Ikhlasku Berbagi Cintamu

Ikhlasku Berbagi Cintamu
Bab 7


__ADS_3

Seminggu yang lalu Bunda Yasmin di hubungi pihak rumah sakit dan mengatakan ada donor mata yang cocok untuk Syifa. Kesempatan itu tak di sia-siakan, mereka berdua langsung pergi ke rumah sakit hari itu juga.


Setelah menjalani berbagai macam pemeriksaan dan memastikan kondisi Syifa baik-baik saja, dan siap menerima donor mata operasi segera di laksanakan.


Syifa meminta pada Bunda Yasmin agar tak memberi tahu Sean. Karena ia ingin membuat kejutan untuk suaminya yang akan segera kembali. Bunda Yasmin setuju saja, ia juga ingin melihat bagaimana reaksi Sean begitu mengetahui kalau istrinya sudah bisa melihat lagi.


**********


Bandara internasional Soekarno-Hatta


Sean mengedarkan pandangan, mencari dua sosok wanita yang di rindukannya. Hari ini hari kepulangannya ke tanah air setelah menyelesaikan kuliahnya selama empat tahun di Melbourne. Terlihat Bunda Yasmin berdiri tak jauh dari dirinya sambil melambaikan tangan. Sean segera menghampiri.


"Assalamualaikum, Bunda." Diciumnya tangan wanita yang sudah melahirkan itu.


"Waalaikumsalam..." Bunda mengusap lembut rambut anak sulungnya.


"Bagaimana kabar Bunda? Sehat?"


"Alhamdulillah, Sean. Bunda sehat. Kamu sendiri bagaimana?"


"Sean juga sehat, Bunda." Jawabnya. Mata Sean berkeliling mencari seseorang.


"Syifa dimana, Bun? Apa ia tidak ikut kemari?" Tanya Sean setelah matanya tidak menemukan sosok yang ia cari.


"Ada, Syifa ikut menjemputmu kemari. Dia menunggu di sana." Bunda Yasmin menunjuk tempat yang tak begitu jauh dari mereka. Nampak seorang perempuan berhijab syar'i berdiri membelakangi mereka.


"Bunda, kenapa Syifa di tinggal sendiri?" Tanya Sean, lelaki itu terlihat cemas.


"Syifa punya kejutan untuk kamu, makanya dia menunggu di sana." Jawab Bunda Yasmin di iringi senyum teduhnya.


"Kejutan? Kejutan apa, Bun?" Sean mengerutkan keningnya.


"Kamu akan tahu nanti. Ayo kita ke sana." Ajak Bunda Yasmin. Keduanya melangkah mendekati Syifa.


"Assalamualaikum, Asyifa..." Ucap Sean membuat Syifa menoleh.


"Waalaikumsalam, Mas." Jawab Syifa seraya tersenyum manis. Ia meraih tangan Sean dan menciumnya. Sean menautkan kedua alisnya, memandang sang istri yang nampak berbeda.


"Ada apa, Mas?" Tanya Syifa yang melihat suaminya hanya diam memandangnya.

__ADS_1


"Kenapa sepertinya ada yang berbeda dari kamu?"  Ucapnya penuh tanda tanya.


"Oh ya, apa yang berbeda?" Syifa menatap dalam mata suaminya. Keduanya pun saling menatap, sementara Bunda Yasmin hanya menahan tawanya melihat sepasang suami istri itu.


Sean melebarkan matanya, ketika ia menyadari sesuatu yang berbeda itu dari istrinya.


"Kamu sudah bisa melihat?" Tanya Sean yang nampak tak percaya. Syifa mengangguk dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.


"Masya Allah, kamu sudah bisa melihat? Alhamdulillah ya Allah..." Sean menarik Syifa ke dalam pelukannya. Air matanya mengalir, di kecupnya pucuk kepala sang istri berkali-kali.


"Sudah-sudah, pelukannya di lanjut di rumah saja." Goda Bunda Yasmin, membuat keduanya melepas pelukannya dengan wajah merona. Sadar bahwa mereka sedang di tempat umum.


**********


"Sean, makan yang banyak ya. Ini semua istri kamu loh yang masak." Ucap Bunda Yasmin sambil meletakan makanan ke atas meja makan.


"Oh ya?"


"Ya, selama kamu di Melbourne, Syifa meminta Bunda mengajari memasak makanan kesukaan kamu. Walaupun saat itu Syifa masih belum bisa melihat."Jelas Bunda Yasmin. Sean menatap nanar pada Syifa yang tengah tersenyum terhadapnya.


"Terima kasih istriku." Ucapnya.


"Sudah menjadi tugasku, Mas." Jawab Syifa malu-malu.


"Terima kasih Bunda. Terima kasih karena sudah membantu menjaga dan merawat istriku, terima kasih karena mau mengajarkan istriku memasak makanan kesukaanku." Ucap Sean tulus.


"Sama-sama. Syifa juga anak Bunda. Sudah menjadi tugas Bunda untuk melakukan semua itu." Jawab Bunda di iringi dengan senyumannya.


**********


Setelah makan siang Sean dan Syifa kembali ke kamar mereka.


"Kamu tahu, aku sangat merindukanmu." Bisik Sean seraya melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang istri, dan memeluknya erat dari belakang. Syifa memegang tangan Sean yang melingkar di pinggangnya, menyadarkan kepalanya di dada Sean. Menikmati kehangatan pelukan itu.


"Kenapa tidak bilang padaku, kalau kamu sudah bisa melihat lagi? Kapan kamu menjalani operasi?" Tanya Sean yang masih memeluk istrinya.


"Seminggu yang lalu, Mas. Aku sengaja meminta Bunda tak memberi tahu mu karena ingin membuat kejutan untukmu." Jawab Syifa.


Sean kemudian memutar tubuh sang istri, membuat keduanya saling berhadapan.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, sangat. Tak peduli bagaimana pun keadaanmu..." Ucap Sean dengan tulus membuat mata Syifa berkaca-kaca.


"Kenapa?" Tanya Syifa, nafasnya seakan tercekat.


"Karena hatimu, ketulusan mu. Jadi aku tak peduli bagaimana pun keadaan fisikmu. Walaupun kamu tidak bisa melihat, tapi bagiku kamu adalah wanita tercantik yang ada di dunia ini..."


"Apa suamiku sedang merayuku dengan kata-kata manisnya?" Tanya Syifa.


"Apa suamiku juga sering merayu gadis lain selain aku?" Sambungnya.


"Hei, aku bukan tipe lelaki yang suka menebar rayuan. Kamu satu-satunya perempuan yang ku rayu, karena kamu istriku dan aku mencintaimu..." Ucap tulus, tak ada kebohongan di matanya.


Setitik air mata Syifa menetes, ia sangat bahagia. Di saat keadaannya terpuruk setelah kehilangan sang ayah, Tuhan menggantinya dengan Sean. Sosok lelaki yang penuh dengan kasih sayang, sama seperti ayahnya.


"Jangan menangis, aku tak ingin melihat air matamu. Aku ingin selalu melihat senyum di wajahmu." Sean mengecup kening Syifa, begitu dalam dan lama. Seolah mengalirkan rasa cinta dan rindu di antara keduanya.


Sean melepas hijab Syifa, membuat rambut wanita itu jatuh tergerai. Meraih dagunya membuat wajah Syifa terangkat, perlahan namun pasti kedua wajah itu mendekat. Dan keduanya larut dalam ciuman, ciuman pertama bagi Sean dan juga Syifa.


**********


Sean menyeka peluh yang mengalir di kening Syifa, wajah wanita itu nampak lelah setelah melakukan kegiatan suami istri untuk pertama kalinya.


"Kamu lelah?" Tanya Sean, Syifa hanya mengangguk dengan pipi merona. Kini dirinya sudah menjadi milik Sean seutuhnya.


"Kita mandi dulu, baru istirahat." Sean bangkit dari tidurnya.


"Kita?" Tanya Syifa.


"Ya, kita. Aku ingin memandikan mu lagi seperti waktu itu."


"Mas...." Pekik Syifa, wajahnya memerah.


"Kenapa?" Tanya Sean dengan tampang polosnya.


"Aku malu."


"Mau? Ya sudah, ayo..." Syifa tercengang, rasanya ia bilang malu bukan mau. Tapi belum sempat Syifa berucap lagi, Sean sudah lebih dulu mengangkat tubuhnya yang hanya berbalut selimut menuju kamar mandi.


**********

__ADS_1


Diana menatap kosong pada hamparan perkebunan di hadapannya. Hidupnya yang hampa semakin hampa karena kehilangan sosok pria yang dicintainya.


"Kenapa hidupku seperti ini...? Apa aku memang tak pantas untuk tidak di cintai? Kedua orang tuaku selalu sibuk dengan urusannya sendiri. Tak pernah memberiku perhatian sedikit pun. Dan saat aku jatuh cinta untuk pertama kalinya, berharap pria yang ku cintai juga akan mencintaiku nyatanya ia malah menikah dengan orang lain. Padahal aku sudah menunggunya selama tiga tahun... "


__ADS_2