
"Tolong perlakukan Mba Diana dengan baik, agar aku tak merasa semua ini sia-sia... Dan tolong bantu aku agar ikhlas menerima semua ini..." Isak Syifa yang semakin tenggelam di pelukan Sean.
"Aku janji, akan memperlakukan Diana sebagaimana aku memperlakukanmu..."
Ketiganya kini tengah berkumpul di meja makan untuk sarapan. Terlihat kecanggungan di antara mereka.
"Sean, aku ambilkan sarapan untukmu ya..." Diana menawarkan diri.
"Iya, silahkan." Jawab Sean dengan senyum tipisnya.
"Syifa, aku ambilkan sarapan untukmu juga ya." Ucap Diana setelah selesai memberikan sarapan untuk Sean. Diana hendak meraih piring Syifa, tapi Syifa mencegahnya.
"Tidak perlu Mba, terima kasih. Aku ambil sendiri saja." Tolak Syifa.
"Oh, ok."
"Setelah ini aku ingin bicara dengan kalian berdua." Ucap Sean dengan wajah serius membuat kedua istrinya menoleh ke arahnya. Kemudian keduanya saling menatap.
**********
"Apa yang ingin Mas bicarakan?" Syifa membuka suara, ia duduk di samping Diana. Sedangkan Sean duduk di sofa sebrang mereka berdua.
"Sebelumnya aku ingin bertanya. Diana, apa yang semalam kamu masukkan dalam minumanku?" Sean menatap Diana, membuat wanita itu menundukkan wajahnya. Ia sudah menduga, kalau Sean pasti mengetahui perbuatannya semalam.
"Obat perangsang." Jawabnya pelan, Syifa tercengang mendengarnya. Sementara Sean hanya menghela nafas berat.
"Kenapa kamu melakukan itu?" Tanya Sean dengan sabar.
"Karena... Karena aku ingin kamu menyentuhku. Aku ingin kamu memperlakukanku selayaknya seorang istri. Semalam, tak sengaja aku mendengar perdebatan kalian berdua, dan ternyata kamu belum bisa menerima keberadaanku sebagai istrimu. Maka dari itu, aku nekat melakukan hal itu. Aku tak pernah bermaksud untuk merebutmu dari Syifa. Aku tahu kamu sangat mencintai Syifa, tapi aku juga istrimu sekarang. Aku hanya ingin kamu memperlakukanku sama dengan Syifa. Walaupun kamu tak pernah bisa mencintaiku... " Jelas Diana dengan suara bergetar menahan tangis.
Syifa mengusap pelan punggung Diana, mencoba memberi ketenangan untuk wanita itu.
"Diana, maafkan aku atas perkataanku semalam. Aku janji akan memperlakukanmu dengan baik sama seperti Syifa." Diana mengangkat wajahnya, menatap suaminya.
"Kamu tidak marah?" Tanyanya.
"Semua salahku yang tak pernah memikirkan perasaanmu, aku tak berhak untuk marah."
"Syifa, aku ingin kamu membantu Diana." Kini Sean beralih menatap Syifa.
"Bantu apa, Mas?" Tanya Syifa.
__ADS_1
"Diana sudah menjadi tanggung jawabku, di dunia dan juga di akhirat. Tolong bantu Diana memperbaiki diri dan juga penampilannya."
Syifa terlihat berfikir sejenak, kemudian mengangguk. Sepertinya ia faham maksud dari Sean.
"Tentu, Mas. Aku akan membantu Mba Diana." Jawab Syifa.
"Baiklah, dan Diana ini untukmu." Sean memberikan sebuah kartu pada Diana.
"Gunakan itu untuk membeli semua keperluanmu. Syifa juga memiliki kartu yang sama."
"Terima kasih, Sean." Ucap Diana seraya menerima kartu tersebut.
**********
Sean memilih meneruskan pekerjaan yang tertunda, walaupun masih dalam masa cuti. Sedangkan kedua istrinya berada di kamar Diana.
"Syifa, maafkan perbuatan ku semalam. Sungguh, aku tak ada sedikit pun niat untuk merebut Sean darimu. Aku hanya 'memaksa' supaya Sean mau menyentuhku saja."
"Tak perlu minta maaf Mba..." Syifa tersenyum menenangkan.
"Syifa, apa maksud Sean tadi? Meminta bantuanmu untuk apa?"
"Em.. Maaf sebelumnya, Mba jangan tersinggung ya..."
"Mas Sean ingin Mba Diana merubah penampilan. Maksudnya, menjadi lebih tertutup. Mba Diana kan sekarang istrinya Mas Sean, kalau ada lelaki lain yang melihat aurat Mba Diana itu akan menjadi dosa bagi Mas Sean." Jelas Syifa, Diana mengerutkan keningnya.
"Maksudnya, aku memakai hijab seperti mu?" Tanya Diana, Syifa mengangguk.
"Iya Mba, memakai hijab sebenarnya adalah kewajiban bagi seorang muslimah."
"Kamu tahu Syifa, sebenarnya dulu aku ingin belajar memakai hijab setelah mengenal Sean. Tapi di Melbourne tidak ada seorang pun yang bisa ku pintai tolong. Aku mencoba untuk belajar dari beberapa video, tapi aku malah bingung sendiri." Cerita Diana.
"Aku akan membantu Mba Diana, apa Mba punya baju gamis dan hijab?"
"Sepertinya ada. Aku membelinya beberapa tahun lalu." Diana beranjak dari duduknya ke arah lemari.
"Ah, ini dia." Diana mengeluarkan satu set gamis lengkap dengan kerudungnya.
"Bisa kamu bantu aku?"
"Tentu saja, Mba."
__ADS_1
Syifa memakai kan pakaian itu pada Diana, dan juga mengajarkan Diana cara-cara memakai hijab sambil di iringi obrolan ringan dan juga tawa.
"Wah, Mba Diana cantik sekali..." Puji Syifa tulus.
"Benarkah?" Diana menatap pantulan dirinya dicermin yang nampak berbeda.
"Tentu saja. Mas Sean pasti akan terpesona melihatnya." Tak di sangka, senyum Diana meredup mendengar ucapan Syifa yang barusan.
"Secantik apapun aku, Sean tak akan terpesona..."
"Mba... Kenapa jadi pesimis begitu? Ayo kita temui Mas Sean dan tanyakan pendapatnya."
"Tapi Syifa," Syifa sudah lebih dulu menarik tangan Diana sebelum ia sempat bicara.
Sean menutup laptopnya, pekerjaannya sudah selesai. Memijat keningnya yang terasa pusing karena terlalu lama menatap layar itu.
Tok. Tok. Tok.
"Masuk." Ucap Sean.
"Mas..." Panggil Syifa. Sean menoleh.
"Ada apa Syifa?"
"Tidak. Mba Diana kemarilah." Syifa memanggil Diana yang masih berdiri di luar ruang kerja Sean. Diana melangkah masuk, dengan kepala yang menunduk.
"Bagaimana Mas? Mba Diana cantik kan?" Tanya Syifa. Diana mengangkat wajahnya menatap Sean, terselip senyum simpul di sana. Sean bangkit dari duduknya, melangkah mendekati dua wanita itu. Berdiri tepat di antara keduanya. Menatap Diana dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Cantik, kalau bisa tetaplah seperti ini." Ujarnya.
"Benarkah aku cantik?" Tanya Diana.
"Tentu. Istri-istriku cantik." Jawab Sean membuat kedua istrinya tersenyum.
***********
Seiring berjalannya hari, Sean, Syifa, dan Diana semakin dekat. Sean benar-benar berlaku seadil mungkin pada mereka.
Syifa dan Diana kian akrab, mereka sudah seperti kakak dan adik. Tak jarang ada orang yang mencibir Diana karena menganggapnya sebagai orang ketiga. Dan terkadang juga ada yang mengatakan kalau Syifa terlalu bodoh karena membiarkan suaminya menikah lagi.
Namun mereka tak pernah menggubrisnya. Biarkan saja orang mau mengatakan apapun, mereka yang menjalani, mereka yang merasakan dan tidak ada satu orang pun yang di rugikan oleh mereka.
__ADS_1
"Apa Mba Diana tahu? Aku sangat ingin sekali merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ibu..." Ujar Syifa, mereka berdua sedang duduk bersantai di halaman belakang rumahnya.
"Aku ingin merasakan bagaimana rasanya melahirkan seorang anak... Tapi itu tak mungkin terjadi... Dulu setelah Bunda Yasmin meninggal, aku sering menangis seorang diri. Aku merasa kesepian ketika Mas Sean pergi bekerja, dan seandainya aku punya anak mungkin aku tak akan kesepian. Aku pernah berfikir untuk mengadopsi anak panti asuhan, namun belum sempat aku mengatakannya pada Mas Sean." Diana tersenyum lembut, menggenggam jemari Syifa.