
"Kamu tahu, aku benar-benar iri padamu. Aku yang selama bertahan-tahun mengharapkan cinta Sean, tapi Sean tak pernah menganggapku lebih dari sekedar teman. Sedangkan kamu, kamu baru pertama kali bertemu dengannya. Tapi sudah berhasil membuat Sean jatuh cinta padamu, bahkan Sean langsung menikahi mu... " Diana menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, wanita itu tidak bisa menahan tangisnya. Dadanya terasa sesak setelah mengatakan semua itu.
"Mba Diana..." Mata Syifa berkaca-kaca, ia bisa merasakan apa yang Diana rasakan. Diana yang kurang perhatian dari orang tuanya, lalu jatuh cinta dengan seorang laki-laki yang hanya menganggapnya sebagai teman.
Syifa mengusap pelan rambut Diana.
"Aku minta maaf, kalau kehadiranku membuat Mba Diana jadi terluka..."
"Kamu tak perlu minta maaf. Semua salahku, bukan salahmu. Aku yang terlalu mencintai Sean sampai tak bisa melupakannya." Diana mengusap air matanya. Syifa menatatap nanar pada Diana. Memejamkan matanya sejenak, mencoba menguatkan hatinya, sebelum akhirnya Syifa berucap,
"Mba Diana harus sembuh, supaya Mba Diana bisa bersama dengan Mas Sean..."
Diana mengangkat wajahnya, menatap mata bening Syifa yang nampak memerah.
"Apa maksudmu?" Tanya Diana tak mengerti.
"Kalau Mba Diana sudah sembuh aku.... Aku rela berbagi Mas Sean dengan Mba Diana..." Ucap Syifa dengan suara tercekat. Diana menatap Syifa dengan tatapan yang tak bisa di artikan.
"Mba Diana harus di operasi, Mba Diana harus sembuh... Agar Mba Diana bisa menikah dengan Mas Sean..." Sambung Syifa menatap dalam Diana.
"Syifa, kamu..." Diana seakan tak percaya.
"Aku akan meminta Mas Sean untuk menikah dengan Mba Diana setelah Mba Diana sembuh..." Ucap Syifa di iringi senyum teduh dan air mata yang mengalir di pipinya.
**********
Syifa keluar dari kamar rawat Diana, di sana nampak Sean dan Ny. Viona sedang duduk menunggu.
"Bagaimana Syifa, apa Diana bersedia untuk operasi?" Tanya Ny. Viona yang harap-harap cemas.
"Tentu Nyonya. Mba Diana bersedia untuk operasi, sekarang pun Mba Diana sudah siap." Jawab Syifa dengan senyum mengembang.
"Benarkah?" Ny. Viona seakan tak percaya.
__ADS_1
"Iya Nyonya. Mba Diana sendiri yang mengatakannya, kalau bersedia untuk operasi."
Ny. Viona langsung menarik Syifa ke dalam pelukannya.
"Syifa, terima kasih..."
Sean bangkit dari duduknya, mendekati kedua wanita itu.
"Sean, Syifa terima kasih atas kedatangannya. Dan terima kasih telah membujuk Diana agar mau operasi..." Ucap Ny. Viona dengan tulus.
"Saya akan temui dokter dulu." Lanjutnya sambil melangkah pergi.
Syifa tersenyum melihat binar kebahagiaan di wajah wanita paruh baya itu, sementara Sean masih menatapnya penuh tanya.
"Apa yang kamu katakan pada Diana hingga ia berubah fikiran?" Tanya Sean.
Bukannya menjawab, Syifa malah mendudukan tubuhnya di kursi tunggu. Senyumnya nampak meredup.
"Syifa, kamu belum menjawab pertanyaanku." Sean duduk di samping istrinya. Syifa menatap intens pria di hadapannya.
Sean membulatkan matanya mendengar jawaban sang istri.
"Syifa, apa kamu sedang bercanda?" Tanya Sean dengan tatapan tak percayanya. Syifa menggeleng pelan.
"Tidak." Jawabnya pelan.
"Kenapa kamu bicara seperti itu? Dan kenapa kamu mengambil keputusan sendiri?" Tanya Sean datar, sepertinya lelaki itu sedang menahan amarahnya.
"Maaf kalau aku sudah lancang, Mas. Aku mengatakan itu karena aku bisa melihat betapa Mba Diana mencintaimu... " Lirih Syifa.
"Dan kamu, satu-satunya alasan agar Mba Diana bisa sembuh. Aku mohon Mas. Beri Mba Diana kesempatan satu kali saja untuk memberikan cintanya padamu, biarkan Mba Diana merasakan bagaimana hidup bersama lelaki yang di cintainya..." Lanjut Syifa, ia mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Matanya nampak berkaca-kaca menahan tangis.
Sean hanya menatapnya dengan datar. Bagaimana bisa Syifa mengatakan hal gila seperti itu. Dan terlebih lagi Syifa sampai memohon padanya untuk menikahi wanita lain.
__ADS_1
"Ini pertama kalinya aku memohon padamu, Mas. Tidak bisakah Mas mengabulkannya?"
**********
Sean dan Syifa sudah kembali dari rumah sakit, sepanjang perjalanan Sean dan Syifa hanya membisu. Syifa sadar kalau dirinya sudah salah karena lancang mengambil keputusan tanpa bertanya dulu pada suaminya. Tapi seandainya ia lebih dulu bertanya pada Sean, apa Sean akan menyetujuinya? Sementara keadaan Diana sudah kritis seperti itu?
Malam menjelang, Sean belum kembali ke kamarnya sejak makan malam tadi. Ia masih berada di ruang kerjanya. Sedangkan Syifa hanya duduk di sisi tempat tidurnya dengan pandangan kosong. Merelakan orang yang sangat kita cintai demi menyelamatkan nyawa seseorang, entah salah atau benar keputusan yang sudah di ambilnya. Tapi itu satu-satunya cara agar Diana kembali memiliki semangat untuk hidup.
"Kenapa kamu nekat mengatakan itu pada Diana? Aku hanya mencintaimu, bagaimana bisa aku menikahi wanita lain selain dirimu?" Ucap Sean seraya mengusap foto pernikahannya dengan Syifa.
Sean baru kembali ke kamarnya saat tengah malam, di lihatnya sang istri yang sudah tertidur berbalut selimut.
Dengan perlahan Sean naik ke atas tempat tidur agar tak mengganggu tidur istrinya. Dipandangnya wajah polos yang selalu ia rindukan itu.
Syifa membuka matanya perlahan, pandangan mereka bertemu.
"Kenapa bangun? Apa aku mengganggu mu?" Tanya Sean, jemarinya menyentuh lembut pipi mulus Syifa.
"Apa Mas marah padaku? Aku minta maaf Mas, aku..." Ucapan Syifa terhenti. Sean menariknya ke dalam pelukannya.
"Aku sangat mencintaimu, jadi mana mungkin aku marah padamu." Sean melabuhkan kecupannya di puncak kepala sang istri.
"Aku juga mencintaimu, Mas. Sangat..." Lirih Syifa dalam pelukannya.
"Katakan sekali lagi..." Pinta Sean karena ini pertama kalinya Syifa mengatakan cinta padanya.
"Aku mencintaimu, Mas... Walaupun aku tak pernah mengatakannya, tapi aku benar-benar mencintaimu. Sejak kamu menikahiku, sejak itu pula aku mencintaimu..." Syifa terisak, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher suaminya. Sean semakin mempererat pelukannya.
Keesokan harinya, Sean dan Syifa kembali ke rumah sakit. Hari ini sudah di jadwalkan kalau Diana akan menjalani operasinya. Karena sebenarnya segala keperluan operasi untuk Diana sudah siap sudah lama, tapi Diana selalu menolak untuk operasi.
"Kamu sudah siap?" Tanya Sean yang kini berada dalam ruang rawat Diana. Mereka hanya berdua, dengan pintu ruangan yang terbuka sebagian.
"Ya Sean. Aku sudah siap." Jawab Diana dengan senyum mengembang. Terlihat sedikit keceriaan di wajahnya, tidak seperti hari-hari sebelumnya di mana Diana hanya memasang wajah suram.
__ADS_1
"Jangan gugup, aku tahu kamu gadis yang kuat. Aku ingin Diana yang dulu kembali, Diana yang selalu ceria. Setelah kamu sembuh nanti, kita akan segera menikah." Ucap Sean dengan senyum tipisnya. Diana mengangguk, menatap Sean dengan penuh cinta.
"Aku mencintaimu, Sean..." Sean hanya mengangguk saat mendengarnya.