Ikhlasku Berbagi Cintamu

Ikhlasku Berbagi Cintamu
Bab 8


__ADS_3

"Kenapa hidupku seperti ini...? Apa aku memang tak pantas untuk tidak di cintai? Kedua orang tuaku selalu sibuk dengan urusannya sendiri. Tak pernah memberiku perhatian sedikit pun. Dan saat aku jatuh cinta untuk pertama kalinya, berharap pria yang ku cintai juga akan mencintaiku nyatanya ia malah menikah dengan orang lain. Padahal aku sudah menunggunya selama tiga tahun... "


Setelah lulus kuliah Diana memutuskan untuk kembali ke Indonesia, tapi ia memilih keberangkatan yang berbeda dengan Sean.


Di saat seharusnya ia menyatakan cinta pada lelaki itu, justru ia harus menyerah sebelum melakukannya.


Niat hati ingin melupakan perasaannya pada Sean, yang ada ia malah semakin kepikiran dan tersiksa sendiri. Sean satu-satunya pria yang berhasil menaklukkan hatinya. Sean yang mengajarkannya untuk lebih menghargai hidup dan Sean yang membuat hidupnya menjadi lebih berarti.


********


"Bulan madu?" Tanya Sean dan Syifa secara bersamaan.


"Ya, bulan madu. Bunda rasa kalian memerlukannya." Jawab Bunda Yasmin. Sean dan Syifa saling memandang.


"Tapi Bun, bukankah aku harus bekerja di perusahaan?" Tanya Sean ragu.


"Sean, bulan madu hanya dua minggu. Setelah itu kamu bisa mulai bekerja." Ucap Bunda Yasmin.


"Bagaimana Syifa? Kamu setuju kan kalau kalian pergi berbulan madu?" Tanya Bunda Yasmin pada Syifa.


"Itu... Syifa bagaimana Mas Sean saja." Jawab Syifa.


"Sean, bulan madu penting untuk pasangan pengantin baru seperti kalian. Apalagi kalian berdua baru bertemu sekali dan langsung menikah. Dan setelah itu kalian berpisah enam bulan lamanya. Jadi apa salahnya jika kalian berbulan madu sekarang? Setidaknya itu bisa membuat kalian berdua lebih dekat, dan saling mengenal lebih jauh satu sama lain. "Jelas Bunda panjang kali lebar.


"Sean bukannya tidak mau, Bun. Sean hanya takut merepotkan Bunda saja. Dan juga perusahaan kita, bukankah Sean harus segera mengurusnya?" Tanya Sean merasa tak enak.


"Sean, seperti yang Bunda bilang tadi. Kalian hanya pergi dua minggu saja. Itu pun tidak sampai keluar negeri. Hanya di puncak saja. Kita kan punya villa di sana. Tentang perusahaan, orang-orang kepercayaan almarhum Ayahmu masih bisa menanganinya." Bunda Yasmin menatap pasangan suami istri itu bergantian.


"Bunda hanya ingin kalian lebih dekat dan lebih mengenal satu sama lain saja." Sambungnya.


"Kalau itu memang keinginan Bunda, baiklah. Kami akan pergi." Jawab Sean di iringi anggukan dari Syifa.


"Kalau begitu, kalian pergi besok pagi. Bunda sudah persiapkan semuanya. Hanya pakaian saja yang perlu kalian siapkan." Jelas Bunda Yasmin.


"Iya Bunda, terima kasih." Jawab Sean dan Syifa serentak.


************


Syifa membuka jendela kamar, menikmati pemandangan alam yang masih nampak asri. Udara sore yang dingin menyelinap masuk. Namun seketika berubah menjadi hangat ketika lengan kokoh itu memeluknya.

__ADS_1


"Udaranya dingin, kenapa kamu buka jendelanya?" Tanya Sean sambil memeluknya erat.


"Aku ingin menikmati pemandangan sore di sini, Mas. Lagipula sudah tidak dingin lagi, karena Mas memelukku." Syifa menyadarkan kepalanya di dada Sean, mendengar detak jantung pria itu yang membuatnya terasa nyaman.


Kini mereka sudah sampai di villa, tempat dimana mereka akan berbulan madu.


"Aku akan terus memelukmu, jika itu yang kamu inginkan..." Sean meraih dagu sang istri hingga wajah mereka berhadapan. Dikecupnya dengan lembut bibir merah muda itu yang selalu menjadi candu baginya.


"Aku mencintaimu..." Ucap Sean setelah tautan bibir mereka berdua terlepas. Syifa hanya tersenyum, ia belum berani membalas kata-kata itu.


Malam hari tiba, kedua pasangan suami istri yang sedang di mabuk asmara itu saling memuaskan satu sama lain. Sean menghujani Syifa dengan sentuhan lembutnya membuat Syifa seakan melayang di udara. Syifa pun tak mau kalah, ia menanggalkan sisi polosnya dan melayani suaminya dengan sangat baik. Bukankah sudah menjadi kewajiban seorang istri untuk melayani suami?


Keduanya mengerang bersama setelah mencapai puncaknya. Udara malam yang dingin sangat mendukung kegiatan mereka berdua.


**********


Diana berjalan menyusuri perkebunan. Sudah beberapa hari ia di sana tanpa tujuan yang jelas. Yang dilakukannya hanyalah berjalan tanpa arah tujuan, dan kembali ke villa setelah malam tiba.


Terlihat di sana beberapa orang yang sedang berfoto. Mungkin orang-orang yang sedang liburan.


Diana menghela nafas berat, ia begitu iri melihat orang-orang itu yang nampak bahagia. Ada yang bersama anak-anaknya dan juga pasangannya. Sedangkan dirinya hanya seorang diri, selalu sendiri.


"Aduh, maaf Mba. Saya tidak sengaja." Ucap seorang gadis muda yang tak sengaja menabrak nya ketika sedang berlari.


"Tidak apa-apa." Jawab Diana sambil tersenyum. Ia memandang gadis itu, seorang wanita berwajah imut dengan pakaian syar'i.


"Sekali lagi saya minta maaf, Mba." Ucap gadis muda itu merasa tak enak.


"Tidak apa-apa, Nona. Jangan merasa tak enak begitu." Diana tertawa kecil, melihat gadis imut itu yang sangat menggemaskan baginya.


"Syifa...!! Jangan lari kamu...!" Teriakan seorang lelaki membuatnya terpaku. Ia sangat mengenali suara itu. Diana membalikkan badannya, nampak seorang pria berlari pelan kearahnya.


"Sean...?" Lirihnya. Sementara Syifa masih berdiri di samping Diana, ia sudah lelah berlari sejak tadi.


"Kena kau!" Sean langsung memeluk Syifa, tanpa memperhatikan wanita yang berdiri di tak jauh istrinya.


"Ampun, Mas. Aku capek..."


"Kamu menyerah?" Sean masih memeluknya dengan erat.

__ADS_1


"Iya, Mas. Aku menyerah." Syifa mengangkat tangannya ke udara. Sedetik kemudian ia turunkan lagi, setelah menyadari wanita yang tadi tak sengaja ditabraknya memperhatikan mereka berdua.


"Mas." Panggil Syifa membuat Sean menoleh kearah yang di isyaratkan istrinya.


"Diana?" Gumam Sean melepaskan pelukannya. Sementara Diana, mengerjap-ngerjapkan matanya. Menahan air mata yang sudah siap mengalir.


"Diana?" Syifa mengulang ucapan suaminya.


"Ehm, hai Sean." Sapa Diana dengan suara menahan tercekat menahan sesak.


"Kamu di sini?" Tanya Diana.


"Iya, aku sedang berbulan madu dengan istriku." Jawab Sean.


"Oh iya, kenalkan. Ini Syifa, istriku." Syifa yang sedari tadi hanya diam, mengulurkan tangannya.


"Syifa, Mba Diana ya? Teman kuliah Mas Sean dulu?"


"Iya. Aku teman Sean kuliah." Jawab Diana menerima uluran tangan Syifa dengan senyum yang di paksakan.


"Eum, Sean Syifa. Aku duluan ya." Pamit Diana, ia berlari kecil meninggalkan suami istri itu. Lebih baik ia pergi daripada menyaksikan kemesraan mereka. Syifa menatap punggung Diana yang menjauh, ia bisa melihat kesedihan di mata wanita itu.


"Mba Diana cantik ya." Gumamnya. Sean mengerutkan keningnya.


"Kenapa?" Tanyanya pada istrinya.


"Mba Diana cantik."


Tak bisa dipungkiri Diana memang cantik, tubuhnya tinggi bak seorang model dan kulitnya putih mulus dengan rambut panjang berwarna cokelat yang berkilau.


"Tapi bagiku kamu adalah wanita tercantik." Sean menggenggam tangan istrinya.


"Apa yang Mba Diana lakukan di sini, Mas?" Tanya Syifa sambil menatap Sean.


"Aku tidak tahu Syifa." Sean mengangkat bahunya.


"Ayo kita ke sana saja." Sean menarik tangan istrinya agar mengikuti langkahnya.


 

__ADS_1


__ADS_2