
Sean tersentak, ia sama sekali tak pernah tahu jika Diana mencintainya.
"Maaf Diana, aku tak akan pernah bisa mencintaimu."
Diana kecewa, hatinya begitu sakit mengetahui lelaki yang telah lama di cintainya ternyata sudah menikah. Tapi setelah mendengar cerita Sean tentang Syifa, ia akan berusaha untuk menerima kenyataan.
"Aku pamit pulang." Sean meninggalkan Diana sendiri di kursi taman itu.
**********
Diana menangis di dalam kamarnya. Hidupnya seakan hancur untuk kedua kalinya.
"Sean...."Lirihnya.
"Kenapa kamu tidak di takdirkan untukku?"
Diana memejamkan matanya, kenangan masa lalu berputar. Teringat bagaimana dulu ia bertemu untuk pertama kalinya dengan Sean.
Diana seorang gadis muda yang kurang perhatian dan kasih sayang. Ia tinggal sendiri di Melbourne karena kedua orang tuanya yang ngirimnya ke sana, dengan alasan untuk melanjutkan pendidikannya. Sementara kedua orang tuanya selalu sibuk dengan urusannya masing-masing.
Diana yang hidup sendiri berubah menjadi seorang gadis dengan pergaulan bebas. Pergi ke klub malam dan mabuk-mabukan kerap ia lakukan.
Suatu malam Diana pulang ke apartemennya dalam keadaan mabuk, di temani seorang pria asing yang baru ia kenal di klub. Di sepanjang perjalanan menuju kamar apartemen lelaki itu mencumbui Diana.
"Ck, menyingkirlah!" Ketus Diana yang masih setengah sadar. Tapi lelaki itu masih saja melanjutkan aksinya.
"Aku bilang menyingkirlah!" Teriak Diana mendorong lelaki itu.
"Kamu tak perlu sok suci, Nona! Lebih baik kita nikmati malam ini bersama." Ujar lelaki itu dengan seringai mesumnya.
PLAK!
Tamparan yang cukup keras mendarat di pipi lelaki itu.
"Berani sekali kau menamparku! Dasar wanita murahan!" Lelaki itu balas menampar Diana hingga terjatuh ke lantai.
Sean yang kebetulan lewat di sana tak sengaja melihat adegan itu.
__ADS_1
"Hei kau! Berani sekali berbuat kasar pada wanita!" Hardik Sean.
"Kau jangan ikut campur dan membela wanita murahan ini!"
Sean membantu Diana berdiri, di lihatnya wajah wanita itu yang terluka di sudut bibirnya. Itu membuat Sean emosi, ia paling tidak suka jika ada pria yang menyakiti wanita.
Bugh!
Satu pukulan kembali mendarat di wajah lelaki itu hingga membuatnya jatuh tersungkur. Kondisinya yang di pengaruhi alkohol membuatnya kesulitan untuk bangkit.
"Jangan pernah lagi berani mengganggu gadis ini! Atau kau akan tahu akibatnya!" Ancam Sean.
*********
"Kau tak apa-apa?" Tanya Sean pada Diana yang menangis terisak. Diana hanya menggeleng pelan. Kini mereka berdua berada di apartemen Diana yang ternyata hanya berbeda tiga pintu dari apartemen milik Sean.
"Kamu siapa?" Tanya Diana, ia merasa belum pernah melihat Sean sebelumnya.
"Namaku Sean. Aku baru tinggal di sini."
"Aku dari Indonesia."
"Benarkah? Aku juga dari Indonesia. Senang berkenalan denganmu, namaku Diana." Diana mengulurkan tangannya, namun Sean melipat tangannya di depan dada. Itu membuat Diana tercengang. Gadis itu kembali menarik tangannya.
"Diana, aku pamit pulang. Tidak enak rasanya jika aku terlalu lama di sini." Sean bangkit dari duduk. Diana menatapnya dengan pandangan yang tak bisa di artikan.
"Assalamualaikum." Ucap Sean seraya meninggalkan ruangan itu. Menuju pintu yang sedari tadi dalam keadaan terbuka. Sean tak ingin ada orang yang salah paham ketika melihatnya hanya berdua dengan Diana. Diana hanya terpana tanpa menjawab salamnya.
Sejak hari itu Diana mencoba mencari informasi tentang Sean. Ternyata lelaki itu baru pindah ke sana untuk melanjutkan kuliahnya. Dan kebetulan mereka satu kampus. Itu membuat mereka perlahan mulai dekat walau Sean selalu menjaga jarak.
Diana meminta Sean menjadi temannya. Pada awalnya Sean menolak dan mengatakan tak ada teman antara lelaki dan perempuan. Namun Diana terus memaksa, hingga akhirnya Sean setuju untuk berteman dengannya. Namun masih dengan jarak aman.
Diana begitu kagum dengan Sean, di saat para pria selalu mendekati dan menggoda para wanita, tapi Sean sebaliknya. Ia tak pernah mendekati apalagi menggoda wanita manapun.
Perasaan kagum itu perlahan berubah menjadi cinta. Namun Diana memendam sendiri perasaannya karena takut Sean malah menjauhinya setelah mengetahui perasaannya.
Diana mencoba memperbaiki dirinya, dari awalnya ia yang suka keluar malam dan mabuk-mabukan menjadi gadis rumahan dan hanya fokus pada kuliahnya. Dia juga mencoba memperdalam ilmu agamanya, walaupun belum berani untuk berhijab tapi ia mencoba memperbaiki sholatnya yang dulu selalu ia tinggalkan.
__ADS_1
Perubahan Diana nyatanya di sadari oleh Sean, pria itu senang karena temannya berubah menjadi sosok yang lebih baik. Tanpa menyadari perubahan dalam diri Diana di pengaruhi olehnya.
Diana juga sudah berencana untuk melamar Sean setelah lulus kuliah. Karena ia tahu kalau Sean tak ingin berpacaran, dan ingin langsung menikah. Ia akan menunggu waktu yang tepat untuk melakukan itu semua. Tanpa peduli Sean akan menolak atau menerimanya nanti. Yang terpenting adalah niatnya dulu.
Namun siapa sangka, sebelum semuanya terjadi Sean malah sudah menikah lebih dulu dengan Syifa. Seorang gadis yang baru pertama kali bertemu dengan Sean.
Diana tak bisa menyalahi kehadiran Syifa, karena nyatanya Sean yang jatuh cinta lebih dulu dengan Syifa. Ia hanya akan mencoba melupakan perasaannya terhadap Sean walaupun itu sesuatu yang mustahil baginya.
**********
"Hai." Sapa Diana ragu saat melihat Sean baru keluar dari apartemennya.
"Hai." Balas Sean.
"Aku duluan." Diana berjalan lebih dulu tanpa menunggu jawaban Sean. Hari ini mereka ada kelas, biasanya mereka akan jalan bersama ke kampus yang jaraknya lumayan dekat. Namun sepertinya hal itu tak bisa mereka lakukan lagi.
Diana memejamkan matanya, setitik air matanya menetes mewakili perasaannya.
Ia akan mulai menjauhi Sean, sesuai permintaan Sean. Ia juga tak ingin jika suatu hari nanti istri Sean salah paham dengannya.
**********
Tiga bulan berlalu,
Perlahan Syifa membuka matanya. Cahaya yang masuk seolah begitu menyilaukan, membuatnya mengerjap perlahan.
"Bagaimana Syifa? Apa kamu sudah bisa melihat?" Tanya seorang dokter wanita yang berdiri di hadapannya. Sementara Bunda Yasmin berdiri di sampingnya dengan harap-harap cemas.
Senyum Syifa terbit, saat semuanya mulai jelas terlihat.
"Aku bisa melihat, aku bisa melihat.... Alhamdulillah ya Allah..." Ucapnya di iringi air mata. Bunda yang berdiri di sampingnya langsung memeluknya.
"Ini Bunda Syifa, Alhamdulillah akhirnya kamu bisa melihat lagi." Bunda Yasmin tak kuasa menahan tangisnya.
"Bunda, Syifa bisa melihat lagi..." Isaknya di pelukan ibu mertuanya.
Seminggu yang lalu Bunda Yasmin di hubungi pihak rumah sakit dan mengatakan ada donor mata yang cocok untuk Syifa. Kesempatan itu tak di sia-siakan, mereka berdua langsung pergi ke rumah sakit hari itu juga.
__ADS_1