
"Aku sudah tidak kuat lagi, Syifa. Aku titip anak kita... Sean, aku mencintaimu, kamu adalah suami terbaik untukku.... Dan Syifa, kamu adik terbaik untukku. aku menyayangimu.... Sampaikan juga pada Mami dan Papiku, kalau aku menyayangi mereka.... "
"Di... Bertahanlah..." Tangan Sean semakin erat menggenggam tangan Diana.
Diana hanya bisa menggeleng lemah.
"Sean...tolong bimbing aku..." Nafas Diana sudah mulai sesak. Syifa yang berdiri di samping Sean sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, hanya air matanya yang mengalir deras melihat Diana yang sudah kesulitan untuk bernafas.
Sambil menahan tangisnya Sean berusaha mengucap dua kalimat syahadat. Dan Diana mencoba mengikutinya walaupun nafasnya sudah tersengal-sengal.
Diana menutup matanya perlahan, setelah selesai mengucapkannya.
********
Isak tangis mengiringi pemakaman Diana. Semuanya nampak begitu terpukul karena kepergian Diana.
"Diana, semoga kamu bahagia di sana, Nak. Sekarang kamu sudah tak merasakan sakit lagi. Maafkan Mami kalau selama ini tak pernah ada waktu untukmu, maafkan Mami yang selalu meninggalkanmu dan kuran memberi perhatian padamu..." Ny. Viona mengusap pelan nisan yang bertuliskan nama Diana Darmawan itu.
"Diana maafkan Papi, karena selama ini Papi kurang memberi perhatian padamu... Dan Papi selalu sibuk dengan pekerjaan, karena Papi fikir itulah yang terbaik untukmu. Tapi nyatanya Papi salah, bukan hanya sekedar uang yang di butuhkan seorang anak, tapi juga perhatian dan kasih sayang. Tapi jauh di lubuk hati yang paling dalam Papi dan Mami sangat menyayangimu..." Papi Diana.
"Mba Diana, maaf kan aku yang sempat cemburu ketika melihat Mba Diana mesra dengan Mas Sean. Dan maaf karena aku sampai tak mengetahui ketika penyakit Mba Diana datang kembali, dan Mba rela melakukan pengorbanan yang begitu besar demi anak kita. Mba Diana adalah wanita yang baik, semoga Allah menempatkan Mba Diana di surgaNya..." Syifa.
"Diana, maafkan aku yang dulu belum bisa menerima kehadiranmu dan malah menyakitimu dengan perkataanku. Maafkan aku, karena sebagai suami belum bisa membimbingmu, dan maafkan aku yang belum bisa menjadi imam yang baik untukmu. Aku menyayangimu, semoga Allah mengampuni seluruh dosamu dan menempatkan mu di surgaNya..." Sean.
Mereka berempat berdoa begitu khusyu, berdoa yang terbaik untuk Diana.
*********
"Papi, Mami sekali lagi kami mohon maaf karena..." Belum sempat Sean melanjutkan ucapannya, Ny. Viona sudah lebih dulu memotongnya.
"Sean, Syifa... Kami sudah tahu semuanya. Dan seandainya Mami jadi Diana, Mami juga akan melakukan hal yang sama... Karena Mami tak mungkin mengorbankan anak Mami sendiri." Ny. Viona tersenyum lembut walaupun wajahnya masih menampakkan kesedihan.
__ADS_1
Entah sudah berapa kali Sean dan Syifa meminta maaf karena merasa bersalah ketika tidak mengetahui tentang penyakit Diana yang datang kembali. Padahal Tuan Frans dan istrinya tak pernah menyalahkan mereka, karena sudah tahu alasan Diana melakukan semua itu. Tuan Frans dan Ny. Viona juga sudah mengikhlaskan kepergian putri tunggal mereka.
"Sebaiknya sekarang kita fokus untuk mengurus malaikat kecil yang di tinggalkan Diana." Tuan Frans mencoba mengalihkan pembicaraan. Bayi kecil itu masih menjalani perawatan di rumah sakit karena berat badannya yang belum normal karena lahir prematur di bulan ke tujuh.
"Apa kalian sudah memiliki nama untuknya?" Tanya Ny. Viona menatap Sean dan Syifa secara bergantian.
Sean dan Syifa saling menatap, kemudian menggeleng pelan. Mereka memang belum menyiapkan nama, mengingat usia kandungan Diana yang baru tujuh bulan.
"Apa boleh Papi dan Mami yang memberinya nama?" Tanya Ny. Viona lagi.
"Tentu saja, Mam." Jawab Sean dan Syifa bersamaan.
"Kalau begitu, kami ingin memberinya nama Rayyan."
"Rayyan?" Ulang Sean.
"Ya, Rayyan. Rayyan Firdaus. Firdaus di ambil dari nama belakangmu Sean Firdaus. Bagaimana?" Tanya Ny. Viona. Sean dan Syifa saling menatap kemudian tersenyum simpul.
**********
Setelah menjalani perawatan selama dua minggu, akhirnya baby Rayyan di izinkan pulang. Berat badannya sudah bertambah menjadi normal. Kedatangannya di sambut suka cita. Syifa dan yang lainnya begitu antusias dalam merawatnya.
Hampir tiap hari Tuan Frans dan Ny. Viona datang berkunjung ke rumah Sean untuk bertemu dan bermain dengan bayi kecil itu. Walaupun bayi kecil itu belum bisa apa-apa, hanya berbaring dan menangis saja. Tapi mampu membuat para orang dewasa itu begitu bahagia.
Pagi ini Syifa menjemur Rayyan dalam gendongannya di bawah sinar matahari pagi di halaman belakang rumah. Tempatnya dulu berbagi cerita dengan Diana sambil menunggu Sean pulang bekerja. Baby Rayyan nampak menggeliat membuat Syifa semakin gemas saja.
"Mba Diana, lihatlah anak kita. Mami dan Papi yang memberinya nama, Rayyan Firdaus. Kami akan merawat dan mengurusnya sebaik mungkin. Kami semua berharap, Rayyan menjadi anak yang soleh, dan berbakti kepada orang tua. Tumbuh menjadi laki-laki yang penuh kasih sayang dan bertanggung jawab. Agar perjuangan dan pengorbanan Mba Diana tak sia-sia untuk melahirkan Rayyan."
Syifa mengecup kening bayi mungil itu.
"Dan terima kasih karena telah memberiku kesempatan menjadi seorang ibu. Aku dapat merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ibu, bagaimana rasanya ada bayi mungil yang menangis di sampingku ketika malam hari, bagaimana rasanya menimangnya dan menggendongnya ketika ia menangis. Dan semua karena Mba Diana, terima kasih..."
__ADS_1
"Syifa..." Panggilan Sean membuat Syifa menoleh.
"Iya Mas." Sean mendekati Syifa, ia duduk di samping Syifa yang tengah menggendong Rayyan. Kemudian mencium pipi bayi mungil itu.
"Anak Ayah tampan sekali..." Ujar Sean sambil membelai pelan pipi Rayyan yang mulai berisi.
"Tentu saja tampan, karena Rayyan laki-laki tidak mungkin kan kalau Rayyan cantik?" Jawab Syifa sekenanya.
"Apa kamu tak bisa bilang, iya Rayyan memang tampan seperti Ayahnya? Begitu kan lebih enak di dengar." Sean terlihat cemberut, Syifa tertawa kecil melihat suaminya yang nampak merajuk.
"Tapi aku benar kan Mas? Rayyan memang tampan karena ia laki-laki?" Syifa kembali mengulang perkataannya membuat Sean semakin merajuk.
"Ya , terserah kamu saja..." Lebih baik ia mengalah saja.
"Mas lucu sekali." Syifa kembali tertawa.
"Tertawalah sepuasmu, Syifa." Sean menjadi gemas melihat istrinya yang terus tertawa.
"Ya, ya, ya... Rayyan memang tampan seperti ayahnya." Ucap Syifa pada akhirnya.
"Kenapa tidak bilang dari tadi?" Sean mencubit pelan hidung mungil Syifa. Kemudian mengecup pipinya.
"Mas, jangan main cium sembarangan. Di depan kita ada Rayyan." Syifa memperingatkan.
"Hei, Rayyan hanya bayi kecil. Ia belum tau apa-apa." Protes Sean.
"Tapi kan Rayyan sudah bisa melihat, Mas." Syifa tak mau kalah.
"Tapi Rayyan belum mengerti apa-apa, Syifa."
Perdebatan kecil mereka akhirnya terhenti karena bayi kecil itu mulai menangis.
__ADS_1