Ikhlasku Berbagi Cintamu

Ikhlasku Berbagi Cintamu
Bab 19


__ADS_3

Air mata Diana menetes, mana mungkin ia rela mengorbankan anaknya sendiri.


"Saya tidak ingin jadi pembunuh anak saya sendiri. Lagi pula kemoterapi tidak akan mnyembuhkan saya, itu hanya menunda saja." Sorot putus asa begitu jelas di mata Diana.


"Lalu apa yang akan anda lakukan?"


Diana terdiam beberapa saat dengan air mata yang terus mengalir.


"Saya akan tetap mempertahankan kandungan saya." Jawab Diana dengan suara bergetar.


"Anda tahu kan kalau itu sangat beresiko, nyawa anda yang jadi taruhannya."


Diana mengangguk lemah.


"Saya akan melakukan apapun untuk anak saya... Saya minta tolong pada dokter, tolong rahasiakan ini dari keluarga saya..."


Dokter wanita paruh baya itu hanya mengangguk, ia bisa merasakan kesedihan yang di alami Diana. Namun ia tak dapat berbuat banyak.


***********


"Mba Diana...?" Suara Syifa mengejutkannya. Membuyarkan lamunannya.


"Syifa? Kamu di sini?" Tanya Diana heran yang melihat Syifa ada di taman.


"Iya, aku menyusul Mba Diana kesini. Karena ini sudah hampir sore, tapi Mba Diana belum juga pulang. Aku sudah menelepon beberapa kali, tapi Mba Diana tidak mengangkatnya. Jadi aku menyusul kemari." Jelas Syifa.


"Mba Diana baik-baik saja?" Lanjutnya sambil menatap Diana yang nampak pucat.


"Aku baik-baik saja, Syifa." Diana tersenyum tipis.


"Yakin?" Tanya Syifa lagi, Diana tertawa kecil.


"Yakin Syifa. Oh ya, aku ingin makan es krim. Ayo kita beli es krim dulu, baru kita pulang." Diana menggandeng lengan Syifa, membawanya ke kedai es krim yang terletak tak jauh dari taman itu.


"Ini enak sekali, kamu harus coba." Diana menyuapkan sesendok es krim ke mulut Syifa.


"Wah benar Mba, ini enak."


"Benarkan?"


"Ya." Syifa mengangguk,


"Tapi punyaku lebih enak." Ujar Syifa tak mau kalah.


"Dan Mba harus coba." Kini gantian Syifa yang menyuapkan es krim itu.


"Ehm, sedang makan es krim rupanya? Pantas aku telepon tidak ada yang menjawab." Sean tiba-tiba datang, ia duduk bergabung dengan para istrinya.


"Mas Sean?"

__ADS_1


"Sean, kamu sudah pulang? Tapi ini masih jam kerja?" Tanya Diana melihat arloji di tangannya.


"Ya, aku pulang cepat hari ini." Jawabnya.


"Mas Sean mau es krim?" Tawar Syifa.


"Em tidak, terima kasih."


Syifa dan Diana saling melirik memberi kode, mereka tahu Sean tidak terlalu suka dengan es krim.


"Ayo Syifa, kita paksa suami kita makan es krim." Diana dan Syifa bangkit dari duduknya, Sean menatapnya penuh tanya, apa yang mau di lakukan kedua perempuan itu?


"Hei, apa yang kalian lakukan?" Tanya Sean ketika Syifa memegang kedua tangannya, dan Diana sudah siap dengan sesendok penuh es krim.


"Menyuapimu." Jawab Syifa dan Diana serentak.


Tawa Diana dan Syifa seketika pecah saat melihat wajah Sean yang terpaksa menelan es krim itu.


"Kalian jahat sekali." Ucap Sean merajuk, mengusap bibirnya yang ada sisa es krim. Tapi Diana dan Syifa masih saja tertawa.


"Tapi enakan es krimnya?" Sean hanya memanyunkan bibirnya, membuat Syifa dan Diana kembali tergelak.


"Setidaknya saat ini aku masih bisa tertawa bersama mereka, entah beberapa bulan yang akan datang... Aku tak tahu..."


**********


"Dengan Syifa?" Ulang Sean, Diana mengangguk.


"Lagipula hanya beda satu hari saja." Lanjut Diana. Sean memang selalu pindah kamar seminggu sekali.


"Tapi..."


"Aku ingin tidur sendiri malam ini." Diana mengusap pelan perutnya.


"Baiklah kalau begitu." Sean mengalah, mungkin ini permintaan calon anaknya yang ingin tidur sendiri.


Syifa duduk di depan meja riasnya, sambil menyisir rambut panjangnya, ia melihat bayangan Sean dari balik cermin.


"Mas Sean?" Tanyanya heran.


"Hm..." Sean berjalan mendekati Syifa.


"Kenapa Mas di sini?"


"Diana yang menyuruhku. Katanya ia ingin tidur sendiri." Jawab Sean, memegang kedua bahu Syifa.


"Benarkah?" Tanya Syifa ragu.


"Ya, kalau kamu tak percaya tanya saja pada Diana." Sean mengecup pucuk kepala Syifa, sebelum menuju ke tempat tidur.

__ADS_1


Diana membuka buku diary nya. Yang mana di sana tertulis semua isi hatinya. Tentang awalnya dia mengenal dan jatuh cinta pada Sean, tentang kekecewaannya saat tahu Sean sudah menikah dengan Syifa, saat dirinya  vonis sakit oleh dokter dan akhirnya sembuh karena Syifa rela berkorban untuk. Orang tuanya yang berubah, menjadi lebih peduli dengannya. Tentang kebahagiaannya selama menikah dengan Sean dan menjadi lebih akrab dengan Syifa. Semua tertulis di sana.


"Hari ini dokter kembali memvonis diriku, kanker yang setahun lalu aku alami kini kembali lagi. Aku tak tahu harus berbuat apa? Aku juga tak ingin mengatakan ini pada keluargaku. Aku tak ingin membuat mereka sedih kembali. Biarlah sakit ku kini menjadi rahasia untuk diriku sendiri.


Seandainya keluargaku tahu, mereka pasti akan memintaku untuk menjalani kemoterapi. Dan aku tak ingin melakukannya. Aku tak ingin membunuh anakku sendiri.


Biarlah anakku hidup, karena akan banyak orang yang menyayanginya. Tak apa kalau aku tak bisa mendampinginya. Anakku sudah punya seorang ayah yang begitu baik, dan juga bunda yang penuh dengan kasih sayang. Dan aku percaya, Sean dan Syifa akan menjaganya dengan baik.


Ya Tuhan, ku mohon... Di sisa hidupku yang tak lama lagi ingin ku lalui bersama orang-orang yang ku sayangi. Berikanlah mereka kebahagiaan, jangan ada kesedihan saat aku pergi nanti. Dan aku berharap aku masih mampu bertahan sampai anakku lahir nanti.... "


Diana menangis dalam gelap, sambil mendekap erat buku diarynya.


**********


"Pagi Syifa." Sapa Diana begitu Syifa memasuki dapur. 


"Mba Diana sedang apa?" Tanya Syifa yang melihat Diana seperti memasak sesuatu.


"Nasi goreng, untuk kita sarapan nanti."


"Mba Diana tak perlu masak, biar aku saja." Syifa mencoba meraih spatula yang di pegang Diana.


"No, pagi ini biarkan aku yang memasak sarapan. Kamu duduk manis saja di meja makan." Ujar Diana sambil menunjuk meja makan dengan spatulanya.


"Tapi nanti Mba Diana capek."


"Syifa aku ini hamil, bukan sakit. Jadi biarkan aku melakukan apa yang aku inginkan. Dan sekarang aku sedang ingin memasak. Okey?"


"Hem..." Syifa berlalu meninggalkan dapur menuju meja makan.


"Pagi istriku..." Sapa Sean yang baru datang.


"Pagi Mas." Balas Syifa yang sedang merapikan meja makan.


"Di mana Diana?"


"Mba Diana sedang memasak, Mas."


"Memasak?"


"Ya, tadi aku sudah melarangnya. Tapi aku malah di usir dari dapur." Sean tergelak melihat ekspresi cemberut Syifa.


"Kenapa tertawa?"


"Em tidak. Syifa, biarkan Diana melakukan apapun yang ia inginkan selama masih tahap wajar. Kamu mengerti kan?"


Syifa mengangguk, memang selama ini ia terlalu melarang Diana melakukan ini dan itu karena takut Diana kelelahan. Tapi mungkin itu membuat Diana tak nyaman.


 

__ADS_1


__ADS_2