu kamar terbuka. Nampak Sean masuk ke dalam kamar.
__ADS_1