
Syifa menatap pantulan dirinya di cermin, mencoba tersenyum walau hatinya terluka. Klek, pintu kamar terbuka. Nampak Sean masuk ke dalam kamar.
"Mas Sean?" Tanyanya heran.
"Kenapa?" Sean balik bertanya.
"Kenapa Mas di sini?" Tanya Syifa lagi.
"Lalu aku harus kemana?" Kini Sean yang merasa heran.
"Mas, ini malam pengantinmu dengan Mba Diana." Jawab Syifa. Sean memilih diam dan membuka lemari, mengganti baju dan masuk ke kamar mandi.
Beberapa saat menunggu, Sean akhirnya keluar.
"Mas..."
"Mas tidak boleh tidur di sini. Mas harus tidur di kamar Mba Diana." Ucap Syifa menghentikan langkah Sean yang akan ke tempat tidur.
"Apa menurutmu aku bisa tidur dengan Diana?" Tanya Sean yang membelakangi Syifa.
"Tentu saja, Mba Diana istri Mas sekarang." Sean berbalik, menatap datar pada istrinya.
"Aku sudah mengikuti keinginanmu untuk menikahinya. Jadi jangan minta aku untuk tidur dengannya."
Syifa membelalakan matanya, ia kira Sean sudah bisa menerima Diana sebagai istrinya.
"Mas, Mba Diana istrimu. Mas sudah menikahinya, jadi Mas harus bisa menerima keberadaannya."
"Syifa! Jangan paksa aku untuk menuruti keinginanmu yang satu ini!" Syifa terkejut, ini pertama kalinya Sean meninggikan suara di depannya.
"Kamu membentakku, Mas?" Mata Syifa nampak berkaca-kaca, membuat Sean tersadar telah membentak istrinya.
"Syifa, aku tak bermaksud..."
"Maaf, Mas. Maafkan aku." Syifa berjalan menuju tempat tidur, merebahkan dirinya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Sean mengusap kasar wajahnya, menyesali perbuatannya yang tidak bisa menahan emosi. Tanpa mereka sadari, sedari tadi Diana mendengar perdebatan mereka dari balik pintu.
Diana masuk kembali ke kamarnya, duduk di sisi tempat tidur. Setitik air matanya menetes.
"Aku tahu Sean tak mencintaiku, tapi aku istrinya sekarang. Dan ternyata Sean masih tak mau menyentuhku."
"Aku tak boleh menyerah, aku akan lakukan apapun agar Sean mau menyentuhku dan menjadikan aku miliknya seutuhnya."
********
__ADS_1
Sean nampak duduk termenung di ruang tamu, Syifa tak mau berbicara dengannya dan memilih untuk tidur.
"Sean..." Panggil Diana, Sean menoleh. Nampak Diana membawa dua cangkir minuman dengan senyum manis di wajahnya.
"Kamu belum tidur?" Tanya Diana, Sean hanya menggeleng. Diana masih mempertahankan senyumnya.
"Ini, coklat hangat. Minumlah." Diana menyerahkan cangkir yang di bawanya, Sean menerimanya.
"Minumlah selagi hangat." Diana menyesap minumannya, Sean menatap Diana sejenak kemudian ikut meminum minumannya.
"Apa yang kamu lakukan sendirian di sini? Di mana Syifa?"
"Syifa sudah tidur." Jawab Sean singkat, lelaki itu kembali menyesap coklat hangat yang di bawa Diana. Meminum nya sampai habis.
Keduanya membisu beberapa saat. Sean memijat keningnya, tiba-tiba ia merasa pusing.
"Ada apa Sean?" Tanya Diana.
"Entahlah, mendadak kepalaku pusing." Sean memejamkan matanya, merasakan tubuhnya yang mulai terasa panas.
"Sean, kamu baik-baik saja?" Tanya Diana lagi, wanita itu terlihat khawatir.
"Aku..." Ucapan Sean terhenti, nafasnya seakan memburu. Ia menatap Diana, perlahan wajah wanita itu seakan berubah.
"Sean, sepertinya kamu mengantuk. Ayo kita tidur saja." Diana membantu Sean berdiri, membawa lelaki yang sudah berstatus sebagai suaminya itu ke kamarnya.
Diana mendudukkan Sean di sisi tempat tidur, lelaki itu sudah nampak kacau.
"Kenapa panas sekali? Syifa tolong aku, nyalakan AC nya." Sean mulai meracau, padahal AC di kamar itu sudah menyala.
"Biar ku bantu melepaskan bajumu." Diana meraih kancing piama Sean dan membukanya satu persatu, melepasnya, dan melemparkannya begitu saja ke lantai.
"Panas... Syifa..." Sean menarik Diana ke dalam pelukannya, menyusuri leher jenjang Diana dengan bibirnya. Diana sedikit terkejut, namun kemudian ia menikmati sentuhan Sean.
Sean merebahkan tubuh Diana, dan naik ke atasnya.
"Syifa, aku mencintaimu..." Kata terakhir yang keluar dari mulut Sean sebelum keduanya larut dalam kegiatan malam itu
**********
Suara dering alarm membuat Sean terjaga, meraih jam weker di atas nakas dan mematikannya .
Sean memijat kepalanya yang masih terasa pusing. Ia kemudian bangkit dari tidurnya. Sesaat kemudian Sean tersadar, ia ada di kamar yang berbeda.
Sean mengedarkan pandangannya, dan berhenti pada sosok yang sedang tertidur di sampingnya.
__ADS_1
"Diana?" Sean melebarkan matanya, menyadari telah terjadi sesuatu antara dirinya dan juga Diana. Tubuh polos keduanya semakin menguatkan fakta tersebut.
"Apa yang sudah ku lakukan?"
Mata Diana mengerjap perlahan, menyadari pergerakan di sampingnya. Di lihatnya Sean yang duduk di atas tempat tidur dengan wajah bingungnya.
"Sean, kamu sudah bangun?" Tanyanya seraya beranjak duduk.
"Apa yang sudah terjadi semalam?" Tanya Sean datar.
"Semalam? Tentu saja kita menghabiskan malam bersama." Jawab Diana dengan wajah yang merona malu.
Sean segera memakai pakaiannya, dan keluar dari kamar Diana tanpa berucap sepatah kata pun. Ia kembali ke kamar Syifa. Di lihatnya Syifa yang masih tertidur, ia segera masuk ke kamar mandi. Tak lama kemudian Syifa terbangun, di lihatnya sisi sebelahnya yang masih nampak rapi.
"Mas Sean tidak tidur di sini? Mas Sean pasti tidur di kamar Mba Diana..." Senyum Syifa terbit, walaupun hatinya sedikit sakit.
Klek, pintu kamar mandi terbuka, nampak Sean keluar dari sana dengan hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya. Tanpa menyadari Syifa yang sudah terbangun.
Beberapa tanda merah yang di tinggalkan Diana di tubuh Sean nampak terlihat jelas di kulit putihnya.
"Mas Sean sudah tidur dengan Mba Diana? Alhamdulillah, berarti Mas Sean sudah bisa menerima kehadiran Mba Diana." Syifa bangun dari tidur dan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Mereka bertiga melaksanakan sholat berjamah untuk pertama kalinya, tadi sebelum sholat Syifa memanggil Diana lebih dulu dan mengajak berjamaah bersama Sean.
"Aku kembali ke kamar ya Syifa." Ucap Diana begitu selesai sholat.
"Iya, Mba." Jawab Syifa dengan senyumnya, Diana masih tampak kesulitan berjalan akibat perbuatan Sean. Itu tak luput dari perhatian Syifa. Sementara Sean hanya memandang kedua istrinya dan mengatakan apapun.
"Apa kamu masih marah padaku?" Tanya Sean begitu Diana keluar kamar mereka.
"Marah? Marah untuk apa Mas?" Syifa balik bertanya.
"Marah karena aku telah membentakmu semalam." Sean berjalan mendekati Syifa.
"Aku tak marah padamu, Mas... Aku hanya sedikit sedih saja..." Jawab Syifa menundukkan wajahnya. Sean menggenggam kedua tangannya
"Maafkan aku, aku tak bermaksud untuk membentakmu."
"Tidak apa-apa Mas. Mas tidak perlu minta maaf. Aku yang sudah keterlaluan..." Lirih Syifa.
"Aku hanya tak ingin menyakitimu lagi dengan tidur bersama Diana. Aku tahu kamu hanya berpura-pura tegar saja..." Sean menarik Syifa ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku..." Bisiknya.
"Tolong perlakukan Mba Diana dengan baik, agar aku tak merasa semua ini sia-sia... "
__ADS_1