
Aku bersyukur, karena Allah mempertemukanku denganmu dan juga Syifa. Mungkin tanpa kalian aku hanya akan berakhir sebagai gadis yang nakal karena selalu keluar malam dan mabuk-mabukan.
Tapi kalian membuatku hidupku berubah, sekarang hidupku sangat jauh lebih baik. Aku jadi lebih mengenal Allah, Tuhanku dan berharap selalu lebiih dekat denganNya.
Terima kasih Mami dan Papi karena telah membawa mereka bertemu lagi denganku.
Terima kasih Sean dan Syifa karena kalian telah memberi kehidupan kedua untukku.
Aku berjanji, akan menjaga kandunganku dengan baik. Aku rela melakukan apa saja, dan mengorbankan nyawaku demi menjaga calon anak kita.
Sean, aku mencintaimu dan Syifa aku menyayangimu."
**********
Tok. Tok.Tok
Sean mengetuk pintu kamar Diana tapi tak ada jawaban.
"Diana?" Sean membuka pintu kamar itu. Terdengar suara dari kamar mandi. Sepertinya Diana sedang mengeluarkan isi perutnya.
"Diana, kamu baik-baik saja?" Sean memijat lembut leher belakangnya.
"Aku baik-baik saja." Diana membersihkan mulut dan wajahnya. Wajahnya nampak pucat. Sean membantunya kembali ke tempat tidur.
"Aku akan bawakan sarapan." Ucap Sean.
"Tidak perlu, Sean. Aku sarapan di meja makan saja." Tolak Diana.
"Tapi kamu..."
"Sean, aku tidak apa-apa. Bukankah wajar wanita hamil mengalami morning sickness?" Tanya Diana, Sean nampak berfikir.
"Apa kamu ingin makan sesuatu?" Tanya Sean, Diana menggeleng.
"Tidak, tunggu saja aku di meja makan. Aku mau mandi dulu. Okey?"
"Baiklah." Sean hendak melangkah, namun kemudian Diana mencegahnya, menarik tangannya.
"Atau kita mandi bersama saja? Kita belum pernah mandi bersama?" Goda Diana dengan tatapan nakalnya. Sean yang di tatap seperti itu jadi salah tingkah.
"Ehm, Aku sudah mandi, Di." Sean mencoba menolak, dan mencoba melepaskan tangan Diana yang masih memegangnya dengan erat.
"Tapi aku ingin mandi bersamamu." Diana merengek.
"Diana aku..."
__ADS_1
"Aku tidak menerima penolakan." Diana kembali menarik suaminya ke kamar mandi. Diana yang agresif menjadi semakin agresif, mungkin karena pengaruh hormon kehamilannya. Sean hanya pasrah dan membiarkan Diana melakukan apa yang ia inginkan.
Syifa duduk di ruang makan, sambil sesekali melirik ke arah kamar Diana.
"Mana Mas Sean dan Mba Diana? Kenapa mereka lama?" Syifa mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di meja makan.
Tadi Syifa meminta Sean memanggil Diana untuk sarapan, sedangkan dirinya menyiapkan sarapan di meja makan.
"Oh iya, mungkin Mba Diana muntah-muntah bukankah wanita hamil biasanya mengalami itu di pagi hari? Sebaiknya aku susul saja. Mungkin mereka butuh bantuan." Syifa bangun dari duduknya, melangkahkan kaki menuju kamar Diana.
"Mba Diana?" Panggil Syifa, melihat pintu kamar yang sebagian terbuka Syifa memberanikan diri untuk masuk.
Kosong, baik Sean dan Diana tidak nampak di sana.
"Kemana mereka?" Syifa mendekati tempat tidur, terlihat beberapa pakaian tergeletak di lantai depan pintu kamar mandi.
"Mas Sean dan Mba Diana..." Sadar akan sesuatu Syifa memilih untuk pergi dari kamar itu, tapi belum sempat ia melangkah pintu kamar mandi lebih dulu terbuka. Nampak di sana Sean dan Diana yang seperti baru selesai mandi.
"Syifa?" Sean terpaku melihat Syifa berdiri di sana.
"Maaf, maaf aku tak bermaksud lancang. Aku hanya ingin memanggil Mas Sean dan Mba Diana untuk sarapan." Syifa menundukkan wajahnya, ia jadi merasa tak enak.
"Aku permisi dulu." Syifa berjalan cepat menuju pintu kamar.
Sean dan Diana saling menatap, mereka merasa tak enak pada Syifa.
"Tak seharusnya tadi aku masuk begitu saja ke kamar Mba Diana." Batin Syifa.
"Syifa pasti tau apa yang aku lakukan dengan Sean di kamar mandi tadi. Hah, aku jadi malu dan tak enak padanya." Batin Diana.
Sementara Sean hanya melirik kedua istrinya secara bergantian.
"Aku selesai, aku ke kamar dulu." Sean bangkit lebih dulu dan meninggalkan meja makan.
"Ehm, Syifa. Aku... Aku minta maaf soal tadi." Ucap Diana ragu-ragu, memecah keheningan antara mereka berdua.
"Mba Diana, tak perlu minta maaf. Aku yang salah, aku yang lancang masuk kamar Mba Diana." Syifa menunduk, kedua wanita itu merasa tak enak satu sama lain.
"Tadi aku yang memaksa Sean..." Diana mengaku.
"Tidak apa-apa Mba..." Syifa tersenyum menenangkan. Tapi Diana tetap saja merasa tak enak.
"Kamu pasti tadi menunggu terlalu lama, makanya menyusul ke kamar ku." Sambung Diana.
"Em, iya. Tadi aku mengira kalau Mba Diana kenapa-kenapa, karena biasanya wanita yang hamil mengalami muntah-muntah. Dan aku pikir Mba Diana butuh bantuan." Diana tersenyum, ternyata Syifa begitu mengkhawatirkannya.
__ADS_1
"Iya, tadi aku memang sempat muntah."
"Benarkah? Lalu bagaimana? Apa Mba Diana butuh sesuatu atau ingin makan sesuatu?" Lagi-lagi Diana tersenyum, mendengar pertanyaan Syifa yang sangat peduli padanya.
"Tidak Syifa, aku tidak ingin apa-apa."
"Kalau Mba Diana butuh sesuatu atau ingin makan sesuatu, katakan padaku ya. Aku akan memasakannya."
"Tentu, karena ini anak kita." Keduanya tertawa, rasa canggung tadi menguap begitu saja.
*******
Klek, pintu kamar terbuka Syifa masuk ke dalam kamarnya. Nampak Sean sedang berdiri menatap keluar jendela. Syifa melingkarkan tangannya di pinggang suaminya.
"Apa kamu marah?" Tanya Sean.
"Tidak."
"Maaf, kalau aku tadi menyakiti hatimu."
"Tidak apa-apa, Mas. Tadi Mba Diana sudah mengatakannya." Syifa menyandarkan kepalanya di punggung Sean.
"Apa yang Diana katakan?"
"Em... Mba Diana bilang, kalau Mba Diana yang memaksa Mas Sean..." Syifa tertawa, tapi sejenak kemudian ia menangis.
"Maafkan aku..." Menyadari sang istri yang menangis, Sean memegang tangan Syifa yang melingkar di pinggangnya.
"Ini salahku, tak seharusnya tadi aku masuk ke kamar Mba Diana."
"Aku memang ikhlas Mas menikah dengan Mba Diana, tapi aku tak bisa membohongi diriku sendiri kalau aku masih saja merasa sakit jika melihat kemesraan kalian berdua." Syifa terisak, Sean membalikkan badannya, membuat keduanya saling berhadapan.
"Kamu cemburu?" Syifa hanya mengangguk. Sean menariknya ke dalam pelukannya.
"Maaf." Hanya itu yang mampu Sean katakan. Membiarkan Syifa menumpahkan tangisnya.
*******
"Kamu hamil, Di?" Tanya Ny.Viona sambil melihat photo usg dengan mata berbinar. Diana mengangguk diiringi senyuman.
"Alhamdulillah ya Allah..." Ny. Viona memeluk Diana, Sean dan Syifa menatap kedua dengan binar kebahagiaan. Tadi setelah pulang dari dokter kandungan, mereka bertiga berkunjung ke rumah orang tua Diana.
"Selamat ya Di, Sean dan juga Syifa. Kalian sebentar lagi akan menjadi orang tua." Ny. Viona tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
"Terima kasih Mam..."
__ADS_1
"Bagaimana kalau kalian menginap di sini saja? Mami sendirian di rumah, Papi sedang ke luar kota dan baru kembali besok."