
Hari-hari berikutnya mereka lalui seperti biasa, usia kandungan Diana sudah memasuki tujuh bulan. Perubahan dalam diri Diana mulai terlihat, wajahnya pucat, tapi Diana berusaha menutupi itu dengan makeupnya. Dan badannya yang mulai mengurus.
"Di, sepertinya kamu semakin kurus. Apa kamu masih tak nafsu makan?" Tanya Sean yang tengah memeluk Diana.
"Ya sepertinya begitu." Diana selalu mengatakan kalau ia kurang nafsu makan, mungkin karena faktor kehamilannya.
"Apa kita periksa ke dokter saja?"
"Tidak perlu Sean. Lagipula kita baru ke dokter dua minggu yang lalu untuk memeriksakan kandunganku. Dan bukankah dokter sudah bilang kalau ini normal untuk wanita hamil."
"Tapi aku hanya..." Diana mengecup bibir suaminya, mencegah lelaki itu untuk bicara lagi.
"Aku mencintaimu." Ucapnya setelah bibir mereka terlepas. Sean tersenyum simpul.
"Aku menyayangimu." Jawabnya.
"Berjanjilah satu hal padaku." Diana menatap dalam mata suaminya.
"Janji apa?"
"Berjanjilah kalau kamu dan Syifa akan menjaga anak kita dengan baik." Suara Diana terdengar bergetar.
"Di, apa yang kamu pikirkan?"
Diana hanya menggeleng pelan.
"Aku takut terjadi sesuatu saat aku melahirkan nanti..." Mata Diana sudah nampak berkaca-kaca.
"Di, jangan berfikiran yang aneh-aneh." Sean mengusap lembut keningnya.
"Aku hanya takut saja..."
"Di, sejak kapan kamu jadi penakut? Diana istriku adalah wanita yang kuat dan berani." Sean mengecup kening Diana.
"Bukankah wajar jika seorang wanita takut terjadi sesuatu saat melahirkan nanti?"
"Kamu akan baik-baik saja Di. Dan kita akan membesarkan anak kita bersama." Diana hanya mengangguk lemah dan semakin tenggelam dalam pelukan Sean, dan Sean semakin erat memeluknya.
***********
Pagi harinya,
"Syifa, kamu tolong jaga Diana ya." Pinta Sean sesaat sebelum pergi bekerja.
"Jaga Mba Diana? Bukankah setiap hari aku selalu menjaganya?"
"Ya aku tahu. Maksudku kalau ada sesuatu secepatnya hubungi aku."
"Tentu Mas." Syifa mengangguk.
"Mas tahu, sepertinya ada yang berubah dari Mba Diana." Sambung Syifa.
"Ya, aku rasa juga begitu. Maka dari itu aku meminta tolong padamu untuk menjaganya."
"Tentu Mas, aku akan menjaga Mba Diana."
"Ya sudah kalau begitu, aku berangkat dulu."
__ADS_1
"Hati-hati di jalan, Mas." Syifa mencium punggung tangan Sean, dan Sean mengecup singkat keningnya.
Syifa kembali masuk kedalam rumah setelah mengantar kepergian suaminya, kemudian berhenti di depan pintu kamar Diana.
Tok. Tok. Tok.
"Mba Diana, boleh aku masuk?" Panggil Syifa dari balik pintu.
"Masuklah Syifa."
Syifa membuka pintu kamar, tampak Diana yang sedang melihat-lihat foto USG calon bayinya.
"Syifa, lihatlah... Sepertinya anak kita nanti mirip dengan Sean." Diana memperlihatkan wajah USG anaknya.
"Ya, sepertinya begitu." Syifa ikut melihat-lihat foto-foto tersebut.
"Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya." Ujar Diana, tatapan terlihat menerawang.
"Aku juga sudah tak sabar Mba." Syifa masih melihat foto-foto itu.
"Nanti anak kita akan memanggil Sean Ayah, memanggilmu Bunda, dan memanggilku Mama..."
"Bunda?"
"Ya, bukankah itu cocok denganmu?"
"Tentu saja." Keduanya tersenyum.
"Ekhm." Diana terbatuk membuat Syifa menatap sejenak ke arahnya. Wanita itu membulatkan matanya.
"Mba Diana!" Pekik Syifa.
"Darah..." Diana segera bangun dari duduknya menuju toilet, di susul Syifa di belakangnya.
"Mba... Mba kenapa?" Tanya Syifa yang hampir menangis melihat Diana muntah darah. Belum sempat Diana menjawab, mendadak ia merasa pusing.
BRUK. Diana jatuh tak sadarkan diri.
******
Sean berlari melewati koridor rumah sakit, kejadian dulu seakan terulang kembali. Di mana saat ia mendapat kabar tentang kecelakaan adiknya, dan kini ia mendapat kabar tentang istrinya yang tiba-tiba pingsan.
Sean berenti di depan salah satu ruangan, di sana nampak Syifa sedang duduk menangis seorang diri.
"Syifa..." Panggilnya. Syifa mengadahkan kepalanya, matanya nampak memerah.
"Mas Sean... Mba Diana..." Sean meraih Syifa ke dalam pelukan nya, tangis wanita itu semakin pecah.
"Tenanglah Syifa..." Sean mengusap lembut punggung Syifa.
Klek, pintu ruangan terbuka. Nampak seorang dokter wanita paruh baya keluar dari sana.
"Dokter, bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Sean yang tak bisa menyembunyikan ke khawatirannya.
"Pasien kritis, kankernya sudah menyebar ke organ tubuh yang lainnya."
"Kanker?"
__ADS_1
"Ya sebenarnya kanker hati yang dulu di derita pasien sudah aktif kembali, kami menyarankan agar pasien menjalani kemoterapi. Tapi pasien menolaknya."
Sean dan Syifa mematung, mengapa mereka tak pernah tahu hal ini.
"Pasien meminta kami untuk merahasiakan keadaannya, karena tidak ingin kehilangan kandungnya."
"Dan sekarang pasien harus segera di operasi caesar untuk menyelamatkan bayinya." Sean memejamkan matanya, mengusap kasar wajahnya.
"Lakukan apapun yang terbaik untuk istri saya, dok." Ucap Sean yang sudah pasrah pada takdir.
Tak hentinya doa di panjatkan oleh Sean dan Syifa, untuk keselamatan Diana dan anaknya.
"Sean, Syifa.." Tuan Frans dan Ny. Viona baru tiba di rumah sakit.
"Sean, apa yang terjadi pada Diana?" Tanya Tuan Frans.
"Penyakit kanker Diana kambuh lagi, dan Sean tidak menyadarinya... Maaf kan Sean Papi, Mami. Sean tak bisa menjaga Diana dengan baik." Sean menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Terdengar isak tangis di sana.
Ny. Viona tak bisa mengatakan apapun, hanya air matanya saja yang mengalir.
"Sean jangan salahkan diri kamu sendiri. Ini sudah takdir..." Tuan Frans menepuk pelan pundak Sean.
**********
Tuan Frans dan Ny. Viona menatap bayi mungil yang berada dalam inkubator. Kondisinya masih lemah karena usianya baru tujuh bulan dalam kandungan.
"Nak, kamu harus kuat ya. Kamu harus bertahan, karena Mama mu rela mengorbankan nyawanya untuk mu..."
Sementara di ruang rawat Diana.
Sean dan Syifa berdiri di samping Diana yang terbaring dengan wajah pucatnya.
"Diana..."
"Sean, Syifa bagaimana anak kita?" Tanya Diana lemah.
"Anak kita baik-baik saja. Dia anak yang kuat, seperti Mamanya." Jawab Sean seraya mengusap kening Diana.
"Laki-laki atau perempuan?"
"Laki-laki."
"Dia pasti tampan sepertimu..." Diana tersenyum.
"Kenapa kamu merahasiakan ini?"
"Maafkan aku, aku hanya tak ingin membuat kalian sedih dan juga aku tak ingin kehilangan anak kita. Lagi pula kemoterapi tak akan menyembuhkan ku..."
"Tapi, Di..." Ucapan Sean terhenti, melihat Diana mencoba meraih tangannya. Dengan cepat Sean menggenggam tangan Diana.
"Aku titip anak kita, aku yakin kamu dan Syifa bisa menjaganya dengan baik.
Syifa, kamu wanita yang sangat baik. Kamu juga pasti bisa menjadi ibu yang baik untuk anak kita." Syifa menggeleng pelan, air mata sudah membanjiri wajahnya.
"Bukankah Mba Diana pernah mengatakan, akan merawat anak kita bersama?"
"Aku sudah tidak kuat lagi, Syifa. Aku titip anak kita... Sean, aku mencintaimu.... Dan Syifa aku menyayangimu.... Sampaikan juga pada Mami dan Papiku, kalau aku menyayangi mereka.... "
__ADS_1