Ikhlasku Berbagi Cintamu

Ikhlasku Berbagi Cintamu
Bab 11


__ADS_3

"Saya memang mengenal Diana, tapi hubungan kami hanya sebatas teman saja. Saya juga sudah tak pernah bertemu lagi dengan Diana." Jelas Sean dengan sopan.


Kini Tuan Frans dan istrinya saling menatap, mencoba mencerna penjelasan Sean dan juga tentang Diana yang selalu menyebut namanya.


" Sean, apa kamu sudah tau kondisi Diana sekarang?" Tanya Ny. Viona.


"Kondisi Diana? Memangnya Diana kenapa Nyonya?" Sean balik bertanya.


Ny. Viona terlihat menarik nafas berat sebelum berucap,


"Diana saat ini sedang sakit, ia di vonis kanker hati stadium akhir oleh dokter..." Terlihat raut kesedihan si wajah wanita paruh baya itu.


"Innalillahi..." Sean terkejut, begitu juga dengan Syifa.


"Diana sakit kanker? Lalu bagaimana keadaannya, Nyonya?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Syifa, wajahnya terlihat khawatir. Ia memang tak mengenal Diana. Tapi ia pernah sekali bertemu Diana beberapa tahun yang lalu.


"Diana kritis, satu-satunya cara agar bisa sembuh Diana harus melakukan transplantasi hati..." Ny. Viona menarik nafas berat, menjeda ucapannya. Sementara Sean dan Syifa saling menatap.


"Kapan Diana akan operasi, Nyonya?" Tanya Sean.


"Itulah yang menjadi masalahnya, Sean."Kali ini Tuan Frans yang bicara.


" Diana menolak untuk di operasi... Kami sudah membujuknya dengan berbagai macam cara, tapi tak pernah berhasil. Dan untuk itulah kami datang kemari, kami ingin meminta tolong padamu... " Ucap Tuan Frans, raut wajahnya menampakkan keputusasaan.


"Apa yang bisa saya bantu?" Tanya Sean.


"Maaf sebelumnya. Syifa, kami mohon agar kamu tidak marah..." Ragu-ragu Ny. Viona berkata. Sedangkan Syifa menatapnya bingung,


"Marah? Insya Allah saya tidak akan marah Nyonya." Syifa tersenyum menenangkan.


"Begini, selama sakit Diana selalu memanggil nama Sean. Pada awalnya kami mengira kalau Sean adalah kekasih Diana. Tapi ternyata kami salah." Syifa tersenyum mendengar ucapan Ny. Viona.


"Sean, maukah kamu menemui Diana? Tolong bujuk dia agar mau operasi..." Pinta Ny. Viona.


"Diana adalah anak kami satu-satunya. Kami menyadari selama ini kurang memberinya perhatian, hingga akhirnya Diana sakit seperti ini. Semuanya adalah salah kami... Tapi kami ingin di beri satu kesempatan lagi untuk menebus semua kesalahan kami pada Diana. Maka dari itu, kami mohon padamu Sean, tolong bujuk Diana agar ia mau operasi... " Ny. Viona tidak dapat menahan tangisnya, Tuan Frans yang berada di sampingnya langsung memeluknya.


Syifa menatap nanar pada pasangan suami istri itu. Ia dapat melihat penyesalan yang amat dalam di wajah keduanya.


"Mas..." Syifa mengalihkan pandangannya ke arah suaminya. Sean terlihat bingung.


"Mas harus temui Mba Diana..." Ucap Syifa yang berupa bisikan.

__ADS_1


"Tapi Syifa..."


"Mas, apa Mas tega membiarkan Mba Diana sakit seperti itu...?" Syifa menatap dalam Sean, tatapan terlihat memohon. Sean menarik nafasnya berat. Ia ingin menemui Diana, tapi juga takut kalau Diana malah berharap lagi padanya.


"Baiklah, Tuan dan Nyonya. Saya dan istri saya akan menemui Diana." Ucap Sean akhirnya.


"Benarkah? Kalian bersedia menemui Diana?" Mata Ny. Viona nampak berbinar.


"Iya, Nyonya. Beri tahu kami alamat rumah sakitnya. Kami akan datang secepatnya."


***********


Diana menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong, ia sudah tak memiliki semangat lagi untuk hidup. Diana hanya menunggu maut segera menjemputnya.


Untuk apalagi ia hidup? Kedua orang tuanya tidak pernah sekalipun perhatian padanya, hanya sekarang saja saat ia sakit seperti ini. Sedangkan lelaki yang di cintainya telah bahagia bersama istrinya. Rasanya, tak ada lagi cinta untuk seorang Diana.


Tok. Tok. Tok


Terdengar suara pintu di ketuk, Diana diam saja. Di kiranya Mami atau Papinya yang datang.


"Assalamualaikum..."


Suara itu... Suara yang sangat di rindukan Diana. Diana menoleh, nampak Sean dan Syifa melangkah memasuki ruang rawatnya.


"Sean...?" Suaranya terdengar sangat lirih, mata Diana nampak berkaca-kaca.


"Kamu datang...?" Tanyanya seakan tak percaya.


"Diana, bagaimana kabarmu?" Tanya Sean. Keduanya memandang Diana yang tampak berbeda.


Tak ada lagi Diana yang cantik berseri seperti dulu. Yang ada hanyalah Diana yang berwajah pucat dan tubuhnya yang nampak kurus.


"Sean, aku... Aku..." Dada Diana terasa sesak menahan tangis, ia menegakkan duduknya. Ingin meraih Sean, namun di urungkannya ketika melihat Syifa yang berdiri di samping Sean.


"Mba Diana..." Sapa Syifa sambil tersenyum, namun di matanya nampak kesedihan.


"Syifa, Sean dari mana kalian tahu aku di sini?"


"Orang tuamu datang ke rumah kami, dan menceritakan keadaanmu."


"Kenapa kamu jadi seperti ini Di? Orang tuamu bilang kamu tidak mau operasi?" Tanya Sean, tak bisa di pungkiri lelaki itu juga sedih melihat keadaan temannya seperti itu.

__ADS_1


Diana menyadarkan kembali tubuhnya, sambil menundukkan pandangannya.


"Untuk apa aku operasi? Untuk apa aku sembuh? Kalau tidak ada orang yang peduli lagi denganku."


"Mba Diana tidak boleh bilang seperti itu..." Syifa mengusap pelan rambut Diana.


"Di luar sana banyak orang sakit yang menginginkan kesembuhan, tapi mereka terhalang biaya untuk berobat. Hingga akhirnya mereka hanya pasrah pada takdir." Ucap Syifa dengan lembut.


"Itu benar Di, kamu di sini sangat mampu untuk menjalani pengobatan hingga sembuh. Tapi kamu malah menyerah seperti ini... Mana Diana dulu yang ku kenal? Diana yang selalu semangat dan ceria?" Sambung Sean.


"Diana yang dulu sudah tak ada...." Lirihnya.


Syifa menatap Diana dengan sendu, ia tau wanita di hadapannya masih memiliki perasaan pada suaminya. Syifa memejamkan matanya sejenak, kemudian beralih menatap suaminya.


"Mas, aku ingin bicara dengan Mba Diana. Bisa Mas tinggalkan kami berdua?" Pintanya. Sean mengerutkan keningnya,


"Apa yang ingin kamu bicarakan dengan Diana?" Tanya Sean.


"Mas, aku mohon tinggalkan kami berdua." Tatapan Syifa terlihat memohon.


"Baiklah, aku keluar."


**********


Syifa duduk di kursi di samping Diana. Senyum teduh tak lepas dari wajahnya.


"Apa yang ingin kamu bicarakan denganku?" Tanya Diana tanpa memandang Syifa, ia hanya menundukkan wajahnya.


"Apa Mba Diana masih mencintai Mas Sean?" Tanya Syifa membuat Diana menatapnya.


"Aku selalu mencintainya... Tapi Sean tidak pernah mencintaiku..." Lirih Diana dengan tatapan kosong.


"Sean segalanya bagiku. Dia lelaki pertama yang membuatku jatuh hati. Selama ini aku selalu berusaha untuk memperbaiki diriku agar terlihat pantas saat bersama dengannya. Aku bahkan sudah berencana akan melamarnya saat lulus kuliah... " Diana tersenyum miris, sementara Syifa terlihat sedikit terkejut.


"Jadi Mba Diana sudah merencanakan ingin melamar Mas Sean?" Batin Syifa.


"Tapi ternyata, Sean sudah lebih dulu menikah denganmu..."


"Kamu tahu, aku benar-benar iri padamu. Aku yang selama bertahan-tahun mengharapkan cinta Sean, tapi Sean tak pernah menganggapku lebih dari sekedar teman. Sedangkan kamu, kamu baru pertama kali bertemu dengannya. Tapi sudah berhasil membuat Sean jatuh cinta padamu, bahkan Sean langsung menikahi mu... "


 

__ADS_1


__ADS_2