
"Bagaimana kalau kalian menginap di sini saja? Mami sendirian di rumah, Papi sedang ke luar kota dan baru kembali besok."
Syifa dan Diana saling melirik, sedangkan Sean sudah tahu apa yang di inginkan kedua istrinya.
"Tentu Mam, kita akan menginap di sini." Jawab Sean di iringi anggukan Syifa dan Diana.
"Aku ingin tidur dengan Mami, karena aku merindukan Mami." Diana bersandar manja di lengan Maminya.
"Ya, ya, ya kamu tidur dengan Mami." Ny. Viona mencubit hidung Diana dengan gemas.
Malam harinya,
"Di, bagaimana Sean selama menikah denganmu?" Tanya Ny. Viona membelai rambut Diana yang tidur di pangkuannya.
"Sean sangat baik, Mam. Dan Sean juga selalu berlaku adil denganku dan juga Syifa. Dia tak pernah membedakan kami..."
"Apa kamu bahagia?"
Diana bangkit dari tidurnya, menatap dalam mata Maminya.
"Sangat. Aku sangat bahagia Mam. Selain memiliki suami yang begitu baik. Aku juga memiliki seorang adik yang begitu peduli dan perhatian terhadapku..." Mata Diana terlihat berbinar saat mengatakannya.
"Syukurlah kalau kamu bahagia. Tadinya Mami sempat khawatir, khawatir Sean tak berlaku adil padamu dan juga omongan orang-orang tentang kamu yang jadi istri kedua..."
"Mami tak perlu mendengarkan omongan orang. Syifa selalu mengatakan, tidak perlu mendengar ucapan orang lain yang tak pernah tahu tentang kehidupan kita yang sebenarnya. Dan juga selama hidup kita tidak merugikan orang lain, kita tak perlu mendengar omongan orang yang justru merugikan kita."
"Diana Mami sudah banyak berubah... Maafkan Mami jika selama ini Mami dan Papi kurang perhatian terhadapmu..." Ny. Viona membelai rambut panjang Diana.
"Tak perlu minta maaf, Mam... Semua sudah berlalu..." Dan keduanya pun larut dalam pelukan, pelukan kasih sayang antara ibu dan anak.
Sementara di kamar lainnya.
"Mas...." Suara Syifa terdengar begitu seksi.
"Hem..." Jawab Sean yang masih mengatur nafasnya.
"Ayo kita lakukan lagi..." Ajak Syifa malu-malu.
"Kamu ingin lagi?" Tanya Sean seakan tak percaya.
Syifa mengangguk, pipinya nampak merona.
"Bukankah suatu pahala untuk istri jika mengajak lebih dulu..." Cicit Syifa, wajahnya semakin merona.
Sean tertawa kecil, melihat istrinya yang tiba-tiba jadi agresif.
"Kenapa tertawa? Apa ada yang lucu?"
"Kamu yang lucu." Sean langsung menyergap bibir merah Syifa. Sesaat kemudian Syifa sudah berada di atasnya. Membiarkan Syifa melakukan apa yang ia inginkan, dan terjadilah lagi percintaan panas antara mereka berdua.
**********
__ADS_1
Tiga bulan berlalu, perut Diana terlihat mulai membuncit. Usia kandungannya kini menginjak lima bulan. Syifa sangat senang sekali mengusap perutnya, dan mengajaknya berbicara. Sedangkan Diana hanya tertawa saja, melihat tingkah Syifa yang sangat menggemaskan baginya.
"Mba, kira-kira anak kita laki-laki atau perempuan ya?" Tanya Syifa. Memang selama melakukan USG Baik Diana maupun Sean meminta dokter untuk tak memberi tahu jenis kelamin anaknya.
"Emmm, kamu maunya apa?" Diana balik bertanya.
"Apa saja. Kalau laki-laki pasti tampan seperti Mas Sean, dan kalau perempuan pasti cantik..."
"Seperti kita berdua..." Potong Diana. Keduanya pun tertawa.
"Sudah sore Mba, aku mau masak makan malam dulu ya." Syifa bangkit dari duduknya.
"Ayo, biar ku bantu." Diana ikut bangkit.
"Tidak-tidak, Mba Diana di kamar saja. Biar aku saja yang memasak." Cegah Syifa.
"Tapi Syifa..."
"Mba Diana istirahat saja. Ya, ya?"
"Iya, ok. Aku di sini saja." Diana akhirnya mengalah.
"Nah, begitu. Baru ibu hamil yang baik." Ujar Syifa sebelum menghilang di balik pintu kamar. Diana hanya menggeleng melihat kelakuan 'adik'nya itu.
Diana bangun dari duduknya hendak ke kamar mandi. Mendadak ia merasa mual. Walaupun usia kandungannya sudah lima bulan tapi Diana masih mengalami muntah-muntah.
Diana menuju westafel dan mengeluarkan isi perutnya di sana, namun tiba-tiba wajah Diana mendadak pucat setelah melihat apa yang baru saja ia muntahkan.
Diana menggeleng pelan, apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Kenapa sampai muntah darah? Jangan bilang kalau penyakitnya yang dulu datang kembali.
Diana menatap pantulan dirinya di cermin, ia baru ingat beberapa hari belakangan ia merasakan lagi nyeri di dadanya. Diana pikir itu hal yang wajar karena kehamilannya. Tapi sepertinya ia salah.
"Jangan lagi, jangan hancurkan kebahagiaan yang baru saja ku rasakan..." Batin Diana. Air mata Diana mengalir, berharap apa yang ada di pikirannya salah.
**********
"Kamu kenapa, Di?" Tanya Sean yang melihat istrinya sedari tadi lebih banyak diam.
"Apa kamu ingin sesuatu?" Tanya Sean lagi. Diana menoleh, ia tersenyum tipis.
"Aku ingin ke taman."
"Taman? Sekarang?"
"Tidak. Besok saja."
"Ya sudah, nanti aku temani."
"Tidak perlu Sean. Aku ingin pergi sendiri."
"Sendiri? Tapi kamu..."
__ADS_1
"Sean, besok aku ingin ke taman sendiri. Lagi pula tamannya tidak begitu jauh." Diana menatap Sean penuh harap.
"Baiklah, kalau itu keinginanmu. Tapi kamu harus hati-hati, dan kalau ada apa-apa kamu hubungi aku atau Syifa."
"Siap." Diana mengangkat ibu jarinya.
"Ya sudah, ayo kita tidur." Sean merebahkan tubuhnya, di susul Diana yang berbaring di sebelahnya.
"Peluk aku." Pinta Diana. Sean menariknya ke dalam pelukannya.
"Aku mencintaimu..." Ucap Diana yang semakin tenggelam di pelukan Sean.
"Aku menyayangimu." Ucap Sean mengecup pucuk kepala Diana.
Pagi harinya...
"Mba Diana mau kemana?" Tanya Syifa melihat Diana yang sudah rapi.
"Aku ingin ke taman, Syifa." Jawab Diana.
"Taman? Mau ku temani?" Tawar Syifa.
"Tidak perlu, aku ingin sendiri." Jawab Diana. Syifa menatap heran pada Diana, tak biasanya wanita itu pergi sendiri.
"Yakin ingin pergi sendiri?" Tanya Syifa lagi.
"Ya, nanti Sean akan mengantarku sekalian ia berangkat kerja." Jawab Diana. Syifa hanya mengangguk.
**********
Diana berdiri di jembatan kecil yang ada di taman, tatapannya terlihat kosong mengingat apa yang di ucapkan dokter tadi.
"Seperti dugaan awal sebelumnya, ternyata penyakit kanker yang dulu anda derita kini datang kembali. Dan sepertinya kali ini kanker itu semakin ganas."
Diana menggeleng pelan, berharap yang di ucapkan dokter adalah salah.
"Tapi saya sudah melakukan transplatansi hati setahun yang lalu, bagaimana bisa kanker itu datang lagi?" Tanya Diana.
"Nyonya Diana, walaupun anda sudah melakukan transplatansi hati bukan berarti kanker itu bisa hilang. Sel-sel kanker itu masih menetap bersembunyi di sampai titik tertentu ia akan muncul kembali."
"Lalu apa yang harus saya lakukan?" Tanya Diana, ia terlihat putus asa.
"Kemoterapi, bisa mencegah kanker itu menjalar kembali."
"Tidak, saya sedang hamil. Tidak mungkin menjalani kemoterapi." Tolak Diana, ia tahu Kemoterapi menggunakan obat yang keras.
"Pilihannya hanya satu, Nyonya Diana harus mengugurkan kandungan anda."
Air mata Diana menetes, mana mungkin ia rela mengorbankan anaknya sendiri.
__ADS_1