
Tiga belas tahun berlalu....
Rayyan tumbuh menjadi remaja yang rupawan dan juga sangat pintar. Ia selalu menjadi juara kelas di sekolahnya. Dan kali ini Rayyan lulus dengan nilai terbaik. Itu membuat Sean dan Syifa berinsiatif untuk memberi Rayyan hadiah, liburan ke luar negeri. Melbourne, tempat Sean dan Diana dulu menyelesaikan kuliahnya.
Karena selama ini Sean memang jarang berlibur bersama keluarga kecilnya, karena sibuk mengurus dua perusahaan sekaligus. Perusahaan Firdaus corp milik keluarganya dan juga perusahaan Darmawan grup milik keluarga Diana, yang di serahkan Tuan Frans pada Sean saat Rayyan berusia lima tahun. Bahkan perusahaan itu sudah resmi menjadi milik Rayyan. Dengan Sean yang menjadi walinya, sampai Rayyan dewasa dan siap memimpin perusahaan itu.
"Hati-hati di jalan, kabari kami jika sudah sampai nanti." Ujar Ny. Viona yang mengantar kepergian anak dan juga cucunya bersama sang suami.
Sayangnya mereka tak bisa ikut, karena Tuan Frans yang akan menggantikan pekerjaan Sean selama mereka bertiga pergi.
"Tentu Mam, kita akan kabari Mami dan Papi begitu sampai nanti." Jawab Sean, seraya mencium punggung tangan Tuan Frans dan juga Ny. Viona secara bergantian. Diikuti oleh Syifa dan juga Rayyan.
"Rayyan, jangan nakal ya di sana." Pesan Ny. Viona sambil mengacak-ngacak rambut cucunya yang sudah nampak rapi. Membuat Rayyan cemberut.
"Rayyan bukan anak nakal, Oma. Rambut Rayyan jadi berantakan..." Remaja itu merapikan kembali rambutnya.
"Ya, ya. Cucu Oma anak yang baik."
Pandangan Ny. Viona beralih pada Syifa.
"Syifa..." Ny. Viona memeluk Syifa begitu erat, seolah takut berpisah lama. Entah hanya perasaannya saja atau memang Sean dan Syifa terlihat berbeda di matanya.
"Syifa, hati-hati di jalan ya. Kalau ada apa-apa hubungi Mami." Ny. Viona melepaskan pelukannya.
"Ya, Mami. Mami tak perlu khawatir, kami akan baik-baik saja. Pulang nanti kami akan membawakan banyak oleh-oleh untuk Mami dan Papi." Syifa tersenyum lembut.
"Papi dan Mami tidak perlu oleh-oleh sayang, cukup kalian pergi dan pulang dalam keadaan selamat, itu sudah cukup bagi kami." Ujar Tuan Frans.
"Papi, Mami. Kita tak akan pergi lama. Hanya dua minggu saja. Jangan sedih begitu." Ujar Syifa yang melihat kesedihan di mata Mami Viona.
"Ya sudah, kami berangkat dulu. Papi Mami, doakan kami agar selamat sampai tempat tujuan."
"Ya, Sean... Hati-hati..."
Sean, Syifa dan Rayyan melambaikan tangannya tanda perpisahan. Sementara Ny. Viona tiba-tiba saja merasa sedih seolah tidak akan berjumpa lagi dengan mereka.
"Mami kenapa?" Tanya Tuan Frans yang melihat istrinya menyeka air mata.
__ADS_1
"Mami merasakan sesuatu yang aneh Pi, entahlah Mami merasa tidak akan bertemu mereka lagi..."
"Mami ini bicara apa?"
"Mami hanya takut, Pi. Perasaan Mami yang dulu ketika akan di tinggalkan Diana kini Mami rasakan kembali..."
"Mami tidak boleh bicara seperti itu. Kita seharusnya mendoakan mereka agar selamat selama perjalanan nanti." Tuan Frans merangkul lengan istrinya.
"Lebih baik, kita pulang sekarang." Ajak Tuan Frans yang di jawab anggukan oleh istrinya.
* * * * * *
Selama dua minggu di Melbourne Sean, Syifa dan juga Rayyan menghabiskan waktu mereka untuk berjalan-jalan mengelilingi kota itu.
"Jadi ini kampus tempat Ayah dan Mama Diana kuliah dulu?" Tanya Rayyan memandang bangunan di hadapannya.
"Ya, dulu Ayah dan Mama Diana kuliah di sini dan tinggal di sana." Sean menunjuk sebuah apartemen yang tak jauh dari kampus itu.
"Lalu, apa itu apartemen tempat Ayah dan Mama Diana pertama kali bertemu?"
"Ya, benar. Kami bertemu pertama kali di sana."
Dan itu tidak menjadikan Rayyan berkecil hati karena ia adalah anak dari istri kedua. Justru Rayyan begitu bangga pada Sean, Syifa dan Diana karena pengorbanan yang mereka lakukan. Syifa yang rela berbagi cinta suaminya agar Diana kembali memilki semangat untuk hidup, Sean yang selalu berlaku adil pada kedua istrinya walaupun awalnya sulit, dan Diana yang rela mengorbankan nyawanya demi melahirkan anaknya.
Rayyan juga sudah membaca buku harian Diana yang ia tidak sengaja temukan ketika sedang merapikan kamar Diana.
"Apa nanti aku boleh kuliah di sini juga?" Tanya Rayyan penuh harap.
"Tentu, kamu bebas mau kuliah di mana. Asalkan kamu merasa mampu dengan kemampuanmu sendiri. Ayah dan Bunda akan selalu mendukungmu." Syifa mengusap rambut anaknya.
"Sebaiknya kita pulang sekarang. Kita harus berkemas, karena besok kita harus kembali ke Indonesia." Ajak Sean yang di iringi anggukan oleh istri dan anaknya.
**********
Tubuh Ny. Viona bergetar setelah melihat berita di tv, terlihat jelas di sana nama-nama korban yang menjadi korban kecelakaan pesawat yang terjatuh.
Sean Firdaus
__ADS_1
Asyifa Ramadhani
"Jangan lagi, jangan anak-anakku yang jadi korban..." Lirih Ny. Viona, tubuhnya merosot jatuh ke lantai.
Baru beberapa jam yang lalu dirinya bertukar kabar dengan Syifa, ketika Syifa dan yang lainnya sedang dalam perjalanan menuju bandara.
Namun siapa sangka, setelah itu ia malah melihat berita tentang kecelakaan pesawat Melbourne - Jakarta yang mana ada nama anak-anaknya yang menjadi korban kecelakaan itu.
Dering ponsel mengejutkan wanita paruh baya itu, ia meraih ponsel yang terletak di atas meja. Nampak nama suaminya yang tertera di layar ponsel.
"Halo Mam, Mami sudah lihat berita terbaru?" Suara Tuan Frans terdengar panik.
"Iya Pi, Mami sudah... Mami sudah..." Ny. Viona tidak bisa melanjutkan ucapannya.
"Mami tenang ya, Papi pulang sekarang." Tuan Frans menutup panggilannya. Sedangkan Ny. Viona sudah tak bisa menahan tangisnya, memikirkan nasib anak dan cucunya.
* * * * *
Tangis Tuan Frans dan Ny. Viona pecah saat mengiringi proses pemakaman Sean dan Syifa. Lagi-lagi mereka harus kehilangan anak, bahkan dua sekaligus.
"Sean, Syifa... Kenapa kalian tega meninggalkan kami? Kami sudah kehilangan Diana, dan sekarang kalian juga pergi meninggalkan kami...
Bagaimana dengan Rayyan? Rayyan masih sangat membutuhkan kehadiran kalian... Dan bukankah kalian sudah berjanji pada Diana akan menjaga Rayyan? Tapi kenapa kalian malah tega meninggalkannya...?" Ny. Viona menagis histeris di samping makam Sean dan Syifa yang di kubur berdampingan dengan makam Diana.
"Mami, sudahlah... Kasihan Sean dan Syifa, kita harus mengikhlaskan kepergian mereka. Agar mereka tenang di sana." Tuan Frans mencoba menguatkan istrinya, walau sebenarnya hatinya juga sama hancurnya.
"Mam, masih ada Rayyan yang membutuhkan kita."
Bagai sebuah keajaiban, Rayyan selamat dari kecelakaan maut itu, namun sayang kondisinya kritis. Rayyan mengalami benturan keras di dadanya, hingga menyebabkan kerusakan di paru-parunya. Dan itu membuat Rayyan kini terbaring koma di rumah sakit.
\_\_\_\_\_TAMAT\_\_\_\_\_
Cerita Sean, Syifa, dan Diana memang berakhir sampai di sini. Tidak di paksa tamat, karena sesuai dengan judulnya. Dan nanti akan berlanjut ke cerita Rayyan di buku yang berbeda. Dan semoga cerita Rayyan bisa lebih panjang dari ini.
Ini cerita pertama yang saya publish di sini. Terima kasih atas semua dukungannya.
See You Next Story
__ADS_1
WASSALAM